Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12— Mereka Yang Memilih Menutup
Seketika udara pagi yang sejuk di dalam paviliun berubah memanas dalam sekejap. Semua orang yang hadir saling melempar pandang dengan tegang. Xuer yang duduk di dekat sang ayah sontak berdiri, melangkah mendekati kakaknya dengan kening berkerut.
"Apa maksud Kakak?" tanya Xuer cemas. "Tadi Kakak......"
"Adik, tadi aku menemukan sisa aroma cairan shiyou di dekat kamarku," potong Yueli tenang namun tegas.
Xuer terdiam, mata indahnya melebar sempurna. Ia mundur satu langkah kecil, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Apakah... kebakaran itu benar-benar disengaja?"
"Bisa jadi. Itu baru dugaanku," jawab Yueli, lalu menoleh sekilas ke arah Bai Ting yang berdiri di sampingnya. "Panggil dia sekarang."
Bai Ting mengangguk patuh dan bergegas melangkah keluar. Tak lama kemudian, suara derap langkah tergesa-gesa mendekat. Seorang pria paruh baya dengan pakaian pelayan rendahan digiring masuk ke dalam ruangan. Begitu tiba di tengah, ia langsung terduduk lemas di atas lantai batu, matanya mendongak ketakutan menatap sekeliling sebelum akhirnya terkunci pada sosok Shen Yueli.
"Nona... ada apa ini?" suara pelayan itu bergetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Yueli melangkah mendekat perlahan, menatap lurus ke arah pria di hadapannya dengan sorot mata yang menghunus tajam.
"Aku dengar, kaulah satu-satunya saksi mata yang pertama kali melihat dan melaporkan kebakaran di kamarku semalam," ujar Yueli dingin, membuat napas pelayan itu seketika tercekat.
Pria itu terdiam sesaat, mendongak beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Jelaskan kejadiannya," ucap Yueli dengan nada santai, yang justru memicu gemetar halus pada tubuh sang pelayan.
"Semalam..." Pria itu tampak ragu, menelan ludahnya dengan susah payah. "Saya melihat... lentera yang tidak sengaja tersenggol hingga membakar tirai."
"Aneh..." gumam Bai Ting menyela dari samping. Pelayan pria itu langsung mendongak ke arah Bai Ting, wajahnya samar-samar memucat.
"Aneh kenapa, Bai Ting?" tanya Yueli, memancing dengan suara lembut namun berwibawa.
"Karena setahu saya, kita tidak pernah memasang tirai kelambu di dekat sudut itu, dan kami selalu memastikan jendela tertutup rapat sebelum meninggalkan kamar," jawab Bai Ting tajam.
Pria itu sontak terdiam, tatapannya kian tak menentu arah, sementara wajahnya berubah semakin pias.
Yueli melangkah mendekat satu langkah lagi, sorot matanya menghujam. "Kau tahu, ada aroma samar shiyou yang sengaja disiramkan dan meninggalkan jejak di sisi titik awal kebakaran."
Suasana di paviliun seketika semakin menegang. Pria itu menggeleng panik, kedua tangannya menapak gemetar di lantai batu. "Bukan... bukan... bukan saya pelakunya!"
"Kau tahu siapa?"
"Kau tahu siapa pelakunya?" desak Yueli, suaranya menghunjam tanpa ampun.
Pria itu terdiam, kepalanya semakin menunduk dalam-dalam ke lantai batu. Ia bergumam panik, meracau dalam ketakutan yang mencekam, "Tidak bisa... tidak bisa... saya tidak bisa mengatakannya..."
Di tengah ketegangan yang mencapai puncaknya, sebuah suara hentakan langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari luar paviliun. Langkah itu berjalan pelan menelusuri selasar, hingga akhirnya sosok dengan jubah sutra biru yang elegan berdiri di ambang pintu. Pei Chanqing muncul di sana, mengamati ruangan dengan tatapan setajam elang.
Kehadiran sosok baru itu membuat sang pelayan pria merasa semakin terhimpit di antara hidup dan mati. Rasa takut yang luar biasa menguras sisa-sisa kewarasannya. Dalam gerakan kilat yang luput dari pandangan sekilas orang banyak, pelayan itu merogoh lipatan bajunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil.
Sebelum siapa pun sempat menghentikannya, ia menenggak cairan di dalam botol itu sekaligus.
Seketika, tubuhnya langsung gemetar hebat. Matanya membelalak lebar, tangan-tangan kasarnya mencengkeram lehernya sendiri yang mulai menegang. Mulutnya mengeluarkan busa putih, sementara ia berusaha membungkam mulutnya dalam sakaratul maut yang datang begitu cepat. Pria itu ambruk menghantam lantai paviliun, tak bernyawa.
Suara pekikan tertahan lolos dari bibir Xuer. Suasana paviliun utama langsung jatuh ke dalam keheningan yang jauh lebih mematikan dari sebelumnya.
Suara sepatu Pangeran Mahkota Shue Hao menghentak mundur perlahan, kepanikannya tidak lagi bisa disembunyikan. Salah seorang pengawal pribadinya bergegas merapat, berbisik cemas, "Yang Mulia..."
Sementara itu, Yueli berdiri terpaku di hadapan mayat sang pelayan. Untuk pertama kalinya, benteng ketenangannya sedikit bergetar. Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan baju mengepal, gemetar halus. Rona wajahnya memucat pasi; keberanian luar biasa yang ia tunjukkan beberapa saat lalu kini mendadak diuji oleh kenyataan kejam di hadapannya. Hanya berawal dari surat cinta palsu dan kebakaran malam hari, sebuah nyawa kini melayang begitu saja demi membungkam sebuah rahasia.
Otaknya berputar semakin liar dan runcing, mempertajam intuisinya. Siapa dalang di balik semua ini? Seberapa besar ketakutan pelayan itu hingga ia lebih memilih menenggak racun dan mati demi menutup mulutnya rapat-rapat?
Di tengah kekacauan itu, langkah kaki tenang Pei Chanqing mendekat. Tanpa ragu, pria berbusana sutra biru tersebut merengkuh tubuh Yueli yang kian lemas. Rengkuhan hangat itu seolah menjadi jangkar di saat pijakan kaki Yueli serasa ambles di atas lumpur isap yang siap menariknya ke dasar jurang.
"Yueli'er?" panggil Pei Chanqing lembut, nadanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam di balik tatapan matanya yang tajam.
Belum sempat Yueli menjawab, pekikan tertahan dari Xuer kembali terdengar nyaring. Gadis itu tidak sanggup lagi menahan ngeri melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Suara tubuh terpelanting menghantam lantai terdengar; Xuer jatuh pingsan. Dalam hitungan detik, beberapa pelayan bergegas membopong tubuh gadis itu keluar dari paviliun.
Kejadian itu menyisakan Jenderal Shen yang melangkah tegap mendekati jasad sang pelayan. Sang jenderal berjongkok sejenak, memeriksa botol kecil yang terjatuh, lalu mendongak dengan rahang mengeras.
"Dia memilih membungkam mulutnya sendiri daripada membiarkan kebenaran terungkap," desis Jenderal Shen dingin, matanya beralih menatap tajam ke arah Shue Hao yang berdiri membeku di ujung ruangan.
Pengawal pribadi Pangeran Mahkota akhirnya membungkuk kaku, lalu memutuskan untuk mengambil langkah seribu demi menyelamatkan junjungannya. "Yang Mulia merasa sangat terpukul dan terkejut dengan insiden ini," ujarnya beralasan, berusaha mencari jalan keluar. "Kami mohon undur diri. Beliau merasa tidak pantas dan kurang elok terus mencampuri urusan internal di kediaman Jenderal Shen."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, mereka bergegas memapah Shue Hao keluar dari paviliun, melarikan diri dari pusaran bukti yang kian mencekik.
Suasana paviliun yang luas mendadak terasa begitu senyap pasca kepergian sang pangeran. Sang ayah akhirnya bangkit berdiri sepenuhnya dari kursinya, melangkah perlahan menghampiri putrinya.
"Kau telah membuat kekacauan besar hari ini, Yueli," ucap Jenderal Shen. Suaranya terdengar berat dan tajam, menghunus langsung ke dalam lubuk hati Yueli, menguji ketahanan mental gadis itu setelah melalui ketegangan yang luar biasa.
Di sisi lain, cengkeraman tangan Pei Chanqing di bahu Yueli kian terasa erat dan protektif, sementara tatapan pria itu menajam menatap pintu keluar, mengawasi setiap pergerakan yang tersisa.
Jenderal Shen berdecak pelan, napasnya menderu menahan amarah dan kekhawatiran yang bercampur aduk. "Selidiki dan cari tahu semuanya hingga tuntas. Aku yakin... sebentar lagi akan ada badai berita besar yang menggila dan mengguncang ibu kota akibat skandal ini."
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu