Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Gema tepuk tangan dan alunan musik instrumental bernada meriah memenuhi seluruh penjuru aula megah tersebut. Di atas panggung, acara penyampaian kata sambutan serta ucapan selamat dari jajaran panitia dan para sponsor utama telah usai dilaksanakan. Kilatan lampu kilat kamera menembak tanpa henti, membiaskan cahaya di atas panggung di mana Maya berdiri anggun memegang piala Juara Pertama. Para guru, kepala sekolah, hingga tamu undangan berkumpul di sekeliling Maya, berswafoto dan mengabadikan momen bersejarah bagi SMA Nusa Bangsa. Kehangatan, rasa bangga, dan senyum haru membuncah di dalam ruangan itu.Namun, pemandangan yang bertolak belakang terjadi di luar gedung.Di halaman luar yang dinaungi rimbunnya pohon-pohon besar, Lexa terduduk di atas bangku taman dengan tubuh yang bergetar hebat. Isak tangis berselimut amarah meledak dari tenggorokannya. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis, dan jemarinya meremas kain rok seragamnya hingga kusut. Rasa malu yang memutus urat malunya, kekalahan dari anak penjual sayur yang amat ia benci, serta kehancuran gengsi di hadapan teman-temannya membuat akal sehat Lexa menguap tanpa sisa. Wajahnya yang memerah padam dibasahi oleh air mata kekecewaan dan amarah yang membakar ulu hati.Menyadari putri tunggal mereka berlari keluar dalam kondisi hancur, Papa dan Mama Lexa segera bergegas meninggalkan aula dan menyusuri lorong menuju halaman gedung.
"Lexa! Sayang... kamu kenapa, Nak?" panggil mamanya dengan suara panik seraya berlari kecil menghampiri bangku taman.Papanya ikut berlutut di hadapan Lexa, memegang kedua bahu putrinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang tulus. Bagi kedua orang tuanya, kekalahan Lexa dalam kompetisi ini sama sekali bukanlah sebuah bencana besar atau hal yang memalukan.
"Sudah, Sayang, jangan menangis lagi," tutur mamanya lembut seraya mengusap bulir air mata di pipi Lexa dengan sapu tangan mewahnya. "Mama sama Papa sama sekali nggak masalah kamu nggak dapat juara hari ini. Kamu mau ikut serta dan berani berjuang di panggung sebesar ini saja sudah buat Papa dan Mama sangat bangga luar biasa."
"Iya, Lexa, dengarkan Mama kamu," timpal papanya dengan mengulas senyum hangat. "Kalah menang itu hal biasa dalam perlombaan. Kamu sudah berusaha keras belajar beberapa minggu ini, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Papa. Soal janji Papa... Papa tetap bakal belikan apa yang kamu mau kok. Jadi tidak usah menangis seperti ini, ya?"
Perlakuan lembut dan pengampunan tulus dari kedua orang tuanya alih-alih meredakan emosi Lexa, justru bertindak bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api amarahnya. Rasa frustrasi karena rencananya gagal total membuat otaknya benar-benar mati rasa. Keangkuhan dan kepanikan yang menyatu di dalam dadanya menyumbat logika berpikir sehatnya.
"Nggak bisa, Pa! Ini nggak adil!" jerit Lexa histeris, menepis kasar tangan papanya dari bahunya. "Lexa harusnya yang menang! Lexa yang harusnya berdiri di atas panggung itu, bukan si anak penjual sayur sialan itu!"
"Lexa, jaga bicaramu, Nak," tegur mamanya halus, sedikit kaget dengan nada bicara putrinya yang sangat kasar.
"Gimana Lexa bisa diam?!" teriak Lexa semakin menjadi-jadi, air matanya menetes makin deras mengaliri pipinya. "Lexa nggak mungkin kalah! Jelas-jelas semua jawaban pilihan ganda yang Lexa isi di lembar jawaban tadi sudah sangat persis seratus persen sama kunci jawaban yang ada di berkas file kerja Papa!"
Kalimat berbahaya itu terluncur begitu saja dari bibir Lexa tanpa filter.Seketika itu juga, hening yang mencekam memotong suara bisikan angin di halaman gedung. Senyum hangat di wajah papanya meluntur dalam sekejap. Raut khawatir di wajah mamanya berganti menjadi kebingungan yang teramat sangat.
Papanya perlahan berdiri tegap. Dahi pria paruh baya itu berkerut dalam, matanya menatap Lexa dengan tatapan penuh keheranan sekaligus kecurigaan yang mendalam.
"Tunggu dulu..." kata papanya dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat berat dan berwibawa. "Kunci jawaban? Berkas file kerja Papa? Lexa... apa maksud kamu? Dari mana kamu bisa tahu dan dapat kunci jawaban olimpiade itu?"
Mendengar pertanyaan spontan papanya, dorongan adrenalin dan amarah yang menguasai Lexa justru makin menyudutkan dirinya ke dalam jurang. Tanpa sadar bahwa ia sedang menggali kuburannya sendiri, Lexa kembali memuntahkan kejahatannya dengan nada menantang.
"Lexa ambil sendiri! Lexa kirim file bocoran itu lewat email Papa waktu rumah lagi sepi dan Papa lagi di luar kota!" bentak Lexa tanpa rasa penyesalan, suaranya melengking tinggi di udara terbuka. "Lexa sudah hapal semua pola jawabannya! Makanya Lexa bingung kenapa nilai si miskin itu bisa lebih tinggi dari Lexa?!"
Hanya butuh waktu sedetik setelah kalimat terakhir itu bergema di udara, Lexa mendadak terdiam kaku.
Rasa dingin yang membekukan seketika merayapi seluruh tubuhnya. Efek dari kemarahannya menyusut drastis, digantikan oleh kesadaran mengerikan yang baru saja menghantam kepalanya. Kesadaran bahwa ia baru saja membongkar aksi pencurian, kecurangan, dan kejahatannya sendiri secara gamblang di hadapan kedua orang tuanya.Lexa membungkam bibirnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang murni.Di hadapannya, wajah papanya telah berubah padam oleh amarah yang teramat dahsyat. Urat-urat di leher dan pelipis pria itu menegang keras. Tatapan matanya yang tadi penuh kasih sayang kini berganti menjadi tatapan dingin, murka, dan penuh kekecewaan mendalam dari seorang pria, pengusaha, sekaligus sponsor yang merasa ditikam dan dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Sementara di sampingnya, Mama Lexa mundur satu langkah dengan tangan gemetar menutup mulutnya. Air mata syok menetes dari sudut mata mamanya. Sang mama menatap putri tunggal kesayangannya itu dengan tatapan tidak percaya seolah-olah sosok yang duduk di hadapannya bukanlah anak gadis manis yang rajin belajar di rumah, melainkan seorang penipu ulung yang bertindak licik bagaikan seorang koruptor yang menghalalkan segala cara demi sebuah tahta palsu.
"Kamu..." suara papanya terdengar begitu rendah, bergetar menahan amarah yang siap meledak kapan saja. "Kamu mencuri berkas kerahasiaan milik Papa... dan melakukan kecurangan di ajang sebesar ini?"
Keheningan di halaman gedung itu terasa begitu menindih dan menyiksa. Di saat suara sorak-sorai kemenangan Maya masih terdengar samar dari dalam aula, di luar gedung, topeng kesempurnaan Lexa telah hancur berkeping-keping, menyisakan kebohongan besar yang kini menuntut pembalasan atas seluruh perbuatannya.