Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Bab 23: Perpisahan Oakhaven, Janji sang Dewa Pengrajin, dan Asahan Pedang di Kedalaman Dungeon
Pagi itu, kabut tipis beraroma embun pagi masih membungkus Kota Mandiri Oakhaven. Namun, suasana di depan gerbang kota yang berdinding batu kokoh sudah dipenuhi oleh ratusan penduduk desa. Dari orang tua bertelinga beruang, kaum wanita, hingga anak-anak kecil bertelinga kelinci dan serigala—semuanya berkumpul dengan mata berselimut air mata.
Di tengah gerbang, Ren (Wiliam) berdiri tegap. Pakaian pengembaranya bersih dan rapi, sementara pedang berpelindung sarung kulit hitamnya terikat mantap di pinggang. Di punggungnya terikat tas perbekalan tebal yang diisi penuh oleh daging asap, roti gandum, dan obat-obatan herbal hasil panen terbaik warga desa.
Garo, yang kini menjabat sebagai Komandan Pasukan Keamanan Oakhaven, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata menetes dari matanya, membasahi rumput basah di bawah kakinya.
"Tuan Ren..." bisik Garo dengan suara parau yang menahan tangis. "Apakah... apakah Anda benar-benar harus pergi hari ini? Tempat ini adalah rumah Anda... Kami semua utang nyawa dan kedamaian ini pada Anda..."
Kepala Desa Boran melangkah maju dengan bantuan tongkat kayunya. Tangan tuanya yang gemetaran merengkuh jemari Ren kencang-kencang. "Tuan Ren... Tanpa Anda, kami hanyalah mangsa yang menunggu waktu untuk binasa. Kota ini ada karena pendar kebaikan dan pedang Anda. Meninggalkan tempat ini... terasa seperti kami kehilangan sosok pelindung dan ayah bagi kota ini."
Suara tangisan dan histeris pelan meletus di antara kaum wanita dan anak-anak. Beberapa anak kecil berlarian mendekati Ren, memeluk kaki tegap sang pengembara dengan erat.
"Tuan Ren! Jangan pergi!"
"Tuan Ren, menginaplah beberapa hari lagi!"
Ren menundukkan pandangannya, menatap wajah-wajah polos anak-anak tersebut dengan sepasang mata kelabu absolutnya yang memancarkan kehangatan tiada tara. Ren berlutut sejenak, mengelus rambut dan telinga bulu anak-anak itu satu per satu, lalu menyunggingkan senyuman paling tulus di paras tampannya.
"Dengar semuanya..." suara Ren menggelegar lembut, menenangkan gejolak emosi yang membuncah di depan gerbang kota. "Kalian tidak lagi membutuhkan pelindung. Look around you. Lihatlah benteng kokoh ini, lihatlah ladang-ladang gandum ini, dan lihatlah pedang-pedang yang terikat di pinggang kalian masing-masing."
Ren berdiri kembali, menatap Garo dan Boran seraya menepuk dada tegapnya.
"Kalian sudah menjadi sangat kuat. Kemampuan berpedang dan manipulasi mana yang kalian latih selama setahun terakhir sudah cukup untuk menjaga Oakhaven dari ancaman apa pun," kata Ren mantap. "Lagipula... aku ini seorang pengembara. Jalan milikku membentang jauh melintasi benua ini."
Ren menyapu pandangan ke arah seluruh warga yang menangis, lalu mengacungkan dua jarinya seraya tersenyum lebar.
"Jangan menangis seperti ini. Ini bukan perpisahan selamanya. Aku berjanji pada kalian... suatu hari nanti, saat perjalananku mengelilingi dunia telah usai, aku pasti akan berkunjung kembali ke Oakhaven untuk meminum cangkir teh bersama kalian di sini."
Mendengar janji tersebut, binar harapan kembali menyala di mata warga Oakhaven. Boran mengusap air matanya, mengangguk penuh hormat. "Kami akan memegang janjimu, Tuan Ren! Pintu Kota Oakhaven akan selalu terbuka lebar sebagai rumahmu selamanya!"
"Sampai jumpa, Tuan Ren!"
"Hati-hati di jalan, Pahlawan kami!"
