NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin Segar di Pagi Hari

​Pagi yang cerah menyambut langkah Aira. Meskipun ada secercah rasa malas karena harus kembali berpapasan dengan musuh bebuyutannya, Aira tetap memaksakan diri untuk bersemangat. Mengingat tak lama lagi ia akan pindah sekolah, ia harus bertahan sebentar lagi demi mengurus surat-surat kepindahannya.

​"Mama, Aira berangkat sekolah dulu, ya!" pamit Aira sambil menyalami tangan sang Mama di teras.

​"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, jangan mengebut!" pesan Bu Windy melepas kepergian putrinya.

​"Siap, Ma!"

​Aira segera mengeluarkan sepeda motor maticnya dari pekarangan rumah, lalu melaju membelah jalanan pagi yang mulai padat.

✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠

​Setengah jam kemudian, ia tiba di sekolah dan langsung bergegas menuju kelasnya, XII IPA 2.

​"Aira! Akhirnya kamu datang juga!" seru Tia begitu melihat Aira melangkah masuk dan mendudukkan diri di bangku sebelahnya.

​Aira meletakkan tasnya dengan santai. "Ada apa, Tia? Masih pagi sekali kamu sudah seheboh ini."

​Tia mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada penuh kemenangan. "Kamu tahu tidak? Vina dan gengnya kena skorsing dari sekolah!"

​Aira terbelalak kaget. "Bagaimana bisa?"

​"Abangmu yang mengurus semuanya kemarin di ruang Kepala Sekolah. Pokoknya mantap, deh! Setidaknya untuk saat ini sekolah kita jadi aman. Selama ini kan mereka memang sering menindas anak-anak lain. Kasihan kamu dan korban-korban mereka yang lain, selalu tertekan setiap hari," ucap Tia berapi-api.

​Aira terdiam sesaat, ada rasa lega sekaligus haru menjalar di dadanya. Kakaknya benar-benar membuktikan ucapannya untuk melindunginya.

​Tia sendiri adalah satu-satunya sahabat yang paling memahami penderitaan Aira. Papa Tia adalah pria yang berselingkuh dengan ibu Vina, wanita yang sempat Aira sebut dalam pertengkarannya kemarin. Bedanya, meski orang tua Tia bercerai dan kini Tia hanya tinggal berdua dengan mamanya yang bekerja di bank, Papa Tia masih bertanggung jawab penuh memenuhi kebutuhan putrinya. Berbeda nasib dengan Aira yang tumbuh tanpa figur dan nafkah seorang ayah sama sekali.

​KRINGGG!!!

​Bel masuk berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, Bu Lela, guru mata pelajaran Biologi, melangkah masuk ke dalam kelas membawa beberapa buku tebal.

​"Anak-anak, silakan kumpulkan tugas minggu lalu ke depan," ujar Bu Lela membuka kelas.

​"Baik, Bu," jawab para siswa serentak seraya berhamburan mengumpulkan buku tugas mereka.

​"Hari ini kita akan melanjutkan materi kedua tentang anatomi tubuh manusia..."

​Pembelajaran pun berlangsung dengan serius dan tertib. Hingga tepat pukul sepuluh pagi, bel istirahat berbunyi nyaring. Aira dan Tia berjalan beriringan menuju kantin yang sudah mulai ramai oleh murid-murid kelaparan.

​"Aira, kamu mau makan apa?" tanya Tia sambil mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong.

​"Aku mau bakso saja, sama es jeruk," jawab Aira.

​"Oke, kamu cari meja kosong saja dulu. Biar aku yang antre memesan nasi goreng dan baksonya," tawar Tia yang langsung diangguki oleh Aira.

​Aira melangkah menuju meja kosong di sudut kantin yang agak teduh. Tak berselang lama, Tia datang membawa nampan berisi pesanan mereka. Mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing.

​"Aira, rumor yang beredar di grup angkatan... apa benar kamu mau pindah sekolah?" tanya Tia hati-hati di sela kunyahan nasi gorengnya.

​Aira menghentikan sendoknya sesaat, lalu mengangguk pelan tanpa mengalihkan fokus dari mangkuk baksonya. "Iya, Tia. Bang Reyhan sangat khawatir setelah kejadian kemarin."

​Raut wajah Tia langsung berubah lesu. "Yah... kalau kamu pindah, aku tidak punya teman sebangku lagi, dong. Aku bakal sendirian di sini."

​Aira tersenyum tipis, merasa tidak enak hati. "Sebenarnya, Abangku sempat memintaku untuk homeschooling. Tapi aku menolak keras. Aku masih ingin sekolah di sekolah umum biasa."

​"Lalu, kamu sudah memilih mau pindah ke sekolah mana?" tanya Tia penasaran.

