NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Wali Saham, Bukan Suami Sungguhan

Pintu ruang kerja menutup perlahan, memutus semua suara dari luar.

Wisnu melepaskan tangan dari punggung Arya. Dalam sekejap, ayah pemarah yang mengejar anaknya dengan tongkat lenyap. Ia berjalan ke meja besar di tengah ruangan, membuka kancing atas beskap, lalu menuang air ke dua gelas.

"Duduk."

Arya tetap berdiri. "Bicara."

Wisnu menyodorkan satu gelas, tidak tersinggung ketika Arya mengabaikannya. Di belakang meja terdapat rak penuh map, foto pelabuhan, dan maket proyek properti. Tak ada satu pun foto Prof. Sri.

"Kau masih suka menguji setiap ruangan," ujar Wisnu. "Dua kamera di sudut, satu tombol darurat di bawah meja. Tidak ada perekam suara."

Arya menatapnya. "Kalau kamu tahu saya menguji, kenapa memasangnya begitu jelas?"

"Agar kau berhenti membuang waktu."

Wisnu mengambil map biru tua dan meletakkannya di meja. Logo Prawira Entertainment tercetak di sudut kanan atas.

"Perempuan yang akan kau nikahi bernama Anindya Prawira. Ayahnya, Bramantyo Prawira, saat ini ditahan dalam perkara dugaan manipulasi laporan keuangan. Selama proses hukum berjalan, sejumlah aset keluarga mereka terancam dibekukan."

"Saya membaca beritanya."

"Berita hanya menyebut permukaan. PE masih sehat, tetapi posisi kepemilikannya rapuh. Anindya memegang empat puluh sembilan persen. Lima puluh satu persen lain berada dalam struktur yang dapat diambil alih kreditor dan investor pemangsa jika Bramantyo kalah."

Arya membuka map. Di dalamnya ada rancangan perjanjian pranikah, proposal perwalian saham tiga tahun, dan daftar hak suara yang akan dialihkan kepadanya setelah pernikahan.

"Kamu ingin saya menjadi tembok," katanya.

"Tembok yang punya nama Adiwangsa."

"Atau boneka yang memegang lima puluh satu persen tanpa boleh bergerak?"

Wisnu tersenyum tipis. "Baca halaman sembilan."

Arya membalik lembar. Klausulnya memberi wali saham kewenangan voting penuh untuk keputusan operasional tertentu, dengan larangan menjual atau mengagunkan saham. Tidak mutlak, tetapi jauh dari sekadar pajangan.

"Anindya tahu?"

"Dia tahu strukturnya. Dia tidak menyukainya."

"Dan tetap setuju menikah dengan orang asing?"

"Karena alternatifnya adalah melihat perusahaan yang dibangun keluarganya dipotong-potong oleh orang yang menunggu Bramantyo jatuh."

Arya menutup map. "Kenapa saya? Damar lebih dikenal, lebih sah di mata keluarga, dan lebih mudah dijual kepada publik."

"Damar punya kepentingan sendiri. Jika saham PE masuk ke tangannya, keseimbangan tiga cabang keluarga berubah. Kau belum punya pijakan resmi di grup, jadi untuk saat ini kau dianggap netral."

"Untuk saat ini."

"Kau belajar cepat."

Arya berjalan ke jendela. Dari lantai dua terlihat barisan kursi di tepi danau. Beberapa staf sedang memperbaiki bunga yang miring tertiup angin.

"Apa hubungannya dengan Ibu?"

Wisnu memutar gelas di tangannya. "Setelah menikah, identitasmu sebagai anak saya akan diproses melalui pengakuan anak dan verifikasi DNA. Kau memperoleh akses keluarga yang tidak bisa saya berikan diam-diam. Arsip lama perusahaan, daftar pegawai, jaringan pelabuhan, catatan proyek penelitian."

"Itu manfaatnya. Saya bertanya hubungannya."

"Sebelum meninggal, Sri bekerja dengan orang-orang yang punya hubungan bisnis dengan lebih dari satu cabang Adiwangsa. Sebagian masih hidup. Sebagian bersembunyi. Kalau kau masuk sebagai orang luar, pintu mereka tetap tertutup."

"Siapa yang membunuhnya?"

"Saya belum tahu."

Arya berbalik. "Bohong."

"Saya tahu ada tangan yang membersihkan jejak. Saya tahu laboratoriumnya bukan sasaran terakhir. Saya tahu seluruh kota ini diselimuti kabut yang sengaja dibuat." Wisnu meletakkan gelas. "Tapi nama orang yang memberi perintah? Belum."

"Apakah kamu terlibat?"

