Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 KEPULANGAN SANG PENJAGA
Perjalanan menuruni lereng curam Hutan Larangan Mandalagiri terasa jauh lebih cepat, ringan, dan tanpa hambatan dibandingkan saat Raka mendakinya sehari yang lalu.
Berkat intisari Welingan Sejati yang kini mengalir deras, menyatu sempurna di dalam aliran darah dan setiap denyut nadinya, setiap langkah kaki Raka terasa begitu mantap, terkontrol, dan terarah dengan presisi yang luar biasa. Langkah-langkah kakinya yang dulu terkadang masih menyaruk akar pohon purba atau batu cadas yang licin kini berubah menjadi gerakan yang lincah, senyap, dan tanpa suara, seolah-olah tubuhnya telah berhasil menyatu sepenuhnya dengan ritme alam liar di sekitarnya.
Ketika ia melewati batu batas terakhir yang berukiran aksara kuno sunda buhun, kabut tebal berwarna putih keabu-abuan yang menyelimuti punggung bukit seolah dengan sendirinya membuka jalan baginya. Raka berhenti sejenak untuk menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pegunungan sore yang segar dan bersih mengisi penuh paru-parunya.
Tidak ada lagi setitik pun rasa gentar, ragu-ragu, atau kecemasan di dalam dadanya. Yang tertinggal di sana hanyalah ketenangan batin yang luar biasa dalam, serta tekad baja yang membara untuk melindungi setiap jengkal tanah yang menjadi hak waris warga Desa Ciherang.
Matahari perlahan-lahan mulai condong ke ufuk barat, memancarkan rona jingga keemasan yang dramatis di atas atap-atap rumah panggung Dusun Ciherang ketika Raka akhirnya menampakkan batang hidungnya di ujung jalan setapak desa. Beberapa warga desa yang kebetulan sedang duduk-duduk berkumpul di balai bambu terperanjat kaget, nyaris tak percaya melihat kedatangannya.
Berita tentang hilangnya Raka secara misterius di dalam Hutan Larangan Mandalagiri selama dua hari dua malam berturut-turut telah menyebar dengan cepat seperti api membakar jerami, menimbulkan duka dan kecemasan mendalam di antara para tetangga, terutama setelah apa yang diucapkan oleh ibunya tempo hari.
"Raka! Ya Tuhan, anakku... benarkah itu kau?"
Sebuah suara tangis tertahan yang penuh kepedihan terdengar memecah keheningan dari arah halaman rumah panggungnya. Siti, sang ibu, berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga kayu rumah dengan langkah yang gemetar, menghampiri putranya dengan mata yang sembab dan wajah yang menyiratkan kelegaan luar biasa. Wanita paruh baya itu langsung merengkuh dan memeluk erat tubuh Raka, seolah takut putranya itu akan kembali lenyap ditiup angin sore atau hanya sekadar bayangan semu belaka.
"Ibu, maafkan aku karena membuatmu cemas setengah mati," bisik Raka lembut sambil membalas pelukan ibunya dengan penuh kehangatan, menyalurkan ketenangan dari energi baru yang kini dimilikinya agar ibunya merasa aman. "Aku baik-baik saja, Bu. Bahkan, jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku membawa jawaban atas semua kekhawatiran kita."
Kabar tentang kembalinya Raka dari Hutan Mandalagiri dengan selamat sentosa sontak menggegerkan seluruh penjuru desa. Dalam waktu yang sangat singkat, para sesepuh desa, termasuk Pak Lurah dan beberapa tokoh masyarakat yang dituakan, langsung berdatangan berkumpul di rumah Raka.
Mereka duduk berdesakan memenuhi ruang tamu yang temaram, menatap pemuda itu dengan campuran rasa takjub, heran, dan penasaran yang teramat sangat. Di mata mereka, tidak ada lagi sosok Raka yang kemarin-kemarin tampak pendiam dan kebingungan; kini, sorot mata Raka memancarkan ketenangan yang dalam, kebijaksanaan yang matang, dan wibawa kharismatik yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa segan secara otomatis.
"Ceritakan kepada kami semua, Raka," ucap Pak Lurah dengan suara bergetar karena emosi, memecah keheningan malam yang mulai merayap turun. "Bagaimana mungkin kau bisa keluar dari Hutan Mandalagiri hidup-hidup dan sehat walafiat, sementara puluhan orang sakti di masa lalu tidak pernah ada yang kembali?"
