Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Itu ujian, Elara! Ujian untuk melihat apakah kau cukup kuat bertahan di istana!” Julian membungkuk ke depan, matanya berkilat licik. “Dan lihat! Kau berhasil! Kaisar memindahkanmu ke sayap utamanya. Dia bahkan konon menghabiskan malam di paviliunmu!”
Elara membuka satu matanya. “Kalian punya mata-mata di Paviliun Matahari Terbit?”
“Bukan mata-mata. Hanya.. teman-teman yang peduli,” Julian tersenyum lebar. “Dengar, Elara. Sekarang kau sudah di puncak. Kaisar jelas tergila-gila padamu. Aku butuh bantuanmu. Ada posisi kosong sebagai Wakil Kepala Logistik di Departemen Perang. Kau hanya perlu membisikkan nama temanku, Lord Harris, pada Kaisar saat kau… menemaninya tidur.”
Elara menatap Julian.
Di dunia sebelumnya, ia punya sepupu seperti ini. Sepupu yang selalu meminjam uang untuk bisnis kripto yang gagal, lalu menghilang saat ditagih. Rasanya sama: melelahkan.
“Julian,” ucap Elara, suaranya terdengar sangat lelah. “Apakah kau tahu apa itu Conflict of Interest?”
“Apa?” Julian berkedip.
“Konflik kepentingan. Di desa kuno kami, itu adalah dosa besar. Jika aku meminta Kaisar mempekerjakan temanmu, dan temanmu memberiku uang, itu namanya suap. Jika ketahuan, kepalaku dipenggal, dan kepalamu juga dipenggal. Itu sangat tidak efisien. Aku tidak mau kepalaku dipenggal. Rambutku baru saja tumbuh panjang.”
Julian wajahnya memerah. Ia tidak terbiasa ditolak, apalagi oleh adik perempuannya yang dulu pendiam.
“Elara, jangan pura-pura bodoh!” desis Julian, suaranya turun menjadi bisikan yang marah. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau tiba-tiba menjadi pintar, kau merombak sistem pajak, dan sekarang Kaisar sedang menginvestigasi Departemen Perang! Kau pasti tahu tentang.. tentang kekurangan inventaris di Gudang Timur!”
Suasana di Paviliun Musim Gugur langsung membeku.
Di balik layar kayu berukir di sudut paviliun, Kaisar Lucian, yang sedang duduk minum teh dan mengamati, perlahan meletakkan cangkirnya. Matanya menyipit. Kekurangan inventaris di Gudang Timur. Jadi ini dia..
Elara menatap Julian. Ia tidak terlihat terkejut. Ia hanya terlihat.. sangat, sangat kesal.
“Julian,” ucap Elara, nadanya terdengar seperti seorang manajer HRD yang sedang menegur karyawan yang ketahuan mencuri alat tulis kantor.
"Kau baru saja mengakui secara lisan di hadapan Selir Kaisar bahwa ada kekurangan inventaris di Gudang Timur yang sedang diinvestigasi oleh Kaisar. Itu namanya obstruction of justice atau menghalangi penyelidikan.”
“A-aku tidak..”
“Dan karena kau adalah kakakku, dan kau menyebut nama Lord Harris, yang merupakan klien utama keluarga kita di Departemen Perang..” Elara memijat pelipisnya.
“Aku sekarang punya asumsi yang beralasan bahwa keluarga Clervant terlibat dalam penyelundupan amunisi busur silang yang digunakan untuk mengirim racun ke istana.”
Julian pucat pasi. Ia baru saja menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia berdiri dengan cepat, tangannya gemetar. “Kau.. kau menjebakku! Kau sengaja memancingku!”
“Tidak, Julian. Aku hanya terlalu malas untuk berdebat, jadi aku membiarkanmu menggali kuburanmu sendiri,” Elara menguap lebar. “Nira!”
Pelayan itu langsung masuk, diikuti oleh empat pengawal kerajaan yang muncul dari balik pintu.
“Tuan Julian Clervant ditahan atas dugaan pengkhianatan tingkat tinggi dan percobaan pembunuhan terhadap keluarga kerajaan,” ucap Elara datar, membaca skenario yang baru saja ia buat di kepalanya dalam tiga detik. “Tolong bawa dia ke Ruang Bawah Tanah. Dan tolong jangan berteriak, aku sedang pusing.”
Julian diseret pergi, berteriak-teriak meminta ampun, namun Elara sudah menutup telinganya dengan kedua tangan.
Ketika paviliun kembali sunyi, Elara menghela napas panjang. Ia menatap meja, melihat cangkir teh Oolong yang hampir diminum Julian.
“Sayang sekali,” gumamnya. “Tehnya tumpah. Padahal enak.”
Perlahan, tepuk tangan terdengar dari balik layar.
Kaisar Lucian melangkah keluar. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan ekspresi kagum yang sangat mendalam, dicampur dengan sedikit rasa geli.
“Kau..” Lucian memulai, menggelengkan kepalanya. “Kau baru saja menyerahkan kakak kandungmu sendiri ke ruang interogasi, tanpa mengangkat pedang, tanpa berteriak, dan tanpa bahkan berdiri dari kursimu.”
Elara menatap Lucian dengan mata setengah terpejam. “Yang Mulia, di desa saya, ada pepatah: Kalau ada pohon beracun di halaman rumah, tebang saja. Nanti juga akarnya merusak fondasi. Keluarga Clervant adalah pohon beracun. Mereka menjualku, mereka mencoba memaksaku melakukan korupsi, dan mereka membuatku tidak bisa tidur siang dengan tenang.”
Elara berdiri, meregangkan tubuhnya. “Lagipula, aku tidak punya perasaan untuk mereka. Tubuh ini mungkin darah daging mereka, tapi isi kepalaku.. yah, anggap saja aku baru saja upgrade perangkat lunak, dan versi barunya tidak kompatibel dengan toxic family”
Lucian menatapnya. Ia tidak mengerti setengah dari kata-kata aneh itu Upgrade perangkat lunak? toxic family? Apa itu??, batinnya.