Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Ujian Kejujuran
Pagi-pagi sekali, sesuai janjinya pada diri sendiri malam sebelumnya, Kirana menghubungi Raka dan mengajaknya bertemu sebelum ia memulai jadwal kerjanya di rumah sakit. Mereka bertemu di kedai kopi kecil dekat rumah sakit, tempat yang sama seperti kencan pertama mereka setelah delapan tahun berpisah.
"Kau terlihat lelah," Raka berkata begitu melihat Kirana duduk di seberangnya, matanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
"Semalam panjang," Kirana menjawab, tersenyum lelah. "Aku ingin cerita semuanya padamu, seperti janjiku."
Ia kemudian menjelaskan detail lengkap pertemuannya dengan Fajar—pengakuan soal motif profesional di balik pendekatannya, informasi soal rencana akuisisi Meridian Capital Partners, keterlibatan Ratna, hingga pengakuan Fajar bahwa perasaan lamanya mungkin masih ada.
Raka mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berganti-ganti antara khawatir, marah, dan akhirnya menetap pada sesuatu yang menyerupai penerimaan yang berat. "Jadi dia masih punya perasaan padamu?"
"Dia bilang begitu," Kirana menjawab jujur, tidak ingin menyembunyikan apa pun kali ini. "Tapi Raka, aku ingin kau tahu, aku tidak merasakan hal yang sama. Ada nostalgia, mungkin sedikit kebingungan karena kejutan bertemu masa lalu, tapi hatiku sepenuhnya untukmu."
Raka menghela napas panjang, mencerna semua informasi itu. "Aku menghargai kejujuranmu, Kirana. Ini pasti tidak mudah untuk diceritakan."
"Aku tidak ingin ada rahasia lagi di antara kita," Kirana melanjutkan tegas. "Aku sudah belajar dari kesalahan keluargaku sendiri, bagaimana rahasia sekecil apa pun bisa berkembang menjadi luka yang jauh lebih besar."
Raka menatap Kirana lama, mencari ketulusan di balik kata-katanya. "Aku percaya padamu. Tapi aku juga harus jujur, mendengar semua ini membuatku sedikit tidak nyaman. Bukan karena aku tidak percaya perasaanmu, tapi karena situasi ini memaksa kau terus berinteraksi dengan seseorang yang punya perasaan lain terhadapmu, sementara juga menjadi ancaman bagi keluargamu."
"Aku mengerti kekhawatiranmu," Kirana menjawab lembut. "Dan aku janji, interaksiku dengan Fajar ke depannya akan seminimal mungkin, hanya sebatas yang diperlukan untuk melindungi keluargaku. Tidak lebih dari itu."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, membiarkan kejujuran yang baru saja diungkapkan mengendap di antara mereka. Raka akhirnya meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat.
"Terima kasih sudah jujur," ujarnya tulus. "Ini justru membuatku semakin yakin bahwa kita bisa membangun sesuatu yang kuat bersama, berdasarkan kepercayaan dan keterbukaan, bukan rahasia yang bisa menghancurkan kita di kemudian hari."
Kirana merasakan kelegaan luar biasa mendengar respons itu. "Aku juga merasa begitu, Raka. Meski situasi di luar sana penuh ketidakpastian, aku merasa lebih kuat menghadapinya karena tahu kita saling mendukung dengan kejujuran penuh."
"Bagaimana rencana kalian menghadapi ancaman akuisisi ini?" tanya Raka, beralih ke topik yang lebih praktis namun tetap penting.
Kirana menjelaskan strategi yang telah mereka susun semalam—persiapan laporan keuangan yang lebih transparan, pencarian investor alternatif, dan pemanfaatan hati-hati terhadap informasi yang mungkin masih bisa didapatkan dari Fajar.
"Aku bisa membantu dengan caraku sendiri," Raka menawarkan. "Sebagai dokter yang menangani ayahmu, aku bisa memberikan pernyataan resmi soal kondisi kesehatannya yang terus membaik, untuk melawan narasi bahwa krisis kesehatan membuat perusahaan kalian rentan."
"Itu akan sangat membantu," Kirana tersenyum, merasakan dukungan yang tulus dari orang yang ia cintai. "Terima kasih, Raka."
Mereka menghabiskan waktu beberapa menit lagi mendiskusikan detail lebih lanjut sebelum akhirnya harus berpisah untuk menjalani aktivitas masing-masing hari itu. Namun kali ini, perpisahan mereka terasa berbeda—bukan lagi diwarnai kecanggungan atau kekhawatiran tersembunyi, melainkan keyakinan baru yang lahir dari kejujuran yang mereka bangun bersama.
