Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru
Malam yang sama, di puncak gunung terpencil yang selalu diselimuti kabut tebal, berdiri sebuah bangunan megah bergaya modern namun terisolasi dari peradaban.
Tempat itu adalah markas rahasia dari sebuah kelompok tersembunyi yang pergerakannya tak pernah terendus publik.
Di sepanjang koridor luar hingga gerbang baja berlapis, puluhan penjaga berpakaian serba hitam berdiri tegap bagaikan patung dengan senjata taktis di tangan mereka.
Kontras dengan teknologi canggih di luar, salah satu ruangan utama di dalam markas itu justru terasa kuno. Ruangan itu sangat luas, namun anehnya sama sekali tidak menggunakan lampu listrik.
Ratusan lilin menyala di setiap sudut, memancarkan cahaya remang-remang yang memantulkan bayangan panjang menakutkan di dinding batu.
Di ujung ruangan, seseorang yang biasanya dipanggil 'Guru Bai' tampak duduk di kursi kebesarannya.
Wajahnya terlihat tenang, namun tatapan matanya begitu mengintimidasi saat mendengarkan anak buahnya yang sedang berlutut memberikan laporan dengan tubuh gemetar. Begitu detail terakhir disampaikan, mata Guru Bai tiba-tiba berkilat tajam.
"Kultivator lain?" ulang guru Bai dengan nada suara rendah yang menggema, menuntut kepastian.
Anak buahnya bergegas mengangguk, tidak berani mendongak. "Benar, Guru! Saya menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Kekuatan kedua pemuda yang membunuh lima orang kita... kekuatannya sangat besar dan tidak masuk akal."
Ia teringat kembali pada insiden beberapa jam lalu. Saat Yun Shadom dan Yun Sharam membunuh lima orang kultivator iblis utusan markas, ada satu orang dari kejauhan yang berhasil menyembunyikan hawa keberadaannya.
Saksi mata yang ketakutan itu langsung melarikan diri dan bergegas melapor kepada sosok guru mereka.
Pria yang dipanggil Guru Bai itu bangkit berdiri. Secara fisik, ia tampak seperti pria dengan wajah matang berusia 30 tahun, namun garis wajahnya menyimpan wibawa kuno karena usia aslinya sebenarnya sudah lebih dari 500 tahun. Ia berjalan pelan mendekati salah satu lilin besar, menatap nyalanya yang bergoyang.
"Kultivator lain, ya? Kenapa tiba-tiba mereka muncul?" gumamnya dengan mata tajam yang menyipit penuh spekulasi.
"Guru... lalu bagaimana dengan tanah itu? Apakah kita akan tetap melanjutkannya?" tanya anak buahnya, meminta instruksi lebih lanjut mengenai wilayah sengketa yang sedang mereka incar.
Guru Bai terdiam sejenak. Ruangan menjadi hening total selama beberapa saat, hanya terdengar suara retakan kecil dari sumbu lilin yang terbakar. Setelah menimbang banyak hal, Guru Bai akhirnya membuka suara.
"Hubungi dia, lepaskan tanah itu untuk sementara waktu," katanya dengan nada dingin namun penuh perhitungan. "Jika kita memaksakan diri bertindak sekarang, mungkin kedua pemuda misterius itu akan ikut campur. Kita belum tahu seberapa besar kekuatan asli mereka yang sebenarnya. Aku tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun dan menghancurkan rencana besar yang sudah kubuat selama ini."
Anak buahnya hanya bisa mengangguk patuh, menerima keputusan sang atasan tanpa berani membantah lagi.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasananya sangat berbeda. Di dalam sebuah apartemen yang didominasi warna putih milik Jia Li, ketegangan dengan jenis yang berbeda sedang terjadi.
Jia Li akhirnya membawa kedua kakaknya ke apartemen pribadinya itu setelah kekacauan yang terjadi. Ia tidak mungkin membawa dua orang asing ini ke rumah utama keluarga Jia.
Setelah mengunci pintu dan memastikan mereka aman, Jia Li berbalik dengan melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam kedua pria di hadapannya.
"Katakan padaku sekarang juga. Bagaimana bisa Kakak berdua ada di zaman ini?" tanya Jia Li menuntut penjelasan dengan nada suara yang tegas.
Mendengar rentetan pertanyaan adiknya, Yun Sharam membuka suara lebih dulu. Ia mendengus pelan sambil memalingkan wajahnya sejenak sebelum menatap Jia Li dengan tatapan menuduh.
