NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Jejak Di Balik Kabut

Langkah kaki mereka terdengar berat menanjak melewati jalanan berkelok yang basah bekas hujan kemarin malam . Kabut tipis masih menyelimuti sela-sela pepohonan, membatasi jarak pandang mereka hanya beberapa meter ke depan. Setiap orang berjalan dengan mata tak henti memindai sekeliling, telinga menangkap setiap suara sekecil apa pun yang datang dari balik semak.

Tiba-tiba Rafli mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Semua langsung membeku di tempat, menahan napas. Dari kejauhan terdengar suara deru mesin yang samar, bercampur dengan geraman rendah yang tak asing lagi.

"Di depan sana ada pos penjagaan," bisik Rafli sambil menunjuk ke arah bangunan kayu yang mulai terlihat samar di balik kabut. "Dan sepertinya ada kendaraan yang masih utuh."

"Namun ada penjaga tak diundang yang menunggunya," tambah Danu pelan, tangannya sudah mencengkeram gagang golok besar yang ia temukan kemarin. "Aldo, Imran, kalian amati jumlah mereka dari sela-sela semak. Kita tidak bisa ambil risiko menyerbu sembarangan."

Beberapa saat kemudian Aldo kembali merangkak mendekat, napasnya sedikit memburu. "Ada sekitar lima ekor. Mereka mengelilingi dua mobil pick-up yang terparkir di sana. Mesinnya sepertinya masih bagus, tapi bannya... terlihat masih utuh."

Danu mengerutkan kening, memutar rencana dalam kepalanya dengan cepat. "Kita tidak punya cukup peluru untuk melibas mereka semua. Rafli, bisakah kau melumpuhkan mereka satu per satu tanpa menimbulkan suara keras?"

Rafli mengangguk sambil merentangkan tali busurnya. "Bisa. Kalian cukup alihkan perhatian mereka sedikit saja."

Mereka pun menyusun strategi dengan cepat. Jodie melempar batu kecil ke arah semak yang agak jauh, membuat para mayat hidup itu menoleh serentak ke sumber suara. Saat mereka lengah, Rafli segera menarik busurnya dengan ketajaman yang tak tergoyahkan.

Wusss...

Satu anak panah melesat tepat menembus pelipis salah satu makhluk itu, membuatnya jatuh diam tanpa suara. Satu demi satu mereka roboh, hingga tersisa satu ekor yang tersadar dan mulai mengamuk. Tanpa menunggu perintah, Simon melompat maju dengan sebilah kayu runcing, menusuknya tepat ke tengkuk sebelum makhluk itu sempat mengeluarkan geraman yang memanggil kawanan lain.

Suasana kembali hening. Mereka perlahan mendekati pos penjagaan itu, memastikan benar-benar aman. Danu memeriksa mesin mobil pertama, memutar kunci kontak yang masih tertinggal di sana.

Bram... Bram... Mesin menyala dengan halus.

"Syukurlah," desis Mega lega. "Kita tak perlu lagi berjalan kaki sejauh ini."

Namun Danu tak langsung lega. Ia menatap jalanan yang masih berkelok ke depan dengan tatapan tajam. "Masih panjang perjalanan ini. Dan ingat, suara mesin akan memancing mereka datang dari segala arah. Kita harus bergerak cepat, tapi tetap waspada."

Mereka segera membagi diri ke dalam dua mobil, membagi bekal dan senjata dengan seimbang. Rafli mengambil alih kemudi mobil pertama bersama Danu, sementara Aldo mengemudikan mobil kedua yang membawa sisa rombongan. Perlahan kendaraan itu melaju membelah kabut, menembus jalanan Puncak yang kini sunyi dan mengerikan.

Perjalanan kini berlanjut dengan dua mobil pick-up yang melaju membelah jalanan berkelok. Jarak tempuh menuju Bandung masih terasa jauh, namun setidaknya kini mereka tak harus menguras tenaga dengan berjalan kaki. Setiap putaran roda membawa harapan baru—bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di tempat yang dianggap aman oleh Aldo.

Jalan raya yang biasanya ramai itu kini sunyi senyap, seakan dunia telah mati. Di sepanjang sisi jalan, mayat-mayat hidup berkeliaran tanpa tujuan, sebagian tergeletak diam, sebagian lagi berjalan tertatih. Satu per satu kepala mereka menoleh serentak saat mendengar deru mesin, mata kosong mereka menatap tajam ke arah kendaraan yang melintas kencang. Tangan-tangan kurus terulur mencoba meraih, namun kecepatan mobil membuat mereka tertinggal jauh di belakang.

Mereka melaju tanpa henti, memacu kendaraan secepat mungkin namun tetap menjaga kewaspadaan. Tak ada yang berani menurunkan kaca jendela sedikit pun. Hati mereka berdebar kencang, namun keyakinan perlahan tumbuh di dada—dengan kendaraan ini, mereka bisa menembus gerombolan itu dengan lebih cepat, dan harapan untuk sampai selamat di kediaman Aldo semakin dekat.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!