AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 MBAH SARTI DATANG KE KONTRAKAN KOTA
Jam 8 pagi, kontrakan cat hijau nomor 4 yang 400 ribu sebulan itu sudah aku sapu bersih. Lantai semen aku pel, kasur tipis aku lipat rapi, foto USG anak perempuan 16 weeks 2 days yang tadinya ditempel pakai lakban di dinding, aku bingkai pakai kardus bekas biar kelihatan rapi.
Hari ini Mbah Sarti akan datang dari Wonorejo naik angkot. Pak Karim yang jemput pakai angkot jurusan Wonorejo - Jombang kota. Jarak 2 jam, ongkos 15 ribu per orang. Mahal buat Mbah Sarti yang biasanya jalan kaki 200 meter ke rumah bocor sambil bawa sapu lidi.
Perutku sekarang 4 bulan 3 minggu, 4 hari lagi 5 bulan. Sudah buncit seperti bawa semangka sedang. Kalau jongkok cuci baju Salsa di kamar mandi luar, harus pegangan dinding semen.
Salsa umur 2 tahun yang ternyata anak kandung Arga dan Mira, sudah aku mandiin pagi-pagi, pakai baju paling bagus, baju bunga pink yang dibelikan Bu Minah 3 bulan lalu waktu pertama kali dititipkan ke aku. Salsa tidak tahu kalau hari ini buyutnya akan datang.
Jam 10 pagi, ada suara angkot berhenti depan gang kontrakan. Suara rem berdecit, suara Pak Karim teriak "Mbah, pelan-pelan Mbah, turunnya pelan."
Aku keluar dari kontrakan, gendong Salsa, perut buncit.
Mbah Sarti turun dari angkot. Pakai kebaya coklat yang sama waktu ngamuk bawa 3 ibu PKK ke rumah bocor 6 hari lalu. Bawa tas kresek hitam isi apa tidak tahu. Wajahnya kecut, keriputnya makin banyak, jalannya pelan pakai tongkat bambu.
Di belakang Mbah Sarti, Pak Karim dan Arga yang jadi kuli bangunan di kota, bawa tas kain.
"Mbah..." aku langsung salim, cium tangan Mbah Sarti yang kasar karena masak pakai tungku kayu seumur hidup. Tangan itu yang dulu banting panci alumunium sampai penyok waktu dengar aku nikah siri diam-diam sama Arga.
Mbah Sarti tidak jawab, langsung masuk ke kontrakan cat hijau tanpa disuruh, duduk di kasur tipis, lihat sekeliling. Lihat lantai semen yang bersih, lihat foto USG anak perempuan di dinding kardus, lihat koper hitam isi kertas nikah siri HVS tipis dan baju bayi biru 35 ribu pemberian Rendo.
"Jadi di sini kamu tinggal sekarang, Kirana? Setelah bikin malu keluarga besar Wonorejo, hamil duluan sama Rendo, nikah siri sama kakaknya tanpa izin Mbah, sekarang kabur ke kota?" kata Mbah Sarti, suara masih keras seperti waktu ngamuk di sumur belakang rumah bocor.
Aku diam, pegang perut 4 bulan 3 minggu, Salsa peluk kaki ku takut.
Pak Karim yang lihat suasana tegang, langsung duduk di lantai semen.
"Mbah, Kirana tidak kabur, Mbah. Kirana pindah karena rumah bocor Mbah Wiryo ada kutukan Kembang Kantil, Mbah. Mira meninggal di rumah itu 2 tahun lalu pendarahan, Mbah. Bapak takut Kirana juga pendarahan seperti Mira, Mbah. Makanya Bapak suruh pindah ke kontrakan kota dekat puskesmas besar, biar lahiran di rumah sakit, tidak di puskesmas."
Mendengar nama Mira, Mbah Sarti terdiam. Mira adalah menantu pertama Pak Karim, istri Arga yang meninggal 2 tahun lalu. Mbah Sarti yang dulu juga ikut mengusir Mira dari Wonorejo karena nikah sama Arga tanpa restu Mbah Sarti.
"Pak Karim, jangan bawa-bawa Mira lagi! Mira sudah mati! Yang penting sekarang Kirana! Hamil anak haram Rendo, nikah siri sama Arga tanpa wali Mbah! Di mata desa Wonorejo dia masih perawan hamil haram! Di mata kontrakan kota juga sama, Pak Lurah sini sudah lapor Bapak, katanya disuruh keluar minggu depan kalau tidak ada buku nikah KUA!"
Arga yang dari tadi diam di pojok, akhirnya ngomong.
"Mbah, makanya kami panggil Mbah ke sini, Mbah. Buat jadi wali KUA Kirana, Mbah. Biar ada buku nikah, biar tidak diusir lagi dari kontrakan, biar anak perempuan di perut Kirana nanti lahir punya akte, Mbah. Foto USG nya perempuan, Mbah, 16 weeks 2 days."
Mbah Sarti lihat foto USG di dinding kardus itu lama. Foto hitam putih kecil.
"Perempuan ya?" tanya Mbah Sarti pelan, suaranya agak lembut untuk pertama kalinya.
"Iya Mbah, perempuan," jawabku, air mata netes.
Mbah Sarti lihat Salsa yang dari tadi peluk kaki ku. Salsa yang ternyata cucu kandung Mbah Sarti juga, karena Salsa anak Arga dan Mira.
"Salsa sini, Nak," panggil Mbah Sarti.
Salsa takut, tidak mau dekat. Salsa masih ingat Mbah Sarti yang bawa sapu lidi 6 hari lalu.
