"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Dibawah Langit Malam
Malam perlahan menyelimuti ibu kota, menggantikan riuk pikuk siang dengan pijar lampu jalanan yang hangat. Di dalam kamar kontrakannya yang makin terasa nyaman, Aura melipat rapi sisa uang tunai yang tersimpan di dalam dompet kecilnya. Uang itu adalah sisa dari beasiswa kuliahnya—simpanan terakhir yang ia jaga dengan sangat hemat sejak ibunya memilih melangkah pergi membina kehidupan baru bersama suami barunya.
Sejak sang ayah meninggal dan ibunya memutuskan untuk menutup mata atas keberadaannya, Aura telah terbiasa memeluk kesendiriannya. Ia tumbuh menjadi sosok yang tangguh karena keadaan tak memberinya pilihan lain. Namun malam ini, rasa sepi di dadanya tak lagi terasa sesak. Keberhasilannya diterima di A&P Group membawa secercah kehangatan yang sudah lama hilang.
"Malam ini... aku mau merayakannya," gumam Aura tipis sembari menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia mengganti kemeja kerjanya dengan kaus santai berwarna krem dan celana jins nyaman, lalu menyampirkan tas selempang kecil di bahunya. Aura melangkah keluar dari kontrakan, menikmati embus angin malam yang sejuk membelai kulitnya.
Aura memutuskan untuk berjalan kaki menuju sebuah warung makan lokal berkonsep terbuka tak jauh dari pemukimannya. Tempatnya sederhana, namun aroma masakan yang menggugah selera dan jajaran lampu gantungnya memberikan kesan hangat. Ia memesan sepiring makanan favoritnya dan segelas es teh manis, lalu memilih duduk di sudut meja kayu dekat pagar tanaman.
Saat pesanan tiba, Aura menyantap makanannya dengan tenang. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang makan bersama pasangan atau keluarga di sekelilingnya, Aura duduk seorang diri dengan senyum tipis yang tulus. Ia tidak merasa kasihan pada dirinya sendiri lagi. Malam ini, sepiring makanan sederhana dan keberanian untuk melangkah ke depan sudah cukup menjadi perayaan terbaik bagi awal hidup barunya.
Aura meletakkan sendoknya perlahan, lalu menyesap es teh manisnya hingga menyisakan denting es batu di dasar gelas. Dari sudut meja kayu tempatnya duduk, matanya menerawang menatap kerlip lampu jalanan dan lalu lintas ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur. Ada ketenangan asing yang merayap menelusuri dadanya—sebuah perasaan lega yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
“Semoga semua ini menjadi awal yang baru untukku,” ucap Aura dalam hatinya dengan penuh kesungguhan.
Doa tulus itu bergaung bisu, terpatri rapat di dalam jiwanya. Ia telah melewati malam terkelam dalam hidupnya—mulai dari pengkhianatan menyakitkan dari Sean dan Lyona, kenyataan pahit sebagai anak yang terabaikan, hingga keberanian memutus semua keterikatan masa lalu. Kini, langkahnya tak lagi goyah oleh bayang-bayang luka. Pekerjaan di A&P Group bukan sekadar jalan untuk bertahan hidup, melainkan batu pijakan pertama untuk membuktikan bahwa dirinya bernilai dan mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Setelah membayar makanannya dengan sisa uang simpanannya, Aura melangkah pulang menembus trotoar yang mulai sepi. Setiap pijakan kaki berbalut sepatu flatnya terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Ia siap menyambut hari esok, siap menata berkas-berkasnya, dan siap melangkah masuk ke gedung pencakar langit itu pada hari Senin nanti.
Aura tidak tahu godaan, intrik, maupun dinamika seperti apa yang menunggunya di dunia profesional A&P Group. Ia juga belum membayangkan bagaimana detak jantungnya akan diuji saat harus berhadapan kembali dengan sosok Arsenio Pratama dalam wujud atasan dan bawahan. Namun malam ini, di bawah naungan langit malam yang tenang, Aura Kirana tahu satu hal pasti: ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun merenggut kendali atas kehidupannya lagi.