Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.
Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.
Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.
Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Menyakitkan Lainnya
Perjalanan menuju kantor diliputi keheningan yang berat, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Berjam-jam kemudian, ketika Roxanna akhirnya melangkah masuk ke studio, energi di ruangan itu nyaris bisa disentuh. Ia tampak memukau dengan sepatu hak merah setinggi lima sentimeter dan gaun merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Semua mata tertuju padanya saat ia menyusuri koridor; senyum rekan-rekannya menyambut hangat, tapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Di dalam dirinya, kata-kata yang tak terucap dari percakapannya dengan Alessandro masih menggema bagai gaung yang jauh. Ia tahu ia harus tetap fokus.
Gagal dalam pekerjaan bukanlah pilihan, apalagi setelah ia gagal dalam pernikahan.
Roxanna menarik napas dalam sekali lagi, mengumpulkan kekuatan dan menata kembali kondisi emosinya.
Namun, begitu ia memasuki ruang pemotretan, sebuah pemandangan kacau menyambutnya: peralatan berserakan di mana-mana, orang-orang berlarian ke sana kemari, dan aroma kepanikan menggantung di udara.
Adrenalin melonjak di sekujur tubuhnya; kini tak ada lagi ruang untuk keraguan atau rasa tak aman. Sudah waktunya bertindak dan menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya.
Studio itu diselimuti kegaduhan, para karyawan berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil, suara mereka pelan dan terburu-buru.
"Kita tidak bisa! Dia tidak mengangkat teleponnya," ujar seorang wanita dengan raut putus asa.
Orang lain, dengan alis berkerut, menimpali, "Kita harus bagaimana? Wakil presiden datang hari ini. Dia pasti marah." Ketegangan di udara memuncak setiap detiknya.
Seorang karyawati mencoba menyisipkan secercah harapan, "Kita bilang saja yang sebenarnya. Dia orang baik."
Tapi ia langsung dipotong oleh rekannya yang menggeleng-geleng, jelas cemas. "Tidak dalam situasi seperti ini, Lily!" serunya. "Dia pasti akan memarahi kita."
Saat itulah suara langkah tegas menggema di seluruh studio, dan sebuah suara mantap memotong percakapan mereka.
"Apa yang terjadi di sini?" Roxanna memasuki ruangan dengan aura wibawa yang seketika menarik seluruh perhatian.
Para karyawan berbalik ke arahnya, ekspresi mereka bercampur antara lega dan cemas, dan ia sadar bahwa ada sesuatu yang serius sedang terjadi.
Salah seorang karyawan mendekatinya, jelas gugup.
"S-Selamat pagi, Nona Rasmussen." Ia tergagap, dan penggunaan nama keluarganya membuat hati Roxanna sedikit lebih perih.
Rasmussen!
Tentu saja, tak seorang pun tahu bahwa ia menikah dengan Alessandro Selenko; itu adalah rahasia yang hanya disimpan oleh keluarganya.
Kenyataan bahwa tak seorang pun mengenal nama keluarganya yang sesungguhnya melukainya jauh di lubuk hati.
Ia menatap tajam karyawan yang pucat itu dan bertanya dengan tegas,
"Ada apa?" Suaranya tenang, tapi ada benang ketegangan yang tersembunyi di dalamnya.
Karyawan itu menjawab dengan gemetar,
"K-Kita punya masalah, Nona Rasmussen. Nona Casanova, model kita, terus menolak panggilan kita. Katanya dia dengar kita hendak mengganti modelnya, jadi... dia tidak mau datang. Dia bahkan... mengancam akan menuntut kita."
Roxanna merasakan gelombang frustrasi menjalari tubuhnya. Ia menunduk sejenak, menggertakkan gigi sambil berusaha menahan badai emosi yang bergolak di dalam dirinya.
Tangannya memijat pelipis, sementara ia memejamkan mata rapat-rapat untuk memulihkan konsentrasi.
"Di mana manajer pemasaran?" tanyanya.
Sambil menggerutu pada diri sendiri dan menarik napas dalam, ia kembali mengedarkan pandang ke seluruh studio, mencari solusi. Tiba-tiba, sang manajer pemasaran muncul di hadapannya.
"Nona Rasmussen." Sang manajer memulai dengan nada berhati-hati.