Diiringi oleh sorak-sorai perpisahan dan lambaian tangan ratusan warga yang melepaskan kepergiannya, Ren berbalik arah. Langkah kakinya membawa tubuh tegapnya menembus kegelapan belantara Hutan Purba, menyusuri jalan setapak yang belum terjamah.
Seminggu telah berlalu sejak Ren meninggalkan Oakhaven.
Perjalanan menyeberangi jalur hijau Benua Beastia membawa Ren melintasi lembah-lembah berbatu, sungai-sungai berarus deras, dan rimbunnya hutan belantara. Dengan ketahanan fisik dan pusaran energi Demigod-Iblis di dadanya, Ren tidak mengenal rasa lelah.
Hingga akhirnya, di hari ketujuh perjalanannya, hamparan vegetasi hutan mulai menipis, digantikan oleh pemandangan sebuah metropolis kuno berarsitektur batu hitam raksasa.
Kota itu bernama Aethelgard—sebuah kota megah di pusat benua tempat meleburnya berbagai ras Beastkin dan pengembara luar. Namun, ciri paling mencolok yang mendominasi cakrawala kota tersebut bukanlah benteng atau istana bangsawan, melainkan sebuah struktur bangunan melingkar yang teramat sangat kolosal tepat di tengah kota.
Sebuah Koloseum Raksasa bertingkat lima yang terbuat dari susunan batu basalt hitam berdiri megah, memancarkan pendar sihir pembantaian dan aura gertakan tempur yang begitu pekat bahkan dari jarak ribuan meter.
"Kota yang sibuk..." gumam Ren seraya merapikan jubah pengembaranya dan melangkah menembus gerbang utama Aethelgard.
Jalanan kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk pedagang, ksatria berzirah, dan berbagai ras Beastkin. Rasa lapar akibat perjalanan seminggu memandu Ren melangkah menyusuri lorong kota hingga menemukan sebuah kedai makanan bergaya klasik bertuliskan papan kayu 'The Crimson Ember'.
RING-A-LING!
Suara lonceng pintu berdenting saat Ren mendorong pintu kayu kedai. Suasana di dalam kedai sangat bising, dipenuhi oleh puluhan petualang dan pejuang Beastkin yang sedang meminum bir dan memanggang daging.
Ren memilih sebuah meja kayu di sudut ruangan yang cukup remang. Ia mendaratkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya menghela napas rileks.
"Selamat datang di Crimson Ember, Pengembara Tampan~"
Sebuah suara lembut, mendayu-dayu, dan sarat akan sensualitas mendadak terdengar dari samping meja Ren.
Ren mendongak, dan pandangannya langsung disambut oleh sosok wanita pelayan dari Ras Elf. Wanita itu memiliki paras yang luar biasa cantik dengan telinga runcing khas Elf, kulit seputih susu, serta gaun pelayan berpotongan sangat rendah yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat menggiurkan. Rambut pirang keemasannya terurai indah, dan sepasang matanya menatap Ren dengan pendar godaan yang nakal.
"Jarang sekali ada pria tampan dari ras Manusia murni dengan rambut perak yang mampir ke kedai miskin kami..." bisik wanita Elf itu seraya membungkuk pelan di samping meja Ren, sengaja membiarkan aroma wangi bunga mekar terhirup oleh Ren. "Apa yang ingin kau pesan, Sayang? Makanan... atau mungkin pelayan manis sepertiku?"
Sensasi kehangatan dan keindahan fisik wanita Elf itu sempat membuat jantung Ren berdesir sejenak. Naluri alaminya sebagai pemuda terangsang oleh godaan sensual di hadapannya.
Namun—
FLASH!
Di dalam benak Ren, bayangan paras cantik Anastasia (Anya) mendadak muncul secara instan! Bayangan Anya yang sedang berdiri anggun dengan gaun putihnya, mempoutkan bibirnya seraya menatap dingin dan mengancam dengan sihir es yang siap membekukan Ren hidup-hidup jika berani melirik wanita lain!
Ren seketika merinding membayangkan kecemburuan imut namun mematikan dari sang kekasih! Rona kehangatan di matanya seketika memudar, berubah total menjadi tatapan yang sangat dingin, tenang, dan tidak tersentuh.
Ren berdehem pelan, memalingkan pandangannya lurus ke arah papan menu kayu.
"Bawakan aku sepotong daging panggang paha babi hutan raksasa, roti gandum keras, dan sebotol air murni," ujar Ren dengan nada suara yang begitu dingin, datar, dan berjarak.
Pelayan Elf itu tertegun kaget. Ia terpana melihat betapa cepatnya pemuda tampan ini menolak godaan fisiknya tanpa berkedip sedikit pun. Wanita Elf itu tersenyum tipis seraya mengibaskan rambutnya.
"Oho... Rupanya tipe pria dingin berhati batu, ya?" bisiknya seraya terkekeh pelan. "Pesananmu akan tiba dalam sepuluh menit, Pria Tampan."
Setelah pelayan Elf itu melangkah pergi, Ren kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu. Sambil menunggu hidangannya datang, pendengaran tajam milik Ren mulai memilah-milah suara bising di sekeliling kedai.
Di meja sebelah kanan yang diisi oleh empat petualang bertelinga serigala dan singa, sebuah percakapan seru tengah berlangsung.
"Hei! Kau sudah membeli tiket untuk pertarungan besok di Koloseum?!" seru petualang bertelinga serigala seraya menggebrak meja dengan cangkir birnya.
"Tentu saja! Siapa yang mau melewatkan Turnamen Hidup dan Mati (Mortal Blood Arena) tahunan?!" sahut petualang bertelinga singa penuh semangat. "Taruhan tahun ini sangat gila! Semua faksi bangsawan menaruh ribuan koin emas pada sang juara bertahan!"
"Hmph! Apakah ada keraguan?" timpal petualang ketiga. "Pasti dia lagi yang akan menang! Dia sudah menjadi juara bertahan tiga kali berturut-turut! Rekor pertarungannya seratus kemenangan tanpa pernah kalah sedikit pun! Tidak ada yang sanggup menembus pertahanan sihir dan kekuatan fisiknya!"
"Tapi kudengar tahun ini ada beberapa petarung misterius dari benua luar yang ikut mendaftar. Arena besok pasti akan mandi darah!"
Mendengarkan percakapan tersebut, sepasang mata kelabu milik Ren berkilat oleh ketertarikan mendalam.
'Turnamen Hidup dan Mati... Tempat berkumpulnya para ahli tempur dan pengujian batas kekuatan fisik,' batin Ren seraya menyunggingkan senyuman tipis. 'Menarik. Ini bisa jadi sarana yang bagus untuk menguji penyesalan energinya di benua baru ini.'
Tak lama kemudian, pelayan Elf cantik tadi kembali membawa nampan kayu berisi sepotong daging panggang besar berbumbu rempah hangat dan air minum segar.
"Pesananmu, Pria Dingin~" ucapnya seraya meletakkan piring di meja Ren.
Ren tidak memedulikan godaannya, langsung menyantap daging panggang tersebut dengan lahap. Rasa lezat rempah hutan meredakan rasa lapar akibat perjalanan jauhnya.
Setelah selesai makan hingga bersih, Ren berdiri dari kursi dan melangkah mendekati meja kasir di dekat pintu keluar. Di sana, wanita Elf cantik tadi sedang menghitung koin.
"Terima kasih atas makanannya," ucap Ren datar. "Aku punya satu pertanyaan... Di mana tempat pengrajin pedang (Blacksmith) terbaik di kota ini?"
Pelayan Elf itu mendongak, memainkan jemarinya di atas meja kasir seraya menyunggingkan senyuman licik yang menggoda.
"Informasi berharga tidak pernah gratis di Aethelgard, Pria Tampan," bisiknya seraya mengulurkan telapak tangannya. "Beberapa koin perak untuk petunjuk jalan?"
CLINK!
Ren tanpa ragu mengambil dari kantongnya dan menjatuhkan lima koin emas murni ke atas telapak tangan wanita Elf tersebut!
Mata wanita Elf itu seketika membelalak terperanjat! Lima koin emas adalah jumlah uang yang sangat besar—cukup untuk membayar seluruh makanan di kedai ini selama sebulan!
