NovelToon NovelToon
Dinikahi Calon Ipar

Dinikahi Calon Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: REZ Zha

Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.

Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.

Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kamu Benci Aku?

Tak tebersit keraguan di hati Kanaya mengiakan ajakan Yudha untuk singgah di kediaman pribadi pria itu. Di matanya, Yudha adalah sosok yang baik dan bertanggung jawab, seorang pria yang mustahil menyimpan niat buruk, apalagi mencelakainya. Terlebih, status mereka yang sah sebagai suami istri membuat tawaran itu terasa wajar baginya.

​Komplek perumahan tempat tinggal Yudha berdiri di antara deretan bangunan berlantai dua yang hampir semua sama. Namun, kawasan itu tampak lengang, menyiratkan bahwa perumahan tersebut masih baru belum banyak dihuni.

​Letak rumah Yudha berada tepat di ujung paling dalam komplek, menghadap langsung ke arah hutan buatan yang dibatasi dinding setinggi tiga meter. Letak yang terisolasi dari hiruk-pikuk kota itu menghadirkan nuansa tenang dan damai bagi orang-orang tak menyukai keramaian.

​Begitu pintu utama dibuka, aroma khas pernis dan kayu segar langsung menyeruak ke indra penciuman.

​Yudha sempat bercerita bahwa ia hanya singgah sesekali ke rumah itu. Sekedar membersihkan debu atau jika ia ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun juga.

​Bagi seorang lajang, ukuran rumah itu bisa disebut luas. Rumah itu terdiri dari tiga kamar tidur, dan dua kamar mandi di tiap lantai, serta sebuah paviliun luas di lantai atas. Balkonnya menatap langsung ke arah hutan pinus di depannya.

​Jujur aja, Kanaya mengakui bahwa rumah itu sangat sesuai dengan seleranya. Hanya saja ia menyadari jika dia dan Yudha tidak akan bersama selamanya.

​"Kalau kamu mau, kita bisa tinggal di sini, daripada mencari kontrakan," bujuk Yudha, mencoba menawarkan kembali rumahnya untuk tempat tinggal mereka. Dia juga mulai menanggalkan panggilan formal pada Kanaya.

"Komplek ini masih sepi, tetangga juga sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka nggak akan ambil pusing dengan urusan kita. Jadi, nggak masalah kalau kita menghabiskan waktu tiga bulan di sini. Gimana?" Yudha terus berusaha mempengaruhi Kanaya agar setuju dengan tawarannya.

​Sebelumnya, Kanaya memang sempat dilanda kecemasan akan munculnya gunjingan tetangga, jika mereka tidak tinggal bersama lagi setelah tiga bulan mendatang. Dia tidak memperdulikan dirinya karena bukan dia yang menetap di sana. Tapi, Yudha lah yang pasti akan terdampak efeknya.

Sementara Yudha sendiri telah sepenuhnya pasrah pada garis tangan Sang Kuasa. Dalam benaknya, wanita yang usianya lebih dewasa darinya itu mungkin memang jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuknya.

​Kanaya tidak langsung mengangguk. Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran pria yang berstatus suaminya itu.

​"Kalau kamu setuju, kita tinggal membeli beberapa peralatan makan. Selebihnya, semuanya sudah lengkap," tambah Yudha meyakinkan.

​"Oke, nanti akan aku pertimbangkan," balas Kanaya pelan, lalu melangkah menuju balkon untuk menikmati pemandangan dari atas balkon.

​Sambil bertumpu pada pagar pembatas balkon, Kanaya berujar, "Kamar tidur di sini banyak juga."

​"Iya, karena aku sangat menyukai anak-anak dan aku ingin punya banyak anak," jawab Yudha ringan, diiringi senyum merekah di bibirnya.

​Seketika raut wajah Kanaya berubah saat mendengar ucapan Yudha. Di usianya yang sekarang, impian Yudha tentang anak-anak sulit ia wujudkan. Beruntung, sejak awal Kanaya tidak menaruh harap terlalu tinggi pada pernikahan ini dan telah membentengi hatinya dengan selembar surat kesepakatan.

