Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17
Chopper Scorpio hitam mengkilat milik Andika membelah jalanan pagi Los Santos dengan laju yang santai. Suara dentuman knalpot kustomnya menderu rendah, mengiringi hembusan angin segar yang menerpa wajah mereka. Franklin yang duduk di jok belakang bersandar rileks, sesekali menepuk bahu Andika sambil terkekeh membicarakan tingkah konyol Lamar setiap kali mereka berkumpul. Tawa renyah mengalir begitu saja di antara mereka berdua—sebuah momen keakraban yang begitu hangat, mempererat ikatan persaudaraan yang telah teruji lewat mandi darah dan pertempuran jalanan.
Tidak butuh waktu lama, mereka bertiga akhirnya sampai di area taman kota. Andika mengarahkan Chopper-nya ke tepian dan memarkirkannya rapi di tempat parkir kendaraan luar taman.
Andika mematikan mesin motor, memutar kunci kontak, lalu melangkah masuk ke area taman bersama Franklin. Namun, baru beberapa langkah menapak di atas jalan setapak taman, langkah kaki Andika mendadak terhenti. Matanya menyipit menatap lurus ke arah area tengah taman yang sepi di bawah terik siang bolong.
Dari kejauhan, ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Suara jeritan melengking yang memilukan hati membumbung tinggi, memecah kesunyian taman. Suara ringisan dan raungan kesakitan seorang pria yang sedang disiksa secara brutal terdengar begitu jelas.
"Frank... kau dengar itu?" bisik Andika, raut wajahnya mendadak tegang.
Franklin mengangguk cepat, matanya membelalak. "Di tengah taman! Ayo!"
Keduanya berlari kencang menembus semak-semak dan pepohonan taman. Begitu jarak mereka makin dekat, pemandangan mengerikan di depan mata membuat darah mereka seketika membeku.
Lima orang pria Tionghoa berjas hitam—anak buah Ying Long—berdiri mengelilingi seorang pria yang terkapar di atas rumput. Secara membabi buta dan tanpa belas kasihan, mereka menghantamkan pisau-pisau pemotong daging yang tajam ke tubuh pria yang tak berdaya itu! Darah segar menyembur ke mana-mana, membasahi rumput hijau taman.
Saat pandangan mereka makin memperjelas sosok yang terbaring bersimbah darah itu—
"LAMAR!" teriak Franklin histeris.
Dada Andika serasa dihantam godam besar. Pria yang disiksa dengan sangat keji itu adalah Lamar!
Tanpa berpikir panjang, api kemurkaan meledak hebat di dalam dada Andika dan Franklin. Secara serentak, keduanya menarik pistol dari balik pakaian dan menerjang maju sambil memuntahkan tembakan!
BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!
Hujan peluru melesat presisi! Tiga anggota Ying Long yang memegang pisau langsung roboh dengan kepala dan dada hancur tertembus peluru. Dua orang sisanya yang mencoba berbalik memegang senjata langsung dihantam tembakan bertubi-tubi dari Andika dan Franklin hingga tewas seketika di atas rumput!
Andika dan Franklin berhamburan melompat mendekati tubuh Lamar.
"Lamar! Lamar, bertahan, Man! Lamar!" jerit Franklin dengan suara pecah, meluncur berlutut di atas rumput.
Namun, semuanya sudah terlambat. Tubuh Lamar telah hancur dicincang, penuh luka tebasan mematikan di sekujur dadanya. Matanya yang tadi pagi penuh semangat kini telah meredup hampa. Lamar Davis—sahabat paling konyol, paling setia, dan sudah seperti saudara kandung mereka—telah tewas mengenaskan di siang bolong itu.
Airmata meleleh deras membasahi pipi Franklin dan Andika. Franklin merangkul jasad sahabatnya sambil menangis histeris, sementara Andika mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga bukunya memutih, menahan gemuruh duka dan dendam yang menghancurkan dadanya.
SREEECH!