Raut wajahnya yang tadinya menggoda berubah menjadi sangat serius dan penuh rasa hormat. Ia menyimpan koin emas itu tergesa-gesa, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Ren.
"Kau sangat pemurah, Tuan..." bisik wanita Elf itu penuh ketulusan. "Di kota ini ada sepuluh tempat pengrajin besi besar milik bangsawan. Tapi jika kau mencari yang terhebat... ada seorang pria tua yang tinggal sendirian di pinggiran distrik kumuh sebelah barat."
Wanita Elf itu melirik ke sekeliling sebelum melanjutkan. "Namanya adalah Hephaestus. Dia adalah pengrajin besi yang sangat jenius, namun dia terkenal sangat eksentrik, pemarah, dan hampir tidak pernah menerima pelanggan atau membuatkan senjata untuk siapa pun selama sepuluh tahun terakhir. Banyak bangsawan yang membawakan harta melimpah tapi diusir mentah-mentah olehnya. Jika kau ingin mencobanya... pergilah ke ujung barat distrik kumuh."
Ren mengangguk-angguk paham. "Terima kasih atas informasinya."
Ren melangkah keluar dari kedai, menyusuri jalanan Kota Aethelgard hingga tiba di distrik kumuh sebelah barat. Suasana di sini sangat sepi, dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua yang runtuh dan terbengkalai.
Di Ujung lorong berbatu, berdiri sebuah rumah panggung kayu lusuh yang dindingnya dipenuhi oleh noda jelaga hitam dan atapnya yang setengah bocor. Asap tipis mengpul keluar dari cerobong batu di atasnya.
Ren melangkah mendekati pintu kayu rumah lusuh tersebut.
CREAK...
Ren mendorong pintu kayu yang tidak terkunci, melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang. Bau tembaga, besi panas, dan arang membakar memenuhi hidungnya. Di sekeliling ruangan, terhampar serpihan logam tak terpakai dan pecahan pedang berkarat.
"Permisi... Apakah ada orang di dalam?" panggil Ren dengan suara yang cukup nyaring.
Namun—
WHOOSH-SWOOSH!
Mendadak, sebuah palu besi tempa raksasa seberat lima puluh kilogram melesat membelah udara lurus menuju wajah Ren dari balik kegelapan ruangan!
Kecepatan lemparan palu itu sangat dahsyat, sanggup meremukkan kepala ksatria berzirah tebal dalam sekejap!
Namun, Ren bahkan tidak berkedip.
GRAB!
Dengan gerakan telapak tangan yang sangat santai dan presisi, Ren mengulurkan tangan kanannya ke depan, mencengkeram erat gagang palu raksasa tersebut tepat tiga inci di depan matanya!
Gelombang dorongan angin dari lemparan palu hanya mampu mengibaskan rambut perak Ren pelan.
Dari balik bayang-bayang tungku api yang menyala, melangkah keluar seorang pria tua bertubuh kekar namun bungkuk. Ia memiliki janggut putih panjang yang agak terbakar di ujungnya, mengenakan celemek kulit hitam yang penuh noda minyak, dan sepasang matanya memancarkan kelelahan hidup yang sangat mendalam.
Pria tua itu tertegun sejenak melihat palu beratnya ditangkap dengan satu tangan kosong oleh seorang pemuda Manusia tanpa bergeming sedikit pun.
"Hmph!" pria tua itu menyapu keringat di dahinya, menatap Ren dengan nada bicara yang sangat kasar dan galak. "Apa keperluanmu datang ke gubuk berdebu ini, Nak?! Tidakkah kau tahu cara mengetuk pintu?!"
Ren menyunggingkan senyuman tipis, lalu meletakkan palu raksasa itu kembali ke atas meja kayu di sampingnya secara perlahan.
"Aku mendengar cerita bahwa di tempat lusuh ini... tinggal seorang pengrajin pedang terhebat di seluruh benua bernama Hephaestus," sahut Ren tenang.
