Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RAHASIA KEBAKARAN PABRIK DAN AYAH YANG HILANG
Pagi setelah hujan badai itu terasa berbeda.
Aku terbangun bukan di sisi ranjangku yang dingin, tapi di dalam pelukan. Pelukan yang sangat hangat dan kokoh. Dada bidang Arga Wijaya menjadi bantal kepalaku, tangannya memeluk pinggangku erat, seolah takut aku hilang.
Ini pertama kalinya dalam 11 hari pernikahan kontrak kami, aku terbangun dengan posisi seperti ini.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku pelan-pelan agar tidak membangunkan Arga. Tapi baru bergerak sedikit, suaranya yang serak karena baru bangun tidur terdengar di atas kepalaku.
"Tidur lagi. Masih jam 5 pagi."
Jantungku berdebar kencang. Arga ternyata sudah bangun.
"Ma-mas... lepaskan... saya mau siapin sarapan..."
"Tidak usah. Bibi Sari yang siapin. Kamu masih gemetar semalam karena petir. Tidur lagi 1 jam."
Arga menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhku yang hanya memakai piyama sutra tipis. Dia mengelus rambutku dengan lembut, seperti sedang meninabobokan seseorang yang sangat berharga.
Aku tidak bisa menolak. Hangatnya pelukan ini membuatku terlelap lagi, kali ini tanpa rasa takut sama sekali.
Jam 7 pagi, aku benar-benar terbangun. Arga sudah tidak ada di sampingku. Di meja nakas, ada secangkir teh jahe yang masih hangat dan secarik kertas.
"Teh jahe untuk istriku yang cengeng karena petir. Jangan lupa minum obat flu. Saya ke kantor. - Mas"
Mas. Sekarang dia benar-benar menandatangani dengan kata Mas.
Aku tersenyum malu-malu membaca kertas itu. Es di hatinya perlahan mulai mencair.
Aku turun ke bawah, Bibi Sari sudah menyiapkan sarapan mewah seperti biasa.
"Nyonya, Tuan tadi pagi senyum-senyum terus loh pas turun. Tidak seperti biasanya yang mukanya datar," bisik Bibi Sari dengan nada menggoda.
Wajahku langsung merah padam.
Siang itu aku tidak ada kuliah, jadi aku memutuskan untuk membereskan perpustakaan pribadi Arga yang ada di lantai 2 penthouse. Perpustakaan itu sangat besar, berisi ribuan buku tentang bisnis dan hukum, tapi tidak pernah tersentuh karena Arga terlalu sibuk.
Saat sedang membereskan debu di rak paling atas, sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di balik buku-buku tebal jatuh ke lantai. Kotak itu terbuka dan isinya berhamburan.
Foto-foto lama. Koran-koran lama.
Aku memungut salah satunya. Itu koran dari 10 tahun yang lalu, tahun 2016. Judulnya besar-besar.
"KEBAKARAN HEBAT DI PABRIK TEKSTIL WIJAYA GROUP, 2 PEMILIK TEWAS TERBAKAR, KERUGIAN 500 MILIAR"
Jantungku berhenti berdetak. Ini adalah kebakaran yang dimaksud Arga. Kebakaran yang menewaskan orang tuanya.
Aku memungut foto lainnya. Foto seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah, merangkul seorang anak laki-laki berusia sekitar 18 tahun yang mirip sekali dengan Arga. Di belakang mereka ada seorang sopir yang berdiri agak jauh, memakai seragam pabrik.
Sopir itu... wajahnya sangat familiar.
Itu Ayahku! Ayahku 10 tahun lalu saat masih muda!
Di belakang foto itu ada tulisan tangan dengan tinta hitam.
"Ayah, Ibu, dan Pak Herman (sopir pribadi) di pabrik baru Bandung - 1 minggu sebelum kebakaran. - Arga"
Pak Herman adalah ayahku. Ayahku adalah sopir pribadi orang tua Arga!
Tanganku gemetar hebat. Jadi ini alasannya Arga sangat membenci ayahku? Apakah ayahku yang menyebabkan kebakaran itu?
Aku terus mencari di dalam kotak itu. Ada laporan polisi yang sudah menguning.
"Hasil investigasi: Kebakaran diduga akibat kelalaian sopir pribadi korban yang meninggalkan rokok di gudang kain. Sopir atas nama Herman Santoso melarikan diri setelah kejadian."
Ayahku dituduh sebagai penyebab kebakaran yang membunuh orang tua Arga! Pantas saja Arga membeli ku dengan harga 500 juta, dia ingin membalas dendam!
Air mataku jatuh deras. Apakah ayahku benar-benar pembunuh?
Saat aku sedang menangis memegang kertas-kertas itu, suara pintu perpustakaan terbuka keras.
Arga berdiri di sana, dengan wajah yang sangat marah, kaget, dan panik melihat kotak itu terbuka di lantai.
"SIAPA YANG SURUH KAMU SENTUH KOTAK ITU!" Bentak Arga dengan suara yang sangat keras, suaranya menggema di seluruh perpustakaan.
Ini pertama kalinya Arga membentakku sekeras ini sejak malam hujan badai.
Aku terlonjak ketakutan, kertas-kertas itu jatuh dari tanganku.
"Ma-mas... saya tidak sengaja... kotaknya jatuh sendiri..."