Tiba-tiba, suara decitan ban mobil memecah suasana duka. Sebuah sedan hitam meluncur lambat tepat di jalanan samping taman, hanya beberapa meter dari posisi mereka.
Kaca jendela belakang sedan itu perlahan turun. Dari dalam kegelapan kabin mobil, seorang pria tua Tionghoa menatap tajam ke arah Andika dan Franklin. Matanya memancarkan senyum kemenangan yang sangat dingin dan penuh dendam.
Pria itu adalah Lee Dong.
"LEE DONG, BAJINGAN!" raung Franklin berdiri sambil mengacungkan pistolnya dengan mata merah dipenuhi darah!
Andika langsung melompat berdiri, membidikkan pistolnya ke arah sedan tersebut. Namun, belum sempat mereka memicu tembakan, pengemudi sedan Lee Dong langsung menginjak pedal gas dalam-dalam! Mobil itu melesat kencang tancap gas, menghilang dalam hitungan detik menembus keramaian jalan raya Los Santos.
Amarah membakar ubun-ubun Andika dan Franklin hingga mereka membentak dan berteriak murka ke arah jalanan sepi. Namun, melihat jasad Lamar yang terbaring dingin di atas rumput bersimbah darah, mereka sadar bahwa memprioritaskan saudara mereka yang telah gugur saat ini adalah satu-satunya hal yang paling utama.
Andika merengkuh bahu Franklin yang masih terpaku, memaksanya berdiri dari rumput bersimbah darah. Sirene mobil patroli LSPD meraung semakin nyaring dari beberapa blok di luar taman, menandakan armada polisi dan ambulans sedang meluncur kencang menuju lokasi akibat laporan suara tembakan warga.
"Frank! Sadar, Frank! Polisi sudah sangat dekat!" seru Andika tegas, mengguncang tubuh Franklin. "Kita tidak punya waktu dan tidak bawa mobil ke sini. Kita terpaksa tinggalkan jasad Lamar di sini agar polisi dan tim medis yang mengurusnya!"
Franklin menatap jasad Lamar yang terbaring kaku untuk terakhir kali dengan mata basah dan dada sesak. Dengan napas tersengal, ia mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Maafkan kami, Mar... Saya janji, Lee Dong akan bayar ini dengan nyawanya!" bisik Franklin parau.
Andika dan Franklin berbalik, berlari kencang menembus semak-semak taman menuju area parkir luar tempat Chopper Scorpio hitam mengkilat milik Andika terparkir. Begitu melompati pagar taman, dua mobil patroli LSPD melintas kencang di jalan utama dengan lampu sirine membiru, langsung masuk ke area taman.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Andika memutar kunci kontak dan menginjak engkol starter motornya.
BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!
Raungan knalpot kustom mesin 225cc itu membahana keras! Franklin melompat naik ke jok belakang, mencengkeram erat jaket kulit Andika dengan gigi menggertak menahan amarah.
Andika menancap gas penuh, memutar haluan Chopper Scorpio hitamnya dan melesat membelah jalanan Los Santos, meninggalkan area taman yang kini mulai dipenuhi mobil polisi.
Perjalanan menuju kediaman Franklin di La Puerta terasa begitu dingin dan mencekam. Rencana santai mereka di taman pagi ini hancur total, berganti menjadi duka yang teramat kelam. Di atas motor yang terus melaju kencang itu, Franklin dan Andika membiarkan angin membelah duka mereka, mengunci satu niat bulat yang sama: Lee Dong harus mati.
Beberapa puluh menit kemudian, Chopper hitam milik Andika meluncur masuk ke halaman rumah Franklin. Andika mematikan mesin, dan mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah Franklin dengan langkah berat, mengunci pintu rapat-rapat dari dalam untuk menyusun rencana pembalasan dendam terakhir mereka.dan sesampainya di rumah Franklin,mereka berdua hanya bisa melamun dan masih seperti mimpi ternyata teman sekaligus saudara mereka telah tewas dengan mengenaskan...