NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Ditolak Dimensi Waktu

Alena mulai menggeledah dengan cepat. Laci demi laci dibuka. Dokumen digeser. Buku-buku diangkat satu per satu. Dia bahkan memeriksa di balik lukisan dan di bawah karpet. Tidak ada. Dia membuka brankas—untungnya tidak terkunci—tapi isinya hanya dokumen penting dan beberapa amplop. Tidak ada kalung.

Alena berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu. Rasa putus asa mulai naik. “Di mana... kau simpan kalungnya?”

Dia memejamkan mata, mencoba mengingat. Pelelangan itu. Raka yang mengambil kalung itu setelah dia melemparnya ke sofa, lalu menyimpannya dengan hati-hati seolah benda itu berbahaya jika jatuh ke tangan salah.

Matanya terbuka. Dia menatap laci paling bawah meja Raka yang tadi sempat ia lewati karena terlihat kosong. Dengan ragu, Alena berlutut dan memeriksa lagi lebih teliti. Jari-jarinya meraba bagian dalam laci, hingga merasakan ada celah tipis di bagian belakang.

Dia menekan, sebuah kompartemen rahasia terbuka. Di dalamnya, tergeletak sebuah kotak beludru hitam kecil. Alena mengambilnya dengan tangan gemetar. Dia membuka tutupnya. Kalung itu ada di sana. Liontin itu liontin yang sama saat pertama kali dia melihatnya. Cahaya redup seolah berdenyut pelan dari dalamnya.

“Ini dia…” bisiknya.

Tanpa ragu lagi, Alena mengeluarkan kalung itu dan menyentuh liontinnya dengan ujung jari. Detik itu juga, udara di ruang kerja berubah. Angin berputar tiba-tiba di dalam ruangan tertutup. Kertas-kertas di meja beterbangan. Cahaya keperakan menyebar dari liontin, membentuk lingkaran di depan Alena. Pusaran waktu mulai berputar—lambat pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin besar, menelan cahaya di sekitarnya.

Alena berdiri kaku, kalung masih digenggam erat di tangan. Di tengah pusaran itu, ia melihat sekilas bayangan kabut abadi, tembok istana yang retak, dan… sosok seseorang yang terbaring lemah. Jantung Alena berdegup kencang. Dia menatap pusaran yang terus berputar di hadapannya, seolah menunggu keputusan. Pintu dimensi sudah terbuka. Dan kali ini… Alena tahu dia harus melangkah masuk.

Alena menghela napas dalam, mengencangkan genggaman pada kalung di tangannya, lalu melangkah masuk ke tengah pusaran. Tepat saat kakinya menyentuh ambang cahaya keperakan itu, kekuatan besar tiba-tiba menyembur keluar.

“Akh—!”

Tubuh Alena terpental keras ke belakang. Dia terjatuh duduk di lantai ruang kerja, napasnya tersengat. Dada terasa seperti ditabrak angin kencang. Pusaran di depannya masih berputar, seolah menatapnya… dan juga menolaknya.

“Kenapa…?” gumam Alena, mata melebar.

Dia bangkit lagi, tidak mau menyerah. Kali ini dia berlari kecil dan menerjang masuk.

Tapi tubuhnya kembali terpental lebih keras dari sebelumnya. Punggungnya membentur kaki meja. Rasa sakit menjalar, tapi dia abaikan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Ayolah… tolong biarkan aku masuk…”

Alena mencoba lagi. Dan lagi. Setiap kali dia melangkah atau menerjang, pusaran itu melemparnya kembali seolah ada dinding tak terlihat yang menolak kehadirannya. Cahaya keperakan semakin tidak stabil, bergetar hebat.

“Raka…!” teriaknya, suara pecah. “Aku harus ke sana! Aku harus menolongmu!”

Dia bangkit untuk yang kesekian kali, tangan masih mencengkeram kalung hingga buku-bukunya memutih. Dengan seluruh sisa tenaga, Alena melompat ke arah pusaran. Ledakan cahaya kecil terjadi.

Tubuhnya terlempar lebih jauh, hingga tersungkur di dekat pintu. Kalung terlepas dari genggaman dan berguling di lantai. Di saat yang sama, pusaran waktu mulai menyusut dengan cepat. Cahaya keperakan memudar, angin berhenti, kertas-kertas berjatuhan kembali ke lantai. Dalam hitungan detik, pusaran itu menutup sempurna. Seolah tidak pernah ada.

