NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Retaknya Cermin (Bagian 1)

“Lihat Ian nggak?”

“Barusan aja dari ruanganku. Fotocopy mungkin,” Vanno mendongakkan kepalanya melihatku.

“Oke, thank’s!” kututup lagi pintu kaca ruangannya. Aku mendengus, menyadari jika saran Vanno tak membantuku sama sekali. Jika Ian sedang fotocopy, aku pasti tidak perlu sampai merangsek ke ruangan Vanno untuk mencarinya. Kuedarkan pandanganku di seluruh penjuru ruangan. Nihil. Tak ada tanda-tanda dari Ian. Kulirik jam tanganku. Sudah waktunya makan siang. Dan hari ini adalah hari ketujuh aku tidak berangkat makan siang dengan ‘kembaran’ku itu. Entah kenapa dia jadi selalu sibuk di jam ini.

“Kak Izang mau ke kantin bareng?” Satrio menepuk bahuku.

“Ah, ayo!” kuiyakan saja ajakan Satrio. Daripada berjalan sendirian ke kantin yang penuh dengan wanita lapar—yang kadang juga menatapku dengan lapar—berjalan dengan sesama lelaki terkadang jadi pilihan aman.

“Mau makan apa, Kak? Soto juga?” Satrio menjinjitkan kakinya, mencoba peruntungan melihat ke dalam bilik Bu Umi yang ramai. Aku menengokkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, memilih makanan yang ingin kuberikan pada cacing-cacingku. Saat itulah mataku menangkap punggung Ian. Kudapati dia duduk sendirian di meja pojok, tempat kami biasanya makan bersama.

“Aku skip aja deh,” jawabku sambil menunjuk tempat Ian berada. Satrio menolehkan kepalanya sebentar ke arah telunjukku sebelum mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda mengerti.

“Dicariin malah duluan ke sini. What’s wrong with you?” aku menyahut jus jeruk di hadapan Ian begitu saja. Dia terdiam sejenak.

“Seharusnya aku yang tanya, what the fuck is wrong with you?” dia meletakkan garpunya begitu menatapku. Alisku naik sebelah.

“Maksudmu?”

“Jangan pura-pura!” ada raut kesal di wajah Ian ketika mengatakannya. Alisku makin naik.

“Kamu ngomongin apa sih? Aku nggak ngerti,” aku tak mengacuhkan ocehan Ian dengan mengambil mangkuk mie ayamnya. Aku lapar.

“Zang!” Ian membentakku. Untung saja kantin dalam keadaan ramai sehingga tak ada yang mendengar bentakan itu. Kuseruput suapan mieku cepat-cepat.

“Apa sih?” kutatap dia tepat di kornea matanya. Aku benar-benar tak mengerti alasan yang membuatnya kesal. Jika memang karena aku, seharusnya kan dia bisa tinggal mengatakannya saja. Tidak perlu berbelit-belit sampai mengganggu makanku segala.

“I’ve told you that I like your girlfiriend. Did you just forget about it?” Ian menatapku balik dengan tatapan depresi.

“Ah, that one. That’s not a big deal,” elakku sembari kembali meneruskan makanku.

“What? Not a big deal? Jangan meremehkanku! Aku tahu kamu,” Ian menahan tanganku. Kutarik napasku dalam-dalam.

“Emangnya apa yang kamu tahu?”

“Aku tahu gimana marahnya kamu waktu tahu ada anak angkatanmu yang masih naksir Ara selepasmu lulus. Aku tahu gimana murkanya kamu waktu ngerti Ara sempat naksir dengan teman sekelasnya di kampus. I know all of it. Dan sekarang? Kamu malah biasa-biasa aja waktu tahu aku naksir dia. Why, Zang? Why? Kamu mau bikin aku gila perlahan?” raut putus asa itu menyergapku.

“Terus kamu pingin aku gimana? Menjauhimu? Memusuhimu? Apa?”

“Setidaknya reaksi seperti itu yang lebih aku antisipasi darimu, bukan yang seperti ini,” jawab Ian lugas. Aku terkejut.

“Jangan-jangan seminggu ini kamu bukan sibuk tapi emang sengaja menghindariku?” tebakku. Bukannya menjawab, dia malah mengacak-acak rambutnya yang rapi. Sikapnya itu sudah jadi tanda ‘ya’ bagi pertanyaanku.

