NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 — Umpan Janda Kaya

Tiga hari setelah Reno menyebutnya sebuah arena, umpan pertama datang melalui seorang penggemar.

Pria bernama Aris menghubungi kanal bisnis Studio Nusa Karya. Ia mengaku mewakili seorang kenalan kaya yang melihat video TK Bintang Cemerlang dan ingin memesan relief foyer privat serta satu pajangan giok khusus.

Anggarannya Rp420.000.000.

Terlalu besar untuk ditolak tanpa diperiksa. Terlalu mudah untuk diterima tanpa bertanya.

Aris meminta pertemuan awal di Vivi's Bar & Kafe. Tempat itu belum buka saat Raka datang sore hari. Lampu bar masih setengah padam, kursi tersusun di atas meja, dan tidak ada minuman beralkohol yang disajikan.

Vivi berdiri di dekat kasir.

"Aris pernah datang sebagai pelanggan dan bilang dia pengikut live lo," katanya. "Gue cuma izinkan mereka ketemu di depan. Soal proyek, gue tidak kenal orangnya."

"Itu cukup."

"Jangan bilang cukup kalau nanti dia minta komisi karena pakai meja gue."

Aris muncul dengan kemeja mahal dan senyum yang terlalu akrab. Ia menunjukkan tangkapan layar profil perempuan bernama Sherly, foto lobi apartemen, serta angka anggaran.

"Bu Sherly itu janda pengusaha," katanya. "Dia tidak suka proses berbelit. Kalau cocok, uang muka bisa masuk malam ini."

"Saya perlu identitas pihak kontrak, bukti kewenangan atas lokasi, ukuran, kondisi dinding, aturan pengelola, dan kebutuhan desain."

"Semua ada di unit. Bu Sherly lebih suka menjelaskan langsung."

Vivi menyilangkan tangan. "Pertemuan kedua di sini saja."

"Bu Sherly tidak mungkin membawa dinding apartemen ke bar," kata Aris sambil tertawa.

Raka tidak ikut tertawa. Ia meminta alamat tertulis, nama pengelola gedung, nomor unit, serta daftar orang yang akan hadir. Aris memberi semuanya setelah dua kali alasan.

Sebelum berangkat, Raka mengirim lokasi dan jadwal kepada Beni melalui kanal internal Studio. Ia juga mengaktifkan pencatatan waktu pada formulir survei.

"Satu jam," kata Vivi. "Kalau lo tidak kirim pesan setelah satu jam, gue telepon."

"Empat puluh lima menit."

"Nah, itu baru Mas Kalem yang curigaan."

Apartemen tersebut berdiri di kawasan premium Jakarta Selatan. Deni, pria bertubuh besar yang diperkenalkan sebagai sopir sekaligus pengawal, menunggu di lobi. Ia tidak memakai kartu identitas staf gedung. Namun ia mengenal kode lift privat.

Unit di lantai tinggi itu menghadap deretan lampu kota. Sherly menyambut dengan tas bermerek, jam bertatah batu, dan gaun yang terlalu resmi untuk survei dinding.

"Akhirnya datang juga seniman viral," katanya. "Panggil saya Sherly saja."

"Untuk urusan proyek, Bu Sherly lebih jelas."

Sherly tersenyum tipis. "Formal sekali."

Raka membuka pengukur laser. "Di mana bidang kerjanya?"

"Nanti. Minum dulu."

Di meja terdapat botol anggur dan dua gelas, tetapi segelnya belum dibuka. Raka tidak duduk di sofa.

"Terima kasih. Saya sedang bekerja."

Sherly mendekat satu langkah. Raka bergeser ke sisi meja, menjaga jarak yang tertangkap jelas oleh kamera kecil di sudut langit-langit.

Kamera itu menghadap sofa, bukan pintu masuk.

Ada satu lagi di balik rak pajangan. Lensanya mengikuti area vas kaca mahal yang diletakkan terlalu dekat dengan tepi.

"Saya ingin relief naga," kata Sherly. "Besar, mewah, dan kelihatan mahal."

"Jenis permukaan?"

"Yang terbaik."

"Bahan dasar dinding?"

"Saya tidak tahu."

"Apakah pengelola mengizinkan beban tambahan dan pekerjaan basah?"

"Urusan mereka bisa dibayar."

"Giok untuk pajangan ingin jenis apa?"

"Yang hijau. Yang paling mahal."

Empat jawaban. Tidak satu pun berasal dari orang yang benar-benar hendak menempati rumah atau merawat karya.

Raka mengarahkan laser ke dinding foyer. Debu tipis tidak menempel pada lantai. Sofa, bantal, dan rak tampak baru, tetapi tidak ada kabel pengisi daya, foto, sepatu, obat, aroma masakan, atau benda pribadi.

Ini bukan rumah.

Kemungkinan besar unit contoh atau sewaan jangka pendek yang ditata agar tampak dihuni.

Ponselnya berada di saku kemeja dengan perekam suara aktif. Audio itu belum tentu berdiri sendiri sebagai alat bukti hukum, tetapi dapat menjaga ingatannya tentang urutan ucapan. Bukti utama tetap harus berasal dari dokumen, saksi, metadata, dan rekaman asli gedung.

"Saya suka orang yang tidak banyak tanya soal harga," kata Sherly. "Saya transfer enam puluh persen sekarang. Pakai rekening pribadi saja supaya cepat."

"Studio hanya menerima pembayaran berdasarkan penawaran dan kontrak. Rekeningnya rekening usaha yang tercantum di invoice."

"Saya sedang menawarkan dua ratus lima puluh dua juta."

"Dan saya belum tahu apakah dinding ini boleh dikerjakan."

Pintu foyer terbuka. Deni masuk tanpa mengetuk, lalu pura-pura terkejut melihat Sherly berdiri dekat Raka.

"Maaf, Bu. Saya kira Bapak ini sudah selesai."

Ia berjalan ke arah vas. Sikunya menyentuh rak, tetapi telapak tangannya diam-diam menahan benda itu agar tidak jatuh. Gerakan kecil itu justru memastikan kecurigaan Raka.

Mereka sedang mengatur posisi.

"Pak Deni, tadi Bapak berada di mana?" tanya Raka.

"Di mobil."

"Akses lift privat memerlukan kartu. Kartu Bapak masih di saku. Siapa yang membuka pintu unit?"

Deni terlambat setengah detik. "Petugas."

"Nama petugasnya?"

Sherly menyela. "Mengapa Anda menginterogasi orang saya?"

"Saya sedang menentukan siapa yang memiliki akses lokasi selama proyek. Itu bagian dari keamanan."

Raka mengambil foto dinding, bukan wajah mereka. Pada satu gambar, bayangan kamera sudut ikut masuk. Ia mencatat nomor model perangkat, arah lensa, posisi vas, nama jaringan Wi-Fi yang muncul pada alat ukur terhubung, serta stiker inventaris di bawah meja.

Stiker itu bertuliskan UNIT CONTOH—BUKAN UNTUK HUNIAN.

Ia tidak menunjukkannya.

"Saya sudah punya ukuran awal," katanya. "Kirim salinan bukti hak penggunaan unit dan izin pengelola melalui email Studio. Setelah diverifikasi, saya buat proposal."

"Kenapa harus pulang?" Sherly berdiri di antara Raka dan sofa. "Kita bisa menyelesaikan semuanya malam ini."

Raka melangkah ke jalur pintu yang tetap tertangkap CCTV lobi kecil.

"Keputusan tanpa dokumen bukan proyek. Itu risiko."

Deni membuka pintu dengan wajah kaku. Aris sudah tidak menjawab pesan.

Raka keluar tepat tiga puluh sembilan menit setelah masuk. Di lobi, ia meminta nama petugas jaga dan mencatat bahwa kunjungannya terdaftar sebagai survei vendor, bukan tamu pribadi. Ia tidak meminta salinan CCTV tanpa hak; ia hanya menandai lokasi kamera dan masa simpan yang disebut pada papan kebijakan gedung.

Vivi menelepon saat ia masuk ke mobil sewaan daring.

"Masih utuh?"

"Utuh."

"Janda kaya itu bagaimana?"

"Tidak tahu jenis dinding, tidak tahu jenis giok, tapi mau transfer ratusan juta ke rekening pribadi."

Vivi bersiul. "Jenis kaya yang makan orang."

"Jenis yang memerlukan arsip."

Setelah sambungan berakhir, Raka mengekspor formulir waktu, menyimpan audio asli tanpa potongan, dan menulis catatan faktual. Nomor unit. Nama petugas lobi. Posisi dua kamera. Model CCTV. Nama Wi-Fi. Stiker unit contoh. Vas yang sengaja diletakkan di tepi.

Ia mengirim pesan singkat kepada Pengacara Wisnu: Ada calon klien mencurigakan. Belum ada kerugian atau ancaman. Saya simpan data awal dan tidak akan menuduh publik.

Di bawahnya, Raka menulis satu kalimat untuk dirinya sendiri.

Mau menjebakku? Kita lihat siapa yang menyimpan lebih banyak bukti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!