Aku bisik ke Salsa, "Salsa, itu buyut, Nak. Buyut Salsa."
Salsa pelan-pelan jalan ke Mbah Sarti, masih takut.
Mbah Sarti gendong Salsa, untuk pertama kalinya gendong buyutnya sendiri setelah 2 tahun tidak tahu Salsa adalah cucu kandungnya.
"Salsa, maafkan buyut ya, Nak. Buyut baru tahu kamu anak Arga dan Mira. Buyut selama ini kira kamu anak yatim tetangga. Maafkan buyut yang dulu ikut usir ibumu Mira dari Wonorejo."
Mbah Sarti nangis. Pertama kalinya aku lihat Mbah Sarti nangis. Mbah Sarti yang paling tua di Desa Wonorejo, yang paling ditakuti Pak RT Pak Slamet, yang paling gengsi, nangis gendong Salsa.
Aku ikut nangis, pegang perut 4 bulan 3 minggu.
"Mbah, maafkan Kirana juga, Mbah. Kirana nikah siri tanpa izin Mbah karena takut, Mbah. Takut hamil 4 bulan tanpa suami dihina terus sama Bu Tati. Pak Modin dari Sumberejo bilang bisa wali hakim karena Mbah jauh, Mbah. Bukan Kirana tidak mau Mbah jadi wali, Mbah."
Mbah Sarti yang masih gendong Salsa, lihat aku nangis pegang perut buncit.
"Kirana, Mbah mau jadi wali KUA kamu, Nduk. Tapi dengan syarat. Syaratnya kamu harus balik lagi ke Wonorejo setelah anak lahir. Jangan diasingkan terus di kota. Anak perempuanmu butuh keluarga besar Wonorejo, butuh Mbah, butuh Pak Karim, butuh Bu Minah. Jangan seperti Mira yang meninggal di rumah bocor sendirian tanpa keluarga."
Aku kaget. Balik lagi ke Wonorejo? Desa yang 4 bulan mengasingkan aku karena hamil duluan?
Pak Karim yang dengar itu langsung angguk.
"Iya Kirana, balik lagi ya Nduk setelah lahiran. Kontrakan kota ini cuma 400 ribu sebulan, tabungan Bapak 2 juta cuma cukup 3 bulan. Setelah lahiran kamu balik ke rumah induk Pak Karim, tidak ke rumah bocor lagi. Rumah bocor biar Mbah Sarti bakar aja sekalian, biar kutukan Kembang Kantil hilang."
Mbah Sarti taruh Salsa, buka tas kresek hitam yang dibawa dari Wonorejo. Isinya: ayam kampung goreng 2 potong, nasi, sayur lodeh, dan amplop coklat isi uang 100 ribu.
"Ini mas kawin 100 ribu yang dulu kamu terima waktu nikah siri, Kirana. Bu Tati bilang mas kawinnya 100 ribu. Mbah kembalikan ke kamu. Mbah tidak terima uang itu, Mbah kira kamu dijual ke keluarga Pak Karim. Ternyata tidak. Ini uang halal buat beli telur 1 kilo biar anak perempuanmu sehat. Bu Bidan bilang kamu kurang gizi."
Aku terima amplop 100 ribu itu, nangis keras. Mas kawin 100 ribu yang dulu jadi bahan gosip Bu Tati sampai ke Mbah Sarti, sekarang dikembalikan Mbah Sarti dengan maaf.
Sore jam 4, setelah makan ayam goreng Mbah Sarti bertiga, Arga, Pak Karim, dan Mbah Sarti pergi ke KUA Jombang kota buat daftar nikah resmi. Syaratnya bawa KTP, surat pengantar RT Wonorejo yang sudah dibuatkan Pak RT Pak Slamet diam-diam, dan foto USG sebagai bukti hamil 4 bulan 3 minggu butuh segera nikah KUA.
Aku di kontrakan sendirian sama Salsa, pegang amplop 100 ribu mas kawin, foto USG anak perempuan di dinding kardus, dan baju bayi biru 35 ribu dari Rendo di koper hitam.
Malam jam 8, hujan turun deras lagi. Genteng kontrakan tidak bocor. Aku dan Salsa makan ayam goreng pemberian Mbah Sarti, pertama kalinya makan ayam kampung setelah 4 bulan cuma makan telur dibagi dua.
Jam 9 malam, Arga pulang dari KUA, bawa kabar: minggu depan Jumat jam 9 pagi akad KUA resmi di KUA Jombang, wali Mbah Sarti, mas kawin 100 ribu yang dikembalikan Mbah Sarti tadi, saksi Pak Karim dan Pak Lurah kontrakan.
Untuk pertama kalinya setelah akad siri 6 hari lalu dengan kertas HVS tipis, aku akan punya buku nikah KUA hijau.
Belum resmi, masih istri siri malam ini, masih diasingkan di kontrakan kota 400 ribu sebulan, tapi minggu depan akan jadi istri sah KUA.
Hamil 4 bulan 3 minggu, bawa Salsa yang ternyata cucu kandung Mbah Sarti juga, dan bawa anak perempuan di perut yang buyutnya sudah datang naik angkot 2 jam bawa ayam goreng.
Apakah setelah nikah KUA minggu depan, pengasinganku karena hamil duluan akan selesai?
Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam ini aku tidur di kontrakan cat hijau tanpa panci di bawah bocoran, dengan amplop mas kawin 100 ribu di bawah bantal, dan Salsa yang ternyata cucu Mbah Sarti tidur peluk aku.
Dan itu cukup buat malam ini.
---