“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Nama yang Terkubur dalam Ingatan
“Pedang baja biasa dan sepuluh keping emas.”
Tetua Zhao, penjaga Paviliun Mutiara Putih, menatap Su Yang dari balik meja.
“Kau kembali?”
“Seperti yang Senior lihat.”
Tetua Zhao menyipitkan mata. Beberapa hari lalu, pemuda ini membeli Bunga Yang Murni dengan sepuluh ribu Poin Prestasi. Ia semula menduga Su Yang akan kembali dalam keadaan terluka—jika masih hidup.
Namun, pemuda itu justru tampak lebih sehat. Auranya pun berubah.
“Bagaimana dengan bunga yang kaubeli?”
“Sudah kugunakan.”
Tetua Zhao terdiam.
“Kau menggunakannya?”
“Benar. Sekarang aku membutuhkan perlengkapan perjalanan.”
“Untuk apa?”
“Aku menerima misi perburuan.”
Tetua Zhao ingin bertanya lebih jauh, tetapi Su Yang hanya tersenyum sopan.
“Senior, aku sedang terburu-buru. Bukankah paviliun ini tempat menukar Poin Prestasi dengan barang?”
Sang tetua mendengus. Ia mengambil pedang bersarung hitam dan sekantong emas, lalu menyerahkannya setelah menerima pembayaran.
Su Yang pun kembali kehabisan Poin Prestasi.
Begitu pemuda itu pergi, Tetua Zhao meminta seseorang menggantikannya dan bergegas menuju Aula Misi.
“Apakah murid bernama Su Yang datang kemari hari ini?”
Tetua pencatat segera membuka buku.
“Ya, Senior. Ia menerima misi perburuan Kucing Petir di Lembah Petir.”
“Berapa tingkat kultivasinya?”
“Alam Roh Mendalam Lapisan Pertama, menurut keterangannya.”
Tetua Zhao merebut buku itu untuk memastikan tulisan di dalamnya.
“Mustahil!”
Ia masih mengingat jelas bahwa Su Yang berada di Alam Roh Dasar Lapisan Ketiga ketika pertama kali datang membeli Bunga Yang Murni. Kini, kurang dari dua minggu kemudian, pemuda itu telah mencapai alam berikutnya.
Lebih mengejutkan lagi, ia tampaknya berhasil menyerap tanaman yang bahkan tidak berani digunakan Tetua Zhao sendiri.
“Jadi dia benar-benar selamat…”
Sang tetua teringat bagaimana Su Yang menanggapi semua peringatannya dengan senyum tenang. Saat itu ia menganggap pemuda tersebut tidak memahami bahaya. Sekarang ia menyadari kemungkinan lain: Su Yang tahu persis apa yang sedang dilakukannya.
“Jangan tunjukkan catatan ini kepada siapa pun tanpa izinku,” perintahnya.
“Baik, Senior!”
Tetua Zhao segera meninggalkan aula untuk melaporkan temuannya kepada pimpinan sekte.
Sementara itu, Su Yang telah mencapai gerbang utama.
Ia menunjukkan surat misinya kepada penjaga. Setelah cap resmi diperiksa, gerbang dibuka dan ia melangkah keluar dari Sekte Bunga Mendalam.
Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, dunia di luar sekte terbentang di hadapannya.
Kota Bulu Angin dapat dicapai dalam dua hari perjalanan kaki biasa. Dengan kultivasinya sekarang, Su Yang tiba hanya dalam beberapa jam.
Para penjaga gerbang tampak terkejut melihat jubah sektenya.
“Jarang sekali murid Sekte Bunga Mendalam singgah di kota kami,” kata salah seorang penjaga. “Apa tujuan Tuan Muda?”
“Aku hanya mampir sebelum melanjutkan perjalanan.”
Mereka membebaskannya dari biaya masuk. Su Yang mengucapkan terima kasih dan memasuki kota.
Jalan-jalan dipenuhi pedagang, kereta, serta penduduk yang sibuk dengan urusan masing-masing. Kehidupan sederhana itu membangkitkan kenangan yang lama terkubur.
Dalam kehidupan sebelumnya, sebelum menjadi seorang kultivator, ia pernah berjalan di pasar seperti ini bersama keluarganya. Setelah mencapai tingkat kekuatan yang semakin tinggi, kesempatan menikmati hal-hal biasa perlahan menghilang.
Seorang wanita muda menghampirinya dan mengajak berbicara secara pribadi. Su Yang menolak dengan halus karena memiliki urusan lain. Ia tidak ingin perjalanannya terhenti hanya karena perhatian orang asing.
Beberapa saat kemudian, aroma masakan menariknya ke sebuah rumah makan sederhana.
Pemiliknya langsung menyambut dengan gugup.
“Tuan Muda, silakan. Maaf apabila tempat kami kurang pantas untuk Anda.”
“Meja kosong mana saja cukup.”
Su Yang memilih kursi di sudut. Ia memandangi daftar hidangan yang sudah kusam, lalu memesan sepoci teh dan masing-masing satu porsi dari seluruh menu.
Pemilik rumah makan terbelalak.
“Semuanya?”
“Ya.”
