Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Hai, saya manager Mahesa Group tertarik dengan penampilan anda. Kebetulan kami sedang merekrut anggota baru sebagai model. Kalau anda tertarik boleh hubungi nomor ini" ucap salah seorang wanita memberikan kartu namanya pada Raisa, Indra mengerutkan keningnya saat melihat kartu nama itu, sebuah nama yang sangat terkenal tertera disana.
"Mahesa Group? Wahhh, Raisa. Kau beruntung sekali" ucap Indra memuji hoki yang baru saja menemui Raisa.
"Hahaha, ini belum seberapa!" Ujar wanita ini tersenyum.
Dan benar saja, masih ada orang dari beberapa agency yang menawarinya hal yang sama, juga beberapa orang yang ingin menjadikan Raisa sebagai brand ambassador dari produk yang mereka produksi.
"Woww, kamu baru pulang setelah hampir mati dan sekarang kamu dapat hoki besar. Manifesting?"
"Tidak, ini dendam!" Jawab Raisa tenang.
"Dendam? Sorry but i don't know what you say!"
"Aku akan bercerai, dengan atasanmu!"
"Hah?" Indra hampir berteriak saat mendengar jawaban dari wanita itu.
Raisa menyalakan ponselnya lalu membuka aplikasi kontak pada benda pipih itu, ia menyodorkannya pada Indra membuat lelaki itu mengerutkan keningnya sesaat.
"Sepertinya kita akan berteman, berikan nomor ponselmu padaku" ujarnya, lelaki itu memberi komentar apapun selain menuruti kemauan Raisa.
Melihat jam terus berputar dan malam sudah tiba, keduanya memutuskan untuk pergi berbelanja seperti yang mereka bicarakan tadi, sementara itu dirumah mewah bak mansion itu Angga dan Steven tengah uring-uringan menunggu kembali kabar tentang Raisa. Banyak yang mengatakan kalau wanita yang tengah viral dimedia sosial itu adalah Raisa.
"Tapi dilihat dari tingginya sama cara jalannya memang kelihatan seperti Raisa. Menurut Mama bagaimana?" Steven bertanya pada Laluna yang juga bingung melihat wanita yang ada di media sosialnya itu.
"Mama tidak yakin, tapi apa ia Raisa berani melakukan itu?" Tanyanya lagi sebab ia belum percaya Raisa berubah secepat itu.
"Lihat, bajunya saja berbeda dengan baju yang dia pakai tadi pagi" lanjutnya lagi.
Angga menggelengkan kepalanya tak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya kini, ia melempar ponselnya dengan pelan keatas meja makan.
"Lihat, kalau bukan Raisa siapa lagi? Dirumah ini tak ada yang tahu pin ATMku selain dia, dan sekarang pesan tentang pengeluarannya baru saja tercatat disini. Aku yakin kalau dia Raisa, entah apa yang sedang direncanakannya tapi aku yakin dia sedang menyusun strategi untuk menyerang kita" ujarnya membuat Steven dan paruh baya itu tak mampu berkata-kata.
Ketiganya duduk tanpa semangat disana hingga sebuah mobil berhenti di depan rumah, Steven berlari ke arah jendela dan menggeser tirai disana agar mereka dapat melihat siapa yang baru saja datang kerumah mereka.
Sesuai dugaan Angga, Raisa keluar dari mobil mamakai pakaian yang sama persis dengan pakaian wanita yang tengah viral itu, ditangannya terdapat banyak barang belanjaan dari berbagai brand mahal. Begitu ia melangkahkan kaki kedalam rumah, ruangan itu tiba-tiba menjadi wangi, dan wanginya berasal dari aroma tubuh wanita muda itu.
"Raisa, berhenti!" Panggil Angga saat Raisa hendak menaiki anak tangga.
Raisa memang menghentikan langkahnya tapi hanya sesaat, ia mengibaskan rambutnya dengan anggun lalu menoleh pada ketiga orang dibawah sana.
"Owhhh, kalian berkumpul disana? Baguslah, selamat malam. Ohhh iya, Angga, mulai hari ini aku akan tinggal dikamarmu!" Ucapnya lalu kembali melangkahkan kakinya.
Angga hanya mengerutkan keningnya, bersusah payah ia memutar kursi rodanya untuk mengejar Raisa namun ia tetap ketinggalan.
"Apa yang dia katakan barusan? Apa dia bilang akan tinggal dikamarku? Maksudnya apa?" Tanyanya menatap adik dan ibunya bergantian.
Tak satupun dari mereka yang mengerti akan maksud dari perkataan Raisa barusan, entah ia bermaksud mengusir Angga dari kamarnya atau ia ingin mereka tidur bersama, mereka tidak mengerti.
Saat tiba dikamar suaminya itu, wanita ini dengan liar melepas pakaiannya lalu melemparnya begitu saja diatas lantai sementara ia berjalan ke kamar mandi untuk berendam sambil membawa sebotol wine yang ia beli bersama Indra usai makan tadi, sementara Angga baru saja keluar dari lift, ia bergegas membuka kamar Raisa berniat untuk bertanya apa maksud perkataannya tadi namun ia tak melihat Raisa disana.
Matanya menatap liar sepanjang lorong lantai dua itu, melihat pintu kamarnya yang terbuka ia mengecilkan matanya.
"Tidak mungkin!"
"Raisaaaa"
"Raisaaaa"
"Ra," begitu tiba dikamarnya ia begitu terkejut saat mendapati seluruh pakaian yang dikenakan istrinya tadi tergeletak diatas lantai sementara tas belanjaannya tadi berada diatas kasurnya.
"Ada apa ini?" Tanyanya memungut pakaian istrinya lalu menaruhnya pada wadah tempat pakaian kotornya.
"Raisa!" Panggilnya namun tak ada sahutan dari pemilik nama itu.
Lelaki ini lalu membuka tirai penutup kamar mandinya, begitu terkejutnya ia saat melihat istrinya berendam di bath up tanpa sehelai benangpun, ditangannya juga terdapat sebotol wine yang setengahnya sudah habis diteguk oleh wanita itu.
"Raisa, apa kau sudah gila?"
Angga menutupi matanya dengan tangannya karena tak ingin melihat Raisa tanpa busana.
"Apa yang kamu minum itu? Apa kamu mau mabuk di kamarku? Buang itu sekarang juga"
Raisa tersenyum sambil memutar bola matanya dengan malas, sekali lagi, ia meneguk wine mahal itu tanpa ragu sebelum ia meletakkan botolnya diatas lantai.
"Hahhhh, begini rasanya memiliki kamar seperti kamar hotel bintang lima? Sayang sekali kamu tidak bisa menikmatinya dengan baik karena kakimu lumpuh, ahkkk seandainya aku lebih pintar sejak awal. Aku tak perlu diperlakukan layaknya seekor binatang rendahan olehmu dan Ibumu"
"Raisa, jangan bicara sembarangan"
"Aku? Bicara sembarangan? Tidak mungkin, aku hanya menyampaikan kebenaran" ujar Raisa menatap suaminya kembali.
Melihat suaminya masih menundukkan kepala lalu dengan kursi rodanya pergi kearah kasur, Raisa segera berdiri lalu meraih handuk milik Angga yang tergantung dibelakangnya, ia memakainya tanpa rasa segan atau takut lalu melangkah mendahului Angga hingga lelaki itu terkejut.
Raisa melangkah menutup dan mengunci pintu lalu bergegas mengenakan piyama yang baru saja dibelinya di hadapan Angga.
"Jangan berfikir kalau aku akan menyentuhmu, kita memang sudah menikah tapi aku tak akan sudi tidur denganmu"
"Heh cacat, siapa juga yang mau tidur denganmu? Aku hanya ingin memastikan apakah kamu penyuka sesama jenis atau tidak" balas Raisa.
Mendengar istrinya menyebut dirinya cacat membuatnya marah dan hampir saja membuang semua barang-barang milik istrinya dari atas kasur namun ia kalah cepat.
"Sebelum kita resmi bercerai aku ingin hidup selayaknya kita ini suami istri, suamiku" bisiknya pelan di telinga Angga.
"Tidur bersama, bisa memakai uangmu sesuka hati, dan kemana-mana bersama. Agar jika nanti saat kita berada di persidangan, kita bisa menjawab alasan kita bercerai karena kita tak lagi saling mencintai"
Lelaki ini mendorong kasar Raisa menjauh darinya, ia memalingkan wajahnya ke arah lain namun Raisa kembali menarik dagunya untuk menatap Raisa lebih dekat.
"Jangan bersikap seperti ini jika kau tidak ingin aku memperlakukan mu seperti KAMU MEMPERLAKUKAN KU DAHULU, ANGGA!" Teriak wanita ini tepat di hadapan wajah suaminya.
"Kamu lihat semua bekas lukaku ini, kamu lihat?"
Angga membuka matanya lebar begitu Raisa menarik bajunya memperlihatkan perut dan punggungnya yang penuh bekas luka lama. Raisa lalu mencengkram kedua bahu suaminya dengan kuat.
"Jauhkan tanganmu dariku!" Bentak lelaki itu.
"Owhhh, kamu tidak suka aku menyentuhmu dengan tanganku? Lalu bagaimana dengan kakiku?" Tanya Raisa geram menekan kaki suaminya dengan kakinya.
Plakkkk
"Aaaahkkk" pekik Raisa saat Angga menampar pipi kirinya.
Tak ingin Angga mendapat panggung atas perlakuannya sendiri Raisa membalas dengan dua tamparan di pipi kanan.
plakk
plakk
Tamparannya memang tidak kuat namun mampu membuat Angga kehilangan kendali atas dirinya.
"Bajingan, dasar perempuan murahan"
Caci makian keluar dari mulutnya sambil mendorong Raisa hingga terpental ke pinggiran kasur, Raisa tersungkur diatas lantai lalu tertawa seperti orang yang sedang depresi berat.
"Kamu pikir aku akan diam saja, Angga? Aku bukan istrimu yang bodoh itu, bukannnnn" ucapnya seraya tersenyum menyunggingkan bibirnya.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu mengalihkan sejenak perhatian keduanya.
"Angga, ada apa? Mama dengar ada teriakan, apa kau dan Raisa ada di dalam?"
Tok tok tok
Raisa tertawa menatap Angga sebelum pandangannya teralih pada pisau pemotong buah diatas meja kecil di samping kasur suaminya, Angga yang panik takut Raisa akan melukai Laluna segera menghadang Raisa dengan kedua tangannya.
"Ma, aku baik-baik saja" ucapnya setengah gugup agar Laluna segera pergi.
"Kau melindunginya?" batin Raisa menatap tajam mata suaminya.
Ia lalu mengayunkan tangannya keatas lalu, "jleb"
"Aaaaaaa"
"Angga, Angga buka pintunya Nak"
Dorrr dorrr dorrr
"Steven, TOLONGGG"