"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kakiku terasa lemas seketika saat mengetahui Dinda sudah pergi. Wanita itu benar-benar berani meninggalkanku, padahal aku sudah mengancamnya dengan perceraian. Apa dia pikir aku akan mencarinya setelah pergi?
"Dinda, berani sekali kamu," ucapku sembari melangkah masuk ke rumah yang selama hampir satu minggu kami huni bertiga.
Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung menyapu seisi rumah. Tanpa sadar, mataku tertuju ke arah dapur, tempat biasanya aku melihat Dinda sedang memasak. Dari sana, pandanganku beralih ke meja makan yang beberapa hari terakhir selalu menjadi tempat kami bertemu, lalu berhenti di depan pintu kamar yang selama ini ditempatinya.
Kenangan beberapa saat lalu kembali melintas di kepalaku. Entah kenapa, semua itu membuat hatiku terasa kosong. Aku masih bisa mengingat bayangannya dengan jelas, tetapi sekarang wujudnya sudah tidak terlihat lagi.
"Tidak, tidak. Aku yakin dia nggak benar-benar pergi. Dia sangat mencintaiku. Mana mungkin dia rela membiarkan aku dan Belinda hidup bahagia?" ucapku, mencoba menenangkan diri. Namun, semakin berusaha meyakinkan diri sendiri, ucapan Dinda waktu itu justru kembali terngiang di telingaku.
Kamu salah. Aku memang masih mencintaimu, Danu. Tapi bukan berarti aku bakal tetap sudi berdiri di sini dan menunggumu.
Aku menggeleng pelan, berusaha mengusir kalimat itu dari pikiranku. "Dia cuma sedang marah. Nanti juga kembali," gumamku.
Bukankah selama ini Dinda selalu mengalah? Sebesar apa pun aku menyakitinya, dia tetap bertahan di sisiku. Jadi, kenapa sekarang harus berbeda?
Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju kamar yang biasa ditempatinya. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Aku mendorongnya perlahan, lalu masuk dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Saat itulah aku menyadarinya. Tidak ada barang-barang Dinda yang tersisa. Entah dia memang tidak pernah membawa banyak barang ke sini atau semuanya sudah dibawa pergi, tetapi jejak keberadaannya benar-benar sudah tidak ada.
"Kenapa harus sampai seperti ini, Dinda?" keluhku.
Aku duduk di tepi ranjang. Ada rasa kesal yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena dia pergi tanpa memberitahuku, tetapi juga karena dia seolah tidak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Padahal, aku belum benar-benar menceraikannya. Aku hanya mengucapkan kalimat itu saat emosi. Seharusnya Dinda tahu kalau aku tidak mungkin semudah itu melepaskannya," ucapku. Namun, sesaat kemudian pikiranku kembali membantah ucapan itu. Bukankah aku sendiri yang berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak mencintainya?
"Tapi aku kan punya Belinda," gumamku, seolah sedang mengingatkan diri sendiri. "Aku menikah dengannya karena aku mencintainya. Jadi, kenapa harus memikirkan Dinda?"
Aku segera berdiri dan keluar dari kamar. Tidak ada gunanya berlama-lama di sana. Dinda sudah memilih pergi, dan aku tidak akan mengejarnya hanya karena rumah ini terasa sepi.
Setidaknya, itulah yang terus berusaha kutanamkan dalam pikiranku. Namun, baru beberapa langkah menjauh, aku kembali menoleh ke arah kamar Dinda. Entah kenapa, ada keinginan untuk memanggil namanya, berharap dia tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.
Aku memejamkan mata sejenak. Rasanya seperti mimpi ketika tiba-tiba ada yang memanggil namaku. Suara itu terdengar begitu familiar, bahkan persis seperti suara Dinda. Aku segera membuka mata, berharap bisa melihat sosok yang sejak tadi memenuhi pikiranku, tetapi yang berdiri di hadapanku bukan Dinda, melainkan Belinda.
"Sayang, kamu kenapa di sini? Kamu mencari Dinda?" tanyanya dengan nada tidak terima.
"Ka... kamu bukannya tadi sudah mau tidur?"
"Aku nggak bisa tidur karena kamu belum kembali. Orang tuamu bicara apa?"
Mendengar pertanyaan itu, ingatanku kembali pada lembaran foto perselingkuhan Belinda yang diberikan Mama padaku tadi. Ada dorongan kuat di dalam diriku untuk langsung mengonfirmasi semuanya pada Belinda, tetapi suara Ghina terus terngiang di kepalaku.
"Kakak mau konfirmasi langsung sama Kak Belinda? Ingat, Kak, di dunia ini nggak ada maling yang mau ngaku."
Aku terdiam sesaat. Benar juga. Kalau memang foto-foto itu benar, tidak mungkin Belinda akan dengan mudah mengakuinya hanya karena aku bertanya. Aku justru harus mencari tahu lebih banyak sebelum membuka semuanya di hadapannya.
"Sayang."
Belinda seperti memanggilku berulang kali hingga akhirnya aku tersentak dari pikiranku dan kembali menatapnya.
"Ah... iya. Mama sama Papa nggak ngomong apa-apa. Hanya bertanya masalah perusahaan," ucapku, mencari alasan.
"Tapi kok ada yang aneh?"
"Belinda, kamu jangan berprasangka buruk. Aku biasa aja."
Aku berusaha membuat nada suaraku terdengar tenang, meskipun pikiranku masih dipenuhi banyak hal. Lalu, tanpa sadar, aku kembali teringat pada Dinda.
"Oh, ya, kamu tahu ke mana Dinda?"
Aku penasaran apakah Belinda tahu tentang kepergian Dinda atau tidak. Terlebih, sejak tadi tidak ada satu pun barang Dinda yang tersisa di kamar itu, dan Belinda juga bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi di rumah ini.
"Tuh, kan benar kamu memacarinya. Jangan-jangan kamu benar-benar cinta sama dia?" tuduh Belinda untuk kesekian kalinya.
"Belinda...."
Belinda langsung sadar aku tidak menyukai tuduhan itu. Dia akhirnya menghela napas sebelum menjawab pertanyaanku.
"Iya, sudah dua hari dia nggak pulang. Mungkin di rumah sakit lagi lembur. Lagian kamu tahu sendiri, aku dan dia nggak pernah akur."
"Dua hari?" ulangku pelan.
Aku terdiam sejenak. Entah kenapa, informasi itu membuat pikiranku sedikit berubah. Selama ini Dinda memang bekerja di rumah sakit, jadi mungkin aku terlalu cepat menganggap kepergiannya sebagai keputusan untuk benar-benar meninggalkanku. Setidaknya, masih ada kemungkinan dia memang berada di sana.
Aku mengalihkan pandangan dari Belinda. Tanpa sadar, jemariku mengepal, lalu perlahan kulepaskan kembali.
"Benar, ya sudah, ayo kita tidur," ajak Belinda.
Aku tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiranku.
"Kamu tidur dulu. Aku keluar sebentar," pamitku.
"Sayang!"
Suara Belinda terdengar kesal saat memanggilku, tetapi aku tetap melangkah pergi. Aku sendiri tidak tahu kenapa kakiku justru membawaku ke mobil, padahal sebelumnya aku sudah mengatakan tidak akan mengejar Dinda.
Tak lama kemudian, mobil yang kukendarai memasuki halaman rumah sakit. Aku mematikan mesin dan terdiam beberapa saat di balik kemudi. Pandanganku tertuju pada gedung rumah sakit di hadapanku, sementara dadaku mulai berdebar tanpa alasan yang ingin kuakui.
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...