Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Gue ninggalin Mexim di sunroom dengan perasaan campur aduk. Sebagian diri gue ngerasa puas udah nampam egonya yang setinggi Burj Khalifa, tapi sebagian lagi... man, dada gue lumayan deg-degan. Energi dark berondong gila itu lumayan menguras mental.
Gue butuh es kopi. Segera.
Baru aja gue melangkah ke arah dapur, pintu utama terbuka.
March.
Cowok itu baru pulang dari kantor. Jasnya tersampir di lengan, kemeja putihnya agak kusut di bagian lengan yang digulung, dan dasinya longgar. Rahangnya mengeras. Auranya beda dari kemarin sore pas mergokin gue lagi baking sama si kembar. Kali ini, udara di sekitarnya seolah turun sepuluh derajat. Cold. Intense.
Dia ngelewatin gue gitu aja. Tunggu. Apa? Dia literally jalan ngelewatin gue.
Langkahnya mantap dan cepat menuju sunroom. Suara ketukan heels pantofelnya menggema di lantai marmer, seolah bawa peringatan bahaya. Gue berbalik, refleks ngikutin dia dari belakang. Naluriah gue bilang ini bakal jadi scene yang epic.
Sesampainya di ambang pintu kaca sunroom, March berhenti. Di dalam, Mexim masih berdiri di tempat yang sama, lagi mainin korek Zippo kesayangannya dengan senyum miring yang belum luntur.
"Udah puas jadi parasit di rumah gue?" Suara March memecah keheningan. Rendah. Tajam. Beda banget sama deep voice kalemnya pas lagi ngobrol sama si kembar.
Mexim mendongak. Dia nutup Zippo-nya dengan bunyi klik nyaring. Bukannya kaget atau takut digerebek kakaknya sendiri, cowok itu malah masukin tangannya ke saku jaket kulit, nyender santai di pilar kaca.
"Woy, bro," sapa Mexim santai, senyumnya makin melebar, ngasih lihat deretan giginya yang putih. "Baru balik lo? Nyantai kali. Gue cuma mampir nengok ponakan. Sekalian... nyapa Kakak Ipar."
Dia sengaja nekan kata 'Kakak Ipar' sambil ngelirik ke arah gue yang berdiri agak di belakang March. Sialan. Provokasi level dewa.
Gue bisa lihat bahu March menegang dari belakang. Tangannya yang memegang jas mengepal kuat sampai urat-uratnya menonjol. Tanpa basa-basi, cowok itu melempar jasnya ke atas kursi terdekat, lalu berjalan masuk ke sunroom dan mengikis jarak dengan adiknya.
March berdiri tepat di depan Mexim. Posturnya yang tegap dan dominan bikin Mexim—yang lumayan tinggi—kelihatan kalah pamor.
"I’m warning you for the last time, Mex," desis March. Matanya menatap lurus, ngasih peringatan final yang nggak main-main. "Stay away from my wife."
Mexim tertawa pelan. Tawa yang meremehkan. "Kenapa? Lo cemburu? Atau lo takut?" Mexim maju selangkah, menantang tatapan kakaknya. "Come on, March. You and I both know, you don't even care about her. Lo cuma nikahin dia buat status. Buat ibu pengganti Miko sama Mika. So why do you care if I play around?"
Zleb. Kata-kata Mexim itu kayak belati yang nancep tepat di tengah-tengah plot asli novel ini. Dia bener. Di cerita aslinya, March menikahi Chloe cuma demi nyari sosok ibu buat anak-anaknya. Nggak ada cinta. Cuma transaksi konyol. Dan itu yang bikin Chloe makin insecure dan akhirnya gampang dihasut Aluna.
Tapi itu dulu. Sebelum jiwa gue masuk ke tubuh ini.
Gue bersiap buat interupsi, nggak terima direndahin gitu aja. Tapi sebelum gue sempat ngeluarin suara, March ngelakuin hal yang bikin napas gue—dan Mexim—tercekat.
Dengan kecepatan kilat, tangan kiri March mencengkeram kerah jaket kulit Mexim dan mendorongnya kuat ke dinding kaca. Bruk! Bunyi benturan punggung Mexim ke kaca tebal itu lumayan keras.
Senyum Mexim lenyap detik itu juga.