“Ian, aku nggak bisa marah ke kamu. I’ve tried.”

“Come on! Kamu nggak punya alasan yang lebih bagus lagi?” Ian menatapku tak percaya. Sekarang aku yang merasa putus asa.

“I told you the truth. Kamu kira aku bahagia karena tahu kamu naksir Ara? Kamu kira aku santai aja duduk semeja denganmu begini? Kamu kira aku baik-baik aja? No! Aku sangat ingin marah, memakimu sejahat mungkin, tapi aku nggak bisa. Setiap aku ingin meluapkan amarahku padamu, setiap aku ingin mengumpatmu, aku seperti berkaca dengan diriku sendiri. It’s like I’m going to be mad to my self. And I can’t even do that,” aku berusaha sekali untuk menekan nada bicaraku. Kantin mulai sepi dan aku tidak ingin percakapan kami mengundang keingintahuan biang gosip yang bertebaran di kantor. Berita baik saja bisa jadi buruk, apalagi berita yang sudah buruk seperti ini.

“Tapi, justru sikap tenangmu ini yang bikin aku makin panik karena aku nggak tahu harus bersujud seperti apa untuk menghukum diriku sendiri karena naksir Ara.”

“Nggak perlu begitu. Kamu bukan Tuhan. Kamu bukan pengatur perasaan. Anggap aja ini ujian buat kita berdua. Toh, aku juga sudah berniat untuk memberitahu Ara,” pernyataanku barusan langsung disambut Ian dengan tatapan yang tidak mengenakkan.

“Apa? Kamu gila? Jangan mempersulit Ara!”

“Aku bukan mempersulit, tapi ini kan menyangkut dia juga,” aku ngotot. Kulihat Ian lagi-lagi mengacak rambutnya yang sudah semakin berantakan.

“Zang, hajar aku aja! Hajar aku sekuatmu sampai aku kapok untuk suka dengan Ara. Apa susahnya sih menghajarku? Paling aku hanya akan masuk rumah sakit. Please, Ara nggak perlu tahu,” aku menelungkupkan wajahku ke dalam tangan. Mana mungkin aku menghajarnya?

“Mencacimu saja sudah susah untuk kulakukan, apalagi memukulmu untuk disetorkan ke rumah sakit. Lagi pula tidak ada jaminan bahwa kamu akan berhenti menyukai Ara ketika aku selesai menghajarmu. Udahlah, aku tetap akan memberitahu Ara.”

“Zang...” Ian memohon. Aku susah payah mengumpulkan kata-kata di tenggorokanku.

“Ian, biarkan Ara yang mengambil keputusan, bukan aku atau kamu. Let’s play fair! Kalau Ara juga menyukaimu, aku akan mundur.”

“Tapi aku nggak mau pertemanan kita berantakan karena Ara,” Ian memandangku dengan kesedihan yang sangat. Ya, pertengkaran saudara memang akan selalu tidak menyenangkan, apapun sebab dan hasilnya.

“We’ll find a way about it,” aku tersenyum pasrah, dengan sekuat tenaga menguatkan diriku sendiri.

...***...

“Coba periksa laporan ini deh!” aku menyorongkan map di tanganku pada Ian.

“Kenapa emang?” Ian mulai membuka-buka lembaran dalam map itu.

“Ada beberapa part yang miss dan akhirnya bikin laporannya nggak balance. Aku bukannya curiga ke stafmu, tapi kemungkinan besar ada yang kelewat atau paling buruk ya emang nggak dimasukin ke laporan. Yang ngerjain ini siapa?”

“Si Satrio. Biasanya dia nggak seceroboh ini sih,” Ian menelisik data-data dalam kertas yang kuberikan. Dia memberi catatan tambahan pada bagian yang sudah kucoret-coret sebelumnya.

“Kita panggil aja gimana?” usulku. Ian berpikir sejenak.

“Boleh,” tukasnya sambil meninggalkan ruang rapat.

“Dian, bisa tolong panggilin Satrio? Bilangin kalau aku sama Izang ada perlu sama dia,” ujarnya pada Dian yang terlihat akan meninggalkan meja. Dian mengangguk sebelum berlalu.

