Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Romantis
Satoru meletakkan buket bunga di atas meja, tepat di samping tumpukan dokumen dan lukisan yang sedang di kurator Alethea. "Aku tidak pandai mengatakan hal-hal romantis."
Alethea terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, suara Satoru terdengar sedikit berbeda. Tidak sedatar biasanya.
"Aku tahu," jawab Alethea dingin. "Gen keluarga kamu benar-benar menyebalkan!"
"Aku juga tahu kau menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar ajakan menjadi kekasih." Satoru mengacuhkan sarkasme wanita itu.
Alethea menatap ke wajah pria yang mulai membuatnya gemas dan ingin mengeplak kepalanya. Atau malah membuat hatinya hangat.
Satoru melanjutkan, "Jadi, aku mencoba melakukan sesuatu yang mungkin membuatmu senang."
Alethea merasakan pipinya mulai menghangat. Sial. Sangat sial. Bagaimana mungkin pria yang membuatnya ingin melemparkan seluruh isi ruang kerja beberapa menit lalu sekarang justru membuat jantungnya berdebar?
Dia menggigit bibir, berusaha menyembunyikan senyum. "Kalau begitu..." Alethea mengangkat wajah. "Kenapa kau tidak mengatakan semua itu sejak awal?"
Satoru berpikir sejenak. "Karena kamu akan melemparkan bantal ke arah Nina."
"Apa hubungannya denganku?!" Nina mendelik. "Eh, tapi sudah dilakukan Thea sih." Setelahnya Nina langsung membungkuk sambil tertawa terbahak-bahak.
Alethea meraih bantal kedua.
Satoru segera mengangkat satu tangan. "Jangan. Aku membawa bunga, bukan perisai."
Bantal itu berhenti di udara. Alethea menatapnya tajam.
Satoru menatap balik.
Kemudian, perlahan, Alethea meletakkan bantal itu kembali ke sofa. "Baiklah."
Satoru mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah?"
"Aku akan pergi makan malam denganmu." Alethea menjawab dengan bibir mengerucut.
Senyum tipis muncul di wajah pria itu. "Terima kasih."
"Tapi ada syarat."
Senyum Satoru sedikit memudar. "Apa?"
"Kau harus bersikap romantis sepanjang malam."
Satoru terdiam cukup lama. Tanpa sadar dia menggaruk kepalanya.
Nina bahkan berhenti tertawa untuk menyaksikan ekspresinya.
"Sepanjang malam?" ulang Satoru.
"Ya."
"Berapa jam?" tanyanya dengan wajah polos.
Alethea menatapnya dengan mulut menganga. "NINA! BAWA DIA KELUAR!"
Nina langsung menarik lengan Satoru sambil tertawa. "Tidak bisa! Kau sudah menerima undangannya. Sekarang kau harus menyelesaikan misi romantismu!"
Satoru membiarkan dirinya ditarik hingga mendekati pintu. Sungguh, dia tidak tahu apa yang membuatnya agak Lola, loading lama hari ini.
Sebelum keluar, dia menoleh kepada Alethea. "Jam tujuh. Aku akan menjemputmu."
Alethea menyilangkan tangan. "Jangan terlambat!"
"Aku tidak pernah terlambat," ucap Satoru yakin.
"Dan jangan memakai kemeja hitam itu lagi!" Alethea menunjuk ke arah kemeja pria itu.
Satoru memandang kemejanya sendiri. "Kenapa?"
"Karena terlalu biasa!"
Satoru berpikir sejenak. "Baik. Aku akan memakai jas."
Alethea mengerang frustrasi. "Bukan itu maksudku!"
Pintu akhirnya tertutup. Nina masih tertawa ketika mereka berjalan menyusuri lorong.
"Satoru, demi Tuhan, bagaimana kamu bisa menjadi pelukis terkenal dengan kemampuan komunikasi seperti itu?"
Satoru menjawab tenang, "Aku melukis. Aku tidak berpidato. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku seperti ini. Sepertinya akibat kena jewer Thea, membuat otakku berantakan."
"Kalau begitu, bagaimana kamu bisa mendapatkan Alethea? Bahkan kamu bisa memperlihatkan sisi emosional Thea yang tidak pernah kita lihat karena selama ini dia selalu bisa mengontrol diri."
Pria itu berhenti sejenak. Kemudian, dengan ekspresi yang sama datarnya, dia berkata, "Karena aku memang calon jodoh Thea?"
Nina hampir terjatuh karena jawaban Satoru yang di luar ekspektasi. "Astagaaaa! Kamu itu! Good luck deh kedepannya!"
Satoru hanya mengangguk sambil tersenyum. "Domo Arigato."
***
Pukul tujuh malam, sebuah mobil berhenti di depan kediaman Alethea. Satoru turun dengan mengenakan jas hitam elegan, kemeja putih, dan dasi berwarna gelap. Rambutnya tertata rapi, sementara buket bunga yang dibawanya kali ini jauh lebih besar daripada yang pertama.
Dia berdiri di depan pintu dan memeriksa penampilannya melalui pantulan kaca.
Semuanya sempurna.
Setidaknya, menurut standar seorang pelukis yang biasanya hanya peduli pada kuas, kanvas, dan pencahayaan.
Ketika Alethea muncul, Satoru terdiam.
Wanita itu mengenakan gaun elegan berwarna merah anggur dengan rambut yang ditata indah. Riasannya lembut, dan anting-anting kecil di telinganya memantulkan cahaya lampu.
Alethea mengangkat dagu. "Bagaimana penampilanku?"
Satoru menatapnya beberapa detik. "Kamu cantik. Sangat cantik dan spektakuler."
Alethea berkedip.
Tidak ada penjelasan tentang komposisi warna, tidak ada komentar tentang keselarasan gaun dan aksesori, tidak ada analisis seperti seorang kritikus seni.
Kamu cantik. Sangat cantik dan spektakuler.
Dan entah mengapa, justru itulah yang membuat Alethea tersenyum lebar. "Lihat?" katanya puas. "Kamu bisa melakukannya!"
Satoru mengernyit. "Melakukan apa?"
"Mengatakan sesuatu yang romantis!"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Satoru kalem lalu mencium pipi wanita itu.
Alethea langsung kehilangan kata-kata. Kemudian dia memalingkan wajah sambil menutupi pipinya yang memerah.
"Jangan mengatakan hal-hal seperti itu dengan wajah datar!" protes Alethea.
"Hah? Kan kamu tahu sendiri muka aku seperti ini," ujar Satoru bingung.
Alethea hanya menggeleng gemas dan memakai mantelnya. "Ini bunga buat aku?"
"Benar. Aku tidak tahu kamu suka mawar atau apa jadi aku bawakan mawar dan daisy." Satoru menyerahkan buket bunga itu.
Alethea tersenyum. "Kamu tahu artinya apa?"
Satoru mengangguk. "Terlepas aku agak kacau meminta maaf dan mengajak kencan kamu dengan urutan tidak jelas, tapi aku tahu maknanya."
"Apa itu?" tanya Alethea sambil mencium harum bunga mawar cantik itu.
"Cinta yang mendalam, penuh gairah, namun dilandasi oleh ketulusan dan kejujuran hati." Satoru tersenyum manis. "Aku sudah jatuh cinta padamu lewat mimpi dan jika aku tidak terlalu romantis, aku sedang belajar menjadi pria romantis."
"Kenapa kamu belajar menjadi pria romantis?" Alethea menatap Satoru bingung.
"Karena kamu satu-satunya wanita yang aku ajak kencan seumur hidup aku."
Alethea terkejut. "Are you serious?"
***
Mereka tiba di sebuah restoran yang dikenal sangat mewah dan Satoru memenuhi janjinya. Alunan lagu lembut, lilin di meja makan, suasana romantis karena mereka berada di dekat jendela balkon hingga bisa melihat bintang-bintang di musim dingin ini.
Alethea tersenyum senang apalagi Satoru memenuhi janjinya untuk lebih baik dalam soal romantisme. Apalagi makanannya enak dan comforting.
"Bagaimana bisa kamu mendapatkan meja di sini? Setahuku, ini restoran yang cukup sulit masuknya. Harus pesan lama baru bisa dapat meja," tanya Alethea.
"Nepotisme," jawab Satoru kalem.
"Hah? Apa maksudmu?" Alethea memakan steaknya yang sangat lembut dan meleleh di mulutnya.
"Aku kan anggota keluarga klan Pratomo. Restoran ini milik keluarga aku dari garis Reeves. Jadi, aku bisa mendapatkan meja dan nuansa romantis sesuai permintaan," senyum Satoru.
Alethea melongo. "Ya Tuhan, aku lupa kamu ada saham di RR's Meals!"
"Precisely."
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia