Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT BELAS
## Bab 14: Sahabat yang Gugup
Sabtu siang itu, aku dan Bayu memutuskan untuk servis motor di sebuah bengkel langganan tidak jauh dari rumah. Bengkel itu cukup ramai, dengan beberapa montir sibuk menangani kendaraan pelanggan yang antre. Sambil menunggu motor kami selesai diperiksa, aku duduk di ruang tunggu kecil, sementara Bayu mengobrol dengan salah satu montir yang tampaknya sudah cukup ia kenal.
"Eh, Feri, lama nggak ketemu," sapa Bayu pada seorang montir muda yang baru saja keluar dari bagian belakang bengkel, tangannya masih belepotan oli.
"Bay! Ke mana aja lo? Udah lama banget nggak mampir," jawab montir itu—yang kemudian kutahu bernama Feri—sambil menyalami Bayu dengan hangat.
Aku memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan, tersenyum melihat keakraban di antara keduanya yang tampak seperti sahabat lama. Tidak lama kemudian, Bayu memanggilku untuk berkenalan.
"Yu, ini Feri, temen SMA aku. Udah lama banget kenal, dari zaman masih culun-culunnya kita," Bayu tertawa, menepuk pundak sahabatnya itu.
"Halo, Mas Feri. Aku Ayu, istrinya Bayu," aku menyapa ramah, mengulurkan tangan.
Feri menyambut uluran tanganku, namun ekspresinya sekilas berubah—ada sesuatu yang tampak seperti keterkejutan kecil, atau mungkin kegugupan, yang muncul dan hilang begitu cepat hingga aku hampir tidak menyadarinya.
"Oh, halo, Mbak Ayu. Senang akhirnya bisa ketemu langsung," jawab Feri, suaranya terdengar sedikit lebih formal dari yang seharusnya untuk pertemuan santai semacam ini.
---
Kami mengobrol sebentar sambil menunggu motor selesai diperiksa. Feri banyak bercerita tentang masa SMA mereka, tentang kenakalan-kenakalan kecil yang pernah mereka lakukan bersama, membuatku ikut tertawa mendengar cerita-cerita lucu tentang suamiku di masa muda.
"Eh, Fer, gimana kabar—" Bayu tiba-tiba menghentikan kalimatnya sendiri, seolah baru menyadari sesuatu, melirik sekilas ke arahku sebelum melanjutkan dengan topik berbeda. "—gimana kabar bengkel? Makin rame aja kayaknya pelanggannya."
Feri tampak sedikit bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba itu, namun cukup cekatan untuk mengikuti arah pembicaraan baru. "Alhamdulillah, Bay. Lumayan lah, cukup buat makan sehari-hari."
Aku tidak terlalu memperhatikan momen kecil itu, menganggapnya hanya kebiasaan biasa dua sahabat lama yang sering berganti topik pembicaraan secara acak. Namun, entah kenapa, ada rasa penasaran kecil yang muncul—kalimat apa sebenarnya yang ingin ditanyakan Bayu sebelum ia menghentikannya sendiri.
"Tadi mau nanya apa, Mas? Kok dipotong sendiri," tanyaku, lebih karena penasaran ringan daripada kecurigaan serius.
"Oh, nggak jadi, Yu. Nggak penting kok," jawab Bayu cepat, tersenyum meyakinkan, meski aku sempat melihat pandangan singkat yang bertukar antara dirinya dan Feri—pandangan yang, kalau saja aku lebih jeli membacanya, sebenarnya adalah kode diam untuk saling mengingatkan agar berhati-hati dalam bicara.
---
Setelah motor selesai diperiksa dan dibayar, kami berpamitan pada Feri, yang kembali menyalami kami berdua dengan ramah, meski aku masih merasakan sedikit kekakuan dalam caranya berinteraksi denganku dibandingkan keakrabannya dengan Bayu.
"Senang kenalan sama kamu, Mbak Ayu. Semoga langgeng terus ya sama Bayu," kata Feri, kalimat yang terdengar seperti ucapan selamat biasa, namun entah kenapa disampaikan dengan nada yang sedikit lebih serius dari yang seharusnya.
"Aamiin, makasih ya, Mas," jawabku, tersenyum ramah sebelum akhirnya kami meninggalkan bengkel itu.
Dalam perjalanan pulang, aku sempat berkomentar ringan pada Bayu. "Temen kamu itu baik ya, Mas. Tapi kelihatan agak canggung gitu pas kenalan sama aku."
"Ah, dia emang gitu orangnya, agak pemalu kalau ketemu orang baru," jawab Bayu, mencoba menjelaskan dengan santai, meski nada suaranya terdengar sedikit terburu-buru.
"Oh gitu," aku mengangguk, tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, meski rasa penasaran kecil tentang kekakuan Feri dan kalimat yang terpotong tadi masih sedikit mengganjal di benakku sepanjang perjalanan pulang.
Sebenarnya, kegugupan Feri bukan tanpa alasan. Sebagai satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran tentang Wulan dan Raka, bertemu langsung dengan Ayu—perempuan yang selama ini hanya ia dengar ceritanya dari Bayu, perempuan yang tanpa sadar telah menjadi korban dari kebohongan besar yang ia bantu jaga bertahun-tahun—membuatnya merasa sangat tidak nyaman, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya berisiko membocorkan rahasia yang bukan miliknya untuk diungkapkan.
---
Malam harinya, di rumah, aku sempat menceritakan pertemuan dengan Feri pada ibuku lewat telepon, sekadar obrolan ringan sebelum tidur.
"Bu, tadi aku ketemu temen SMA-nya Bayu di bengkel. Namanya Feri, orangnya baik tapi agak canggung gitu," ceritaku pada ibu.
"Oh ya? Kok bisa canggung, Yu?" tanya ibuku, penasaran.
"Nggak tau, Bu. Mungkin emang tipe orangnya pemalu kali ya," jawabku, tidak terlalu memikirkannya lebih jauh.
"Ya udah, nggak apa-apa. Yang penting kamu sama Bayu baik-baik aja kan?" tanya ibuku, pertanyaan yang belakangan sering muncul dari berbagai orang di sekitarku, meski aku tidak pernah benar-benar memahami kenapa pertanyaan semacam itu semakin sering terlontar akhir-akhir ini.
"Baik-baik aja kok, Bu. Tenang aja," jawabku, meyakinkan ibuku sekaligus, tanpa kusadari, terus meyakinkan diriku sendiri untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil yang, jika dikumpulkan satu per satu, sebenarnya sudah mulai membentuk pola yang cukup jelas—hanya saja, aku belum siap, atau mungkin belum cukup peka, untuk benar-benar melihatnya sebagai satu kesatuan yang utuh.
Malam itu aku tidur dengan pikiran yang sedikit lebih penuh dari biasanya, meski belum sampai pada titik kecurigaan yang serius. Hanya ada rasa penasaran kecil yang terus mengendap di sudut pikiran, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya bergabung dengan potongan-potongan kejanggalan lain yang selama ini terus bermunculan tanpa pernah benar-benar kusadari sebagai sebuah pola yang mengarah pada satu kebenaran besar.
---
*Bersambung ke Bab 15*