NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28. MALAM PERTAMA DI VILA

BAB 28. Malam Pertama di Vila

Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan kafe.

Lampu-lampu di beberapa vila telah lebih dulu dipadamkan hanya menyisakan lampu-lampu teras yang masih menyala. Jalan setapak yang tadi masih sesekali dilewati tamu kini benar-benar lengang. Hanya langkah kaki mereka yang terdengar pelan di antara keheningan malam.

Sesampainya di depan vila, Kalandra lebih dulu membuka pintu. Ruangan kecil itu kembali menyambut mereka dengan cahaya lampu kuning yang hangat. Namun, kehangatan itu tidak serta-merta mengusir satu persoalan yang sejak sore sebenarnya sudah mereka lupakan.

Hagia memandang ke arah tempat tidur berukuran besar yang memenuhi hampir separuh ruangan. Lalu menoleh kepada Kalandra.

"Gimana ini, Tuan?"

Kalandra mengikuti arah pandang Hagia.

"Ranjangnya cuma satu."

Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Kalandra mengembuskan napas pelan sebelum mengambil keputusan.

"Ya sudah." Kalandra berpikir sebentar lalu memutuskan. "Saya tidur di luar."

Hagia menatapnya beberapa saat.

"Tapi..."

"Enggak apa-apa." Nada bicaranya tetap tenang. Sama-sama tidur, kok."

Hagia ingin membantah. Namun, ketika mengingat kembali betapa sempitnya ruangan itu, ia tidak menemukan pilihan lain yang lebih baik.

Kalandra membuka pintu, lalu keluar sambil membawa jaketnya.

Pintu kembali tertutup. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Hagia mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di dekat tempat tidur. Ia berbaring perlahan, berusaha memejamkan mata. Namun, kantuk yang tadi sempat datang justru menghilang.

Beberapa menit berlalu.

Dari luar terdengar suara angin yang berembus pelan. Lalu...

"Hat... hatsyuu..."

Hagia membuka mata. Ia mengembuskan napas pelan, mencoba mengabaikannya. Namun, tidak lama kemudian suara bersin itu kembali terdengar.

Beberapa saat, ia mendengar suara ketukan pintu.

"Hagia, kamu belum tidur? Saya pinjam selimutnya."

Suara Kalandra pelan hampir berbisik. Namun, karena malam begitu sunyi dan Hagia masih terjaga, suara itu sangat jelas terdengar di telinganya.

"Selimutnya cuma satu, Tuan."

"Kalau begitu, buka pintunya. Di luar dingin."

Hagia terkekeh, mengingat beberapa saat yang lalu, lelaki itu begitu yakin untuk tidur di luar. Namun, Hagia tak cukup berani untuk mengambil risiko akibat membuka pintu lalu membiarkan Kalandra masuk malam-malam seperti ini.

"Jangan ganggu saya, Tuan. Saya ngantuk."

Hagia mengabaikan ketukan-ketukan pintu berikutnya dan berusaha memejamkan mata. Beberapa saat ia berhasil. Namun, matanya kembali terbuka ketika mendengar langkah kaki beberapa orang yang semakin lama semakin mendekat.

"Pak, Anda sedang apa di luar malam-malam?"

Dari suaranya, itu adalah pemilik villa.

"Anu, saya sedang menikmati pemandangan malam, Pak. Langitnya lumayan cerah."

Suara Kalandra terdengar sedang menahan rasa dingin.

"Tapi jangan lama-lama, Pak. Orang kota yang baru datang ke sini, biasanya nggak langsung tahan dengan suhu di sini."

"Baik, pak. Sebentar lagi saya masuk."

"Saya duluan, ya. Mau ngecek lampu villa, tadi katanya ada yang mati."

"Silakan. " Suara Kalandra masih sama menggigilnya. Terkadang disusul suara bersin yang terus menerus.

Hagia merasa tergerak oleh ucapan sang pemilik villa

Biasanya orang kota yang baru datang ke sini tidak akan tahan.

Selama perjalanan tadi, mereka sempat bercerita tentang tempat-tempat yang pernah didatangi waktu kecil. Kalandra hampir tak pernah datang ke tempat-tempat dingin sebelumnya. Sementara Hagia, dirinya menghabiskan sebagian masa kecilnya di Swiss. Sangat terbiasa dengan suhu rendah sekali pun.

Wanita itu bangkit sambil menarik selimutnya. Benda itu harusnya sudah dia berikan sejak tadi pada Kalandra.

Setelah Hagia membuka pintu, ia lihat Kalandra tidur meringkuk sambil menggigil.

"Tuan, Anda..."