Tapi Roxanna tak memberinya kesempatan untuk penjelasan lebih lanjut.
"Apa yang terjadi, Nona Lambert? Anda manajer pemasaran; apa yang sebenarnya terjadi?" Nadanya langsung dan menuntut.
Sang manajer mengembuskan napas frustrasi, bahunya sedikit merosot seolah seluruh beban dunia bertumpu di sana. Roxanna tahu ia harus bertindak cepat dan efektif untuk membereskan situasi sebelum semuanya semakin berantakan.
Kekacauan di sekelilingnya hanyalah cerminan dari kekalutan batin yang juga tengah ia hadapi; tapi saat itu, ia harus kuat dan memimpin timnya melewati krisis mendadak ini.
Ketegangan di udara terasa nyata ketika sang manajer pemasaran, dengan suara bergetar, mulai menjelaskan,
"Nona Rasmussen, saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi Nona Casanova mendengar bahwa Anda hendak mengganti model kita. Dia hampir menuntut kami."
Roxanna, diliputi campuran keterkejutan dan kemarahan, langsung membalas,
"Mengganti model? Bagaimana mungkin aku tidak tahu soal ini? Nona Casanova selalu menjadi mitra tepercaya kita, dan jika tidak benar-benar perlu mengganti model untuk pemotretan komersial mendadak, itu hanya akan menimbulkan segudang masalah bagi perusahaan. Aku takkan pernah mengizinkan kesalahan murahan seperti itu. Aku tidak pernah memintanya. Kau pasti keliru."
Manajer Lambert mencoba membela diri, tapi Roxanna tak sudi mendengar alasan lagi.
"Cari cara untuk membereskan kekacauan ini, atau aku terpaksa memecatmu!" Tekanan kian memuncak dan suasana di studio menjadi semakin tak tertanggungkan.
Saat itulah seorang karyawan maju dengan ragu.
"Selenko... Pak Presiden Direktur yang meminta kami mengganti model." Sang fotografer, Tozard, menegaskan, masih tak yakin, "Beliau memerintahkannya begitu kembali dari perjalanan bisnisnya kemarin."
Kata-kata mereka menghantam Roxanna bagai tinju ke ulu hati.
Perintah dari Alessandro?
Mengapa ia tidak memberitahuku?
Alessandro selalu membahas setiap keputusan penting dengannya sebelum bertindak.
"Tidak mungkin begitu..." Roxanna bergumam, bingung. Alessandro bukanlah pengusaha yang ceroboh; ia selalu menjaga batas yang jelas antara pekerjaan dan hubungan pribadi.
Justru itulah salah satu alasan mengapa ia meraih begitu banyak kesuksesan dalam kariernya. Dan kini, Roxanna teringat alasan mengapa mereka memutuskan menyembunyikan pernikahan mereka: untuk menghindari segala bentuk konflik di lingkungan profesional.
Setidaknya, itulah dalih yang pernah Alessandro berikan padanya.
Lamunannya terputus ketika sebuah suara yang tak asing membawanya kembali ke kenyataan.
"Ya, Roxanna... aku yang memberi perintah itu." Kehadirannya di belakang Roxanna tak terbantahkan.
"P-Pak Presiden Direktur..." Manajer Lambert membungkuk hormat ketika Alessandro tiba-tiba muncul di belakangnya.
Udara terasa semakin berat dengan kehadirannya.
Roxanna berputar cepat, amarah mendidih di dalam dirinya.
"Kurasa kau berutang penjelasan padaku, Alessandro, soal pergantian model yang mendadak ini!" Suaranya menggema di seluruh ruangan, penuh frustrasi dan kekecewaan.
Alessandro jelas tahu betapa keras Roxanna berjuang untuk memenangkan proyek itu dan betapa gigih ia bekerja demi memastikan semuanya sempurna.
Roxanna nyaris tak bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir dan tahu betul bahwa Nona Casanova adalah pilihan ideal untuk pekerjaan ini; ia bahkan masih ingat Alessandro pernah menyetujuinya dalam percakapan-percakapan sebelumnya.
Sekarang, ia begitu saja memutuskan mengganti model tanpa memberitahunya?
