Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Perjalanan ke restoran perbukitan malam itu terasa hangat. Kevin bercerita tentang kepolosannya saat masih menjadi dokter muda (co-ass), membuat Valen tak henti-hentinya tertawa.
Tiga puluh menit berlalu, sedan hitam Kevin menepi di kedai makan outdoor di lereng bukit. Lampu-lampu gantung berwarna warm white berpadu indah dengan pemandangan city lights di bawah sana.
"Tempatnya indah banget, Kevin," puji Valen begitu mereka duduk di teras luar. Udara malam yang sejuk merengkuh tubuhnya.
"Aku senang kamu suka," sahut Kevin lembut seraya menarikkan kursi untuk Valen. "Selamat atas wisudamu hari ini, Dokter Valen."
Valen tersenyum malu. "Terima kasih banyak, Kevin. Jadi ini kejutan makan malamnya?"
"Tentu saja. Perayaan kecil untuk perjuangan panjang kamu," jawab Kevin.
Seorang pelayan datang membawa menu. Kevin menyerahkannya pada Valen.
"Kamu mau pesan apa? Pilih saja sesukamu malam ini," ujar Kevin.
"Panggangan hangat dan dessert kayaknya enak, ya?" Valen menunjuk menu.
"Pilihan bagus. Mas, kami pesan dua porsi paket panggangan dan hidangan penutupnya ya," pesan Kevin pada pelayan.
Setelah pelayan pergi, Kevin menopang dagu, menatap Valen lekat-lekat.
"Kenapa ngeliatinnya gitu banget?" tanya Valen, pipinya merona.
"Cuma masih merasa tidak percaya," Kevin tersenyum tipis. "Gadis yang dulu sering aku perhatikan diam-diam di koridor kampus... sekarang duduk di depanku sebagai dokter baru, sekaligus pasanganku."
Valen membelalakkan mata. "Diam-diam? Jadi... kamu udah merhatiin aku dari saat kuliah?"
"Iya," Kevin terkekeh halus. "Tapi dulu kamu selalu terburu-buru bawa tumpukan buku tebal dengan wajah serius. Aku takut mengganggu. Apalagi waktu itu aku cuma dosen pembimbing panggilan."
"Aku juga selalu merhatiin kamu, Kevin," aku Valen pelan. "Tapi dulu kamu terkenal dingin dan susah didekati. Semua mahasiswa bimbinganmu takut kalau mau konsultasi."
"Aku memang dingin ke semua orang, Valen," Kevin memotong cepat, lalu menggenggam jemari Valen di atas meja. "Kecuali ke kamu."
Kalimat itu sukses membuat jantung Valen berdebar kencang.
Tak lama, pesanan mereka tiba. Sambil menikmati hidangan yang masih berasap tipis, percakapan mereka berlanjut.
"Setelah wisuda ini, bagaimana persiapan berkas internship-mu, Valen?" tanya Kevin.
"Masih kukumpulkan. Sejujurnya aku masih agak bingung memilih rumah sakit rujukan," jawab Valen.
"Jangan khawatir. Nanti aku bantu periksa berkasnya," tawarkannya. "Aku juga ada beberapa rekomendasi rumah sakit rujukan dengan fasilitas belajar yang sangat bagus. Nanti aku buatkan daftarnya."
"Beneran, Kevin? Wah, bantuannya bakal berguna banget buat aku. Makasih ya!" mata Valen berbinar.
Selesai makan, Kevin mengajak Valen berdiri di tepi pagar kayu teras. Angin perbukitan berhembus makin kencang. Valen refleks merapatkan cardigan-nya.
Tanpa bicara, Kevin melepas jas kasualnya dan melingkarkannya di bahu Valen. Aroma maskulin dan citrus khas Kevin langsung menyeruak.
"Makasih, Kevin... tapi nanti kamu kedinginan," bisik Valen menatap Kevin yang kini hanya memakai kemeja biru gelap.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja," sahut Kevin mantap.
Mereka hening sejenak menikmati pemandangan kota. Lalu, Kevin memutar tubuhnya menghadap Valen sepenuhnya.
"Valen," panggil Kevin pelan.
"Ya?" Valen menoleh.
"Aku tahu perjalanan kamu menuju titik wisuda ini tidak mudah. Kamu sudah berjuang keras menjadi putri yang membanggakan buat Bunda dan kakak yang luar biasa buat Wisnu," Kevin mengelus punggung tangan Valen. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian lagi."
Valen tertegun, menatap mata Kevin yang sarat ketulusan.
