"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Berondong Magang dan Laporan Rahasia
Suasana ruang tamu rumah keluarga Ruella terasa sesak pagi itu. Doni duduk dengan wajah tegas di kursi utama, sementara Dinan menyilangkan tangan di dada sambil memandangi Nadira yang menunduk dalam-dalam di sofa.
"Mama sama Papa udah enggak bisa toleransi lagi, Nadira," ujar Dinan dengan nada dingin yang sangat jarang terdengar. "Kemarin jaman Rian, Mama masih berusaha sabar. Tapi kali ini? Main aplikasi kencan sampai dilabrak istri orang di tempat umum?"
"Ma, Nadira kan enggak tahu kalau cowok itu udah nikah..." cicit Nadira pelan, meremas ujung roknya.
"Gak tahu karena kamu itu asal comot, Mbak!" potong Nadeo yang bersandar di pintu dapur sambil mengunyah keripik. "Asal ada cowok ganteng di aplikasi langsung di-swiped kanan tanpa diselidiki dulu. Untung ada Mas Ka yang nyelamatin lo!"
"Deo, diam dulu," tegur Doni halus namun mengintimidasi. Pandangan kepala keluarga itu kembali tertuju pada putri sulungnya. "Nadira, Papa sudah bicara sama Om Alan dan Tante Iliana tadi malam."
Nadira mendadak mendongak, matanya membelalak. "P-Papa ngomong apa sama Om Alan?"
"Papa setuju. Bulan depan, pas kamu ulang tahun ke-30, kamu dan Askara harus menikah," tegas Doni tanpa bisa dibantah. "Enggak ada penolakan lagi. Papa enggak mau lihat kamu terus-terusan disakiti atau dimanfaatkan laki-laki enggak jelas di luar sana."
"Tapi Pa! Ini kan masa depan Nadira! Masa Nadira dipaksa nikah sama sahabat sendiri?!" bentak Nadira dengan gengsi yang tersisa.
"Sahabat sendiri yang udah terbukti menjaga kamu belasan tahun, Nadira!" balas Dinan tinggi. "Keputusan Papa sama Mama udah bulat. Bulan depan kamu nikah sama Askara. Titik!"
...****************...
Pukul sepuluh pagi di kantor Ruella Creative. Nadira menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja dengan napas memburu. Kepalanya rasanya mau pecah memikirkan tekanan dari orang tuanya.
Tok! Tok!
Pintu ruang kerja Nadira terbuka. Odelia masuk bersama seorang pemuda tinggi bertubuh atletis dengan gaya pakaian smart-casual yang sangat modis. Pemuda itu memiliki senyum manis dengan lesung pipi di kedua sisinya.
"Pagi, Bu Nadira," sapa Odelia. "Ini anak magang baru di divisi kreatif yang kemarin dapet rekomendasi dari kampus ternama itu. Namanya Sagara."
Pemuda bernama Sagara itu langsung melangkah maju, membungkuk sopan lalu mengulurkan tangannya dengan senyum merekah.
"Pagi, Mbak... eh, Bu Nadira," sapa Sagara dengan suara ramah. "Saya Sagara Alberga. Panggil aja Gara. Wah... ternyata pembimbing saya beneran secantik yang diomongin orang-orang kantor ya."
Nadira tertegun sejenak. Ia menjabat tangan Gara singkat. "Eh? K-kamu bisa aja. Selamat datang di Ruella Creative ya, Gara."
Gara tidak langsung melepaskan genggaman tangannya, ia justru menatap mata Nadira dengan terang-terangan. "Saya enggak gombal kok, Mbak Nadira. Pas pertama kali liat Mbak di pintu depan tadi, mata saya langsung fokus ke Mbak. Mbak manis banget, pantesan aura bosnya kerasa tapi tetep gemes."
Odelia yang berdiri di samping Gara langsung membelalakkan mata. Bocah magang ini beneran berani banget?! batin Odelia terkejut.
Nadira yang sedang haus akan validasi setelah rentetan kegagalan cintanya mendadak merasa pipinya sedikit merona. Gengsinya terobati secara instan.
"Aduh, kamu ini baru hari pertama magang udah pinter jilat atasan ya," seloroh Nadira sambil menarik tangannya canggung, mencoba tertawa santai.
