NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Tugas Menjaga Ternak

Pertanyaan dalam hati Bu Yuni segera berubah menjadi rencana.

Ia menunggu sampai Rina pulang, lalu mengusap wajahnya agar tampak lelah. Dengan selendang tipis di bahu, ia mengetuk pintu rumah Laras sambil membawa jeriken gas kosong.

Bram yang membuka pintu.

Bu Yuni langsung melembutkan suara. "Maaf mengganggu malam-malam, Mayor. Anak-anak saya kedinginan, tetapi gas habis dan kayu bakar basah. Saya sendirian mengurus tiga anak laki-laki. Boleh pinjam gas atau sedikit kayu?"

Bram memandang wajahnya beberapa detik. "Maaf, Ibu siapa?"

Senyum Bu Yuni membeku. "Saya Yuni, tetangga sebelah. Janda almarhum Sertu Arman. Mayor mungkin pernah melihat tiga putra saya bermain di depan rumah. Semuanya laki-laki dan sehat."

"Kalau keluarga almarhum prajurit mengalami kesulitan kebutuhan pokok, laporkan kepada petugas logistik satuan atau pengurus kesejahteraan keluarga. Ada jalur bantuan resmi."

"Hanya malam ini. Saya pikir sebagai tetangga, Mayor bisa datang memeriksa rumah kami. Anak bungsu saya mudah sakit kalau kedinginan."

"Saya bukan petugas logistik atau dokter anak."

Bram menutup pintu sebelum Bu Yuni sempat mencari alasan lain.

Di teras yang kembali gelap, Bu Yuni mencengkeram pegangan jeriken. Ia sengaja menyebut tiga anak laki-lakinya. Mayor itu seharusnya mengerti apa yang ingin ia tawarkan. Mengapa malah memperlakukannya seperti orang asing?

Di dalam rumah, Laras menyandarkan punggung ke kursi. "Kamu benar-benar tidak mengenalnya?"

"Pernah melihatnya, mungkin. Aku tidak hafal semua penghuni kompleks." Bram mengunci pintu. "Perilakunya aneh. Kalau gas habis, pengurus sudah menyediakan nomor darurat. Mengapa datang ke rumah lelaki yang bukan kerabatnya dan terus menekankan jumlah anak?"

Laras teringat senyum Bu Yuni ketika Garang tersedak. "Aku juga merasa dia tidak tulus."

"Dulu ada keluarga almarhum prajurit di kesatuan lain. Ibunya berulang kali meminta bantuan pribadi, lalu meninggalkan anak-anaknya dan membawa uang santunan pergi bersama lelaki lain. Anak-anak akhirnya ditanggung kerabat dan kesatuan."

"Kamu curiga Bu Yuni hendak menitipkan anaknya kepada kita?"

"Belum tahu. Tetapi orang yang menghindari jalur resmi biasanya menyembunyikan tujuan lain." Bram menuangkan air panas ke cangkir Laras. "Besok aku minta petugas jaga memperhatikan keluar masuk rumahnya. Kalau aku tidak ada, jangan menerima dia sendirian. Jaga jarak dari keluarganya."

"Baik, Mas Bram."

Jawaban itu membuat garis tegang di rahang Bram mengendur. Ia tidak tahu bahwa Laras bahkan lebih ingin menghindari Bu Yuni daripada dirinya.

Keesokan paginya, Laras bangun ketika aroma bubur ayam sudah memenuhi ruang depan. Bram telah pergi ke kantin sebelum matahari terbit, membawa sarapan pulang, dan menyimpan teh jahe kiriman Ratih dalam termos agar tetap panas.

"Aku bisa menyiapkan sendiri," kata Laras.

"Hari pertama tidak boleh terlambat. Makan. Lima belas menit lagi kita berangkat."

Udara pagi menggigit kulit ketika mereka keluar. Bram memastikan jendela mobil tertutup rapat sebelum menjalankan kendaraan dinas menuju peternakan.

Di bawah atap kantor peternakan, Vania menggosok kedua tangan untuk mengusir dingin. Jaket tipisnya tidak banyak membantu. Saat melihat mobil dinas berhenti dan Bram membukakan pintu untuk Laras, rasa dingin di dadanya berubah menjadi bara.

Lelaki itu terkenal dingin. Bahkan terhadap rekan yang telah bertahun-tahun bekerja dengannya, Bram hanya berbicara seperlunya. Namun pagi ini ia membawa tas Laras, mengingatkan agar syalnya dirapatkan, lalu menunggu sampai Laras masuk kantor sebelum pergi.

Vania menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.

Pekerjaan di peternakan membuat pakaian berbau rumput dan kotoran. Ia tidak boleh selamanya terjebak di sini sementara Laras mendapat dua pekerjaan terhormat sekaligus. Ia harus mencari tempat lain yang lebih bersih, lebih terpandang, dan lebih dekat dengan orang-orang berkuasa.

"Bu Laras, selamat datang secara resmi."

Pak Sutrisno menyambut Laras di ruang rapat kecil. Di sampingnya ada Pak Yohanes dan Santi, pegawai administrasi yang memegang buku persediaan. Beberapa pekerja lapangan ikut berdiri ketika Laras masuk.

Meja paling dekat jendela telah dibersihkan. Sebuah kursi dengan sandaran utuh ditempatkan di sana, sedangkan Pak Yohanes memindahkan berkasnya ke meja yang lebih sempit.

"Ini tempat Bapak sebelumnya," kata Laras.

Pak Yohanes tertawa. "Saya lebih sering di kandang daripada di meja. Ibu membutuhkan cahaya untuk membaca laporan. Anggap saja kami sedang berinvestasi pada mata orang yang akan menyelamatkan ternak kami."

Pak Sutrisno tidak ikut bercanda. Ia membuka surat dari dinas meteorologi dan peta sumber air di sekitar peternakan.

"Kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang," katanya. "Hujan berhenti lebih cepat, debit dua sumur turun, dan angin kencang akan mempercepat pengeringan rumput. Setelah PMK kemarin, kami sudah kehilangan ternak karena pemotongan darurat dan pemusnahan terkontrol. Yang tersisa belum semuanya pulih."

Santi menyerahkan daftar terbaru. Persediaan rumput kering hanya cukup beberapa minggu jika jumlah pemberian tidak berubah. Satu truk tangki juga harus berbagi jadwal dengan dua desa.

"Kalau badai debu datang saat air menipis, kerugian kita bisa lebih besar daripada wabah," lanjut Pak Sutrisno. "Tugas pertama Ibu adalah membuat rencana agar setidaknya sebagian besar kawanan selamat melewati kemarau. Air, pakan, kesehatan, semuanya harus dihitung."

Laras menelusuri angka sapi, kambing, unggas, stok mineral, dan jadwal penggembalaan. Tugas itu tidak mungkin diselesaikan dengan satu obat atau satu tindakan cepat.

Ia meminta Santi menyiapkan catatan pemakaian air selama tiga bulan terakhir dan riwayat penyakit setiap kandang. Angka rata-rata saja tidak cukup. Sapi bunting membutuhkan prioritas berbeda dari pejantan sehat, sementara anak kambing mudah jatuh sakit bila kualitas air memburuk. Ia juga meminta sisa pakan dipisahkan berdasarkan jenis, kondisi jamur, dan tanggal penyimpanan.

"Jangan membeli bahan pengganti dari pedagang yang belum diperiksa," kata Laras. "Saat kemarau, orang sering menawarkan limbah murah sebagai pakan. Kalau mengandung garam tinggi, pestisida, atau sudah berjamur, kita hanya mengganti kelaparan dengan keracunan."

Pak Yohanes mengangguk serius dan mencatat peringatan itu. Pak Sutrisno kemudian menggeser peta lebih dekat kepada Laras. Tiga titik sumber air diberi tanda merah. Salah satunya sudah nyaris kering, satu berada di lahan sengketa, dan satu lagi terlalu jauh untuk kawanan yang lemah.

"Saya perlu memeriksa semua kandang, menilai kondisi tubuh tiap kelompok, dan memetakan sumber pakan alternatif yang aman," katanya. "Sebelum mengubah jatah, saya juga ingin tahu ternak mana yang bunting, menyusui, atau masih dalam pemulihan."

"Ambil tenaga dan kendaraan yang diperlukan," kata Pak Sutrisno. "Pak Yohanes akan mendampingi."

Laras berdiri tegak. Setelah beberapa hari tinggal di lingkungan militer, ia meniru hormat yang sering dilihatnya, meski gerakannya belum sempurna.

"Siap. Saya akan menyelesaikannya."

Beberapa pekerja tersenyum. Bukan karena meremehkan, melainkan karena keyakinan Laras menular kepada mereka.

Ia kemudian berjalan keluar membawa peta. Di balik pagar, padang penggembalaan membentang pucat. Ujung rumput rapuh patah ditiup angin, sementara retakan tipis telah muncul di tanah yang seharusnya masih menyimpan lembap.

Laras berjongkok dan meremas segenggam tanah. Butirannya langsung luruh seperti debu.

Kemarau datang lebih awal, dan jauh lebih ganas daripada perkiraan siapa pun.

1
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!