Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: BENANG MERAH YANG MULAI TERLIHAT
Sepulang dari forum seminar itu, Bang Tua berjalan bersama Pak Ferdinand menuju parkiran, masih membahas kejadian tadi dengan nada setengah bercanda. "Kau berani kali tadi, Sahat, lawan Prof. Bonar terang terangan gitu. Aku aja yang udah puluhan tahun kenal dia, nggak berani sekali pun bantah dia langsung di forum," kata Pak Ferdinand, terdengar kagum sekaligus khawatir.
"Yah, namanya juga bela yang benar, Pak. Lagian saya penasaran aja, jangan jangan reputasi horor Prof. Bonar itu cuma settingan doang, kayak preman pasar yang galaknya cuma di depan yang lemah, giliran ketemu yang berani lawan, ciut juga," canda Bang Tua, meski dalam hati dia tahu betul situasinya tidak sesederhana itu.
Pak Ferdinand tertawa mendengar candaan itu, tapi kemudian nadanya berubah lebih serius. "Sahat, kau harus hati hati juga. Prof. Bonar itu bukan orang sembarangan, dia deket kali sama Pak Yosia, yang lagi getol maju jadi calon Ketua Prodi. Kalau kau terlalu sering bentrok sama orang orangnya Pak Yosia, bisa bisa kau ikut kena imbasnya nanti."
Bang Tua tersentak mendengar nama itu disebut, mengingat kembali cerita samar dari kolega lain soal Prof. Bonar yang punya "pasukan setia" karena pernah diselamatkan dari masalah etik. Ternyata nama itu, Yosia, sudah beberapa kali muncul secara tidak langsung dalam berbagai cerita yang dia kumpulkan belakangan ini, seperti kepingan kepingan puzzle yang mulai membentuk gambar yang lebih jelas.
"Sejak kapan dia getol kali soal jabatan itu, Pak?" tanya Bang Tua, mencoba menggali lebih dalam sambil mereka berjalan pelan menyusuri area parkiran yang mulai lengang.
"Udah dari dua tahun lalu kayaknya, Sahat. Awalnya biasa biasa aja, cuma lama lama kelihatan dia mulai bangun jaringan, deketin orang orang penting, termasuk beberapa nama di Dekanat. Katanya sih dia juga udah mulai deketin orang orang di Rektorat, entah buat apa, mungkin persiapan jangka panjang," jawab Pak Ferdinand, suaranya semakin direndahkan meski area parkiran yang mereka lalui benar benar sudah sepi.
"Pak Yosia itu emang lagi getol maju jadi Ketua Prodi ya, Pak?" tanya Bang Tua, mencoba terdengar sekadar penasaran biasa, meski dalam hati dia sudah mulai menyusun berbagai kemungkinan yang menghubungkan semua potongan informasi yang dia miliki.
"Getol kali, Sahat. Katanya dia udah dekati banyak pihak, termasuk dari dekanat, biar jalannya mulus. Entah kenapa dia ngotot kali mau jabatan itu, padahal kalau soal senioritas, sebenarnya ada kandidat lain yang lebih pantas," jawab Pak Ferdinand, suaranya direndahkan meski di parkiran yang mulai sepi itu sebenarnya tidak ada orang lain yang bisa mendengar.
Bang Tua mengangguk perlahan, pikirannya mulai menyusun ulang semua kejadian yang sudah dia alami selama beberapa minggu terakhir, rapat mendadak yang penuh bahasa berbelit, Riko yang terkatung katung karena Dr. Marlina yang kewalahan sistem, Dinda yang ditekan Prof. Bonar yang ternyata loyalis Pak Yosia, dan entah bagaimana caranya, semua ini terasa seperti bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar masalah akademik biasa.
"Bapak jadi penasaran kali sekarang, Pak Yosia ini orangnya kayak gimana sih," gumam Bang Tua, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Pak Ferdinand, meski temannya itu tetap mendengar dan tersenyum tipis.
"Nanti juga kau bakal ketemu sendiri orangnya, Sahat. Biasanya dia yang duluan cari orang, bukan orang yang cari dia," jawab Pak Ferdinand, dengan nada yang terdengar seperti peringatan sekaligus ramalan.