Hagia berjongkok di depan Kalandra sambil memakaikan selimut. Namun, sepertinya ada yang tidak beres. Hanya dengan menyentuh pelan kening Kalandra, dia bisa menyimpulkan lelaki itu demam.

"Tuan, ayo bangun." Hagia berusaha menarik tangan Kalandra. Namun, tubuh lelaki itu cukup berat sampai ia harus mengerahkan seluruh tenaganya. Hagia harus memeluk dulu tubuh lelaki itu baru mengangkatnya.

"Hagia, kamu sedang apa?" Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat wajah Hagia begitu dekat.

"Ayo Tuan, bangun dulu." Hagia sedikit memaksa supaya Kalandra tersadar dan bisa pindah sendiri ke dalam villa.

"Jawab saya, kamu ngapain di luar?" Kalandra sudah mulai menegakkan tubuhnya. Dia tak sadar jika wajahnya saat ini begitu pucat.

"Jangan banyak tanya, ayo masuk." Hagia sampai gemas.

Kalandra mengernyit menatap Hagia. Sebelum akhirnya, Hagia mendorong tubuh tingginya ke dalam villa. Dia menidurkannya di ranjang lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Tuan, di mana anda taruh obat-obatannya?"

Kalandra kembali membuka mata mencoba mengingat. Dan ternyata, kotak obat masih di dalam mobil. Ia lupa mengeluarkannnya tadi.

"Ya, ampun." Hagia menepuk keningnya sendiri. "Jadi saya harus mengambilnya ke tempat parkir?"

Hagia menarik napas begitu dalam sampai akhirnya, ia mengambil kunci mobil dalam lemari kecil. Namun, tangan Kalandra yang terasa panas itu, menarik tangan Hagia tiba-tiba.

"Mau ke mana? Ini sudah malam."

"Anda harus minum obat, Tuan. Saya akan mengambilnya di mobil."

Kalandra mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Dia sempat berpikir reaksi menggigilnya akibat suhu yang begitu dingin. Namun, setelah menyentuh keningnya sendiri, ia sadar memang dirinya sedang demam.

"Deman seperti ini biasa. Saya hanya butuh selimut. Nanti sembuh sendiri."

"Kalau tidak sembuh?"

Kalandra tiba-tiba tertawa. " Kamu takut saya mati?"

"Ck, sudah sakit begitu masih berani bercanda." Hagia berdecak kesal.

"Sudah, tidur saja." Kalandra menarik tangan Hagia sampai wanita itu duduk di ranjang.

Hagia masih menatap wajah Kalandra yang pucat itu penuh kekhawatiran.

"Ya sudah, Anda tidur biar saya yang jaga."

"Saya cuma kecapean ditambah masuk angin. Asal kamu pinjamkan selimut, saya akan baik-baik saja."

Hagia masih duduk terdiam.

"Kalau kamu tidak tidur, saya juga tak bisa tidur." Kalandra menepuk tempat tidur yang ukurannya lebih dari cukup untuk dua orang. "Ayo berbaring."

Dengan gerakan pelan dan ragu, akhirnya Hagia menuruti ucapan Kalandra. Namun, matanya tak lepas dari lelaki itu.

Kalandra terkekeh. "Saya sedang tak enak badan. Tak mungkin macam-macam."

Hagia mendelik heran. Bisa-bisanya lelaki itu menebak isi kepalanya. Dan tebakannya benar.

"Saya cuma... " Hagia tak melanjutkan ucapannya. Dia langsung menarik satu-satunya selimut yang ada di situ. "Ini, selimutnya buat Tuan saja."

Meskipun mereka sudah sama-sama berbaring, jarak yang cukup aman di antara mereka tetap membentang.

Namun, entah kenapa saat pagi datang, jarak itu sudah hilang. Mereka tidur berpelukan dibawah selimut yang sama.

Kalandra bangun lebih dulu. Ia tersenyum tipis melihat tangan Hagia yang melingkar di tubuhnya. Dia biarkan posisi itu tetap sama sampai Hagia terbangun dan menyadarinya.

"Maaf, Tuan." Hagia begitu panik. Sayangnya ia tak bisa menghindar. Satu tangan Kalandra sudah menjadi bantalan tidurnya. Sementara tangan lainnya sudah menjadi selimut yang menghangatkan tidurnya semalaman. Kedua tangan kokoh itu kini melingkar di tubuh mungil Hagia.

Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah pria di hadapannya. Merasakan embusan napasnya yang teratur. Bahkan detak jantungnya yang berirama. Hagia mengulurkan tangan. Kembali menyentuh kening lelaki itu.

"Syukurlah." Dia bergumam sambil menghela napas panjang. "Demamnya turun."

Entah kenapa, Hagia merasa tempatnya saat ini adalah tempat paling nyaman yang pernah ia datangi. Sebuah pelukan seorang pria yang sebelumnya ia hindari mati-matian.

Perlahan, Kalandra membuka matanya lagi. Ia menunduk. "Bagaimana tidurnya?"

Spontan, Hagia mencoba melepaskan diri. "Lepasin tangan Anda, Tuan."

Kalandra tertawa sambil melepaskan pelukan itu perlahan. Lalu mereka sama-sama duduk.

"Padahal, kamu sendiri yang datang minta dipeluk."

"Ngawur."

Hagia yang gugup segera merapikan rambutnya yang berantakan demi menutupi rasa canggung.

"Kamu tidak tega 'kan, melihat saya kedinginan? Padahal kamu sendiri juga kedinginan."

Hagia melihat posisinya duduk saat ini. Ternyata itu benar-benar bukan tempat tidurnya. Setelah mencoba mengingat, semalam memang dirinya sendiri yang mendekati Kalandra karena ingin memastikan keadaannya. Apesnya, sampai ketiduran.

"Maaf..." Suasana canggung di ruangan kecil itu sangat sulit untuk menguap.

"Untuk?"

"Kalau saya lancang."

Kalandra terkekeh. Sorot matanya masih intens menatap Hagia.

"Karena kamu datang dan memeluk saya?"

"Bisa tidak kalau kalimat itu tidak usah diucapkan." Hagia memalingkan wajahnya yang mulai menghangat karena malu.

"Bukannya suami istri itu memang tidurnya seperti itu? Kenapa harus minta maaf?"

"Hubungan kita beda, Tuan."

"Bagiku sama saja."

"Allah menciptakan Siti Hawa untuk menjadi pendamping Nabi Adam. Untuk memberinya ketengan dan melanjutkan keturunan."

Hagia mengernyit.

"Begitu pun ketika Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, Allah ingin kita tentram dan saling melengkapi dengan kasih sayang. Dengan begitu, kita bisa merenung dan mengingat kebesaran-Nya."

Kalandra berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Saya merasakan hal itu semalam."

Untuk beberapa waktu, mereka terdiam, hanya saling memandang satu sama lain. Sampai akhirnya Hagia kembali menyentuh kening Kalandra seperti yang ia lakukan ketika Kalandra mulai berbicara di luar kebiasaannya.

"Saya kira demam lagi. Ternyata tidak." Hagia bergumam pelan lalu bangkit dari tempat tidur itu. "Saya mau mandi dulu."

Dia beranjak mencari handuk ke tempat penyimpanan barang yang dia bawa dari Jakarta. Dia tampak canggung karena tahu gerak-geriknya sedang diperhatikan.

Sampai dia keluar dari ruangan itu, Kalandra terkekeh sambil menggeleng.

Next--->

1
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
makhluk langka mungkin Hagia 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
Hagia jadi penasaran
Nety
bukan kah mereka berangkat bawa mobil kan kalandra sendiri yg nyetir,, knp skrng jadi nunggu jemputan ?? d gondol maling kah😅
Nety
seru,, meskipun pernikahan mereka di awali dgn transaksional tapi akhir nya cinta tumbuh seiring berjalanya waktu,, perlakuan kalandra terhadap hagia yg tidak menuntut
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..

d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩
Nety
😂😂😂 kejengkelan hagia d balas ke tenangan se orang paksu 😅😅 yg sbr ya my istri 😅
Nety
benih benih cembokur mulai tumbuh 😅😂
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒: kamu mulai cemburu kalandra
total 1 replies
Nety
aku ikut tegang, berasa ada d dalam novel🤭
Nety
apakh ini jebakan danu??
Nety
ke nya CEO kita ini lagi pura pura tidak tau tentang identitas hagia 😄
🫩¹
jreng jreng jreng... next.. lnjut lagi 👉
🫩¹
Xavier itu apanya Hagia thor? Daddy nya kah?... ahhhh aku penasaran 🙈
🫩¹
emang nama Xavier itu siapa? penasaran 🙈
🫩¹
nah kan ada sangkut pautnya Danu dengan kejadian Hagia... next mbu' 👉
🫩¹
aku curiga sama Danu dan ibu sambungnya 🫣
🫩¹
mbuna suka ngegantung ya /Facepalm/
🫩¹
aku sudah terlanjur curiga sama Danu 😅
🫩¹
ada yg sengaja gak ya nguncinya🫢
🫩¹
tunjukkan pesonamu Hagia🤭😅
🫩¹
mulai curiga 🤭
🫩¹
benih2 sudah mulai tumbuh 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!