Ruang kerja kembali sunyi. Hanya napas Alena yang tersengal dan detak jantungnya yang berisik di telinga. Alena merangkak, meraih kalung itu lagi dengan tangan gemetar. Dia menatap liontin yang kini sudah redup, tidak lagi berdenyut. “Tidak… tidak… tidak!”

Teriakannya pecah di ruangan kosong. Air matanya akhirnya tumpah. Dia memukul lantai pelan berkali-kali, frustrasi dan putus asa. “Jangan ditutup… tolong… Raka masih di sana… dia terluka… aku harus…!”

Tapi tidak ada yang menjawab. Pusaran sudah menghilang. Pintu dimensi menolaknya. Alena tersungkur di lantai ruang kerja, memeluk kalung itu di dada, tubuhnya gemetar hebat. Teriakannya masih tertahan di tenggorokannya, bercampur dengan isak tangis yang tidak bisa dia tahan lagi. Di kejauhan, di dimensi yang tak bisa dia jangkau… waktu terus berjalan, dan nyawa Raka semakin menipis.

Alena bangkit pelan dari lantai ruang kerja. Air matanya sudah kering, tapi matanya masih merah dan kosong. Dia menggenggam kalung itu erat, lalu berjalan keluar mencari cermin. Dia berhenti di depan setiap cermin yang dia temui—di kamar mandi, di ruang tamu, bahkan di cermin kecil di kamar Raka. Setiap kali, dia menatap permukaan kaca itu lama, berharap bayangan utusan atau jenderal muncul lagi. Berharap ada seseorang yang bisa memberinya petunjuk, membuka jalan, atau setidaknya memberi kabar tentang Raka.

Tapi yang ada hanya kesunyian. Bayangannya sendiri menatap kembali dengan wajah lelah dan putus asa. Tidak ada riak. Tidak ada suara. Tidak ada pertolongan.

“Tolong…” bisiknya pelan pada cermin. “Siapa saja… tolong bantu aku menemuinya.”

Tidak ada jawaban. Malam berlalu dengan Alena yang bolak-balik memeriksa setiap cermin, mencoba menyentuh kalung berkali-kali, bahkan berteriak frustrasi di tengah keheningan rumah. Hingga langit di luar mulai memutih.

Pagi tiba. Alena masih belum menemukan cara. Tubuhnya lelah, matanya perih, tapi dia tahu dia tidak bisa terus diam di rumah. Dengan langkah gontai, dia bersiap dan berangkat ke kantor. Wajahnya pucat, langkahnya berat, seolah setiap gerakan memakan sisa tenaganya.

Di kantor, suasana pagi masih relatif tenang saat Alena masuk. Dia baru saja meletakkan tas di meja ketika Tina muncul dari arah pantry, wajahnya sudah penuh dendam. “Wah, lihat siapa yang datang,” suara Tina keras, sengaja agar banyak yang mendengar. “Ratu sok cantik sudah hadir. Kemarin basah-basahan kena sup, sekarang muka pucat pasi. Habis menangis karena ditinggal bos, ya?”

Beberapa karyawan menoleh. Bisik-bisik langsung muncul. Tina semakin menjadi. Dia melangkah mendekat, menyilangkan tangan. “Atau mungkin lagi sedih karena cowok yang di foto itu sudah tidak mau lagi? Dasar perempuan murahan. Main di dua kaki, sekarang sendirian. Pantaslah ditinggalin Pak Raka—dia pasti sudah muak.”

Alena hanya menunduk, tidak membalas. Tenaganya habis untuk melawan. Dia mencoba lewat, tapi Tina menghalangi jalan. “Jangan pura-pura tuli. Aku bicara padamu!” Tina mendorong bahu Alena pelan, cukup untuk membuat gadis itu terhuyung. “Kau pikir bisa terus sembunyi di balik perlindungan orang? Sekarang tidak ada siapa-siapa yang membela—”

“Cukup.” Suara tegas memotong. Dito muncul dari arah ruangannya, wajah paruh bayanya dingin dan marah. Dia sudah mendengar cukup banyak.

Tina menoleh, masih menyeringai. “Pak Dito, saya hanya—”

“Saya bilang cukup,” potong Dito. Dia menatap Tina tajam, lalu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan yang kini diam. “Tina, kau dipecat. Mulai saat ini.”

Tina membelalak. “Apa? Pak, tidak adil! Saya hanya—”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!