Dalam perjalanan menuju rumah, Kirana merasakan beban di pundaknya sedikit berkurang, meski tantangan besar masih menanti di depan. Ia menyadari bahwa hubungan yang sehat, sama seperti keluarga yang sehat, dibangun bukan dari ketiadaan masalah, melainkan dari keberanian untuk menghadapi setiap masalah dengan kejujuran dan komunikasi yang terbuka.
Ponselnya bergetar, pesan dari Sari mengabari bahwa Pak Wibowo sudah berhasil menghubungi dua calon investor alternatif yang tertarik mendengar lebih lanjut soal peluang kemitraan dengan PT Wijaya Sejahtera. Berita itu memberi Kirana secercah optimisme baru, tanda bahwa strategi mereka mulai menunjukkan hasil, meski perjalanan dua minggu ke depan masih penuh ketidakpastian.
Sesampainya di rumah, ia mendapati Denis sudah menunggu di ruang tamu dengan laptop terbuka, wajahnya serius mempelajari data-data yang telah mereka kumpulkan. "Sari bilang kau berhasil bicara jujur dengan Raka," Denis berkata sambil tersenyum kecil. "Itu keputusan yang bijaksana."
"Aku belajar dari kesalahan," Kirana menjawab, duduk di sofa seberangnya. "Menyembunyikan sesuatu, sekecil apa pun, hanya akan menambah beban di kemudian hari."
"Aku setuju," Denis mengangguk, teringat pada perjalanan panjangnya sendiri menuju penerimaan dalam keluarga ini. "Kejujuran memang menyakitkan di awal, tapi selalu memberi fondasi yang lebih kuat pada akhirnya."
Mereka melanjutkan diskusi soal strategi menghadapi due diligence dari calon investor, sesekali diselingi candaan ringan yang membantu meredakan ketegangan yang telah membebani mereka selama beberapa hari terakhir. Kirana merasa bersyukur memiliki Denis sebagai teman diskusi yang bisa memahami situasi dari berbagai sudut pandang, hasil dari pengalaman hidupnya yang kompleks namun kini menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarga mereka.
Malam itu, sebelum tidur, Kirana menuliskan beberapa refleksi di jurnal pribadinya yang jarang ia sentuh sejak kepulangannya—sebuah kebiasaan lama yang kini terasa relevan kembali untuk membantu memproses berbagai emosi yang silih berganti sepanjang hari-hari penuh tantangan ini.
Ia menuliskan tentang kelegaan setelah bicara jujur dengan Raka, tentang rasa syukur memiliki Denis sebagai kakak yang selalu bisa diajak berdiskusi, dan tentang harapan bahwa strategi yang mereka susun akan cukup kuat untuk melindungi warisan keluarga mereka. Menulis membantu menjernihkan pikirannya, memberi jarak yang ia butuhkan dari kekacauan emosional yang telah membebani hari-harinya belakangan ini.
Keesokan paginya, ia bangun dengan perasaan yang jauh lebih segar, siap melanjutkan perjuangan bersama keluarganya. Sarapan pagi itu terasa lebih ringan, diselingi candaan kecil antara Sari dan Denis yang membahas strategi presentasi untuk investor, sementara Bapak dan Ibu menikmati momen kebersamaan sederhana yang selama ini menjadi sumber kekuatan bagi seluruh keluarga.
"Hari yang baru, tantangan yang sama, tapi semangat yang lebih kuat," Kirana bergumam pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan keluarganya untuk menghadapi hari yang penuh dengan pekerjaan penting menanti di depan.
Sesampainya di ruang kerja, ia mendapati Sari sudah lebih dulu tiba, menyusun jadwal pertemuan dengan berbagai pemegang saham minoritas untuk hari itu. "Kita punya lima pertemuan hari ini," Sari melaporkan, tampak jauh lebih bersemangat dibanding hari-hari sebelumnya. "Aku sudah menyiapkan materi presentasi personal untuk masing-masing, disesuaikan dengan kekhawatiran spesifik mereka."
"Kerja bagus, Kak," Kirana memuji, mengagumi ketelitian dan dedikasi kakaknya. "Mari kita mulai."
Hari itu berlangsung produktif, dengan Kirana dan Sari bergantian mengunjungi para pemegang saham minoritas, menjelaskan visi keluarga dengan penuh keyakinan dan data pendukung yang solid. Setiap pertemuan memberi mereka sedikit lebih banyak kepercayaan diri, sebuah bukti bahwa pendekatan personal dan jujur mereka mulai membuahkan hasil yang mereka harapkan.
---
*Bersambung ke Bab 36...*