Pria tua itu mendengus sinis, mengibaskan tangannya seraya berbalik membelakangi Ren. "Ya, aku Hephaestus. Dan jika kau datang ke sini untuk memintaku membuatkanmu pedang atau senjata megah seperti bangsawan-bangsawan serakah di kota itu... jawaban milikku adalah TIDAK. Angkat kakimu dari rumahku sekarang juga!"
Ren tidak beranjak pergi. Ia justru menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu pintu, memandangi punggung bungkuk pria tua itu dengan sepasang mata kelabu yang memancarkan pendar kearifan purba.
Sebuah senyuman misterius terukir di bibir Ren.
"Hephaestus..." panggil Ren dengan suara yang perlahan berubah menjadi agak dalam. "...nama yang sangat indah. Nama yang sama persis dengan Dewa Pengrajin Besi Purba dari Gunung Olympus."
Langkah Hephaestus seketika terhenti mendadak. Pria tua itu membeku di tempatnya.
Ren melanjutkan ceritanya dengan nada narasi yang begitu tenang namun menggetarkan udara ruangan.
"Di dalam legenda purba yang terlupakan oleh dunia ini... ada seorang Dewa Pengrajin yang sangat jenius. Ia menciptakan mahakarya tak tertandingi untuk para dewa-dewi. Namun... karena kedengkian dan konspirasi fitnah dari para Dewa Olympus yang menganggap fisiknya cacat dan tidak sempurna, Dewa Pengrajin itu dikhianati, dilemparkan dari takhta Olympus, dan dibuang ke dunia mortal dengan membawa penderitaan dosa yang bukan miliknya."
GRAB!
Sebelum cerita Ren selesai, Hephaestus berbalik secara instan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukurannya! Tangan kekarnya yang penuh luka bakar mencengkeram erat lengan pakaian Ren, matanya membelalak lebar penuh guncangan jiwa dan histeris yang luar biasa!
"K-Kau...!" napas Hephaestus memburu kencang, matanya memerah menatap Ren. "Dari mana... Dari mana kau mengetahui sejarah rahasia itu?! Dari mana kau mendengar nama Olympus dan takhta fitnah para Dewa?!"
Hephaestus tanpa menunggu jawaban Ren langsung menarik lengan Ren kencang-kencang, menyeret pemuda berambut perak itu masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia di bawah tanah melalui jalan di balik tungku api!
BAM!
Pintu besi ruangan bawah tanah tertutup rapat. Ruangan itu dipenuhi oleh berbagai gulungan runik purba dan bahan-bahan logam langka yang terpancar pendar sihir misterius.
Hephaestus menatap Ren dengan pandangan menuntut penjelasan. "Jawab aku, Nak! Tidak ada satu pun makhluk di Benua Beastia atau benua manusia yang mengetahui sejarah kejatuhan Dewa Pengrajin Olympus! Dari mana kau mendapatkannya?!"
Ren tersenyum penuh ketenangan, menepuk pelan pakaian pengembaranya.
"Aku memiliki akses pada gulungan kitab memori dan buku sejarah purba yang mencatat eksistensi Dewa-Dewi dari berbagai ranah alam semesta," jawab Ren jujur. "Aku tahu siapa dirimu... dan aku tahu penderitaan fitnah yang kau tanggung dari para Dewa yang mengusirmu."
Hephaestus terduduk lemas di atas kursi besi tua, memegangi kepalanya seraya tertawa keras yang bercampur derai air mata kepahitan.
"Hahaha... Luar biasa... Setelah ribuan tahun bersembunyi di dunia mortal ini sebagai pengrajin besi biasa... ada seorang anak muda Manusia yang mengenali identitasku..."
Pria tua itu mendongak, menatap Ren dengan binar kehormatan dan semangat memburu yang telah lama padam di dalam jiwanya.
"Baiklah, Nak..." tegas Hephaestus, dadanya membusung penuh kebanggaan seorang pengrajin tingkat dewa. "Kau telah menyentuh sanubari ter dalam milikku. Aku akan membantumu. Katakan padaku... senjata seperti apa yang kau inginkan untuk diciptakan oleh tangan Dewa Pengrajin ini?!"
Ren menghentikan senyumannya. Pandangan matanya berubah menjadi sangat tajam dan serius.
"Aku menginginkan sebuah Pedang Panjang Ramping (Longsword/Katana-Style)," tegas Ren. "Pedang yang tidak hanya memiliki ketajaman absolut... tapi sanggup menahan, mengalirkan, dan memurnikan energi Demonic (Sihir Iblis) serta Kekuatan Kegelapan Murni tanpa pecah atau terkikis sedikit pun."
Mendengar frasa 'energi Demonic dan Kekuatan Kegelapan', ekspresi Hephaestus seketika berubah menjadi sangat waspada dan menegang! Sebelah tangannya perlahan memegang gagang palu kecinya.
"Energi Demonic...?" desis Hephaestus menatap Ren curiga. "Apakah kau... seorang pengikut Sekte Pemuja Iblis atau sesosok Iblis yang menyamar sebagai Manusia?!"
Ren tidak panik. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu perlahan-lahan mengalirkan riak kecil Hati Iblis Murni di dalam dadanya. Pendar aura hitam keperakan memancar halus di sekitar jemari Ren.
"Aku bukan iblis," sahut Ren mantap. "Tubuh dan jiwaku adalah milik Manusia murni yang menapaki jalan penempaan Demigod... Namun di dalam dadaku, terpatri sebuah Demon Heart (Hati Iblis) yang menyatu secara sempurna dengan keberadaanku."
Ren menatap mata tua sang Dewa Pengrajin. "Apakah kau takut... jika keberadaan Hati Iblis di dalam tubuhku ini kubocorkan, atau kau takut aku akan menyalahgunakan pedang buatanmu untuk kejahatan?"
Hephaestus tertegun memandangi pendar aura keperakan yang unik di tubuh Ren. Pendar itu tidak memancarkan hawa busuk kejahatan seperti iblis biasa, melainkan sebuah harmoni keagungan yang belum pernah disaksikannya sepanjang sejarah.
Ren menyunggingkan senyuman tulus. "Aku percaya padamu, Hephaestus... Seorang Dewa Pengrajin yang pernah difitnah oleh kejahatan para Dewa Olympus... tidak akan pernah melangkah menjadi busuk seperti para dewa yang memfitnahnya."
Kata-kata Ren memukul telak sanubari Hephaestus. Pria tua itu tertegun, lalu tawa membahana yang sangat leluasa meletus dari tenggorokannya!
"HAHAHAHA! LUAR BIASA! BENAR-BENAR ANAK MUDA YANG LUAR BIASA!" gelak Hephaestus seraya menepuk bahu Ren keras-keras.
"Kau benar, Nak! Aku tidak peduli apakah kau memiliki Hati Iblis atau Hati Dewa! Keyakinan dan karaktermu telah memenangkan keputusanku!"
Hephaestus melangkah mendekati sebuah peti besi raksasa berantai di sudut ruangan. Ia mengulurkan tangannya dan membukanya dengan sihir runik purba.
Dari dalam peti itu, meluap keluar pendar cahaya hitam keemasan yang sangat misterius! Di dalamnya terbaring sebuah batu bongkahan logam hitam berkilau bintang—sebuah Logam Meteorit Purba Bintang Jatuh—dan sebuah wadah berukir simbol rahasia yang memancarkan pendar kutukan keagungan: Serpihan Energi Kotak Pandora!
Hephaestus menatap dua bahan langka itu dengan mata berbinar-binar.
"Aku akan menempa sebuah pedang panjang ramping untukmu!" ujar Hephaestus penuh semangat yang membara. "Bahan utamanya adalah Logam Meteorit Bintang Jatuh yang memiliki ketahanan massa absolut, dan aku akan menyuntikkan Pendar Esensi Kotak Pandora ke dalam bilahnya! Pedang ini tidak hanya akan menahan energi Iblis milikmu... tapi akan bertransformasi menjadi pedang pertumbuhan yang berevolusi seiring meningkatnya kekuatan jiwamu!"
Hephaestus kemudian berbalik menatap Ren dengan raut wajah yang penuh penawaran licik.
"Tapi... ada satu syarat, Anak Muda!" tegas Hephaestus.
Ren mengkerutkan alisnya. "Syarat apa?"
"Tempaan pedang ini membutuhkan waktu lima hari penuh," kata Hephaestus seraya menunjuk ke arah pusat kota. "Selama masa penempaan ini... aku ingin kau pergi mendaftar dan bersemedi bertarung di dalam Turnamen Hidup dan Mati di Koloseum Aethelgard!"
Ren tertegun sejenak, lalu tawa halus keluar dari mulutnya.
"Hephaestus..." sahut Ren seraya menyunggingkan senyuman percaya diri yang sangat tajam, "...bahkan tanpa kau minta pun... aku memang berniat untuk menghancurkan panggung Arena itu."
Hephaestus terkekeh puas. "Bagus! Siapa namamu, Anak Muda?"
"Namaku Ren," jawab Ren mantap.
"Ingat namaku, Ren... Dalam lima hari ke depan, kembalilah ke sini... dan kau akan menerima pedang terbaik yang pernah diciptakan di dunia mortal ini!"
Setelah meletakkan kepercayaan pada Hephaestus, Ren melangkah keluar dari distrik kumuh. Namun, alih-alih langsung pergi mendaftar ke pendaftaran Koloseum, Ren menyadari satu hal penting.
Untuk memaksimalkan daya tampung dan integrasi Demon Heart di dalam dadanya menjelang turnamen serta penyatuan dengan pedang barunya kelak, Ren membutuhkan pasokan energi vitalitas dan mana murni dalam jumlah yang sangat masif.
Ren melangkah keluar dari gerbang selatan Kota Aethelgard, menuju sebuah jurang berbatu raksasa yang dikenal sebagai Dungeon Jurang Kelam (Abyssal Chasms Dungeon)—sebuah dungeon bertingkat lima puluh yang dihuni oleh klan-klan monster buas dan makhluk kegelapan purba.
SWOOSH!
Tanpa ragu sedikit pun, tubuh tegap Ren melompat turun menembus kegelapan mulut Dungeon Jurang Kelam!
...
Lantai 1 hingga Lantai 20 Dungeon Jurang Kelam...
Di dalam koridor gua batu yang gelap dan lembap, ratusan monster serigala bayangan, goliath batu, dan arachnid raksasa melompat keluar dari dinding-dinding gua, meraung buas menembakkan gelombang sihir beracun ke arah Ren!
shadow wolf raksasa level 7 melompat menerjang tenggorokan Ren!
Ren bahkan tidak mencabut pedang pengembaranya.
BANG!
Dengan pergerakan tinju fisik murni yang dilapisi oleh pendar sihir Demigod, Ren meninju udara kosong! Gelombang dorongan angin meremukkan kepala serigala bayangan itu hingga hancur seketika!
SWOOSH-BANG! CRASH!
Ren bergerak membantai seluruh monster di setiap lantai dengan kecepatan luar biasa! Dalam kurun waktu beberapa jam saja, lantai 1 hingga lantai 20 dibersihkan total!
Namun, Ren tidak membiarkan bangkai-bangkai monster itu membusuk.
Ren berdiri di tengah-tengah lautan mayat monster, memejamkan matanya, dan memusatkan pusaran energi di dada kirinya.
RUMBLE...
Demon Heart (Hati Iblis) di dalam dada Ren berdenyut kencang! Pendar aura benang-benang hitam keperakan melesat keluar dari dada Ren, menyebar ke seluruh mayat monster di lantai tersebut!
GLOW-DRINK!
Inti-inti mana (Monster Cores) dan esensi vitalitas darah dari ratusan monster terhisap secara paksa, bertransformasi menjadi titik-titik cahaya energi murni yang mengalir masuk kembali ke dalam Demon Heart Ren!
Sensasi hangat dan kekuatan mendidih menyebar ke seluruh pembuluh darah Ren. Hati Iblis miliknya tampak membesar dan berpendar semakin murni, menyerap seluruh nutrisi energi untuk memperkuat fondasi fisik Ren ke tingkat yang baru!
...
Lantai 30 hingga Lantai 45...
Di lantai-lantai bawah yang jauh lebih berbahaya, Ren berhadapan dengan Naga Tulang Purba (Bone Dragon) dan Penguasa Iblis Bayangan Level 12!