Rasanya seperti ditampar keras di wajah. Pengkhianatan berupa buruknya komunikasi di antara mereka mengiris jauh ke dalam, membuatnya merasa rapuh dan tak berdaya di tengah kekacauan yang siap runtuh menimpa semua orang di sana.
Roxanna merasa ia perlu memahami alasan di balik keputusan Alessandro sebelum semuanya menjadi lebih rumit.
Suasana di ruangan itu sarat ketegangan ketika Alessandro akhirnya membeberkan alasan di balik keputusannya.
"Aku mengganti Nona Casanova karena Violet ingin menjadi model kita. Dia juga memenuhi syarat untuk itu, jadi aku setuju." Kata-katanya menggelegar bagai petir, dan Roxanna, dalam kondisi terguncang, menoleh ke arah para karyawan yang masih di sana, penasaran sekaligus terkejut oleh percakapan panas itu.
"Keluar!" Ia memerintah, suaranya tegas dan berwibawa.
Begitu mereka menjauh, pintu tertutup di belakang mereka, menyisakan hanya berdua di ruang yang kini terasa sesak dan mengurung.
Roxanna berbalik menghadap Alessandro, ekspresinya campuran antara tak percaya dan murka.
"Apa? Kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan perempuan itu masuk ke proyekku?"
Tatapan Alessandro menyipit tak senang, tapi ia tetap menjaga ketenangannya.
"Perlu kuingatkan bahwa akulah pemilik perusahaan ini, Roxanna!" Ia mengucapkannya dengan nada dingin, seolah menegaskan kembali kekuasaannya.
Roxanna tak mampu menahan kemarahannya.
"Dan aku istrimu, sialan! Wakil presiden sialan yang menentukan bagaimana dan di mana aku bekerja. Selama ini selalu begitu! Satu hal kalau kau memintaku bercerai, tapi soal lain lagi kalau kau membawa pelacur itu supaya aku bekerja untuk dia?" Kemarahannya nyaris bisa disentuh; setiap kata keluar sarat luka dan rasa dikhianati, "Perempuan itu meninggalkanmu saat kau paling membutuhkannya, dan aku, Alessandro? Di mana posisiku ketika aku menghabiskan separuh hidupku merawat seorang lumpuh? Seorang..."
Sebelum ia sempat menuntaskan luapan emosinya, sebuah hantaman keras mendarat di wajahnya.
Tamparan itu membuatnya terhuyung ke belakang, terguncang oleh kebrutalan tindakan Alessandro.
Rasa sakit fisiknya begitu hebat, tapi luka batinnya jauh lebih dalam.
Ia menatap Alessandro dengan tak percaya ketika pria itu berkata,
"Aku tidak pernah mencintaimu dan kau selalu tahu itu! Kau menikahiku karena kau sendiri yang mau."
Kata-katanya bagai pisau tajam, mengoyak sisa-sisa kebanggaan dan martabatnya.
"Karena aku yang mau? Aku mencintaimu, dasar tolol! Aku meninggalkan hidupku demi hidup untukmu, karena perempuan yang katanya mencintaimu itu mencampakkanmu, sementara aku harus bertahan menanggungmu! Ya, karena kau lumpuh! Akulah yang memulihkanmu, memperbaikimu, sedangkan dia mungkin baru kembali karena sumber uangnya sudah kering!" Roxanna berkata geram, sementara wajahnya terasa berdenyut nyeri.
Keheningan berat di antara mereka terpecah tiba-tiba ketika pintu kembali terbuka dan Violet melangkah masuk.
Tatapan angkuh yang semula ia arahkan pada Roxanna seketika berubah begitu bertemu pandang dengan Alessandro.
Ketegangan kian meningkat dengan kehadirannya; Roxanna bisa merasakan rasa jijik mendidih di dalam dirinya sambil menyaksikan interaksi antara keduanya.
Seolah seluruh alam semesta berhenti berputar di detik itu; Roxanna terperangkap antara keinginan untuk berteriak dan menangis, sementara Alessandro tampak nyaman dalam perannya sebagai penguasa keadaan.
Roxanna ingin sekali meremukkan kedua pengkhianat itu. Pria yang paling ia cintai ternyata selama ini terus memupuk perasaan untuk perempuan lain.
Lalu bagaimana dengan dirinya?
Bagaimana dengan Roxanna Rasmussen? Siapa dirinya di mata Alessandro?