​"Belum tahu. Aku harus berdiskusi dulu dengan Bang Reyhan malam ini. Sembari berjalan, aku juga harus mulai mengurus surat perpindahan sekolah ke ruang administrasi," jelas Aira.

​Tia mengangguk paham, mencoba menerima keputusan sahabatnya. "Apa pun pilihannya, yang penting kamu aman dan tidak ada yang berani merundungmu lagi, Aira."

​Aira tersenyum tulus mendengar dukungan sahabatnya itu. Namun, entah mengapa, membicarakan soal pindah sekolah dan surat kepindahan mendadak membuat dadanya berdesir aneh. Bayangan tentang dokter muda yang memberinya vitamin kemarin kembali melintas di benaknya.

'Kalau aku pindah sekolah... apa aku masih bisa bertemu dengan dokter baik hati itu lagi?' batin Aira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠

Malam harinya, suasana di rumah Bu Windy mendadak ramai dan hangat. Reyhan datang memboyong Dinda beserta kedua anak kembar mereka yang masih balita untuk makan malam bersama. Suara celoteh riang khas anak-anak memecah kesunyian rumah yang biasanya sepi itu.

​Setelah menyelesaikan makan malam yang nikmat, mereka berkumpul di ruang keluarga. Bu Windy tampak sangat bahagia, duduk di atas karpet tebal sambil telaten menyuapi dan mengajak bermain kedua cucu kembarnya yang sedang aktif-aktifnya.

​Sementara itu, Dinda duduk di sofa samping sang Mertua, sesekali membantu merapikan mainan yang berserakan sambil memasang telinga, mendengarkan perbincangan serius antara suami dan adik iparnya di meja makan yang letaknya tak jauh dari sana.

​"Jadi, bagaimana, Aira? Kamu sudah memikirkan mau pindah ke mana?" tanya Reyhan membuka obrolan sambil menyesap teh hangatnya.

​Aira yang duduk di seberang Reyhan tampak memainkan jemarinya. "Aira bingung, Bang. Aira tidak tahu sekolah mana yang bagus dan lingkungannya aman."

​Reyhan mengangguk paham. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap adiknya dengan pandangan hangat namun serius. "Abang sudah memikirkan ini matang-matang sejak kemarin. Bagaimana kalau kamu pindah ke SMA Bangsa Indonesia?"

​Aira mendongak, mengerutkan keningnya. "SMA Bangsa Indonesia? Itu kan..."

​"Iya, itu SMA Abang dulu," potong Reyhan sambil tersenyum tipis. "Abang tahu betul bagaimana sistem pengajaran dan kedisiplinan di sana. Guru-gurunya sangat perhatian, dan yang paling penting, sekolah itu memiliki sistem anti-perundungan yang sangat ketat. Di sana tidak ada ruang untuk murid seperti Vina."

​Dinda yang sejak tadi menyimak dari ruang keluarga ikut menyahut sambil tersenyum, "Kakak setuju dengan Mas Rey, Aira. Dulu sewaktu Mas Rey sekolah di sana, lingkungannya memang terkenal sangat sehat dan ramah murid baru. Kamu pasti cepat betah."

​Aira terdiam sejenak, menimbang-nimbang usulan kakak dan kakak iparnya. Mengetahui bahwa sekolah itu adalah tempat kakaknya dulu menuntut ilmu memberikan rasa aman tersendiri di hatinya.

​"Tapi... apa tidak apa-apa kalau Aira masuk saat udah kelas 12 begini, Bang? Apa tidak susah mengurusnya?" tanya Aira ragu.

​"Kamu tenang saja. Sekarang masih awal semester pembelajaran belum jauh, masalah administrasi dan surat kepindahan biar Abang yang urus besok. Kepala sekolah di sana kebetulan masih mengenal Abang dengan baik," jawab Reyhan menenangkan ragu di hati adiknya. "Tugasmu sekarang hanya satu fokus Belajar di sekolahmu yang sekarang dengan tenang. Setelah itu, kita mulai lembaran baru di SMA Bangsa Indonesia."

​Mendengar kepastian dari sang kakak, beban berat yang menggelayuti pundak Aira selama beberapa hari ini seketika luruh. Senyuman manisnya kembali terukir indah di pipi chubby-nya.

​"Terima kasih banyak, ya, Mama, Bang, Kak Dinda," ucap Aira tulus.

​"Sama-sama, Sayang. Yang penting kamu bisa belajar dengan tenang lagi," sahut Bu Windy dari karpet bawah, sambil memeluk salah satu cucunya yang sibuk merangkak ke pelukannya. Bu Windy menatap ke arah Reyhan dengan binar mata penuh rasa syukur karena putra sulungnya itu selalu bisa diandalkan untuk melindungi adiknya.

​Aira bersandar di kursinya, mengembuskan napas lega.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!