"Kami mengikuti mu, tahu!" kata Yun Sharam dengan nada bicara yang langsung melonjak naik. "Saat itu, kami melihatmu jatuh ke dalam jurang yang dalam. Kami berniat menyelamatkanmu tanpa peduli keselamatan kami sendiri. Tapi anehnya, saat kami terbangun, kami sudah ada di tempat asing ini... dan nasib kami sangat malang karena terpaksa menjadi gelandangan di jalanan!"
Yun Sharam menjatuhkan dirinya ke sofa empuk apartemen itu, lalu mulai merengek penuh dramatis dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah dialah korban paling menderita di dunia.
"Aku benar-benar takut jika kau kelaparan dan telantar di dunia asing yang mengerikan ini," lanjutnya dengan bibir yang melengkung ke bawah, berpura-pura sedih.
Namun, matanya kemudian menyapu seluruh sudut apartemen Jia Li yang dipenuhi barang-barang elektronik canggih. "Tapi ternyata... kau malah hidup sangat nyaman dan mewah di sini!"
Yun Sharam langsung melipat tangannya dan membuang muka ke arah lain, pura-pura ngambek dan menolak menatap adiknya lagi.
Jia Li hanya bisa memijat keningnya yang mendadak berdenyut, merasa lelah sekaligus gemas melihat tingkah kakak keduanya. "Mana aku tahu kalau kalian juga ikut terlempar ke dunia modern ini," sahutnya pelan. Nada suaranya terdengar tenang, namun terselip rasa bersalah yang teramat dalam di balik tatapan matanya.
Melihat perdebatan itu, Yun Shadom yang sejak tadi hanya menyimak dalam diam akhirnya menghela napas panjang.
Tatapannya melembut saat memandang adik perempuannya. "Sudahlah. Yang paling penting adalah kau berada dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup," ucapnya menenangkan.
Mendengar kalimat hangat itu, sudut bibir Jia Li langsung melengkung ke bawah—merasa terharu yang membuncah. Tanpa aba-aba, ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung berhambur memeluk erat lengan Yun Shadom. "Kak Shadom memang kakak yang terbaik di seluruh dunia!" serunya manja.
Yun Sharam mendecak kesal melihat perlakuan pilih kasih itu. "Cih, pilih kasih sekali," gerutunya. Namun, kaki layaknya magnet, ia tetap melangkah mendekat dan ikut-ikutan memeluk lengan Yun Shadom dari sisi yang lain.
Jika di hadapan musuh atau orang asing Jia Li dikenal sebagai sosok yang berdarah dingin, kejam, dan tak tersentuh, maka di depan kedua kakak laki-lakinya ini, seluruh tembok pertahanan itu runtuh. Ia kembali menjadi adik perempuan kecil yang gemar bermanja-manja.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepala Jia Li. Sepasang netranya seketika berbinar cerah. Ia melepaskan pelukannya, lalu berdiri tegak menghadap kedua kakaknya dengan rona penuh antusias. "Karena kalian berdua sudah ada di sini... kalian wajib membantuku!" serunya penuh semangat yang berapi-api.
Mendengar perubahan nada suara adik mereka, Yun Shadom dan Yun Sharam saling berpandangan. Detik itu juga, aura santai mereka menguap, digantikan oleh tatapan mata yang fokus dan tajam.
Jia Li pun mulai menceritakan semuanya. Ia menceritakan setiap detail kejadian yang dialaminya sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia modern ini, tanpa melewatkan satu poin pun. Seiring berjalannya cerita Jia Li, atmosfer di dalam ruangan perlahan berubah mencekam. Sorot mata kedua pemuda itu lambat laun berkilat dingin dan berbahaya—aura asli mereka sebagai petarung tangguh mulai bangkit.
"Jadi..." ujar Yun Shadom dengan nada rendah yang mengintimidasi setelah Jia Li menyelesaikan kalimat terakhirnya. "Dunia ini akan hancur dalam waktu kurang dari seratus hari? Dan kau... berencana untuk menyelamatkan dunia ini dari... mereka?"
Jia Li mengangguk."Kita harus bisa menyelamatkan dunia ini."
Mendengar tantangan besar itu, Yun Shadom dan Yun Sharam tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
Sebaliknya, sudut bibir mereka justru terangkat, membentuk seulas senyum licik yang penuh arti. Sepertinya, petualangan baru mereka di zaman modern yang serba canggih ini tidak akan membosankan, melainkan akan menjadi arena bermain yang sangat menyenangkan.