"Saya jujur dari hati, Mbak," sahut Gara santai, lalu memiringkan kepalanya, mengambil kursi tanpa disuruh dan duduk mendekat ke meja Nadira. "Mbak Nadira umurnya berapa sih? Kelihatan masih kayak seumuran saya deh, paling dua puluh tiga atau dua puluh empat?"
Nadira tertawa agak keras, merasa terbang langit. "Ngaco kamu! Saya itu sebentar lagi mau tiga puluh tahun!"
"Demi apa?!" mata Gara membelalak dramatis. "Ah, bohong banget! Masa cewek secantik dan seimut ini mau tiga puluh? Kalau gitu, saya boleh dong panggil Mbak Nadira aja kalau lagi berdua? Soalnya Mbak kemudaan kalau dipanggil 'Ibu'."
"Boleh-boleh aja sih, asal kerjaan kamu beres," jawab Nadira, sama sekali tidak menyadari gelagat clingy dan pendekatan agresif dari anak magang seumuran adiknya itu.
Odelia yang menyaksikan interaksi itu langsung berdeham keras. "Ehem! Gara, ayo ikut gue ke meja lu. Biar gue jelasin jobdesk hari ini."
"Siap, Mbak Odel," jawab Gara penuh semangat. Sebelum keluar, Gara berbalik menatap Nadira sambil mengedipkan satu matanya. "Mbak Nadira, nanti siang makan siang bareng saya ya? Saya yang traktir!"
Pintu ruangan tertutup. Nadira bersandar di kursinya sambil tersenyum-senyum sendiri. "Lumayan juga... Masih ada brondong ganteng yang mengagumi kecantikan gue. Askara pikir cuma dia doang yang laku?"
...****************...
Sementara itu, di sudut koridor dekat pantry, Odelia buru-buru merogoh ponselnya dari saku celana. Dengan jemari yang menari cepat di atas layar, ia mengklik kontak bertuliskan [Pak Bos Askara] dan meneleponnya.
Hanya dua kali nada panggil, sambungan langsung terhubung.
"Halo, Del. Ada apa? Proyek Nadira ada masalah?" suara berat Askara terdengar dari seberang telepon.
"Aduh, Pak Askara! Lebih dari masalah proyek ini mah!" bisik Odelia panik sambil menengok kanan-kiri.
"Maksud lo apa? Nadira kenapa?" suara Askara mendadak menegang.
"Gini Pak... di kantor baru aja kedatangan anak magang cowok baru. Namanya Sagara Alberga. Umurnya seumuran Nadeo, anaknya ganteng, gaya perkotaan banget."
"Terus hubungannya sama Nadira apa?"
"Masalahnya nih anak magang clingy banget ke Nadira, Pak! Baru hari pertama, baru satu jam masuk kantor, dia udah terang-terangan godain Nadira! Katanya Nadira cantik lah, gemes lah, mirip umur dua puluh tiga lah! Terus Nadira-nya malah kegeeran lagi!" cerita Odelia heboh tanpa disaring.
Hening sejenak di seberang telepon. Odelia bahkan bisa mendengar hembusan napas berat dan dingin dari Askara melalui speaker ponselnya.
"Siapa tadi namanya?" tanya Askara pendek. Suaranya berubah sangat dingin hingga membuat Odelia merinding.
"Sagara Alberga, Pak. Dia bahkan baru aja ngajak Nadira makan siang bareng nanti!"
"Dia gencar banget?"
"Gencar banget, Pak! Blak-blakan! Mana Nadira-nya kayak dapet angin segar lagi gara-gara dipuji-puji brondong!"
Di seberang sana, terdengar suara gesekan kursi kantor dan gemertak jemari Askara yang mengepal di atas meja kerjanya.
"Oke. Makasih laporannya, Del," ujar Askara pelan namun penuh ancaman.
"Pak Askara mau ngapain?" tanya Odelia penasaran.
"Makan siang nanti gue ke kantor lo. Tolong pesenin meja di restoran depan kantor buat tiga orang."
"T-tiga orang, Pak?"
"Iya. Gue, Nadira, dan anak magang brondong itu."
Teeet.
Sambungan telepon terputus sepihak. Odelia menelan ludahnya kasar, menatap layar ponselnya dengan mata berbinar sekaligus cemas.
"Mampus lo, Gara! Belum sehari magang udah nyenggol macan betina punya pawang paling posesif se-Indonesia Raya!" gumam Odelia sambil menyeringai puas.
semangat terus thor...
/Heart/