​Perubahan ekspresi itu tertangkap oleh mata Yudha. Ia sadar, kata-katanya telah salah arah dan membuat Kanaya tak nyaman.

​"Atau ... bisa juga untuk tempat menginap ponakan-ponakanmu kalau mereka berkunjung," koreksi Yudha cepat, mencoba meluruskan suasana. "Ruang tengah ini juga cukup luas. bisa dipakai kalau suatu saat murid-muridmu datang berkumpul," sambungnya berusaha menenangkan hati Kanaya yang tadi sempat terusik oleh ucapannya.

"Hmph ..." Lengkungan tipis di sudut bibir Kanaya tebersit. Dia menyadari jika Yudha sedang berusaha menenangkan hatinya. Sepertinya pria itu cukup tanggap atas perubahan air mukanya tadi.

"Di halaman belakang juga enak kalau mau ngadain barbeque party, kamu bisa undang sahabat-sahabat kamu kemari kalau kamu mau," ucap Yudha kembali. Tak henti-henti Yuda mengenalkan bagian rumahnya pada Kanaya, seperti seorang sales yang sedang mempromosikan produknya, tujuannya agar wanita itu tertarik tinggal di rumahnya.

Kanaya menoleh pada Yudha dengan satu alis terangkat, tak menduga usulan Yudha sampai berpikir ke sana.

"Kita lihat halaman belakang, yuk!" Yudha dengan antusias mengajak Kanaya mengecek bagian belakang rumah.

Tak menolak ajakan Yudha, Kanaya mengikuti arah langkah suaminya, hingga kini mereka berada di halaman belakang.

Halaman belakang rumah itu dibatasi pagar kayu bercat putih sebatas pinggang orang dewasa, hingga bisa melihat ke halaman tetangga sebelah. Tapi, Kanaya justru menyukai bentuk halaman belakang seperti itu, serasa bukan berada di perkotaan.

"Gimana? Kamu setuju kita tinggal di sini?" Yudha menuntut jawaban cepat Kanaya.

Kening Kanaya berkerut mempertimbangkan tawaran Yudha. Sepertinya pria itu sangat berharap dirinya menerima usulan tinggal di rumah itu.

"Baiklah kalau kamu memaksa," jawab Kanaya dengan mengangkat kedua bahunya pasrah.

"Hahaha ..." Yudha tertawa mendengar jawaban Kanaya yang menyebut dirinya memaksa.

Mata Kanaya mengerjai, seolah tertegun mendengar tawa renyah Yudha. Selama mengenal Yudha, baru kali ini ia melihat pria itu tertawa lepas, semakin mempertegas wajah tampan pria itu.

Kanaya segera memalingkan wajah saat merasakan pipinya menghangat, menyadari semburat merah mungkin sudah mewarnai kulit putihnya saat ini.

"Oh ya, kalau malam hari di sini gimana? Masih sepi penduduk, apa nggak ngeri? Depan itu 'kan hutan," tanya Kanaya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kalau malam di sini ya ... gelap, nggak ada matahari," jawab Yudha berseloroh dibarengi suara tawa kecil.

Kanaya sontak menoleh mendengar jawaban bernada candaan dari Yudha. Tak menyangka jika sekarang pria itu mulai bersikap sok akrab, tak kaku seperti sebelumnya.

"Tenang aja, selama ada aku, kamu nggak akan ketakutan tinggal di sini," kelakarnya lagi. "Gimana? Apa mau coba menginap malam ini?" tanyanya kemudian.

"Aku belum bicara sama orang tuaku. Kalau mau meninggalkan rumah, mesti pamitan dulu sama mereka," jawab Kanaya.

"Ya udah, nanti kita sama-sama bilang sama papa mama," jawab Yudha.

"Oh ya, aku minta maaf kalau sikap papaku selalu ketus sama kamu." Sebagai anak, Kanaya mewakili Danur meminta maaf pada Yudha, karena selalu bersikap tidak ramah pada Yudha.

