Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perampokan!!
Bis telah berhenti total. Satu dua orang dekat penumpang yang tergeletak barusan mulai ikut histeris. Panik menyeruak mengganti keadaan seketika. Penumpang lain yang jauh bergeruduk berdiri, melihat apa yang terjadi.
Ila menatap bangku depan dengan jeri. Memang terhalang punggung bangku, tapi jeritan wanita yang panik membuatnya tantrum.
Jantungku berdetak keras. Siapa yang akan tidak panik. Baru beberapa detik sudah segila ini. Penumpang sudah panik. Wanita yang mendapati orang satu kursinya tergeletak di bawah semakin histeris menangis. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku mulai berdiri, ingin melihat.
DOR!! DOR!!
Suara tembakan terdengar lagi. Tapi kali ini terdengar dari ruangan supir yang di tutup pembatas dari logam. Semua orang berhenti berteriak sejenak, bukan karena panik hilang. Mereka semakin takut.
Brak! Pintu pembatas ruangan supir di dobrak dan langsung terbuka. Seseorang telah masuk dengan membawa senjata api.
Jerit kembali memeka telinga. Satu detik sudah menjalar ke penumpang lain. Penumpang panik berlarian ke arah pintu. Aku refleks ikut terpuruk-puruk, diantara mereka.
DOR!! DOR!!
Dua tembakan di lepaskan orang yang baru masuk itu. Semua penumpang langsung terdiam. Menyisakan suara tangisan kecil.
“kalian tidak perlu melakukan itu. Percuma kalian tidak akan bisa ke luar!” Orang yang memegang senjata api di depan berkata. “Simpel saja, kalian akan kuberikan hidup jika kalian menuruti perintahku. Kita main cepat”
Tambah dua orang lagi memasuki kabin. Tapi tidak memegang senjata api, mereka membawa karung besar.
“Kalian telah melihatnya. Mereka membawa karung. Kalian harus mengisinya dengan barang-barang bernilai bernilai. Harus di isi. Jika tidak, kalian sudah tahu akibatnya” ujar orang membawa senjata api lagi.
Ini perampokan. Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku yang berjarak paling dekat orang pemegang senjata api.
“apa isi tas mu, nak?” Tanya orang itu.
Aku menelan ludah. “Sejumlah uang dan ponsel” jawabku kaku.
Pria di depanku tersenyum. “Nah, caranya seperti ini. Letakkan cepat. Aku tidak akan membunuhmu”
Aku dengan kaku melepas tas. Dan memasukkannya ke dalam karung.
“kembali ke tempat dudukmu” ujar pria pembawa senjata api. “Selanjutnya!”
Aku langsung duduk di samping Ila. Dia terdiam menatapku. Aku menatapnya balik. “cepat berikan ponselmu padaku” bisikku.
“hah?”
“Cepat!”
Tiga orang perampok pertama-tama menagih orang yang berdiri hendak ke luar bis sebelumnya. Mereka ada di belakang bangku kami. Ini kesempatan bagus untuk menyelesaikan barang sebisanya.
“nih bang” Ila memeberikan ponselnya.
Aku segera menyelipkan di pinggang sarungku bersama dompet.
“Sekalian dompetku bang” bisik Ila.
“Mana?”
“Ini..” Ila menjulurkan dompet.
Aku sedikit lega. Setidaknya kami masih memiliki ponsel untuk menghubungi polisi nantinya. Jika di lihat-lihat para perampok hanya meminta memasukkan barang. Sialnya malah semua barang elektronik ku ada dalam tas. Aku tidak sempat menyembunyikannya terlebih dahulu.
Satu menit berlalu. Ila menutup mulutnya menggunakan masker. Perampok mulai menagih orang-orang yang dari tadi duduk di bangku. Silih berganti penumpang yang di minta memasukkan barang-barang berharga, ponsel, perhiasan. Dan uang.
Sekarang pria membawa senjata berjalan ke depanku. Dua orang di belakangnya menjulurkan karung.
Pria itu tersenyum padaku. “menyedihkan sekali lelaki seperti mu tidak bisa melindungi pasangan nya”
Aku terdiam. Melihat Ila mulai berdiri dan memasukkan tasnya ke dalam karung.
Si pria pembawa senjata api tiba-tiba menarik masker Ila. Lalu membuangnya ke samping.
