Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Hang, besok pagi si Mia gajian. Gue mau pulang dulu. Mau menjalankan rencana yang udah kita susun bulan lalu."
"Oke, Do. Semoga sukses. Ingat nasihat gue... minta maaf yang tulus ke dia. Kalau perlu, lo cium kakinya. Terus lo kasih asupan gizi. Nah, pas dia terlelap tidur... lo ambil tuh kartu ATM. Siangnya, lo bisa langsung kuras. Terus kita pesta miras!" seru Ohang penuh ambisi.
"Hahaha! Siap, Hang. Gue bakal ingat nasihat lo itu. Gue pulang dulu ya."
"Iya!"
Edo keluar dari rumah Ohang, naik ke atas motornya, menyeringai di balik helm. "Mia... tunggu saja. Malam ini, lo bakal kena batunya." Ia menarik gas, dan motor kawasaki ninja berwarna hijau muda itu pun melesat dari gang tempat rumah Ohang berada.
________
"Mia, gimana si Edo, dia masih belum ada kabar juga?"
Mia menghentikan kunyahannya dan melirik Neneng yang duduk di sebelahnya. "Belum, Teh."
"Kamu nggak mencoba menghubunginya?" Neneng bertanya kembali seraya menusuk bakso di mangkuknya.
Mia menggeleng cepat. "Nggak ah. Kan kata Teteh juga buat apa menghubungi orang yang sudah tidak peduli pada kita. Buang-buang waktu, tenaga dan nambah sakit hati."
Neneng mengacungkan jempol. "Cakep! Nah, gitu dong. Jangan mengemis-ngemis cinta terus. Sekali-sekali, biarkan si Edo yang mengemis cinta dari kamu. Biarkan dia meminta maaf. Jangan kayak yang sudah-sudah. Dia yang buat salah, tapi kamu yang selalu minta maaf duluan," cerocos Neneng, nada suaranya terdengar kesal.
"Hehe..." Mia menyengir. "Iya, Teh. Sekarang aku lagi belajar sedikit demi sedikit melupakan dia."
"Bagus." Sekali lagi, Neneng mengacungkan jempolnya. "Oh iya, Mi. Besok kan hari Sabtu, pas banget kita gajian. Gimana kalau hari minggunya kita jalan-jalan?" ajaknya menaik-turunkan alis.
Mia mengunyah cepat baksonya, menelannya dan menanggapi ajakan Neneng. "Jalan-jalan ke mana, Teh?"
"Ke TMII," jawab Neneng cepat.
Mata Mia membesar. "Ke Jakarta, serius, Teh?" Suara Mia keluar agak meninggi.
"Iya, mau, nggak?"
"Hm, naik apa ke sananya, Teh?"
"Naik kereta api supaya murah, mau?"
Mia menggigit bibir bawahnya, "Mm... aku belum bisa memutuskan sekarang, Teh. Mau lihat dulu, gajian bulan ini dapat berapa. Takut nggak cukup buat bekal sampai bulan depan," putus Mia akhirnya.
Neneng menipiskan bibirnya. "Pasti gede, Mia. Kan bulan ini, kita nyaris lembur setiap hari. Buktinya saat ini pun kita lagi lembur nih bagai kuda." Tertawa Neneng di akhir perkataannya.
"Hehe... iya, Teh." Mia mengangguk sambil terkekeh juga.
"Ya sudah, kalau kamu mau ikut, sms aja, ya?" titah Neneng.
"Iya, Teh."
Dua wanita itu fokus memakan bakso masing-masing, mempercepat kunyahannya karena waktu istirahat menuju lembur malam itu sudah hampir habis. Mereka juga belum melaksanakan salat magrib.
_____
Di tengah perjalanan pulangnya, ponsel di saku celana Edo berdering. Lelaki itu menepikan motornya sejenak. Merogoh ponsel dari saku celana, "Eh, Yayang Bela nelepon." Wajah masamnya seketika berubah sumringah. Ia gegas menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, Sayang, ada apa?"
Suara Bela yang manja menyahut. "Aa... aku lagi pengen banget makan bakso. Beliin dong, terus anterin. Nanti aku tunggu di depan gang."
"Oke, Sayang. Aa beliin sekarang. Mau dicampur atau baksonya aja?"
"Baksonya aja. Tapi mau yang besar, ya. Pedas banget, jangan pakai seledri," pinta Bela manja.
"Iya, Sayang. Siap."
"Oke, aku tunggu."
Edo menurunkan ponselnya dari telinga dan memasukan kembali ke saku jaket. Ia menghidupkan motornya lagi, "Harus putar balik dong gue," monolognya. "Tapi demi Yayang Bela, apa pun akan gua lakukan."
Tak butuh waktu lama, Edo sudah membeli bakso pesanan Bela dan kini sedang menuju ke gang di mana Bela ternyata sudah menunggunya.
"Aa...!" Bela menjerit senang sambil melambaikan tangan.
Motor Edo berhenti tepat di depan Bela. Ia membuka helm dan memberikan kantong bakso yang dikaitkan di setang kepada kekasih gelapnya itu. "Nih, sesuai pesanan."
"Makasih, Aa-ku." Bela mengambil bakso itu dan memeluk Edo. Melabuhkan ciuman di pipi lelaki itu.
"Ciumnya jangan cuma di pipi dong, Yang. Aa mau di bibir juga," bujuknya sambil memanyunkan bibir.
"Ihhhh..." Bela merengek manja. "Nggak ah, nanti ada orang lewat."
"Yah..." Edo mendesah. Ia memasang wajah kecewa. "Tega kamu sama Aa. Padahal Aa kangen banget sama bibir lembutmu itu," rengeknya melobi.
Bela menggigit bibirnya, pipinya merona. "Ya udah, aku bakal cium bibir Aa. Tapi jangan di sini."
Mata Edo berbinar terang bak lampu jalan. "Di mana?" bisiknya memajukan wajah.
Bela melarikan pandangan ke sekitar, tatapannya tertuju pada rumah terbengkalai tak jauh dari sana. "Di situ, A," tunjuknya.
Edo mengikuti telunjuk Bela, bibirnya menyeringai senang. "Oke. Aa duluan ke sana, nanti kamu nyusul, ya?"
Bela mengangguk.
Edo menghidupkan kembali motornya, melajukan ke belakang rumah terbengkalai itu.
Beberapa menit kemudian, Bela berlari menyusul.
"Sini, Yang!" Edo merentangkan tangan, dan Bela langsung masuk ke pelukan itu. "Yang, Aa kayaknya nggak hanya mau ciuman, tapi mau lebih..."
Tanpa berpikir panjang Bela mengangguk.
"Kita lakukan di sini sebentar, ya?" Rayuan maut Edo lontarkan dengan meyakinkan.
"Iya." Bela menjawab cepat dan lekas meraup bibir Edo.
Dalam pagutan itu, Edo menyeringai dalam hati, "Yes, akhirnya aku bisa mengerjai Bela terlebih dulu sebelum nanti malam mengerjai Mia. Hahaha..."
Dua puluh menit kemudian, pertemuan di alam terbuka itu usai. Edo mengancingkan celana jeans-nya seraya membenarkan kaus dan rambutnya yang berantakan.
Bela juga melakukan hal yang sama. Merapikan rambut dan pakaiannya.
"Makasih ya, Sayang." Edo memeluk dan mengecup bibir Bela.
"Iya, Aa. Tapi baksoku keburu dingin deh." Bela sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Hihi... tapi perutmu jadi hangat, kan?" goda Edo menarik ujung hidung Bela.
"Aa..." Bela mencubit pinggang Edo, "Perutku memang panas, tapi aku tetep pengen bakso. Dan nggak mau yang itu," tunjuknya pada keresek bakso tadi yang sekarang tergolek di tanah.
"Ya sudah, Aa ganti. Yuk kita makan bakso yang di ujung jalan sana," ajak Edo membujuk.
Wajah Bela yang tadi merengut sontak berbinar. "Ayo!" serunya bersemangat.
Mereka berdua pun pergi dari belakang rumah terbengkalai itu.
______
Setelah mengantar Bela pulang ke rumah, Edo benar-benar menjalankan motornya menuju kontrakan. Tak sampai satu jam, Edo pun tiba di tempat yang sudah tiga minggu ini ia tinggalkan. "Sepi banget sih." Edo turun dari motornya, berjalan pelan meninggalkan garasi menuju kontrakannya.
Ia memasukan kunci ke lubang pintu dan pintu pun terbuka. "Si Mia kayaknya belum pulang?" gumamnya seraya berjalan menuju kamar. "Hm, wangi banget nih kamar. Nggak seperti biasanya saat gue masih sering pulang ke sini." Edo mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. "Kelihatan rapi lagi." Terkekeh Edo. "Gue jadi ngantuk." Ia menguap. "Sambil nunggu si Mia pulang, gue mau tidur dulu ah." Tubuh lelaki itu merebah di atas kasur setelah melepas jaket dan menyimpan ponsel ke meja kecil di dekat kasur. Mata Edo terasa berat dan akhirnya terpejam.
Sekitar pukul sembilan malam, Mia akhirnya tiba di depan kontrakan setelah menyelesaikan lembur. Langkahnya terasa berat. Tubuhnya benar-benar lelah setelah seharian bekerja, ditambah lembur hingga malam. Ia hanya ingin segera mandi, salat, lalu tidur agar besok bisa menjalani hari dengan lebih ringan.
Namun baru beberapa langkah menuju pintu, langkah Mia mendadak terhenti. Sepasang sepatu laki-laki teronggok di teras. Mia menatap benda itu dengan kening berkerut. Ia mengenali sepatu tersebut. "Sepatu Edo..." Jantungnya seketika berdebar tidak beraturan.
"Edo pulang." Bukannya merasa senang, dada Mia justru dipenuhi kecemasan. Ingatannya langsung kembali pada pertengkaran terakhir mereka. Setiap kali Edo pulang setelah lama menghilang, hampir selalu ada masalah yang berujung pada pertengkaran.
Mia mengembuskan napas panjang. "Tenang, Mia. Jangan berpikir macam-macam." Ia berusaha menenangkan diri. Diturunkannya gagang pintu dengan pelan. "Eh, nggak dikunci." Mia masuk ke dalam kontrakan. Lampu ruang tengah sudah menyala. Namun suasana begitu sunyi.
Pandangan Mia mengedar. "Edo?" Tidak ada jawaban. Ia melangkah perlahan menuju kamar. Semakin dekat, langkahnya semakin hati-hati. Tirai yang menjadi pembatas kamar tampak tertutup. Mia berhenti sejenak. Tangannya terulur untuk menyingkap tirai. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Edo sedang tengkurap di atas kasur. Lelaki itu sudah tertidur pulas. Bahkan suara dengkurannya terdengar cukup jelas.
Mia hanya berdiri di ambang kamar. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus merasa apa.
Ada rasa jijik.
Ada kemarahan.
Ada kekecewaan.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, masih tersisa sedikit rasa cinta kepada lelaki yang sudah menjadi suaminya selama tiga tahun ini.
Mia menggigit bibir bawahnya. "Kamu selalu saja seperti ini, Do." Senyum getir muncul di wajahnya. "Pas aku mau gajian, kamu pasti pulang." Ia menggeleng pelan. "Seolah-olah aku ini cuma dompet berjalan buat kamu." Mia menatap Edo yang terlelap. "Tapi maaf. Kali ini aku nggak akan luluh, Do. Aku sudah jengah menghadapi sikapmu." Mia hendak berbalik. Namun ponsel Edo yang berada di atas meja kecil di samping kasur bergetar. Spontan Mia menoleh. Layar ponsel iPhone 5S tersebut menyala. Sebuah notifikasi BBM muncul.
Nama pengirimnya membuat langkah Mia terhenti sekaligus mengerutkan kening. "Bela?" Ia menatap Edo. Ponsel suaminya itu kembali bergetar. Matanya menyipit membaca notifikasi yang kembali muncul di layar. Ia mendadak teringat pada foto dan video mesra Edo yang ditunjukan Tarmi. Tanpa membuang waktu, Mia segera mengambil ponsel Edo. Ia mencoba membuka ponsel tersebut. Kata sandi dimasukkan. "Ah, salah," kesahnya panik. Mia mencoba sekali lagi. Masih salah. Ia hampir menyerah.
Namun beberapa detik kemudian, ia mengingat tanggal lahir Edo. Mia mencobanya. Layar terbuka. Mata Mia membesar. "Berhasil..." Tangannya makin gemetar.
Ia membuka aplikasi BBM. Nama Bela dan DP gadis itu langsung terlihat dalam daftar percakapan terbaru. "Ya Tuhan... ini wanita yang ada di foto dan video itu." Dada Mia makin sesak. Dengan tangan yang tak bisa diam saking gemetarnya, Mia membuka percakapan itu satu per satu. Dan makin dibuka, hati Mia makin porak-poranda. Bukan hanya chat mesra, tapi ada juga obrolan mesum yang meruntuhkan segala rasa yang selama ini ia pertahankan. "Edo..." Mia menutup mulut dengan tangan. "Jadi... selama ini kamu sudah berzina dengan wanita ini?" Air matanya mulai menggenang. "Tega kamu, Do. Tega..." Suara Mia melirih nyaris tak terdengar.
Karena sudah telanjur runtuh, Mia beralih ke galeri, mencari bukti lain selain percakapan menyakitkan itu. Dan di galeri, ia menemukan banyak foto-foto mesra Edo dan Bela. Bahkan ada yang tengah berciuman.
