Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28, HARGA SEBUAH MAHKOTA
Matahari terbenam di atas Negeri Kabut, dan cahayanya yang keemasan menyinari tanah yang penuh luka. Api unggun dinyalakan di seluruh lembah — bukan untuk merayakan kemenangan, tapi untuk menghormati mereka yang gugur. Tubuh mereka yang gugur dikumpulkan di satu tempat, dan setiap orang — dari setiap kerajaan — berdiri di sana untuk berduka bersama.
Zhoo berdiri di depan tumpukan batu yang menjadi makam umum itu. Di sampingnya, Elara memegang tangannya erat. Di belakangnya, Arvin, Kael, Ryn, Naira, Ratu Seren, Raja Kaelen, Ratu Lyra, dan para pemimpin lainnya — semua berdiri dengan kepala tertunduk.
"Kita menang," kata Kael pelan, seolah tidak percaya. "Tapi rasanya... tidak seperti kemenangan."
"Karena kemenangan sejati tidak pernah terasa manis," jawab Arvin lembut. "Ia selalu dibayar dengan harga yang mahal."
Malam itu, di tengah pertemuan para pemimpin di puncak bukit batu, Raja Kaelen berdiri dan berbicara kepada semua orang yang hadir:
"Perang telah berakhir. Vereon telah jatuh. Dan tujuh kerajaan kini bebas dari ancaman penaklukan. Namun perang ini juga menunjukkan satu hal — bahwa tidak ada satu kerajaan pun yang bisa berdiri sendiri di dunia ini. Jika kita kembali terpisah, jika kita kembali memikirkan diri sendiri saja, maka suatu hari nanti akan muncul penakluk lain yang lebih buruk dari Vereon. Dan kali ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkan kita."
Ia menatap Zhoo, lalu melanjutkan:
"Oleh karena itu, kami — para penguasa tujuh kerajaan — telah sepakat untuk membentuk Persekutuan Benua Est. Bukan untuk menaklukkan, bukan untuk memerintah satu sama lain, tapi untuk saling melindungi dan saling membantu. Dan untuk memimpin persekutuan ini — bukan sebagai raja di atas raja, tapi sebagai pelayan rakyat — kami memilih Zhoo."
Kata-kata itu menggema di antara para pemimpin, dan satu per satu mereka mengangguk setuju. Zhoo yang masih berdiri di dekat api unggun tertegun. Ia tidak menginginkan ini. Ia tidak pernah menginginkan takhta atau mahkota.
"Aku tidak pantas," jawab Zhoo pelan namun tegas. "Aku hanyalah pemuda dari desa kecil. Aku tidak bijaksana, aku tidak berpengalaman, dan aku sering kali ragu. Biarlah salah satu dari kalian yang memimpin — kalian yang telah lama memerintah rakyatmu dengan bijaksana."
"Kau salah," kata Ratu Lyra lembut namun tegas. "Kami memerintah dengan bijaksana untuk rakyat kami sendiri. Tapi kau — kau berjuang untuk semua orang, bahkan untuk mereka yang tidak kau kenal. Dan itulah kualitas yang paling dibutuhkan oleh seseorang yang memimpin persekutuan ini."
"Dan satu hal lagi," tambah Ratu Seren. "Vereon memerintah karena ia menginginkan kekuasaan. Kau memimpin karena kau tidak ingin orang lain menderita. Itulah perbedaan yang membuatmu layak."
Zhoo menatap Elara, mencari jawaban di matanya. Elara menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang dan pengertian.
"Kau tidak perlu menjadi raja seperti Vereon," bisiknya. "Kau bisa menjadi pemimpin yang berbeda. Dan jika kau tidak mau melakukannya untuk dirimu sendiri... lakukanlah untuk mereka yang berharap padamu."
Zhoo menarik napas panjang, lalu menghela napas pelan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menolak. Karena jika ia menolak, persekutuan ini bisa hancur, dan semua pengorbanan yang telah dilakukan akan sia-sia.
"Aku menerima," ucapnya pelan. "Tapi dengan satu syarat. Aku tidak akan memerintah dari atas takhta yang tinggi, terpisah dari rakyatku. Aku akan mendengarkan mereka, aku akan berjalan di antara mereka, dan jika suatu hari aku menjadi seperti Vereon — jika aku mulai lupa siapa diriku — kalian berjanji untuk menghentikanku. Bahkan jika harus dengan pedang di tangan."
"Kami berjanji," jawab mereka semua dengan satu suara.
Mereka membuatkan mahkota — bukan dari emas murni dan permata berharga, melainkan dari perak sederhana yang dilebur dari perhiasan yang diberikan oleh rakyat dari setiap kerajaan. Di tengahnya tidak ada batu permata, melainkan sepotong batu kecil dari tanah Oakhaven, tempat ia dilahirkan.
Saat mahkota itu diletakkan di atas kepalanya, Zhoo tidak merasa bangga. Ia hanya merasa beban yang sangat berat jatuh di pundaknya. Dan ia teringat kata-kata terakhir Vereon: Semakin tinggi kau berdiri, semakin berat beban di pundakmu. Dan semakin banyak orang yang kau cintai... yang akan terluka karena kau.