"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rendy Mulai Blak-Blakan 21.
Suasana kantin SMA Wahidin siang itu mirip pasar malam, bedanya yang dijual bukan barang, melainkan spekulasi.
Gosip putusnya Timy dan Nawang sudah bermutasi menjadi puluhan versi cerita.
Mulai dari isu Timy yang bosan, hingga teori konspirasi tentang anak baru yang dituduh jadi perusak hubungan.
Nawang duduk di meja sudut dekat jendela, tempat favoritnya karena anginnya paling terasa.
Di depannya ada semangkuk bakso yang kuahnya sudah mendingin dan segelas es teh manis yang esnya sudah mencair sempurna. Dia sama sekali belum menyentuh makanannya. Jemarinya sibuk membolak-balik buku kumpulan soal olimpiade Biologi, mencoba memindahkan seluruh fokus otaknya ke deretan istilah ilmiah yang biasanya terasa menyenangkan.
Namun, suara bisik-bisik dari meja seberang terlalu bising untuk diabaikan.
"Gue denger sih karena Nawang terlalu ambisius. Timy kan santai orangnya, ya gerah lah pacaran sama cewek yang isinya belajar mulu."
"Tapi kasihan juga ya, langsung cuti dari kapten cheers. Pasti mentalnya kena tuh."
Nawang mengembuskan napas perlahan. Dia tidak menoleh, tidak juga menutup bukunya. Dia hanya benci bagaimana orang-orang yang bahkan tidak pernah tahu rasanya bertukar cerita dengannya di malam hari, tiba-tiba merasa paling tahu tentang isi kepalanya.
BRAK.
Sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas air putih diletakkan dengan hentakan yang cukup tegas di meja Nawang. Pelakunya bukan Timy, bukan juga Rio, melainkan Rendy.
Sang Ketua OSIS. Cowok yang terkenal dengan tatapan matanya yang sedingin es kutub, seragam yang selalu terkancing rapi sampai kerah atas, dan reputasi tanpa cela.
Nawang mendongak, alisnya bertaut. "Rendy? Lu ngapain di sini? Meja anak OSIS kan di depan."
Rendy tidak langsung menjawab. Dia duduk di kursi kosong di hadapan Nawang, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu memutar tubuhnya sedikit menghadap ke arah meja seberang—sumber suara bisik-bisik tadi. Dengan suara yang tidak keras namun punya artikulasi yang sangat tajam, Rendy berucap, "Kantin ini fasilitas sekolah untuk makan, bukan untuk ruang sidang dadakan. Kalau jam istirahat kalian cuma dipakai buat ngurusin hidup orang lain, mending masuk kelas sekarang dan hafalkan pasal-pasal UUD."
Meja seberang langsung hening seketika. Dua siswi yang tadinya asyik berbisik langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka sebelum akhirnya buru-buru pergi meninggalkan kantin.
Nawang memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Ren, lu nggak perlu kayak gitu. Malah makin bikin orang mikir yang enggak-enggak."
Rendy kembali berputar menghadap Nawang. Ekspresi wajahnya datar, nyaris tanpa emosi. "Gue nggak peduli mereka mikir apa. Yang gue peduli adalah ketenangan lingkungan sekolah dari gosip putusnya lu"
Alasan yang sangat pragmatis. Sangat khas seorang Rendy yang perfeksionis. Semua hal harus diukur dengan efisiensi dan hasil.
"Gue oke, Ren. Gue bisa handle ini sendiri," kata Nawang pelan, mencoba menegaskan batasannya.
"Lu nggak oke," potong Rendy cepat, matanya menatap langsung ke manik mata Nawang. "Cuti dari posisi kapten cheers itu langkah taktis yang bagus buat potong drama, tapi membiarkan diri lu jadi target gosip tanpa perlawanan itu namanya bodoh. Mulai hari ini, lu ikut bimbingan olimpiade di ruang OSIS setelah jam pulang. Di sana steril dari gangguan luar."
Nawang terpaku. Di satu sisi, dia tahu Rendy hanya menjalankan tugasnya sebagai ketua tim akademik sekolah. Di sisi lain, ada sesuatu dari cara Rendy memposisikan dirinya yang terasa seperti barikade pelindung. Cowok itu tidak menawarkan simpati yang mendayu-dayu, tapi dia memberikan solusi konkret yang Nawang butuhkan saat ini.
Sementara itu, di koridor luar kantin, Timy berdiri bersandar di pilar beton. Dia menyaksikan seluruh kejadian itu dari kejauhan. Tangannya yang masuk ke dalam saku celana mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Wah, si Rendy gerak cepat juga ya," celetuk Rio yang berdiri di samping Timy sambil mengunyah siomay. "Baru juga lu putus, si Ketua OSIS udah langsung pasang badan."
"Bacot, Yo," desis Timy. Matanya masih tertuju pada Rendy yang sekarang sedang menyodorkan segelas air putih baru ke arah Nawang, menggantikan es teh Nawang yang sudah mencair.