Ila sedikit berteriak. Aku segera berdiri menghalangi gadis itu. “Jangan kau sentuh dia. Kau ambil saja barangnya”
Pria bersenjata api sedikit terpundur. “Woww. Rupanya ada keberanian juga kau?” Ujarnya, menatapku seperti ada yang menarik.
Si pria mengangkat senjatanya.
“hey bos. Itu faila!” Tiba-tiba salah satu orang membawa karung berkata.
Yang di sebut namanya terkejut. Begitu juga aku. Orang ini kenal Ila?.
Si pria menurunkan senjatanya, mendorongku ke samping. “Wahh.. Kita beruntung hari ini. Terima kasih kawan, kau tidak jadi ku tembak karena telah membawa gadis ini”
Ila segera di todong senjata api. Penumpang lainnya berseru tertahan.
Aku spontan ingin maju, tapi segera tertahan karena di lirik pria tersebut. Seakan memberikan arti jika aku melawan maka Ila akan di tembak.
“cukup untuk malam ini. Kita langsung ke luar!” Pria yang menodongkan senjata memberi perintah.
Mereka langsung menyelesaikan aksinya?
Salah satu orang pemegang karung mendorongku ke arah tangga pintu masuk yang menurun. Aku jatuh ke bawahnya.
Ila kemudian digiring dengan mudah oleh tiga perampok barusan. Dia sempat menatapku dengan jeri di bawah sini, bukan, itu tatapan ketakutan. Gadis itu tidak mungkin melawan. Ila dalam bahaya.
“Sial! Kalian tidak boleh membawanya” aku berkata pelan. Bagian punggung dan bokong lumayan sakit. Tapi mereka tidak mendengarku. Sekarang mereka sudah membawa ke luar Ila.
Aku harus bangkit dan melawannya. Pasti ada kesempatan bisa membawa lari Ila setelah itu. Untung kaki ku masih aman. Aku segera melompat naik ke tengah kabin, lalu langsung berlari ke ruangan supir. Salah satu pembawa Karung baru saja turun ke luar bis.
Aku melompat ke luar sambil menjulurkan kedua kaki.
BUG!! Kakiku keras menghantam punggung pembawa Karung. Orang itu langsung tersungkur menjatuhkan barang bawaannya.
Cahaya dari sorot motor di belakang bis membantuku melihat. Itu adalah motor mereka.
Supir di sampingku sempat berteriak mencegah. Namun aku tidak peduli. Aku segera mengambil barang apapun yang keras dari dalam karung.
Si pembawa senjata jeri melihatku. Mulai menaikkan senjatanya dan menarik pelatuk.
DOR!! DORR!!
Responku lebih cepat. Aku berkelir maju menyamping. Mengincar satu lagi pembawa Karung.
Orang yang ku incar sudah bersiap. Menjatuhkan karung, mengangkat kedua tangannya, seolah ingin menangkap tubuhku. Aku refleks cepat menghindar ke arah samping. Kena kau!
BRAKK!!
Tanganku dari tadi memegang sebuah tas kecil, isinya padat dan keras. Sekarang wajah orang yang ku incar telak seperti di tinju barang berat. Orang itu terhuyung ke belakang lalu terjatuh, melepas karung.
Aku maju lagi.
Pria pembawa senjata mengangkat moncong senapannya ke arah Ila. Dia tersenyum
Gawat aku belum tentu sempat.
Detik-detik menentukan. Tapi Ila tiba-tiba meninju senjata itu ke atas. Membuat pria itu terkejut, DOR!. Refleks menembak ke udara kosong.
Momen yang sangat berharga.
Bagus Ila. Aku langsung melancarkan tinju terkuat ke wajah pria tersebut.
Bug! Orang itu berseru, terbanting kuat di apal jalanan.
Tidak ada waktu lagi, harus segera lari. Orang-orang yang kubuat jatuh tadi sudah bangun. Aku menarik lengan Ila. Langsung melempar barang asal ke belakang, lalu melarikan diri ke samping.
Entah kami lari ke arah mana. Kami tidak bisa melihat apapun karena gelap. Tapi yang jelas kami sedang diatas rumput sekarang. Kawasan ini wajar rawan orang-orang jahat. Sepi sekali. Tidak satupun ada cahaya atau titik dari lampu rumah warga sejauh mata memandang.