"Listen to me carefully, you little piece of shit," suara March sekarang lebih mirip geraman. Matanya segelap malam, memancarkan amarah yang selama ini selalu dia sembunyikan rapat-rapat di balik facade 'CEO dingin nan tenang'. "She is my wife. My family. Apa pun alasan gue nikahin dia, dia tetap milik gue. Hak gue. Bukan mainan murahan lo yang bisa lo ganggu tiap lo lagi bosen."
March mencondongkan wajahnya lebih dekat, ngasih tatapan membunuh yang sukses bikin nyali Mexim ciut perlahan. "If I ever catch you looking at her like that again... If I ever find out you’re stalking her balcony at 2 AM again... Gue nggak akan segan-segan hancurin semua koleksi motor kesayangan lo. Dan gue cabut semua akses fasilitas lo dari perusahaan. Try me, Mexim."
Gue mematung. Jantung gue literally berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi... sial. Cara dia bilang "she is my wife, my family", cara dia ngelindungin gue dengan amarah posesif kayak gitu. It's insanely hot.
Mexim menelan ludah. Jakunnya bergerak tegang. Genggaman March di kerahnya mengerat sejenak, ngasih tekanan final sebelum akhirnya cowok itu melepaskan Mexim dengan kasar.
March merapikan kemejanya yang berantakan, menatap adiknya dengan jijik buat terakhir kalinya. "Get the hell out of my house."
Mexim ngatur napasnya yang sempet ngos-ngosan. Dia menatap March dengan campuran rasa marah dan shock, lalu ngelirik gue sekilas—kali ini tanpa senyum meremehkan, cuma ada kekalahan telak. Tanpa ngomong apa-apa lagi, dia berjalan cepat keluar dari sunroom, nabrak bahu March sengaja, lalu ngilang di balik lorong rumah.
Hening.
Ruangan kaca itu mendadak sunyi senyap, cuma nyisain suara napas March yang masih agak memburu. Dia berdiri di sana, membelakangi gue. Bahunya naik turun.
Gue menelan ludah, nyoba mencairkan suasana. "Uhm. Wow. That was... intense."
March menoleh. Tatapannya yang tadi setajam silet perlahan melembut pas ngelihat gue, meski rahangnya masih mengeras. Dia berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi aura dominannya masih kerasa pekat banget.
Dia berhenti tepat di depan gue. Matanya menyusuri wajah gue, seolah mastiin nggak ada luka atau goresan sekecil apa pun gara-gara adiknya.
"Dia nyakitin kamu?" tanyanya pelan. Suaranya serak.
Gue menggeleng pelan. "Nggak. Aku bisa handle dia, March. Kamu nggak perlu sampai sekasar itu."
March mengusap wajahnya frustrasi. "Kamu nggak tahu dia, Chloe. Dia terobsesi sama hal-hal yang bukan miliknya. Dan aku..." Dia terdiam, menatap gue lekat-lekat. "...aku nggak akan biarin dia nyentuh apa yang jadi milikku."
Ada jeda yang bikin napas gue seakan tertahan. Jarak kita dekat banget. Aroma mint, musk, dan keringat maskulin dari tubuhnya menampar indra penciuman gue, ngirim sinyal bahaya ke otak gue. Warning: too close. Too attractive.
Tiba-tiba, tangan kanannya terangkat. Jari-jarinya yang panjang dan hangat menyentuh pelan sisi rahang gue. Ibu jarinya mengusap lembut kulit gue di sana. Sentuhannya kelewat halus, kontras banget sama cengkeramannya ke kerah Mexim tadi.
"Dia bilang dia ngeliat kamu di balkon jam dua pagi," bisik March, suaranya turun satu oktaf. Matanya menatap lurus ke dalam mata hazel gue, mencari kebenaran. "Were you wearing that champagne nightgown?"
Pipi gue mendadak panas. Anjir, dari sekian banyak hal yang dia ancem, kenapa dia harus fokus ke situ?
Gue berdeham pelan, nyoba mutus kontak mata, tapi tangan March di rahang gue nahan wajah gue biar tetap natap dia.
"Kenapa emangnya kalau aku pakai itu?" sahut gue, ngasih senyum tipis yang challenging.
Mata March menggelap. Jari-jarinya mengusap leher gue pelan. "Because... that’s for my eyes only, Chloe. No one else."
Damn it. Plot aslinya bilang ini pernikahan tanpa cinta. Tapi kalau tatapannya kayak gini, dan cara dia nyentuh gue se-posesif ini...
Aluna, Denada, Mexim... kalian mending siap-siap. Karena March Ezlen ini, resmi jadi target penaklukan gue.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