Ketika puluhan hidangan datang, beberapa meja harus digabungkan. Su Yang menyerahkan sekeping emas dan meminta pemiliknya mengganti daftar menu yang sudah rusak.
“Sisanya untuk makanan para tamu wanita di sini,” tambahnya. “Kalau mereka bersedia, aku ingin mengobrol. Ini pertama kalinya aku bepergian ke luar sekte.”
Tak lama kemudian, enam wanita dewasa duduk mengelilinginya. Suasana rumah makan yang semula biasa saja berubah riuh oleh percakapan dan tawa.
Mereka menanyakan namanya.
“Xiao Yang,” jawab Su Yang.
Ia sengaja tidak menggunakan nama aslinya. Sebelum mengetahui lebih banyak tentang dunia ini, lebih aman jika identitasnya tidak tersebar terlalu jauh.
“Jadi, Xiao Yang, apa yang ingin kauketahui?” tanya salah seorang wanita.
“Benua Timur.”
Wanita-wanita itu saling berpandangan, lalu mulai menjelaskan.
Benua Timur terbagi menjadi empat wilayah besar. Masing-masing berada di bawah pengaruh satu klan yang memiliki kekuatan besar, baik di dunia kultivasi maupun di tengah masyarakat biasa.
“Klan Fang menguasai wilayah barat,” ujar seorang wanita.
“Klan Long di timur, Klan Xiang di selatan,” sambung yang lain.
“Dan Klan Su di utara,” kata wanita ketiga.
Tangan Su Yang yang sedang mengangkat cangkir terhenti sesaat.
“Klan Su?”
“Benar. Ada desas-desus bahwa kekuatan mereka bahkan melampaui tiga klan lainnya, meskipun kami tidak tahu seberapa benar kabar itu.”
Su Yang menurunkan cangkirnya perlahan.
Nama itu sama dengan marganya.
Kebetulan semata mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, ada sesuatu yang sejak awal mengganggunya: ingatan pemilik tubuh ini hanya jelas sejak satu tahun terakhir, setelah bergabung dengan Sekte Bunga Mendalam. Masa-masa sebelumnya seolah tertutup dinding yang tidak dapat ditembus.
Ia tidak tahu di mana Su Yang yang asli dilahirkan. Ia bahkan tidak mengetahui keluarganya.
“Di mana Klan Su berada?” tanyanya.
“Di ibu kota wilayah utara. Keempat klan besar berpusat di ibu kota wilayah masing-masing.”
“Apakah kau hendak mengunjungi mereka?” Salah seorang wanita tertawa, mengira pertanyaannya sekadar rasa ingin tahu.
“Mungkin suatu hari nanti.”
Su Yang tidak ikut tertawa.
Jika ingatannya memang sengaja disegel, ia perlu mengetahui alasannya. Dan Klan Su kini menjadi petunjuk pertama yang layak diselidiki.
“Bagaimana dengan benua lain?” tanyanya kemudian.
“Kami tidak tahu banyak,” jawab seorang wanita. “Benua-benua dipisahkan oleh lautan luas yang disebut Laut Giok.”
“Laut Giok…”
Nama itu membuat Su Yang terdiam.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah menjelajahi empat dunia. Ia mengenal tempat-tempat yang tidak pernah didengar kultivator biasa. Namun, nama Laut Giok sama sekali asing baginya.
Ia pernah mencari informasi mengenai Istana Dewa Bulan, Kuil Surgawi, dan Negeri Para Dewa di perpustakaan sekte. Tidak satu pun nama itu muncul dalam catatan yang ditemukannya.
Kini, bahkan peta dunia yang dijelaskan penduduk kota tidak cocok dengan pengetahuannya.
Apakah aku benar-benar masih berada di bawah langit yang sama?
Bayangan orang-orang yang ditinggalkannya kembali memenuhi pikiran. Para kekasih yang dahulu menemaninya memandang bintang. Mereka yang mungkin masih menunggu—atau mungkin sudah berada di tempat yang tidak dapat dijangkaunya.
Untuk beberapa saat, ia tidak mendengar percakapan di sekelilingnya.
“Xiao Yang?”
Su Yang tersadar. Salah seorang wanita memandangnya dengan khawatir.
“Kau kelihatan sedih.”
“Maaf. Aku hanya teringat sesuatu.”
“Semoga apa pun yang sedang kauhadapi segera menemukan jalan keluarnya.”
Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Mereka pun kembali bercakap-cakap, membahas kehidupan kota dan berbagai cerita perjalanan sampai hidangan di meja habis.
Ketika akhirnya berpamitan, Su Yang merasa sedikit lebih ringan.
Namun, begitu meninggalkan rumah makan, pikirannya kembali tertuju pada dua nama: Klan Su dan Laut Giok.
Perjalanan menuju Lembah Petir kini bukan lagi sekadar misi perburuan untuk menutupi lonjakan kultivasinya.
Dunia ini menyimpan jawaban tentang tubuh yang ditempatinya. Mungkin juga tentang jalan pulang menuju orang-orang yang dirindukannya.
Su Yang menggenggam gagang pedang di pinggangnya dan melanjutkan perjalanan.
Ia akan menemukan jawaban itu, sekalipun harus menjelajahi seluruh benua.
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat