NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Sesajen Di Balik Pohon Beringin

Jeritan dari rumah Pak Lurah itu masih terdengar sampai ke Pohon Beringin Kembar tempatku berdiri.

"SARIIII! TOLONG SARIII!"

Aku tidak peduli lagi dengan 40 anak bermata hitam yang sedang makan sesajen di akar beringin. Aku lari sekencang-kencangnya ke rumah Pak Lurah, rumah paling besar di dusun, yang halamannya ada pohon mangga.

Di depan rumah itu sudah berkumpul tiga dan empat warga, termasuk Pak Min yang tadi memukul kentongan tanpa irama. Mereka semua pucat, tidak berani masuk.

Dari dalam rumah, terdengar suara gamelan fals yang tadi aku dengar dari hutan, tapi sekarang sumbernya dari dalam rumah Pak Lurah sendiri. Gamelannya dipukul cepat, tidak beraturan, seperti orang kesurupan.

Aku dobrak pintu.

Di ruang tengah, aku lihat Sari.

Sari adalah gadis umur 19 tahun, anak satu-satunya Pak Lurah. Selama aku pulang 10 hari ini, dia satu-satunya warga yang berani senyum ke aku dari jendela. Cantik, rambut panjang.

Sekarang Sari duduk di tengah ruangan, tapi bukan duduk seperti manusia.

Dia duduk melayang, 1 meter di atas lantai. Kepalanya menengadah ke atas, matanya putih semua, tidak ada hitamnya, kebalikan dari anak bermata hitam. Mulutnya terbuka lebar, dari mulutnya keluar asap hitam yang tadi aku lihat di retakan masjid tanpa karpet.

Tubuhnya kejang-kejang, tapi tangannya memegang erat foto dirinya sendiri, foto yang sama seperti yang ada di sesajen di bawah beringin tadi.

Di sekeliling Sari, ada sesajen kedua. Nasi kuning, bunga, dan mangkuk darah yang sama.

Pak Lurah dan istrinya bersujud di pojok ruangan, menangis, memegang tasbih tapi tidak berani mendekat.

"Pak Lurah, apa yang terjadi?!" teriakku.

Pak Lurah menoleh, wajahnya hancur karena menangis. "Nak Arga... maafkan saya... saya yang kasih sesajen itu... saya yang taruh foto anak saya sendiri..."ucap pak Lurah.

Aku membeku.

"KENAPA? teriakku.

Pak Lurah merangkak mendekati kakiku. "Demi Allah, saya dipaksa, Nak... tiga malam lalu, sebelum bapakmu meninggal, saya mimpi didatangi Raja... Raja tinggi besar kepala kerbau... Banaspati... Dia bilang kalau saya tidak kasih tumbal perawan tiap Jumat Kliwon, dia akan ambil seluruh kampung... Saya takut, Nak... Sari sudah dilamar orang Banyuwangi kota, saya takut dia di ambil Jin... jadi saya pikir kalau saya kasih fotonya saja sebagai ganti, dia akan..."ucapnya terputus.

Dia tidak lanjutkan. Karena Sari menjerit.

Jeritan Sari bukan suara Sari. Suaranya berubah jadi suara laki-laki berat dan serak.

"BOHONG! KAU JANJIKAN DARAH PERAWAN UNTUKKU! BUKAN FOTO! MANA DARAHNYA?!"

Itu suara Banaspati, keluar dari mulut Sari. Sari kesurupan Raja Jin Kafir.

Aku baru paham. Sesajen di Balik Pohon Beringin itu bukan sekadar nasi kuning.

Itu adalah perjanjian baru yang dibuat Pak Lurah dengan Jin Kafir di belakang punggung penjaga. Pak Lurah yang seharusnya jadi pemimpin manusia di kampung, malah berkhianat karena takut. Dia buat sesajen darah, dia taruh foto anaknya sendiri sebagai tumbal, berharap Banaspati puas dengan foto saja.

Tapi Jin Kafir tidak mau foto. Mereka mau darah. Darah perawan.

Dan karena sesajen itu sudah terlanjur dimakan oleh 40 anak bermata hitam di akar beringin, gerbang yang kemarin aku tutup dengan tahajud, terbuka lagi sedikit, dan Banaspati bisa masuk lewat tubuh Sari.

Rumah Pak Lurah bergetar. Lampu gantung jatuh.

Sari yang melayang itu tiba-tiba menoleh ke arahku, matanya yang putih mendelik, dan dia tersenyum dengan mulut Sari tapi gigi Banaspati yang runcing.

"AKHIRNYA... PENJAGA BARU... DARAHMU LEBIH SEGAR DARI DARAH GADIS INI..."

Dia angkat tangannya, kuku-kuku Sari memanjang jadi kuku hitam 10 cm, dan dia terbang ke arahku.

Aku tidak sempat menghindar.

Tapi sebelum kuku itu menyentuh leherku, dari belakangku, sebuah cahaya putih menghantam tubuh Sari.

"ALLAHU AKBAR!"

Malik datang. Ustadz Ghaib itu muncul dari cahaya, jubah putihnya berkibar, tangannya memegang tongkat kayu cendana.

Tongkat itu dia pukulkan ke lantai, dan dari lantai keluar lingkaran cahaya yang mengurung Sari yang kesurupan.

Sari menjerit-jerit, suara Banaspati dan suara Sari bercampur.

"Sudah saya bilang, Arga! Jangan ada sesajen! Satu sesajen di malam Jumat Kliwon bisa jebolkan segel sebulan!" bentak Malik, tapi matanya menatap Pak Lurah dengan marah.

Pak Lurah hanya bisa menangis.

Malik menoleh ke aku. "Arga, tutup sesajen di beringin itu sekarang! Siram dengan Banyu Suci sisa perjanjian kemarin! Cepat sebelum Banaspati pindahkan sepenuhnya jiwanya ke gadis ini! Kalau sampai lewat Maghrib Sari masih kesurupan, jiwanya akan dibawa ke Alas dan dia akan jadi istri Banaspati..."ucap Malik.

Aku lari lagi. Lari kembali ke Pohon Beringin Kembar, dengan mangkuk tempurung Banyu Suci yang tadi malam masih ada sisa sedikit di rumah.

Di bawah beringin, 40 anak bermata hitam itu masih ada, mereka sudah selesai makan ayam panggang sesajen. Mangkuk darahnya sudah kosong, dijilat bersih.

Mereka melihat aku datang dengan mangkuk bercahaya.

Mereka takut. Mereka mundur.

Aku siram sisa Banyu Suci itu ke atas sesajen, ke atas nasi kuning, ke atas foto Sari, ke atas akar beringin yang menganga sejengkal.

Sssstttttt...

Seperti air kena minyak panas. Sesajen itu terbakar api putih. Foto Sari terbakar. Akar beringin yang menganga itu menjerit dan menutup kembali, rapat, seperti semula.

Bersamaan dengan itu, dari arah rumah Pak Lurah, terdengar jeritan terakhir Banaspati yang sangat keras, lalu suara Sari menangis.

Aku lari balik ke rumah Pak Lurah.

Sari sudah jatuh ke lantai, tidak melayang lagi. Matanya sudah normal, hitamnya kembali, tapi dia pingsan, tubuhnya penuh keringat dan luka cakaran di lehernya sendiri.

Pak Lurah memeluk anaknya sambil menangis.

Malik berdiri di tengah ruangan, tongkatnya masih bercahaya, napasnya berat.

Dia menatap Pak Lurah, lalu menatap aku.

"Arga, sesajen di balik pohon beringin sudah kamu bersihkan. Tapi ini peringatan. Tanda Kampung Jin Kafir Bangkit tadi pagi belum hilang. Langit masih hitam, air sumur masih hitam. Karena sekali gerbang dikasih makan darah, dia akan lapar terus. Dan Banaspati akan cari cara lain. Dia tidak akan berhenti di Sari. Dia akan cari gadis lain. Atau... dia akan cari penjaga lain yang mau berkhianat...."ucap Malik.

Pak Lurah bersujud di kaki Malik. "Ustadz, ampun, Ustadz... saya hilaf..."

Malik tidak menjawab. Dia hanya menatap aku.

"Arga, malam ini kamu harus jaga lagi di masjid tanpa karpet. Karena sesajen itu, retakan yang kemarin kamu tutup dengan tahajud... terbuka lagi. Dan kali ini lebih besar dari kemarin. tiga meter."

Aku lihat ke luar jendela. Langit yang masih hitam itu, di balik awan asapnya, ada bayangan besar kepala kerbau bermahkota tulang yang mengintip dusun.

Banaspati belum pergi. Dia menunggu malam.

Dan sesajen di balik pohon beringin itu hanyalah pembuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!