I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bayangan di Gerbang Utama
Jatuhnya Jalur Lembah Kelabu bukan lagi sekadar laporan kekalahan militer; itu adalah guncangan eksistensial bagi wilayah dalam Kekaisaran Aethelgard.
Di dalam kota-kota distrik dalam yang biasanya megah dan tenang, kepanikan menjalar lambat namun pasti. Para bangsawan kasta menengah mulai mengunci diri di manor mereka, sementara jajaran Ksatria Perbatasan yang ditarik mundur tampak gelisah. Tidak ada seruan perang atau genderang pertempuran dari musuh—hanya kesunyian membakar yang ditinggalkan oleh seorang Zero-Core.
Garis pertahanan fisik murni yang digagas oleh Jenderal Kaelen telah rata dengan tanah. Ratusan prajurit, puluhan jebakan mekanis, dan tiga ksatria kasta Sovereign tidak mampu menahan laju satu pemuda berselimut jubah perak.
Di dalam Aula Utama Benteng Gerbang Putih—benteng terkahir yang membatasi wilayah dalam dengan Istana Perak—keheningan terasa sangat berat.
Master Orren berdiri di dekat meja proyeksi sihir, wajah berwibawanya kini tampak pucat dan menua. Jemarinya yang biasanya tenang saat memanipulasi Mana Stream kini bergetar samar saat menatap titik merah di peta yang terus bergerak mendekat tanpa henti.
"Dia... dia berjalan," bisik Master Orren, suaranya nyaris seperti desisan ketakutan. "Dia tidak menggunakan tunggangan, tidak mengalihkan perhatian, dan tidak bersembunyi. Dia berjalan lurus menyusuri jalan utama menuju benteng ini."
Jenderal Kaelen tidak menjawab. Pria berarmor hitam tembaga itu berdiri tegak di depan jendela tinggi yang menghadap langsung ke dataran terbuka di luar Gerbang Putih. Dua bilah pedang kasta Sovereign Puncak di pinggangnya memancarkan pendar Qi tembaga yang pekat, menekan udara di dalam ruangan hingga terasa berat untuk dihirup.
"Yang Mulia Kaelen," panggil seorang perwira pertahanan dengan tubuh gemetar. "Apakah kita harus mengaktifkan Formasi Kehancuran Absolut? Mengorbankan setengah wilayah luar benteng untuk membumihanguskan seluruh area dalam radius tiga kilometer?"
"Tidak," jawab Kaelen dingin. Matanya menyipit menatap garis cakrawala. "Formasi sihir membutuhkan tumpuan konsep Qi. Jika dia mampu melintasi celah stabilitas inti Oakhaven dalam rentang milidetik, formasi sihir berskala besar hanya akan menjadi panggung eksekusi baginya."
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?" Master Orren bertanya histeris. "Apakah Kekaisaran yang didirikan di atas puncak tatanan kekuatan ini harus tunduk pada seseorang yang tidak memiliki kekuatan sama sekali?!"
Kaelen membalikkan badan. Aura kasta Sovereign Puncak meledak dari tubuhnya, menghancurkan ubin marmer di bawah pijakannya.
"Aku sendiri yang akan menghadapinya," ucap Kaelen dengan nada mutlak. "Dia mengeksploitasi keregangan otot dan refleks kita yang bergantung pada Qi. Jika begitu... aku akan membuang seluruh pertahanan Qi pasifku, meremukkan seluruh jaringan saraf sensorikku sendiri agar tidak merasakan sakit, dan bertarung menggunakan insting pembunuh murni."
Master Orren terbelalak. "Memotong saraf sensorik Anda sendiri?! Itu adalah bunuh diri bagi seorang ksatria Sovereign!"
"Di hadapan seseorang yang membaca mekanisme tubuh seperti buku terbuka..." Kaelen menarik kedua pedangnya, membuat dentang logam yang bergema nyaring, "...menjadi mesin tanpa rasa sakit adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kalkulasinya."
Satu jam kemudian.
Gerbang Putih yang menjulang tinggi lima puluh meter berdiri kokoh di balik parit batu kering. Di atas tembok benteng, ribuan pemanah dan pasukan meriam berdiri siaga, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Di dataran batu yang membentang di luar gerbang, sosok tunggal muncul dari balik kabut tipis.
Ren Vaelen.
Jubah perak Zeon yang dikenakannya bergetar lembut disapu angin sore. Taring babi hutan raksasa rakitannya yang kini terlilit tali sutra baja tergantung santai di tangan kanannya. Di matanya, Benteng Gerbang Putih tidak tampak sebagai struktur megah, melainkan tumpukan garis ketegangan batu, titik tumpu beban gerbang, dan vektor pergerakan ribuan manusia yang ketakutan.
【Target Utama Terdeteksi: Jenderal Kaelen】
【Kasta: Sovereign Puncak】
【Anomali Tubuh: Pemutusan Saraf Sensorik Mandiri Diprediksi】
【Evaluasi Kemampuan: Level 3 — Executioner】
Ren berhenti melangkah tepat seratus meter di depan gerbang.
Pintu gerbang kayu berlapis baja seberat puluhan ton itu mendadak terangkat perlahan. Dari dalam kegelapan lorong gerbang, Jenderal Kaelen melangkah keluar sendirian.
Kaelen tidak lagi memancarkan aura Qi tembaga yang pekat di sekujur tubuhnya. Kulitnya tampak pucat dan matanya merah menyala—tanda bahwa ia telah memaksa menekan seluruh sinyal saraf fisiknya untuk menghilangkan efek latensi refleks.
Dua ksatria tertinggi Aethelgard dan Sang Anomali kini berdiri berhadapan di dataran sunyi.
"Ren Vaelen..." suara Kaelen bergema berat, tanpa ada getaran emosi sedikit pun. "Kau telah merusak tatanan Kekaisaran, menghancurkan logika kasta, dan membantai ksatria terbaik kami tanpa meneteskan seetes pun energi."
Ren menatap Kaelen dengan pandangan dingin yang datar. "Kalian yang membangun tatanan itu di atas ilusi bahwa kekuatan harus terikat pada kasta."
Kaelen mengangkat kedua pedang hitamnya. "Aku telah memotong seluruh saraf sensorikku. Aku tidak merasakan dingin, rasa takut, maupun rasa sakit dari cedera fisik. Kalkulasi presisimu tentang titik lemah otot tidak akan menghentikan langkahku."
Ren melihat perubahan struktur biologis Kaelen melalui Mata Persepsi Kosmik. Ia melihat bagaimana jantung Kaelen memompa darah secara tak teratur dan bagaimana serat ototnya menegang hingga batas kritis.
"Kau memotong sarafmu untuk menghilangkan rasa sakit," ucap Ren pelan, suaranya tenang menembus angin sore. "Tapi kau lupa satu hal, Kaelen..."
Ren mengangkat taring rakitannya, mengambil tumpuan langkah pertama.
"...saraf tidak diciptakan hanya untuk merasakan sakit. Saraf diciptakan agar tubuhmu tahu di mana ia sedang berdiri."
Di atas tembok benteng, ribuan prajurit menahan napas saat dua sosok itu bergerak secara bersamaan, memulai konfrontasi puncak di gerbang wilayah dalam Kekaisaran