Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Balas Dendam di Balik Layar
Matahari pagi kota Manhattan menerobos masuk menembus kaca jendela anti-peluru berlapis baja di penthouse tingkat tertinggi, memantulkan pendar keemasan yang hangat di atas lantai marmer hitam yang dingin. Namun, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi Sylus sama sekali tidak terasa hangat. Udara di sana begitu pekat, kaku, dan dipenuhi oleh aroma tembakau pekat serta sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya.
Di atas kursi kerja bergaya barok berlapis kulit obsidian hitam, Sylus duduk dengan postur tegap yang mengintimidasi. Jemari panjang pria itu mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer secara berirama, menciptakan suara ketukan monoton yang terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian bagi siapa saja yang berada di hadapannya. Manik mata merah menyala miliknya menatap tajam ke arah layar holografik besar yang melayang di udara, menampilkan rekaman kamera pengintai dari sudut-sudut tersembunyi sebuah rumah peristirahatan mewah di pinggiran kota.
Di seberang meja, Logan berdiri tegak dengan tangan bersidekap di belakang punggung, wajah asisten setianya itu tampak kaku dan serius.
"Bagaimana kondisi kubu Faksi Barat pasca perjamuan semalam, Logan?" suara bariton Sylus memecah keheningan pagi, terdengar rendah, berat, dan sarat akan ancaman maut.
"Kacau total, King," lapor Logan cepat tanpa ragu. "Setelah penangkapan Tuan Marcus di hadapan para dewan sindikat semalam, seluruh aset properti, jalur distribusi senjata ilegal, dan rekening bawah tanah Faksi Barat langsung dibekukan oleh sistem pusat. Para pengikut mereka tercerai-berai. Sebagian besar memilih melarikan diri keluar negeri karena takut menjadi target pembersihan berikutnya, sementara sisanya menyerah tanpa perlawanan."
Seringai tipis yang berbahaya terukir di sudut bibir Sylus. "Mereka pikir melarikan diri akan menyelamatkan nyawa mereka dari wilayah kekuasaanku? Biarkan anjing-anjing pelacak kita mengejar mereka sampai ke ujung bumi. Tidak ada satu pun pengkhianat yang boleh bernapas dengan tenang di bawah langitku."
"Baik, King. Perintah akan segera dilaksanakan," jawab Logan tegas. "Lalu... bagaimana dengan Nona Bianca? Pengawas kita melaporkan bahwa ia kembali ke kediaman sekunder keluarga utama dalam keadaan histeris setelah perjamuan semalam."
Mendengar nama Bianca disebut, manik mata merah Sylus menyipit tajam, memancarkan kilat kebencian yang dingin. Wanita di kursi roda itu memang sengaja dibiarkan hidup untuk sementara waktu, bukan karena mereka menaruh belas kasihan, melainkan karena Ceisya sendiri yang meminta agar saudari tiri beracun itu dibiarkan merasakan siksaan mental yang perlahan sebelum takdir akhir menjemputnya.
Di tempat terpisah, di dalam kamar tidur mewah bernuansa klasik modern di kediaman keluarga utama, suasana berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.
Pecahan kaca vas bunga kristal berserakan di atas lantai berbulu tebal, memantulkan bayangan ruangan yang porak-poranda akibat amukan brutal. Bianca duduk di atas kursi rodanya dengan napas memburu hebat, wajahnya sangat pucat pasi, matanya melotot lebar dengan urat-urat kemerahan yang menonjol akibat kurang tidur dan tangisan histeris semalaman. Riasan wajahnya luntur oleh air mata, membuatnya tampak seperti hantu yang putus asa.
"Sialan... sialan! Semuanya hancur!" teriak Bianca histeris, mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuku-kuku jarinya yang hampir menembus kulit kepala. "Rencana itu sempurna! Dokumen gosip itu seharusnya menghancurkan harga diri Ceisya! Wanita sialan itu seharusnya berlutut menangis di hadapan semua orang! Kenapa... kenapa justru Faksi Barat yang hancur?! Kenapa justru kakek tua bodoh itu yang diseret keluar?!"
Di samping kursi roda, Lucas berdiri dengan wajah tegang dan luka lebam kecil di pelipisnya akibat lemparan asbak yang dilakukan Bianca beberapa jam lalu. Pria itu menelan ludah susah payah, berusaha menjaga suaranya tetap tenang di tengah badai amukan sang nona muda.
"Nona, kumohon tenanglah... kita tidak bisa bertindak gegabah lagi sekarang," bujuk Lucas hati-hati, mencoba meredakan kemarahan Bianca. "The Crimson King dan Ceisya telah menguasai seluruh dewan sindikat. Jika kita terus melawan secara terbuka, kita berdua akan dihabisi sebelum matahari terbenam."
"Tenang?!" bentak Bianca histeris, manik mata biru terangnya melotot tajam menatap Lucas penuh kemarahan. "Kau menyuruhku tenang setelah kita kehilangan segalanya?! Kau tahu betul bahwa hidupku sudah hancur sejak kecelakaan itu merenggut kedua kakiku! Dan wanita sialan itu—wanita figuran rendahan yang dulu hanya bisa menunduk ketakutan di sudut ruangan—sekarang duduk di singgasana ratu bersama pria paling mematikan di dunia hitam! Aku tidak akan biarkan itu terjadi, Lucas! Aku tidak akan pernah biarkan Ceisya hidup bahagia di atas penderitaanku!"
Napas Bianca tersengal-sengal, dadanya naik-turun dengan sangat cepat hingga ia batuk-batuk kecil karena kehabisan napas. Di dalam benaknya yang mulai dikuasai oleh delusi keputusasaan, sebuah pikiran gelap dan nekat melintas seketika. Jika jalur politik, dewan sindikat, dan gosip murahan sudah gagal total untuk meruntuhkan Ceisya, maka hanya ada satu jalan terakhir yang tersisa—jalan paling ekstrem yang melibatkan pertumpahan darah langsung.
"Lucas..." panggil Bianca dengan suara berbisik pelan namun terdengar sangat mengerikan, manik matanya memancarkan kilat psikopat yang menakutkan.
"Ya, Nona?" jawab Lucas mendekat.
"Hubungi kontak lama kita di sindikat bayangan luar negeri," perintah Bianca dingin, senyuman tipis penuh racun terukir di bibirnya yang pucat. "Katakan pada mereka bahwa aku ingin membeli jasa pembunuh bayaran tingkat tinggi. Kita tidak lagi bermain-main dengan politik dewan... kita akan akhiri ini dengan peluru di kepala wanita sialan itu."
Kembali ke penthouse utama Manhattan, Ceisya baru saja terbangun dari tidur lelapnya di atas ranjang king size berbalut seprai sutra hitam. Sinar matahari pagi membelai lembut kulit bahunya yang terekspos, menyisakan jejak-jejak kemerahan samar sebagai saksi bisu dari keintiman membara semalam.
Ceisya meregangkan tubuhnya perlahan, merasakan aliran energi dan kekuatan baru yang mengalir di dalam nadinya. Sebagai seorang transmigrator yang masuk ke dalam tubuh figuran malang di dalam novel ini, ia tidak pernah membayangkan takdirnya akan berbelok sedemikian rupa—dari seorang wanita yang dipandang sebelah mata, dihina, bahkan dikirimi anjing sebagai perwakilan pernikahan, kini ia berdiri tegak sebagai Ratu mutlak di sisi penguasa sindikat terbesar dunia.
Pintu kamar utama terbuka tanpa suara, memperlihatkan sosok Sylus yang melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan tato samar di balik pergelangan tangannya. Pria itu membawa sebuah nampan perak berisi sarapan hangat dan kopi hitam pekat.
Sylus meletakkan nampan tersebut di atas nakas sebelah tempat tidur, lalu melangkah naik ke atas ranjang, memeluk pinggang Ceisya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang istrinya.
"Selamat pagi, Ratu kecilku," bisik Sylus serak, suaranya terdengar begitu memuja di telinga Ceisya. "Kau tidur dengan nyenyak semalam setelah membuatku gila?"
Ceisya tersenyum tipis, membalikkan tubuhnya sedikit untuk menghadap sang suami, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Manik mata hijau terangnya menatap lekat manik mata merah menyala Sylus yang selalu memancarkan obsesi mutlak khusus untuk dirinya seorang.
"Bagaimana aku bisa tidak tidur nyenyak, King, setelah melihat musuh-musuh kita gemetar ketakutan?" balas Ceisya dengan nada suara yang menggoda namun penuh wibawa. "Omong-omong, apa laporan dari Logan mengenai pergerakan terakhir saudari tiriku sudah masuk?"
Sylus mengecup lembut ujung hidung Ceisya, seringai tipis terukir di bibirnya. "Biarkan ia meronta-ronta di sarangnya sendiri, Ceisya. Tikus yang terpojok pasti akan mencoba menggigit sebelum ia mati. Dan saat ia melangkah keluar untuk melakukan kesalahan terakhirnya... aku akan pastikan dunia ini tertutup rapat baginya untuk selama-lamanya."