Yudha tersenyum maklum lalu berucap, "Nggak apa-apa, aku maklum dengan sikap papa. Setiap orang tua pasti akan melakukan hal yang sama jika ada yang melukai hati anaknya," jawab Yudha sangat bijak.

"Kamu nggak benci sama papa aku, kan?" tanya Kanaya memastikan.

"Apa kamu juga benci sama aku?" Yudha membalikkan pertanyaan Kanaya. Pria itu menatap lekat wajah cantik Kanaya. Tak terlihat jika wanita itu berusia cukup jauh dari usianya.

"Nggak ada alasan buat benci sama kamu, bukan kamu yang melakukan kesalahan," jawab Kanaya dengan menundukkan wajahnya, merasa tak nyaman ditatap begitu dalam oleh Yudha.

"Kamu sudah tahu jawabannya, kan?"

"Apa?" Kanaya kembali mengangkat wajahnya, tak mengerti maksud dari pertanyaan sang suami.

"Kalau kamu nggak benci aku karena kesalahan kakakku, kenapa aku harus benci papamu?" Jawaban Yudha menyiratkan, kalau dirinya pun berlapang dada atas perlakuan papa mertuanya, sama halnya dengan Kanaya yang tak memusuhinya karena perbuatan Yogi.

❤️❤️❤️

Bersambung ....

1
sunaryati jarum
Siapa yang mengatakan pak Yudha apes,itu salah besar.Padahal.malah untung .Tidak keluar biaya sendiri tanpa persiapan dan lamaran langsung menikah.Malah lebih dewasa perempuan itu yang laki dimanja,lho.😉😉
ρυтяσ kang'typo✨
🧐🧐apa Ayumi dengar mereka gosip yaaaa, jangan sampe dia baper donk🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
heh...ada kang ghibah😏😏😏

apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
ρυтяσ kang'typo✨
kenapa tadi u datang Yum kalo u pengen pergi secepat itu, bukan kah u juga penasaran dengan istri Yudha... sabar saja lah jangan terlalu terlihat kalo u itu kecewa banget, ingat jodoh rezeki maut g ada yang tau😇☺
Septi
eh eh eh.. nggak usah komen jelek deh.. kalau nggak tau hubungan mereka kayak gimana
Septi
ya emang niatnya nggak PHP tapi kamu yang deketin.. tetep aja Ayumi mikirnya kamu PHP.. 🤭
sryharty
hey Lusy itu mulut di jaga yah,,kayanya kamu sama Naya aja mukanya masih mudaa. Naya,dan pasti cantikan Naya,,
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
Teh Fufah
klw ayumyum yg denger pasti masih menyimpan harapan
Teh Fufah
yeaaahhhh gosip nihhhh
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
coba Yudha denger mereka pada bergosip,pasti langsung di skakmat .biasa orang luar cuma denger ceritanya tapi gak tau gimana yang sebenarnya terjadi.
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
tapi Ayumi sudah terlanjur baper 😁
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
sekate Kate nih pak Yudha kalau ngomong.suka fitnes.belum amnesia kan kalau dia sendiri yang mengajukan diri menggantikan Yogi jadi mempelainya
Septi
sabar Yum. nanti pulang rumah puasin puasin nangis biar lega...
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
Septi
Langsung tepat sasaran 🤣
Septi
ya ampun candaannya lepas banget.. 😅
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ fjR𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ
Ayumi sudah berangan-angan terlalu jauh jadinya dia kecewa ketika yang diharapkan tidak jadi kenyataan.
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..
sryharty
berfikir positif aja yum yum,mungkin bukan jodoh kamu mas Yudha nya.
sryharty
jangan gitu yum,,kan mas yud2 pelum sempet katakan cinta sama kamu,baru mulai pedekate saja
nuraeinieni
kenapa harus sakit hati dan kecewa ayumi,lagi pula kan kamu dan yudha nggak pacaran,baru pedekate.
Teh Fufah
keren kamu nayaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!