Drrrtt...Drrrtt...Drrrtt

Handphone milik Ian bergetar. Aku memajukan badanku untuk menengok layarnya ketika dia buru-buru menyahut benda berlayar sentuh itu.

“Halo, Ra! Ada apa?” telingaku seketika berdiri mendengar penghujung nama yang disebut Ian.

Ra? Ara?

“Nggak sibuk kok, kenapa emang?” tanya Ian lagi. Telingaku masih berusaha menyimak.

“Oh, kebetulan. Ini aku lagi bareng dia. Mau ngomong?” tawar Ian pada suara itu. Well, aku yakin itu memang Ara.

“Gitu? Ya nggak apa-apa sih kalau kamu maunya gitu. Nanti biar aku yang nyampein,” aku bisa merasakan tatapan Ian ke arahku. Aku menatapnya sekilas sebelum kembali berpura-pura sibuk dengan kertas di hadapanku. Meskipun faktanya kertas-kertas ini sudah tidak menarik minatku sama sekali.

“Tiga hari? Barang bawaan udah dicek semua? Yakin nggak ada yang ketinggalan?”

Tiga hari? Barang bawaan? Ara mau pergi?

“Hati-hati kalau gitu! Jangan lupa bawa jaket sama obat-obatan!” Ian menasihati lagi. Aku jadi panik.

Ara mau ke mana sih? Kenapa juga malah telepon Ian?

“Kalau pengawasnya galak timpuk aja!” Ian tertawa. Aku berusaha keras untuk tidak menggigit bibirku. Jika itu kulakukan, Ian akan tahu jika aku sedang panik. Kuputar kursiku agar bisa membelakanginya. Sekarang, aku hanya tidak ingin ketahuan menguping. Itu saja.

“Oke deh. Bye, Ra!” akhirnya Ian mengakhiri siksaanku juga. Aku berdeham, entah kenapa tenggorokanku tiba-tiba gatal.

“Ara yang telepon,” Ian bertutur seakan mengerti arti dehamanku.

“Oh. Ada apa emang?” tanyaku setenang mungkin. Tidak mungkin kan aku mencak-mencak di atas meja?

“Dia ada acara fakultas selama tiga hari mulai hari ini. Dia bilang bakal nggak bisa dihubungi karena hpnya dibawa sama pengawas kelompok. Ara takut kamu panik nyariin dia kalau nggak ngabarin dulu.”

“Gitu? Tapi kenapa dia malah nelpon kamu kalau dia takut aku panik?” aku menopangkan daguku.

“Ara tadi buru-buru. Dia udah nelpon kamu sepuluh kali tapi nomormu nggak aktif. Makanya dia langsung telpon aku,” pernyataan Ian mengejutkanku. Kurogoh saku kemejaku.

“Nggak aktif apanya? Ini...” kuketuk layar handphoneku untuk menunjukkan pada Ian bahwa handphoneku menyala. Tapi layarku padam. Kuketuk lagi dan layar itu tetap padam. Shit. Pantas saja hidupku seharian ini tenang sekali. Ternyata handphoneku memang mati.

“See? Bukan salah Ara kalau akhirnya dia jadi telpon aku.”

“Ya tapi kenapa juga dia nggak mau ngomong sama aku? Padahal dia tahu kalau aku lagi sama kamu,” aku mencari-cari alasan.

“Nggak tahu. Bad mood kali,” Ian nyengir dengan tanpa rasa bersalah. Aku kelabakan mendengar celoteh asalnya itu. Dia tahu bagaimana antinya aku dengan Ara yang bad mood. Tapi, dia malah bisa-bisanya memunculkan senyum innocent seperti itu di depanku. Aku baru akan mendebatnya lagi ketika Satrio tiba-tiba mengetuk pintu.

“Kakak berdua nyari aku?”

“Oh, iya. Sini, Yo!” Ian mempersilahkan Satrio masuk. Good, perhatian kami akan teralihkan sementara karena Satrio. Tapi aku tidak berbohong. Saat ini mataku bisa dengan jelas sekali menangkap senyum bahagia Ian yang masih nangkring di wajah tampannya itu. Sial. Aku yang mengusulkan perang, malah aku yang kecolongan poin duluan.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!