"Jika kamu lelah saat melangkah ke dunia kerja nanti, kamu punya aku untuk bersandar," lanjut Kevin lembut. "Aku ingin jadi tempat kamu pulang."
Mata Valen berkaca-kaca menahan haru. "Terima kasih, Kevin..." bisiknya bergetar. "Aku juga... ingin selalu ada buat kamu. Mendampingi kamu."
Kevin tersenyum manis. Ia mendekat perlahan lalu mengecup dahi Valen dengan lembut di bawah pendar lampu perbukitan. Saat ia menarik diri, Valen menyandarkan kepalanya di dada bidang Kevin, mendengarkan detak jantung yang berdegup senada dengannya.
Aroma citrus dan maskulin dari jas Kevin yang tersampir di bahunya makin membuat Valen merasa aman. Kehangatan dada Kevin seolah menjadi benteng terkuat dari terpaan angin malam perbukitan.
Kevin membelai lembut rambut panjang Valen yang terurai. "Nyaman?" bisiknya pelan, suara beratnya bergetar tepat di atas kepala Valen.
Valen mengangguk pelan dalam pelukan Kevin. "Banget, Kevin. Rasanya aku nggak mau malam ini cepat selesai."
Kevin terkekeh halus, mendekap tubuh Valen sedikit lebih erat. "Kalau begitu, jangan selesai. Kita bisa berdiri di sini selamanya kalau kamu mau."
"Gombal," gumam Valen tertawa kecil. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap dagu kokoh Kevin dari bawah. "Tapi beneran, Kevin... makasih ya. Udah ingat Bunda, udah ingat Wisnu juga. Kamu bahkan mikirin beban yang selama ini aku simpan sendiri."
Kevin menurunkan pandangannya, menatap tepat ke dalam manik mata Valen. "Aku merhatiin kamu bukan cuma dari kejauhan waktu kampus dulu, Valen. Aku merhatiin gimana gigihnya kamu merawat keluarga kamu sambil menyelesaikan pendidikan kedokteran yang berat itu."
"Aku cuma melakukan apa yang harus aku lakukan," sahut Valen rendah.
"Dan itu yang bikin aku makin kagum sama kamu," potong Kevin cepat. Jemarinya merapikan anak rambut Valen yang tertiup angin. "Tapi ingat janji kamu tadi. Kamu nggak boleh sungkan lagi cerita atau minta bantuan aku."
Valen tersenyum manis, mengangguk yakin. "Iya, Dokter Kevin. Aku janji."
"Bagus," Kevin tersenyum puas. "Oya, soal rumah sakit rujukan internship... ada satu hal lagi yang mau aku tanyakan."
"Apa itu?" Valen memiringkan kepalanya penasaran.
"Kalau seandainya... pilihan rumah sakit rujukan yang paling bagus ada di luar kota, apa kamu bersedia ambil?" tanya Kevin, menatap Valen lekat-lekat seolah mencari kepastian.
Valen terdiam sejenak. "Luar kota? Ehm... sejujurnya aku belum pernah kepikiran sejauh itu. Bunda dan Wisnu gimana kalau aku tinggalkan?"
"Aku bisa bantu pantau Bunda dan Wisnu selama kamu bertugas," jawab Kevin tanpa ragu. "Tapi yang paling penting, gimana dengan kamu sendiri? Apa kamu siap kalau kita harus LDR sebentar?"
Valen menaikkan kedua alisnya, lalu terkekeh menggoda. "Oh... jadi sebenarnya ini alasan utama kamu nanya? Takut kangen?"
Pipi Kevin memerah tipis—sebuah pemandangan langka yang membuat Valen gemas. Kevin berdeham pelan untuk menutupi rasa canggungnya.
"Tentu saja aku bakal kangen," aku Kevin akhirnya, menyerah dengan jujur. "Baru sebentar aja aku udah nggak sangka bisa sejauh ini sama kamu. Apalagi kalau harus terpisah jarak."
Valen menggenggam jemari Kevin yang ada di bahunya. "Ke mana pun aku ditempatkan nanti, Kevin... hati aku tetap di sini. Sama kamu."
Kalimat polos namun tulus dari Valen sukses membuat Kevin terpana. Matanya berbinar menatap gadis di hadapannya.
"Kamu pintar banget bikin jantung aku maraton malam ini, Valen," bisik Kevin seraya mengecup punggung tangan Valen dengan mesra.
"Kan ketularan kamu," balas Valen sambil tertawa renyah, membuat suasana malam perbukitan itu makin hangat dan dipenuhi cinta.