"Astagfirullah..." Mia memejamkan mata, menghalau air matanya yang ingin tumpah. Jarinya berselancar lagi, berpindah pada salah satu file yang diberi nama 'secret'. Mia menekannya dengan cepat, dan seketika itu juga... dunia Mia seolah runtuh dalam sekejap mata.
Tatapannya berembun menyaksikan video hubungan badan Edo dengan seorang wanita, tapi bukan Bela. Rasa mual menghantam perut Mia. Ditambah amarah yang selama ini selalu ia pendam akhirnya meledak. Mia melempar ponsel itu tepat ke punggung Edo seraya berteriak dan menjambak rambut suaminya. "Bangun kau, brengsek! Dasar lelaki menjijikkan!"
Edo tersentak, ia membalik badan secara spontan. Matanya terbuka lebar ketika mendapati Mia berdiri di sampingnya dengan wajah merah padam dan air mata yang mengalir deras. "M-Mia?" suaranya terbata.
Mia mengambil dan mengangkat ponsel yang tadi dilemparkannya ke punggung Edo. "Dasar tidak punya hati!" bentaknya. "Kau tega merekam adegan zinamu dengan perempuan lain! Setan kau, Edo! Anjing!"
Wajah Edo seketika memucat. Matanya membola menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan video panasnya dengan Salma. "Kembalikan HP-ku!" Edo berusaha merebut HP-nya dari tangan Mia, tapi Mia dengan cepat melemparkan HP Iphone 5S itu ke lantai. "HP-KU!" Teriakan Edo melengking, seketika wajahnya pucat pasi, lalu berubah merah padam menahan amarah. Ia menjatuhkan diri ke lantai, memungut benda itu dengan tangan gemetar. Layarnya sudah retak hebat, bodi ponselnya penyok, mati total. Matanya melotot tajam menatap Mia. "Setan kau, Mia!" Edo meloncat berdiri, langsung menerjang ke arah istrinya.
Mia sigap melangkah mundur, tubuhnya menghindar tepat waktu. Wanita berkerudung itu berusaha berlari keluar kamar, tapi ujung bajunya keburu dicengkeram kuat oleh Edo. Tarikan kasar itu membuat tubuhnya oleng dan terjungkal jatuh ke atas kasur.
Edo seketika menginjak paha Mia dengan kekuatan penuh. "Lo mau ke mana hah?!"
"Aaaahh!! Sakit! Minggir, setan!" Mia menjerit nyaring, rasa nyeri menyembur dari pahanya. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tangan dan mencakar lengan suaminya dengan sekuat tenaga.
"Anjing! Berani lo melukai gue!" Edo meraung kesakitan, goresan merah langsung terlihat di kulitnya. Ia tidak membiarkan Mia tenang, tangan kirinya mencengkeram kerudung Mia kuat-kuat hingga terlepas, menarik kepala wanita itu ke belakang. Tangan kanannya mendaratkan tamparan keras ke pipi Mia. "Dasar wanita tidak tahu diri! Berani sekali kau hancurkan barang gue!"
Mia membalas dengan mendorong dada Edo, lalu kukunya menyambar wajah lelaki itu. Satu goresan panjang melintas di pipi kiri Edo. Darah segar langsung menetes. "Kau yang tidak tahu malu! Brengsek! Berzina dengan banyak wanita! Dasar lelaki menjijikan!" Mia berteriak di sela isak tangisnya, ia menendang perut Edo dengan kedua kakinya.
Namun tenaga mereka terlalu jauh beda. Edo semakin menggila. Ia menendang rusuk Mia berkali-kali, menjambak rambutnya hingga kepala Mia terasa berat, menamparnya bergantian kiri dan kanan. Wajah Mia memerah, bengkak, air mata bercampur keringat menetes deras. "Lepaskan aku, anjing..." Suara Mia mulai melemah.
Edo tidak peduli. Dengan gerakan cepat, ia menindih tubuh Mia. Kedua tangannya langsung melingkar kuat di leher istrinya. "Lo yang memulai semuanya, Mia!" bentaknya dengan mata melotot liar. "Lo yang berani buka HP gue! Lo juga yang berani lempar barang berharga gue!"
Napas Mia tercekat. Kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Edo, tetapi tenaga lelaki itu jauh lebih kuat. "Do..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Lepas... a-aku... nggak bisa... bernapas..." Cengkeraman Edo justru semakin kuat. Pandangan Mia mulai berkunang-kunang. Suara di sekelilingnya terdengar semakin samar. Tenaganya perlahan habis, sementara tubuhnya mulai kehilangan kekuatan untuk melawan. "Do..." Hanya satu kata itu yang berhasil keluar sebelum tubuh Mia perlahan melemas.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