Untuk pertama kalinya, wajah Wisnu benar-benar kaku.

"Tidak."

Jawabannya datang cepat, tetapi tidak cukup untuk meyakinkan.

Arya mendekat ke meja. "Dengar baik-baik. Saya boleh menikah dengan siapa pun. Saya boleh memegang saham perusahaan yang tak saya kenal. Tapi kalau suatu hari bukti membawa saya kepadamu..."

Pintu samping terbuka.

Seorang perempuan muda membawa baki teh. Seragam pekerja rumah tangganya rapi, rambut diikat sederhana. Ketika melihat jarak Arya dan Wisnu yang tinggal satu langkah, ia ragu.

"Maaf, Pak. Tehnya."

"Taruh di meja," kata Wisnu.

Perempuan itu bergerak mendekat. Saat menuang, tangannya tampak bergetar. Sedikit teh tumpah ke sisi cangkir Wisnu.

"Maaf!" Ia buru-buru mengambil kain. "Maaf, Pak Wisnu. Saya baru bekerja dan..."

Wisnu mengangkat tangan. "Namamu?"

"Mala, Pak."

Arya memperhatikan telapak perempuan itu. Ada kapalan tipis di pangkal ibu jari dan telunjuk, bukan bekas kerja dapur. Cara ia menempatkan baki juga menyisakan tangan kanan bebas.

Menarik.

"Dia bekerja untuk saya mulai hari ini," kata Arya.

Mala menoleh. "Den Arya?"

"Saya butuh seseorang yang bisa membawa teh tanpa mendengar percakapan. Kamu bisa?"

Mala menunduk. "Bisa, Den."

Wisnu menyandarkan tubuh. Senyum samar muncul di sudut bibirnya. "Baru lima menit di rumah ini, kau sudah mengambil staf saya."

"Anggap sebagai uang muka."

"Uang muka untuk apa?"

Arya menutup map biru dan menekankan telapak di atasnya. Tatapannya tidak beralih dari Wisnu.

"Untuk kerja sama sementara." Ia menunggu Mala keluar sebelum melanjutkan. "Dan untuk jawaban saya tadi. Kalau ternyata kamu ikut membunuh Ibu, saya akan mengakhiri hidupmu dengan tangan saya sendiri."

Suara alat musik dari halaman masuk samar melalui kaca jendela. Wisnu memandang putranya lama. Tidak marah, tidak pula mundur.

"Bagus," katanya. "Setidaknya kau pulang bukan untuk meminta warisan."

"Saya tidak membutuhkan warisanmu."

"Itu yang akan kita buktikan."

Wisnu mendorong bolpoin ke arahnya. "Perjanjian ini baru rancangan. Tanda tangan final dilakukan setelah pencatatan perkawinan. Hari ini hanya upacara keluarga. Kau tidak dapat menjual saham, tetapi kau memegang hak suara operasional. Tiga tahun, lalu kepemilikan kembali sesuai perjanjian."

Arya membaca sekali lagi. "Siapa yang menyiapkan semua ini?"

"Pengacara keluarga Prawira dan tim legal kami. Dokumen pranikah sudah diserahkan kepada masing-masing pihak. Tidak ada klaim otomatis atas harta pribadi. Tidak ada kebohongan soal fungsi pernikahan."

"Kecuali kepada para tamu di luar."

"Mereka datang untuk melihat pesta, bukan membaca kontrak."

Arya mengambil bolpoin, tetapi tidak menandatangani. Ia menulis satu catatan di pinggir halaman sembilan: semua keputusan terkait pemutusan kontrak pekerja dan penjualan aset inti harus memerlukan persetujuan dua pihak.

"Tambahkan klausul ini. Anindya harus menyetujuinya."

Wisnu membaca catatan tersebut. "Kau melindunginya sebelum bertemu?"

"Saya melindungi diri dari tuduhan merampas perusahaan."

"Tentu."

Ketukan terdengar. Mala berdiri di ambang setelah mendapat izin masuk.

"Pak Wisnu, acara akan dimulai tiga puluh menit lagi. Bu Anindya sudah menunggu di ruang rias."

Arya menyerahkan kembali map kepada Wisnu. "Saya akan menikah. Bukan karena kamu memerintah, tetapi karena akses itu saya perlukan."

Wisnu mengangguk. "Hasil yang sama sudah cukup untuk hari ini."

Arya berjalan ke pintu. Mala melangkah ke samping, masih menunduk.

"Mala," panggil Wisnu.

Perempuan itu menoleh.

Wisnu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandang Mala, lalu Arya, dengan senyum yang terlalu penuh arti untuk menjadi kebetulan.

"Baik," gumamnya. "Baik sekali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!