Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Meidra
Pagi telah tiba. Tiga orang dewasa sedang menyantap sarapan di sebuah kafe. Pekerjaan mereka masih belum selesai sehingga mereka belum bisa pulang ke rumah.
"Pa ... Sultan pulang aja gimana?" tanya remaja lelaki itu. "Nanti keseringan absen, Kakak bisa ngamuk."
"Gimana, Mas?" tanya Merry. "Benar juga yang dibilang Sultan. Lagian aku khawatir sama mereka."
"Kamu khawatir sama Rayzan, kan? Kita biarkan saja dulu mereka seperti itu."
"Mas tahu, kan, bagaimana sikap anak kita. Nanti kalau terjadi sesuatu sama Rayzan, kita yang akan disalahkan oleh keluarganya."
"Tadi malam kamu sudah teleponan sama Nadira. Terus apa lagi, hm?"
Merry meneguk segelas air putih. "Aku nggak percaya sama Nadira. Semenjak dia menikah, sikapnya semakin berbahaya."
"Ya sudah kalau begitu. Sultan kita biarkan pulang," ucap Eros. "Untuk berjaga-jaga supaya Nadira nggak melakukan hal buruk kepada menantu kita itu."
"Berarti Sultan langsung ke hotel, ya, Pa? Barang-barang Sultan masih berantakan semuanya. Jadi, kalau Papa dan Mama sudah selesai urusan di luar, nanti pulangnya bisa antar Sultan ke bandara."
"Ide bagus."
[] [] []
Sementara itu, Rayzan sedang dipandangi oleh kedua orang tuanya. Ia merasa heran karena mendapatkan perhatian yang tidak biasa.
"Umi sama Ayah kenapa lihatin Rayzan?"
"Kamu nggak kurang ajar sama Nadira, kan?"
"Maksud Ayah apa?"
Ozan menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah istrinya, kemudian kembali memandang putranya.
"Nadira sudah mengakui semuanya kalau dia nggak cinta sama kamu. Terus kenapa kalian bisa berhubungan? Kamu memaksanya?"
Dengan gerakan cepat, Rayzan menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ayah. Mana mungkin Rayzan melakukan itu."
"Jawab Ayah, Rayzan! Kamu jangan bohong di depan kami."
"Begini, Ayah. Nadira cerita apa sama Umi dan Ayah? Kenapa Ayah bisa marah dan berpikir seperti itu sama Rayzan?"
"Nadira cuma bilang kepada kami kalau dia nggak punya perasaan apa pun sama kamu. Itu yang membuat Ayah berpikir kalau kamu melakukan kekerasan terhadap Nadira."
"Ayah nggak bisa menyimpulkan itu sendirian. Bahkan sebelum Rayzan melakukan kekerasan kepada perempuan, Rayzan selalu ingat sama Umi."
"Rayzan jangan berbohong!" Ozan mulai meninggikan suaranya.
Saat itu, Nadira datang ke ruang makan sambil membawa makanan yang baru saja ia masak. Wanita itu kebingungan melihat suasana di meja makan yang begitu tegang.
"Ayah kenapa marah? Suara Ayah kedengaran sampai dapur."
"Ayah tanya untuk yang terakhir kalinya! Kamu nggak punya perasaan apa pun kepada Rayzan. Lalu bagaimana kalian bisa melakukan hubungan itu? Apa Rayzan memaksa kamu?"
"Nggak, Ayah ... Se-semuanya berlalu begitu saja."
"Ayah dengar, kan, sekarang? Rayzan nggak kasar sama Nadira. Bahkan sebaliknya—" Rayzan sengaja menghentikan ucapannya.
Nadira langsung membulatkan mata ketika mendengar perkataan suaminya.
"Nadira yang menggoda Rayzan duluan." Rayzan tersenyum tipis.
Nadira semakin kaget mendengar pengakuan suaminya. Lagi-lagi, ia dibuat malu oleh Rayzan sendiri.
"Benar begitu, Nadira?"
"Eummm ... Sini, piring Umi. Biar Nadira ambilkan."
Indah mengangguk perlahan. Ia tahu wanita itu sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Itu berarti perkataan Rayzan memang benar bahwa Nadira sendiri yang lebih dulu mendekatinya.
"Ayah lihat, kan? Nadira nggak bisa jawab. Jadi Ayah dan Umi jangan beranggapan kalau Rayzan kasar sama dia."
"Nadira ... Orang tuamu kapan pulang?"
"Aku nggak tahu, Umi. Tadi malam sempat menelepon, tapi nggak ada pembahasan apa-apa," jawab Nadira sebelum duduk di samping suaminya.
"Lho ... Tadi malam kamu menelepon, kok aku nggak tahu?"
"Kamu, kan, tidur."
"Oh iya. Rayzan ... Ayah harap besok kamu masuk kerja. Pekerjaan di kantor sudah menumpuk."
"Kok Ayah baru kasih tahu sekarang? Kasihan Daulat mengerjakannya sendirian."
"Laki-laki satu ini memang bodoh! Bisa-bisanya dia kasihan sama pria yang nggak berguna itu." Nadira menggerutu dalam hati.
"Kalau begitu, Rayzan kerja hari ini."
"Jangan!" larang Nadira. "Kamu, kan, belum terlalu sembuh. Ini juga badanmu masih panas."
Nadira menggenggam lengan suaminya. Sebenarnya, Nadira tidak benar-benar peduli dengan kondisi Rayzan. Ia hanya tidak ingin suaminya kembali bekerja dan meringankan beban Daulat.
"Aku kerja saja."