Pertarungan sengit terjadi di dalam aula batu raksasa! Naga Tulang Purba mengibaskan ekor berduri dan menyemburkan lidah api hitam yang sanggup melelehkan batu gunung!
Ren mengepalkan tangannya, memadukan sihir Es Murni milik Anya yang tersimpan di jiwanya dengan energi Kegelapan Hati Iblisnya!
BOOM!
Sebuah tebasan telapak tangan es-kegelapan membelah semburan api naga, melesat menembus dada Naga Tulang tersebut dan memecahkan Inti Jiwa Naga hingga berkeping-keping!
"Makanlah..." bisik Ren dingin.
Pusaran Demon Heart menelan seluruh esensi naga tulang tersebut, meledakkan pendar aura mana Ren hingga menggetarkan seluruh fondasi dungeon!
Selama empat hari empat malam tanpa tidur, Ren menghabiskan waktunya berburu, mengasah reflek tempur, dan membiarkan Demon Heart miliknya memangsa ribuan inti monster level tinggi. Ketahanan fisik, ketajaman mental, dan penguasaan energi Ren meningkat secara eksponensial!
Pada hari kelima...
Ren melangkah keluar dari mulut Dungeon Jurang Kelam. Pakaian pengembaranya tampak sedikit berdebu, namun sepasang mata kelabu absolutnya memancarkan pendar keagungan dan ketajaman yang begitu intimidatif—bagaikan seekor pedang terhebat yang baru saja diuji di dalam api neraka.
Ren melangkah kembali ke distrik kumuh Kota Aethelgard, mendorong pintu gubuk lusuh milik Hephaestus.
CREAK...
Di dalam ruangan bawah tanah, Hephaestus berdiri di depan tungku tempaan raksasa. Kaosnya basah oleh keringat, namun raut wajah sang Dewa Pengrajin memancarkan kebanggaan tiada tara.
Di atas bantalan sutra merah di atas meja tempaan, terbaring sebuah Pedang Panjang Ramping (Katana/Longsword Purba) yang teramat sangat indah.
Bilah pedang itu terbuat dari Logam Meteorit hitam mengkilap berhiaskan guratan-guratan halus berwarna emas keperakan—manifestasi dari Serpihan Kotak Pandora. Gagangnya dibalut oleh kulit naga hitam yang nyaman digenggam, dan pelindung tangannya (tsuba) berbentuk ukiran lingkaran astral purba.
Hephaestus mendongak, menatap Ren seraya tersenyum lebar.
"Kau tepat waktu, Ren!" seru Hephaestus penuh semangat. "Lihatlah mahakarya ini! Aku memberinya nama 'Pandora’s Eclipse'!"
Ren melangkah mendekat, matanya terhipnotis oleh keindahan dan aura kepatuhan yang dipancarkan oleh pedang tersebut.
Ren mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram gagang Pandora’s Eclipse.
HUMMMMMM!
Seketika pedang itu disentuh, gelombang dentang sihir berdengung nyaring di seluruh ruangan! Energi Kegelapan Hati Iblis dari dada Ren mengalir masuk ke dalam bilah pedang dengan sangat mulus—tanpa ada penolakan atau keretakan sedikit pun! Bilah pedang berpendar hitam keperakan yang sangat tajam, seolah-olah pedang itu adalah perpanjangan dari jiwa Ren sendiri!
"Luar biasa..." gumam Ren terpana melihat kesempurnaan pedang barunya.
Hephaestus menepuk bahu Ren keras-keras, tertawa puas. "Pedang itu kini milikmu, Ren! Dan sekarang... Turnamen Hidup dan Mati di Koloseum Aethelgard akan dimulai dalam satu jam!"
Ren menyarungkan Pandora’s Eclipse ke dalam sarung kulit naga hitam di pinggangnya. Sepasang mata kelabu absolut Ren berkilat oleh aura pertempuran yang tak tertandingi.
"Terima kasih atas pedang ini, Dewa Pengrajin..." ucap Ren seraya menyunggingkan senyuman tajam. "Sekarang... pergilah ke Koloseum, dan saksikan bagaimana pedang buatanmu ini akan mengukir sejarah baru di benua ini!"