NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 KEINDAHAN DI BALIK CADAR

Ketegangan di dalam Paviliun Air Danau Teratai mendadak begitu pekat hingga suara riak air danau di luar terdengar jelas. Semua mata kini tertuju pada Gu Rulan. Provokasi terang-terangan dari Putri Ketiga Shen Meili bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Di istana ini, menyinggung Shen Meili sama saja dengan mengundang kemarahan Permaisuri dan seluruh faksi Perdana Menteri.

Li Feng sempat menoleh ke arah Shen Meili dengan tatapan memperingatkan, namun Putri Ketiga itu hanya mengangkat dagunya tinggi-tinggi, ia merasa bahwa dirinya berada di atas angin. Ia yakin wanita dari pedalaman barat ini akan gemetar ketakutan menghadapi tekanan dari darah kekaisaran.

Namun, alih-alih panik atau menunjukkan kemarahan, Rulan justru mengeluarkan suara kekehan yang sangat pelan dan merdu. Suaranya terdengar seperti gemerincing lonceng perak yang tertiup angin malam, menenangkan atmosfer yang semula tegang.

"Putri Ketiga benar-benar orang yang jujur dan berterus terang," ucap Rulan sembari menurunkan kipas sutranya dengan gerakan yang luar biasa anggun. "Di wilayah barat yang berangin kencang dan dipenuhi debu pasir, mengenakan cadar adalah kebiasaan kami untuk melindungi kulit. Namun, karena saya kini berada di hadapan Yang Mulia Putri Ketiga yang agung, melanjutkan kebiasaan ini tentu akan menjadi bentuk kelancangan."

Dengan perlahan, jemari Rulan yang lentik dan seputih salju bergerak ke belakang telinganya. Semua orang di dalam paviliun menahan napas, termasuk Li Feng yang matanya tidak berkedip sedikit pun.

Saat kain sutra tipis itu terlepas dan jatuh ke pangkuannya, seluruh ruangan seketika diliputi keheningan yang magis.

Wajah di balik cadar itu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya keemasan dari ratusan lentera gantung. Kulitnya sehalus porselen terbaik tanpa cela, sepasang matanya yang jernih memancarkan kedalaman yang misterius, dan bibirnya yang sewarna kelopak mawar merekah membentuk senyuman tipis yang sangat memikat. Kecantikan Gu Rulan bukan sekadar kecantikan biasa; ada aura bangsawan yang sangat kuat, dingin, sekaligus memikat yang membedakannya dari seluruh wanita di ibu kota.

Jika Shen Meili adalah bunga rubi yang mencolok dan penuh duri, maka Gu Rulan adalah teratai salju yang langka, murni, namun mematikan.

Beberapa pangeran muda dan putra pejabat bahkan tanpa sadar menjatuhkan sumpit mereka. Kecantikan ini benar-benar mampu meruntuhkan sebuah kota.

Li Feng merasakan dadanya bergemuruh hebat. Rasa akrab yang sempat ia rasakan sebelumnya kini hancur lebur, digantikan oleh kekaguman dan gairah keserakahan yang membakar jiwanya. Wanita ini memiliki segalanya kecantikan yang tiada tara, kekayaan yang melimpah, dan pasokan militer yang ia butuhkan. Dibandingkan dengan Gu Rulan, Shen Meili yang berada di sampingnya tiba-tiba tampak seperti wanita manja yang kasar dan tidak memiliki kelas.

Wajah Shen Meili sendiri seketika berubah pucat, lalu memerah padam karena malu dan marah. Niatnya untuk mempermalukan Gu Rulan justru berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan harga dirinya sendiri. Riasan tebal dan perhiasan emasnya yang mewah kini tampak sangat norak di hadapan kecantikan alami Rulan yang elegan.

"Putri Ketiga, apakah wajah pelayan rendah dari barat ini memenuhi harapan Anda?" Rulan bertanya dengan nada yang sangat sopan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti tamparan tak kasat mata di wajah Shen Meili.

"Kau..." Shen Meili menggertakkan giginya, tangannya gemetar menunjuk ke arah Rulan. Namun, sebelum ia sempat melontarkan makian lebih jauh, Li Feng segera melangkah maju, memotong pergerakan tunangannya.

"Nona Gu memiliki kecantikan yang mampu membuat bulan bersembunyi karena malu," ujar Li Feng dengan suara baritonnya yang penuh pesona, sepenuhnya mengabaikan Shen Meili yang kini menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Sifat Anda yang rendah hati dan murah hati benar-benar membuatku kagum. Mengenai tawaran kerja sama yang kukatakan tadi, aku sangat serius. Jika Nona Gu memiliki waktu luang besok siang, aku ingin mengundang Anda untuk minum teh di Paviliun Angin Segar demi mendiskusikan pengamanan jalur perdagangan Anda."

Rulan menatap Li Feng. Di dalam pikirannya, memori malam musim dingin di tepi tebing kembali berputar—wajah dingin Li Feng saat mengatakan bahwa dirinya tidak berharga dan tidak bisa memberikan apa-apa selain paviliun busuk.

Kini, pria yang sama sedang menatapnya dengan pandangan memuja seolah-olah dirinya adalah pusat dari dunianya. Betapa ironisnya kehidupan ini. Kekuasaan dan kekayaan benar-benar bisa mengubah seekor serigala menjadi anjing yang penurut.

"Jenderal Muda Li begitu penuh perhatian," Rulan menurunkan pandangannya sedikit, berpura-pura malu, sebuah taktik yang sengaja ia tunjukkan untuk memancing emosi Shen Meili lebih dalam. "Keluarga Gu tentu tidak boleh menolak kebaikan dari seorang pahlawan kekaisaran. Besok siang, saya akan menghadiri undangan Jenderal Li."

"Bagus! Aku akan menyiapkan teh terbaik untuk menyambut Anda," jawab Li Feng dengan binar kemenangan di matanya. Di dalam benaknya, ia sudah mulai menyusun rencana. Jika ia bisa mendekati Gu Rulan dan mengamankan kekayaannya, ia tidak perlu lagi sepenuhnya bergantung pada faksi Perdana Menteri. Bahkan, ia mungkin bisa memiliki keduanya kekuasaan militer dari pernikahannya dengan Meili, dan kekayaan besar dari Gu Rulan.

Keserakahan Li Feng adalah lubang runtuhan yang diciptakannya sendiri, dan Rulan hanya perlu mendorongnya sedikit lagi.

"Li Feng! Apa maksudmu?!" Amarah Shen Meili akhirnya meledak. Ia berdiri dari kursinya, menggebrak meja hingga cawan-cawan arak bergetar. "Kau adalah tunanganku! Berani-beraninya kau mengundang wanita asing ini secara terang-terangan di hadapanku?!"

Kemarahan Putri Ketiga membuat seluruh hadirin di paviliun air berbisik-bisik. Sikap Shen Meili yang tidak bisa mengontrol emosinya di depan umum dianggap sebagai tanda kelemahan dan hilangnya tata krama seorang putri kekaisaran.

Li Feng membalikkan badannya, wajahnya berubah kaku dan dingin saat menatap Shen Meili. "Putri Ketiga, harap jaga sikap Anda. Ini adalah urusan resmi militer mengenai pasokan kuda perang dari barat demi keamanan kekaisaran. Jangan membawa kecemburuan kekanak-kanakan Anda ke dalam urusan negara."

Kata-kata Li Feng yang menggunakan dalih "urusan negara" mengunci mulut Shen Meili. Di hadapan para pejabat faksi netral yang hadir, menentang urusan militer demi masalah asmara akan membuat posisinya diserang oleh para pengkritik di istana.

Shen Meili menatap Li Feng dengan pandangan penuh kekecewaan dan kemarahan, lalu beralih menatap Gu Rulan yang sedang memandangnya dengan tatapan dingin yang sarat akan kemenangan di balik kipas sutranya.

"Urusan ini belum selesai," desis Shen Meili dengan suara rendah yang bergetar karena amarah. Tanpa pamit kepada siapa pun, ia menyentak jubah merahnya dan melangkah pergi meninggalkan perjamuan dengan tergesa-gesa, diikuti oleh para pelayan pribadinya yang ketakutan.

Perjamuan malam itu berakhir dengan Gu Rulan sebagai pusat dari segala pembicaraan. Identitasnya sebagai putri misterius dari barat yang cantik dan kaya raya langsung mengakar kuat di benak setiap bangsawan ibu kota.

Tengah malam, di dalam kereta kuda yang membawanya kembali ke kediamannya, Rulan menyandarkan tubuhnya pada bantalan sutra. Ia melepaskan jepit rambut peraknya, membiarkan rambut hitamnya terurai bebas. Wajahnya yang semula penuh senyum ramah kini kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi.

"Nona, pergerakan pertama Anda sangat sukses," ucap Xiaoyu yang duduk di depannya dengan wajah berseri-seri. "Putri Ketiga kehilangan mukanya malam ini, dan Jenderal Li sepenuhnya telah masuk ke dalam umpan Anda. Besok siang, apakah Anda benar-benar akan menemuinya sendirian?"

"Tentu saja," Rulan menatap belati perak yang tersembunyi di balik lengan bajunya. "Li Feng adalah orang yang sangat berhati-hati, namun keserakahannya adalah kelemahannya yang paling fatal. Besok, aku akan memberinya sedikit 'rasa manis' agar dia semakin yakin bahwa aku adalah kunci menuju impian tertingginya. Begitu dia sepenuhnya melepaskan kewaspadaannya, saat itulah aku akan mulai menarik tali jeratnya."

Kereta kuda terus berjalan menembus kegelapan malam ibu kota. Di balik bayang-bayang menara pengawas kota, sesosok pria berpakaian hitam legam tampak berdiri di atas atap, memperhatikan kereta kuda Rulan yang menjauh. Pria itu memegang sebilah pedang kuno yang memancarkan pendaran biru keperakan yang sangat tipis sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan malam.

Long Junwei terus mengawasi bidak catur terbaiknya, memastikan bahwa badai yang mereka ciptakan berjalan sesuai rencana.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!