Ada rasa panas yang membakar dada Timy. Bukan sekadar cemburu, tapi rasa tidak terima melihat posisinya digantikan begitu cepat oleh orang yang selama ini selalu dia anggap membosankan karena terlalu kaku. Timy terbiasa menjadi pusat semesta Nawang. Selama satu tahun, dialah tempat Nawang mengeluh kalau koreografi cheers-nya berantakan, dialah yang membelikan cewek itu susu kotak rasa stroberi setiap kali Nawang stres menghadapi ujian.
Sekarang, melihat Rendy duduk di sana, dengan otoritas dan ketenangannya, membuat Timy merasa sangat kecil. Ego remajanya terluka parah.
Tanpa pikir panjang, Timy melangkah masuk ke kantin. Langkah kakinya sengaja dibuat berat, menciptakan intimidasi tersendiri.
Beberapa anak yang melihat Timy berjalan menuju meja Nawang langsung menahan napas.
Babak kedua drama hari ini tampaknya akan segera dimulai.
Timy berhenti tepat di samping meja mereka. Dia tidak menatap Rendy, matanya lurus menusuk Nawang. "Wang, kita perlu ngomong. Berdua. Sekarang."
Nawang menghentikan gerakan tangannya yang baru saja mau membuka halaman buku baru. Dia tidak mendongak, hanya menatap jemarinya sendiri. Kehadiran Timy selalu membawa efek magnetis yang kuat, dan Nawang benci karena tubuhnya masih mengenali getaran itu.
Sebelum Nawang sempat merespons, Rendy lebih dulu berdiri. Tingginya yang setara dengan Timy membuat keduanya kini berhadapan langsung, membelah atmosfer kantin menjadi dua kutub yang saling berbenturan.
"Dia lagi makan, Tim. Dan setelah ini ada jadwal bimbingan sama gue," kata Rendy, suaranya tenang namun sarat akan penekanan yang tidak bisa dibantah.
Timy mendengus sinis, matanya beralih ke Rendy. "Gue nggak ada urusan sama lu, Ketua OSIS. Gue ngomong sama mantan pacar gue. Urusan domestik kita, lu nggak usah ikut campur."
"Urusan domestik lu berdua udah selesai sejak pagi tadi," balas Rendy, nadanya tetap datar tanpa riak emosi, yang justru membuat Timy semakin naik pitam. "Sekarang, Nawang adalah tanggung jawab divisi akademik OSIS. Kalau lu mau bikin keributan yang berpotensi ganggu kestabilan emosi peserta olimpiade, gue punya hak penuh buat seret lu ke ruang BK atas dugaan intimidasi siswa."
"Lu—" Timy maju satu langkah, kerah baju Rendy nyaris jadi sasaran tangannya.
"Cukup, Timy."
Suara Nawang memotong perdebatan itu. Suaranya tidak tinggi, namun ada nada kelelahan yang amat sangat di sana. Nawang akhirnya mendongak, menatap Timy.
Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ada sisa-sisa kenangan yang perlahan meredup.
"Nggak ada lagi yang perlu diomongin. Semua udah jelas kemarin dengan kepala mata gue sendiri," kata Nawang, menatap Timy lurus-lurus. "Tolong, hargai keputusan gue. Jangan bikin semuanya makin rumit."
Timy menatap Nawang, mencari-cari celah ragu atau rindu yang biasanya selalu ada tiap kali mereka bertengkar lalu baikan.
Namun kali ini kosong. Nawang benar-benar telah menutup pintu itu rapat-rapat, dan Rendy kini berdiri di depannya sebagai palang pintu yang mustahil ditembus tanpa merusak diri sendiri.
Timy perlahan menurunkan tangannya. Dia tersenyum pahit, menatap bergantian ke arah Nawang dan Rendy. "Oh, jadi sekarang gini? Bagus deh. Cepat juga ya lu nemu pelarian yang... berprestasi."
Setelah melontarkan kalimat sarkasme yang sebenarnya lebih menyakiti dirinya sendiri itu, Timy berbalik dan berjalan cepat keluar dari kantin, mengabaikan Rio yang memanggil-manggil namanya.
Di meja kantin, Nawang memejamkan mata sesaat, mengatur napasnya yang sempat tercekat. Saat dia membuka mata, dia melihat Rendy sudah kembali duduk, merapikan sendok dan garpu di atas meja dengan tingkat presisi yang luar biasa, seolah konfrontasi panas barusan hanyalah angin lalu.
"Lu sengaja memancing dia, Ren?" tanya Nawang lirih.
Rendy menatap Nawang, ekspresinya kembali dingin dan profesional. "Gue cuma mempercepat proses eliminasi gangguan. Kalau dia tahu lu dilindungi oleh aturan sekolah, dia bakal mikir dua kali buat mendekat lagi. Sekarang, habiskan makanan lu. Kita punya waktu dua puluh menit sebelum bel masuk."
Nawang menatap semangkuk baksonya, lalu beralih ke Rendy. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, Nawang merasakan jenis keamanan yang berbeda.
......................
...****************...
Tbc,