Arga berjalan cepat menghampiriku dan langsung merebut semua koran dan foto itu dari lantai, memasukkannya kembali ke kotak kayu dengan kasar.
"Itu bukan urusanmu! Jangan pernah masuk ke perpustakaan ini lagi tanpa izin saya!"
Matanya merah, bukan karena marah saja, tapi karena menahan emosi dan trauma lama yang kembali terbuka.
Aku menangis, bukan karena dibentak, tapi karena aku tahu sekarang, pria yang memelukku hangat semalam adalah pria yang hatinya penuh luka karena keluargaku.
"Mas... apa benar ayah saya yang membunuh orang tua Mas? Apa benar ayah saya yang bakar pabrik itu? Jawab saya Mas!"
Arga terdiam, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Ayahmu bukan hanya membakar pabrik saya, Sinta. Ayahmu membakar seluruh hidup saya! Setelah kebakaran itu, saya yatim piatu umur 18 tahun! Saya harus hidup di panti asuhan 2 tahun karena keluarga saya serakah mau rebut harta! Dan ayahmu? Ayahmu lari! Dia lari dan tidak pernah tanggung jawab! Sampai saya cari dia 10 tahun dan akhirnya ketemu dia jual anaknya sendiri karena judi!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Arga seperti pisau yang menghunjam jantungku.
Jadi ini alasannya. Pernikahan 500 juta ini bukan sekedar kontrak warisan 2 Triliun. Ini adalah balas dendam.
"Kalau Mas benci ayah saya, kenapa Mas nikahi saya? Kenapa tidak penjarakan saja ayah saya?"
"Karena saya ingin ayahmu merasakan apa yang saya rasakan! Kehilangan orang yang paling dia sayangi! Saya ingin dia melihat anaknya menderita hidup dengan musuhnya!"
Arga berteriak, tapi setelah berteriak, dia langsung menyesal melihat aku menangis tersedu-sedu di lantai.
Dia berjongkok di depanku, ingin memelukku tapi tangannya ragu-ragu di udara.
"Sinta... saya..."
"Jangan sentuh saya!" Aku menepis tangannya dan berlari keluar dari perpustakaan, masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Di dalam kamar, aku mencoba menelepon ayahku. Nomornya tidak aktif. Aku telepon ibu tiriku, tidak diangkat.
Kemana ayahku? Apakah dia benar-benar lari lagi seperti 10 tahun lalu?
Jam 10 malam, pintu kamarku diketuk pelan.
"Sinta, buka pintunya. Kita bicara baik-baik. Tadi Mas kelepasan."
Aku tidak menjawab. Aku masih menangis di atas ranjang.
"Sinta, saya tahu kamu benci saya sekarang. Tapi apa yang tertulis di koran itu tidak sepenuhnya benar. Polisi memang menuduh ayahmu, tapi saya tidak pernah percaya sepenuhnya. Makanya saya terus cari ayahmu bukan untuk dipenjara, tapi untuk tanya kebenaran."
Aku langsung membuka pintu dengan mata bengkak.
"Apa maksud Mas?"
Arga berdiri di depan pintu dengan wajah lelah, memegang kotak kayu itu lagi.
"Di laporan itu ada yang janggal, Sinta. Ayahmu tidak merokok. Saya kenal dia 10 tahun, dia tidak pernah merokok. Tidak mungkin dia tinggalkan rokok di gudang kain. Ada orang lain yang menjebak ayahmu. Dan saya curiga, pelakunya adalah keluarga saya sendiri, Tante Mira yang ingin menguasai pabrik 500 Miliar itu."
Deg. Jantungku berdegup kencang. Jadi ayahku tidak bersalah?
"Kalau begitu kenapa Mas masih benci ayah saya?"
"Karena ayahmu lari, Sinta. Kalau dia tidak salah, kenapa dia lari dan meninggalkan saya yang umur 18 tahun sendirian di depan pabrik yang terbakar? Saya butuh dia jadi saksi, tapi dia hilang 10 tahun!"
Arga menyandarkan kepalanya ke kusen pintu, terlihat sangat lelah dan rapuh. Untuk pertama kalinya aku melihat CEO kejam itu terlihat seperti anak 18 tahun yang kehilangan orang tuanya.
Aku tanpa sadar memegang tangan Arga.
"Mas, kita cari ayah saya sama-sama ya? Kita cari kebenaran sama-sama. Saya janji, kalau ayah saya memang salah, saya akan ikut Mas menuntut dia. Tapi kalau dia tidak salah, kita bersihkan nama dia sama-sama."
Arga menatapku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kemudian dia mengangguk pelan dan menggenggam tanganku erat.
"Janji?"
"Janji."
Malam itu, untuk kedua kalinya, aku tertidur di pelukan Arga. Tapi pelukan kali ini berbeda, pelukan dua orang yang sama-sama terluka oleh masa lalu dan berusaha mencari kebenaran.
Di luar penthouse, di sebuah rumah petak kumuh di pinggiran Jakarta, seorang pria tua bernama Herman Santoso sedang mengemasi pakaiannya dengan panik sambil melihat berita tentang kebakaran pabrik 10 tahun lalu di TV.
Dia tahu, rahasia besar yang dia simpan 10 tahun akan segera terbongkar.
(Bersambung...)