"Emang dia pernah samperin kau langsung, Pak?" tanya Bang Tua penasaran, mencoba mengorek lebih jauh pengalaman Pak Ferdinand.
Pak Ferdinand terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan seberapa jauh dia mau bercerita. "Pernah, sekali, waktu itu dia ngajak ngobrol santai di acara syukuran fakultas, basa basi dulu soal keluarga, soal penelitian, baru ujung ujungnya nanya nanya pendapatku soal siapa yang cocok jadi Ketua Prodi berikutnya. Halus kali caranya, Sahat, kau nggak bakal sadar lagi didekati kalau nggak jeli."
Bang Tua mengangguk, menyimpan informasi itu baik baik, semakin menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih terorganisir dari sekadar satu dua oknum dosen bermasalah. "Terus, kau jawab apa waktu itu, Pak?"
"Aku jawab aman aman aja, bilang belum kepikiran, biar nggak kena masalah entah dari kubu mana," jawab Pak Ferdinand sambil tertawa kecil, meski tawanya terdengar sedikit getir, "namanya juga cari selamat, Sahat. Kau nanti kalau didekati, hati hati jawabnya ya, jangan sampai kebawa bawa terlalu dalam."
Mereka berpisah menuju kendaraan masing masing, Bang Tua melambaikan tangan sambil melontarkan candaan terakhir, "makasih peringatannya, Pak. Nanti kalau bapak beneran didekati, bapak jawab aja bapak lagi sibuk mikirin cara benerin rumus integral yang lebih efisien, biar mereka males lanjutin ngobrol", yang disambut tawa kecil dari Pak Ferdinand sebelum mereka benar benar berpisah.
Malam itu, di kos, Bang Tua membuka lagi buku catatan kecilnya, kali ini menambahkan satu nama baru yang mulai terasa penting, Yosia, dilingkari dengan tinta merah, dihubungkan dengan garis garis ke nama Prof. Bonar dan secara tidak langsung ke nasib ketiga mahasiswanya. Dia duduk lama menatap coretan itu, mencoba menyusun berbagai kemungkinan skenario yang bisa menjelaskan kenapa seorang calon Ketua Prodi begitu peduli membangun jaringan dukungan sampai sejauh mendekati dosen dosen biasa seperti Pak Ferdinand.
Dalam hati dia bergumam, campuran antara waswas dan sedikit semangat yang aneh, "kayaknya bapak baru aja masuk ke babak baru dalam hidup bapak, dari yang tadinya cuma dosen kalem penikmat kopi Bu Rohana, sekarang jadi ikut ikutan intrik kampus, kalau ini difilmkan, mungkin judulnya Dosen Gadungan Jadi Detektif Amatir, atau mungkin lebih pas lagi, Dosen Kalem Kena Getah Politik Kampus, kira kira bakal laku nggak ya filmnya".
Sebelum tidur, dia sempat menatap langit langit kamarnya cukup lama, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya, apakah dia harus mulai mencari cara bertemu langsung dengan Dr. Yosia untuk memahami motifnya, atau justru lebih baik tetap berjaga jarak sambil terus mengumpulkan informasi dari balik layar, sebuah keputusan yang belum sepenuhnya dia temukan jawabannya malam itu, tapi satu hal yang dia yakini, dia sudah tidak bisa lagi berpura pura tidak tahu apa apa seperti sebelumnya.
Dia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan sempat mengetik draf pesan ke Riko menanyakan kabar terbarunya, sebelum akhirnya menghapusnya lagi karena merasa belum saatnya melibatkan mahasiswanya lebih jauh dalam kekhawatiran yang masih dia simpan sendiri. Dia menaruh ponselnya di meja, mematikan lampu belajar, dan berbaring dalam gelap, pikirannya masih berputar antara rasa waswas dan tekad yang perlahan menguat, sebuah kombinasi perasaan yang akan menemaninya memasuki babak berikutnya dari petualangan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan dia jalani sebagai seorang dosen matematika biasa.