Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
"Sah secara hukum kata siapa?" tanya Mahardika dingin.
"Siska adalah adik ipar saya, bukan pemilik hak waris. Pemilik sah atas tanah dan rumah itu adalah almarhumah ibu saya, dan saya adalah anak tunggal sekaligus ahli waris utamanya!" kata Mahardika tegas
"Tapi Anda sudah dianggap hilang atau meninggal selama dua tahun! Mbak Siska berhak mengurus kepemilikan keluarga!" sanggah Pengacara Herdian cepat.
Mahardika terkekeh pelan. Ia merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan selembar sertifikat tanah asli yang bersampul hijau tua dan meletakkannya di atas meja Pak Kades.
Tuk!
"Ini sertifikat tanah asli atas nama ibu saya. Saya tidak pernah menandatangani surat kuasa jual beli apa pun. Jika kalian memegang dokumen jual beli, itu artinya Siska telah melakukan pemalsuan dokumen dan penipuan," kata Mahardika, membuat mata Pak Kades membelalak.
Wajah Pengacara Herdian mendadak berubah pucat. Ia melihat sertifikat asli itu dengan cermat, lalu beralih menatap Siska dengan pandangan penuh selidik.
"S-Siska... bukankah kamu bilang sertifikat aslinya sudah hilang dan kamu buatkan surat pengganti?!" bisik Pengacara Herdian panik.
Siska seketika gugup luar biasa, peluh dingin mulai bercucuran di lehernya. "M-mana aku tahu, Mas?! Dulu dia meninggalkan rumah tanpa bawa apa-apa! Bagaimana bisa sertifikat itu ada padanya?!"
Mahardika mencondongkan tubuhnya ke arah Siska, menatap mata wanita itu dengan tatapan mematikan.
"Dokumen palsu, penelantaran anak, dan penipuan atas nama keluarga. Siska... jika kasus ini kubawa ke jalur hukum yang sebenarnya, kira-kira berapa tahun kamu dan suami baru kakakmu akan mendekam di penjara?" desis Mahardika pelan tapi terdengar jelas oleh semua orang.
Wajah Siska seketika pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat, tak bisa untuk membela diri.
Pengacara Herdian yang menyadari posisinya mendadak tersudut langsung menutup map tebal di tangannya.
Sebagai pengacara berpengalaman, ia tahu betul jika kasus sertifikat asli ini di ketahui banyak orang, tidak hanya Siska yang terseret, tetapi nama baiknya juga akan hancur karena transaksi ilegal.
"Mbak Siska... Anda tidak memberitahu saya kalau sertifikat asli masih dipegang oleh ahli waris sah. Transaksi ini cacat hukum sejak awal!" bisik Pengacara Herdian dengan raut wajah murka.
"Mas Herdian, tolongin aku! Kamu kan dibayar mahal sama Mas Haryo!" jerit Siska panik.
"Cukup!" potong Mahardika tajam.
Mahardika menatap Kepala Desa yang sejak tadi terperangah.
"Pak Kades, Sertifikat Asli ini adalah bukti mutlak kepemilikan saya. Saya minta Pak Kades mencatat hal ini secara resmi dan membatalkan segala bentuk klaim atau transaksi bodong yang dilakukan oleh Siska maupun pihak Perusahaan Perkasa!" kata Mahardika mutlak.
Pak Kades mengangguk cepat seraya mengambil sertifikat itu.
"B-baik, Dik Dika! Sebagai Kepala Desa, saya tegaskan bahwa tanah dan bangunan itu sepenuhnya milik sah Mahardika! Transaksi luar desa tanpa persetujuan ahli waris dianggap batal demi hukum!" kata kepala desa menatap Siska dengan serius permasalahan tanah tersebut.
Siska terduduk lemas di kursi.
"Siska... sampaikan pada kakakmu dan suami barunya, bahwa aku tidak akan berhenti di sini. Pengkhianatan kalian pada Amel akan kuingat baik-baik. Sekarang, angkat kaki dari balai desa ini sebelum aku sendiri yang menyeretmu ke kantor polisi!" ancam Mahardika sedikit pun tidak memberi ruang pada Siska untuk merampas haknya.
Tanpa menunggu balasan, Pengacara Herdian langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruangan, merutuki kebodohan Siska.
Siska yang ketakutan setengah mati terburu-buru berdiri dan berlari keluar menyusul pengacaranya dengan langkah sempoyongan.
Pak RT dan beberapa warga mereka lega.
"Luar biasa kamu, Dik Dika. Kami warga desa akan mendukung penuh hakmu," puji Pak Kades tersenyum.
"Terima kasih, Pak Kades, Pak RT. Saya permisi pulang dulu, kasihan Amel ketakutan dengan masalah tadi," sahut Mahardika tenang.
"Papa kita pulang!" seru Amel berlari kecil memeluk Mahardika.
"Iya, Sayang, Papa pulang. Mulai hari ini dan seterusnya, tidak akan ada satu orang pun yang berani mengganggu rumah kita lagi," bisik Mahardika lembut.
Ia menggendong buah hatinya untuk mengajaknya pulang ke rumah.