"Kalau aku sudah bilang jangan, ya jangan. Mengerti, kan? Nanti malah orang-orang bilang aku istri jahat karena nggak peduli sama suami sendiri dan membiarkan kamu banting tulang."
"Tapi—"
"Lihat, Umi, Ayah ... Ini yang aku nggak suka dari Rayzan. Dia sering bikin aku kesal. Makanya aku susah mencintai dia."
Rayzan mengernyitkan kening. Ia tidak mengerti dengan ucapan wanita itu.
"Rayzan ... Dengerin istri kamu, ya. Umi sangat berharap semoga kalian bisa saling mencintai."
"Sepertinya orang ini sudah saling mencintai, tapi gengsi," goda Ozan.
"Sudahlah ... Kita lanjut makan, ya."
[] [] []
Di tempat lain, sepasang suami istri sedang sarapan pagi. Hanya ada mereka berdua tanpa kehadiran orang tua.
"Mas nggak mau, ya, kamu seperti tadi malam? Malah membela perempuan itu."
"Mas harus mengerti situasinya sekarang. Kalau kita berbaik hati sama Nadira, itu artinya kita sedang menyelamatkan Rayzan," ujar Resya. "Kan Mas sendiri yang bilang kalau Nadira membenci keluarga ini dan dia akan membalas dendam melalui Rayzan. Berarti kita harus bersikap baik kepadanya supaya dia juga berbaik hati kepada Rayzan."
"Berapa kali Mas harus bilang sama kamu? Nadira itu nggak bisa kita prediksi. Sekarang bisa berbeda, satu detik berikutnya juga bisa berubah," ungkap Daulat. "Sudah jelas-jelas dia menghina kita, tapi kamu masih saja baik sama dia."
"Mas ... Kalau aku jadi Nadira, mungkin aku juga akan seperti itu. Wanita mana yang mau ditinggalkan dan dihina?"
"Ah, Mas nggak peduli. Umi dan Ayah memang mengkhawatirkan pernikahan Rayzan, tapi Mas nggak. Malahan Mas berharap Rayzan menceraikan wanita murahan itu."
"Mas—"
"Rayzan harus bahagia. Dia nggak pantas mendapatkan istri seperti Nadira. Ular!"
"Huek..."
"Sayang ... Kamu kenapa?"
Di tengah-tengah percakapan mereka, Resya tiba-tiba merasa mual. "Nggak tahu, Mas. Aku mual banget."
Resya segera berlari ke arah wastafel. Di sana, ia memuntahkan semua makanan yang baru saja disantapnya.
Daulat tidak tinggal diam. Ia segera menghampiri istrinya dan mengusap-usap punggung wanita itu.
"Ya ampun, sayang. Kita ke rumah sakit, ya."
"Ayo, Mas. Nggak enak banget rasanya. Kayaknya aku masuk angin."
"Iya, iya."
Daulat dan Resya segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Mereka pun membatalkan sarapan pagi mereka.
[] [] []
Siang itu, Nadira menonton televisi. Ia merasa sangat bosan karena tidak pergi ke mana-mana. Ditambah lagi, Rayzan sedang tertidur di sofa.
Tok! Tok! Tok!
"Monic ... Pasti dia datang mau marah-marah karena kami nggak jadi keluar."
Nadira beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju pintu depan. Namun, ketika pintu dibuka, seorang wanita sudah berdiri di sana. Bukan Monic.
"Kamu!"
"Mana pacarku? Aku mau ketemu sama dia."
Nadira tersenyum miring. "Kamu nggak malu mengakui Rayzan sebagai pacarmu di hadapan istri sahnya?"
"Bangga banget kamu bilang kalau kamu adalah istri sah Rayzan. Kamu itu cuma istri paksaan!"
"Rayzan! Rayzan!" Meidra berteriak memanggil nama pria itu.
Bugh!
"Aw!"
Meidra terjatuh ketika Nadira mendorong tubuhnya.
"Nadira!" Rayzan yang menyaksikan kejadian itu segera menghampiri dan membantu Meidra berdiri.
"Kamu nggak apa-apa?"
Meidra menggelengkan kepalanya.
"Kamu apa-apaan, sih? Kok jadi kasar begini?"
"Dia sendiri yang mau dikasari. Sekarang kamu pulang! Jangan ganggu suamiku."
Nadira menarik lengan Rayzan dan merangkulnya.
"Rayzan, aku mau ngomong."
"Pulang sekarang atau aku panggil satpam kompleks."
"Lepaskan tanganmu."
Nadira tidak mau melepaskan Rayzan. Sebaliknya, ia justru semakin mengeratkan pegangannya.
"Oke!"
Nadira akhirnya menuruti perkataan suaminya. "Kamu mau ngobrol sama dia, kan? Silakan! Tapi ingat, jangan harap kamu bisa bicara sama aku lagi."
Nadira segera masuk kembali ke dalam kamar.
"Ya Tuhan..." Rayzan mengembuskan napas dengan kasar.
"Kamu mau ngomong apa, hm?"
"Kita nikah, ya. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang."
"Meidra ... Aku sudah jadi suami orang."
"Nggak apa-apa. Aku bisa terima, kok, asalkan kita menikah."
"Aku mohon sama kamu, lupakan aku."
"Rayzan—"
"Nadira, please ... Kamu pergi dari sini."
"Kamu ngusir aku?"
"Ini bukan rumahku. Nggak enak kalau aku jadi alasan kamu dan Nadira bertengkar."
Rayzan terdiam sejenak, kemudian menatap Meidra.
"Rayzan ... Kamu harus ingat satu hal. Aku masih sayang sama kamu. Aku akan mengambil kamu dari Nadira."
Meidra mengucapkan kalimat itu sebelum akhirnya berlalu pergi.