NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Skenario yang Melenceng

Melati menulis enam peristiwa di halaman buku tulisnya.

Laras meminta cerai. Laras menggugurkan kandungan. Keluarga Reksonegoro terusir dan dibenci warga. Darto cacat setelah diterjang celeng. Arya berpisah dari istrinya. Lowongan guru menjadi milik Melati.

Lima kalimat pertama ia coret dengan tekanan begitu keras sampai kertasnya robek.

Semua seharusnya terjadi.

Ia mengingatnya bukan sebagai dugaan, melainkan masa lalu yang pernah ia jalani sebelum diberi kesempatan kembali. Dalam hidup sebelumnya, ia terlambat memahami nilai Arya. Ketika lelaki itu bangkit bersama keluarganya, Melati hanya dapat memandang dari jauh dan menyesali pilihan sendiri.

Kali ini ia pulang lebih awal ke Girimulyo. Ia menghafal setiap kesempatan. Ia yakin dapat mengambil tempat yang disia-siakan Laras.

Namun Laras yang sekarang tidak menjalankan satu pun peran yang seharusnya.

“Kamu belum tidur?” Bu Sri masuk membawa susu hangat.

Melati segera menutup buku. “Belum mengantuk.”

“Jangan memikirkan pertengkaran kakak-kakakmu. Mereka hanya iri karena Bapak dan Ibu menyayangimu.”

“Soal guru honorer sudah pasti diumumkan?”

“Bapak bilang setelah panen. Kamu tinggal mendaftar. Siapa lagi yang lebih pantas?”

Dalam hidup lama, pekerjaan itu memang menjadi miliknya. Dari sana ia bertemu orang-orang yang membuka jalan keluar desa. Itu langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik.

“Kalau Laras mendaftar?”

Bu Sri mendengus. “Dia hamil besar. Lagi pula keluarga mereka sedang bermasalah.”

Jawaban itu tidak menenangkan Melati. Semua orang pernah menganggap Laras akan menyerah. Semua terbukti salah.

Melati mencoba menguji ingatannya dengan hal-hal kecil. Ia menulis bahwa pedagang kain akan datang pada hari Selasa, hujan turun setelah zuhur, dan Pak Waluyo menerima surat dari kecamatan menjelang malam.

Pedagang itu datang pada Rabu karena ban kendaraannya pecah. Langit Selasa tetap cerah. Surat kecamatan memang tiba, tetapi dibawa pagi-pagi oleh petugas yang baru dipindahkan.

Tak satu pun perubahan berhubungan langsung dengan Laras. Kenyataan itu justru lebih menakutkan. Mungkin masa depan bukan benda yang dapat dihafal setelah satu keputusan besar berubah.

Ia merobek halaman ramalan kecil itu dan membakarnya di tungku. Bu Sri menemukannya sedang mengaduk abu.

“Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Wajahmu pucat. Ibu bisa menyuruh Ningsih membuatkan jamu.”

“Jangan minta apa pun darinya.”

Bu Sri menghela napas. “Sejak dekat dengan Laras, dia merasa punya sayap. Tapi kamu tenang saja. Bapak tetap akan mendahulukanmu.”

Kalimat yang dulu terdengar menenangkan kini membuat Melati gelisah. Perlindungan orang tuanya hanya berlaku di rumah ini. Ia tidak dapat memaksa desa melupakan jasa Arya atau membuat Laras kembali menjadi perempuan yang ingin pergi.

“Kalau aku gagal tes guru?” tanyanya.

“Tidak mungkin.”

“Kalau ada orang yang nilainya lebih tinggi?”

Bu Sri terdiam terlalu lama. “Bapakmu akan bicara dengan sekolah.”

Melati tidak membutuhkan penghiburan. Ia membutuhkan kepastian bahwa hasilnya tetap sama. Namun ibunya hanya menawarkan bantuan lama, sementara aturan desa mulai berubah di bawah pengaruh keluarga Reksonegoro.

Keesokan pagi, Melati mendatangi warung dan menawarkan bantuan mencatat pesanan warga. Ia ingin mengembalikan perhatian yang beralih kepada Laras. Namun pemilik warung sudah memakai daftar harga buatan Laras dan tidak membutuhkan bantuan tambahan.

Ia lalu menemui Darto, membawa minyak urut seolah peduli pada lututnya.

“Aku tidak terluka,” kata pemuda itu. “Mas Arya membuat kami latihan sampai hafal.”

“Tapi kamu hampir diterjang.”

“Hampir bukan berarti terjadi. Kalau bukan tim mereka, mungkin sawah habis.”

Melati pulang dengan botol yang tidak dibuka.

Siang hari, ia melihat Arya memperbaiki papan di depan balai desa. Melati membawa segelas teh dan mendekat.

“Mas Arya, pasti lelah setelah banyak membantu warga.”

Arya menatap gelas itu. “Terima kasih, tapi saya membawa minum.”

“Aku hanya ingin membalas jasa.”

“Berikan kepada petugas yang bekerja sejak pagi.”

Laras muncul dari arah rumah Ningsih, membawa kain dan ditemani Sekar. Arya langsung menghentikan pekerjaan, membersihkan tangan, lalu menjemput istrinya di jalan yang berbatu.

“Kenapa berjalan di bawah matahari?” tanyanya.

“Rumah Ningsih hanya dekat.”

“Dekat tetap panas.”

Ia mengambil semua kain, menuntun Laras duduk, dan memberikan botol minumnya sendiri.

Melati berdiri dengan gelas teh yang mulai dingin.

Laras menatapnya. “Ada urusan dengan suamiku?”

“Aku berterima kasih soal perburuan.”

“Sudah disampaikan. Terima kasih.”

Nada Laras sopan, tetapi batasnya jelas. Arya bahkan tidak melihat Melati lagi.

“Banyak hal berubah sejak kamu datang,” kata Melati.

“Aku memang datang bersama keluarga suamiku.”

“Maksudku, kamu berubah terlalu cepat.”

Sekar hendak menyela, tetapi Laras menyentuh lengannya.

“Orang berubah saat akhirnya mengerti apa yang akan hilang,” jawab Laras. “Bukankah begitu?”

Wajah Melati menegang.

“Kadang orang merasa sudah tahu jalan sampai akhir,” lanjut Laras pelan. “Lalu lupa bahwa orang lain juga bisa memilih belokan berbeda.”

Gelas di tangan Melati bergetar. “Aku tidak mengerti.”

“Bagus. Berarti tidak ada yang perlu dipikirkan.”

Laras tersenyum, lalu pergi bersama Arya dan Sekar.

Melati menatap punggung mereka. Kalimat itu terlalu tepat untuk disebut kebetulan. Apakah Laras juga mengingat kehidupan sebelumnya? Atau perempuan itu mengetahui sesuatu dengan cara lain?

Ia mencoba bertanya kepada Pak Waluyo siapa yang akan duduk di komite pemilihan guru. Ayahnya menolak memberi nama sebelum pengumuman resmi karena keluarga sedang menjadi sorotan setelah perkara pembagian daging.

“Jangan membuat masalah,” pesannya. “Kalau kamu pintar, menanglah lewat tes.”

Bahkan ayahnya tidak lagi menjanjikan jalan mulus.

Melati lalu mencoba jalur terakhir. Ia mendatangi Bu Endang, guru senior yang sering membeli sayur di rumah mereka, dan menawarkan diri membantu anak-anak membaca tanpa dibayar. Bu Endang menerima dengan ramah, tetapi mengatakan semua calon akan dinilai oleh sekolah dan komite menggunakan soal yang sama.

“Pengalaman membantu tentu bagus,” katanya. “Tapi jangan dilakukan hanya seminggu sebelum pendaftaran.”

Melati merasa sindiran itu menamparnya. Dua anak yang ia ajar sore itu terus bertanya mengapa jawabannya berbeda dari buku. Kesabarannya habis sebelum satu jam. Ketika salah satu anak menangis, ibunya membawanya pulang.

Dari seberang jalan, ia melihat tiga anak duduk di teras Guntur. Mereka tertawa sambil menghitung pecahan dengan daun pisang. Laras tidak mengajar mereka, hanya menyediakan air dan membiarkan Sekar membantu.

Bahkan kesempatan yang ia paksa tumbuh tampak palsu dibandingkan sesuatu yang muncul alami di rumah lawannya.

Malam itu, Melati membuka bukunya kembali. Ia mencoret kalimat keenam, lalu menulis nama Laras di bawahnya.

Selama ini ia mengira masa depan adalah rumah yang sudah dibangun dan ia hanya perlu memilih pintu yang benar. Kini dindingnya berpindah setiap kali Laras mengambil keputusan.

Ketakutan perlahan berubah menjadi marah.

Jika Laras adalah penyebab semua penyimpangan, maka menyingkirkan perempuan itu akan mengembalikan jalan ke tempat semula.

Pikiran tersebut seharusnya membuat Melati takut pada dirinya sendiri.

Sebaliknya, ia menutup buku dengan tenang dan mulai memikirkan tempat di desa yang licin, sepi, dan dekat dengan air.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!