Dengan tenang, Raka membuka ransel usang peninggalan kakeknya di hadapan para sesepuh desa. Ia mengeluarkan gulungan lontar berisi Welingan Sejati serta meletakkan lempengan giok hijau tua di atas meja kayu di tengah-tengah ruangan. Cahaya lampu teplok yang berkelip memantulkan kilau lembut berwarna kehijauan dari batu giok tersebut, membuat seluruh orang yang duduk di ruangan itu terkesiap, menahan napas, dan merinding seketika. Mereka sangat mengenali pusaka itu dari cerita turun-temurun para leluhur pendiri desa.
"Hutan itu tidak pernah membunuh orang yang berniat baik, Pak Lurah," jawab Raka dengan nada suara yang tenang namun berwibawa, mencengkeram perhatian setiap telinga yang mendengarkan. "Hutan itu hanya menyaring dan menguji kemurnian niat.
Leluhur kita meninggalkan warisan ini bukan untuk disombongkan di hadapan sesama, melainkan sebagai pedoman moral dan benteng pertahanan terakhir ketika tanah air kita menghadapi ancaman kehancuran dari pihak luar yang berniat sewenang-wenang."
Raka kemudian menjelaskan inti sari dari ilmu pengobatan tradisional tingkat tinggi dan ketahanan fisik yang ia temukan di dalam gulungan lontar tersebut secara terperinci. Ia memaparkan dengan bijak bahwa perlawanan terbaik terhadap korporasi yang hendak merampas tanah mereka bukanlah dengan amarah yang membabi buta atau bentrokan fisik brutal yang justru akan merugikan warga sendiri, melainkan dengan persatuan yang dilandasi kecerdasan strategi, ketahanan mental yang kokoh, serta penguasaan hukum adat yang sah secara turun-temurun.
Para sesepuh desa mendengarkan setiap patah kata Raka dengan seksama, mengangguk-angguk takjub penuh kekaguman. Penjelasan pemuda itu terasa begitu logis, terstruktur dengan rapi, dan mampu menenangkan hati mereka yang sempat dilanda keputusasaan total. Malam itu, di bawah temaram cahaya lampu minyak, sebuah rencana besar dan terorganisir mulai dirumuskan bersama. Raka bukan lagi sekadar pemuda desa biasa; ia telah diangkat oleh takdir dan restu leluhur menjadi poros perlawanan baru bagi seluruh warga Desa Ciherang.
Namun, ketenangan malam itu ternyata tidak berlangsung lama. Menjelang tengah malam, ketika sebagian besar warga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, suara bising deru mesin kendaraan bermotor dalam jumlah banyak kembali memecah kesunyian malam dusun. Kali ini, bukan lagi hanya sebuah mobil jip tunggal, melainkan tiga buah truk pengangkut alat berat berukuran besar dan beberapa mobil sedan mewah yang dikawal ketat oleh sekelompok orang bertubuh tegap berbadan kekar—bukan lagi sekadar utusan administratif kantor, melainkan preman bayaran korporasi yang sengaja dikirim untuk menebar teror di tengah malam.
Raka berdiri perlahan dari tempat duduknya. Ia melangkah keluar menuju teras rumah panggung, menatap tajam ke arah konvoi kendaraan yang berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Lampu sorot kendaraan menyilaukan mata, menyoroti sosok Raka yang berdiri tegak seorang diri di atas tangga kayu, tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar atau takut di dalam dadanya.
Pintu mobil sedan di barisan paling depan terbuka lebar, dan keluarlah pria berjas rapi yang kemarin sempat meremehkannya, didampingi oleh seorang pria bertubuh raksasa penuh tato di sekujur lengannya dengan tatapan mata yang beringas.
"Wah, rupanya si anak pemberani kemarin masih ada di sini dan belum kabur rupanya!" seru pria berjas itu dengan nada sinis yang memuakkan, tertawa kecil meremehkan. "Dengar baik-baik, anak muda! Batas waktu toleransi sudah habis. Kalau malam ini warga masih menolak untuk membubuhkan tanda tangan pada surat pelepasan tanah, alat-alat berat kami akan meratakan desa ini tanpa ampun sebelum matahari terbit!"
Raka menarik napas panjang, membiarkan aliran energi Welingan Sejati berputar lembut di dalam inti tubuhnya, menghadirkan ketenangan mutlak di tengah gertakan ancaman yang bising itu. Dengan langkah kaki yang perlahan namun sangat pasti, Raka menuruni anak tangga kayu satu demi satu, bersiap menghadapi ujian nyata pertama dari dunia luar yang mencoba merusak kedamaian tanah kelahirannya.