Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI BERGANTI HARI DI RANAH MINANG
Hari berganti hari, mentari pagi selalu menyapa dengan lembutnya di sebuah kampung kecil yang terletak di lereng perbukitan Minangkabau. Kabut tipis masih menggantung di pucuk-pucuk kelapa, dan suara kokok ayam bersahutan dengan gemericik air dari pancuran bambu di halaman rumah gadang. Di rumah itu, sebuah kehidupan sederhana namun penuh kehangatan tengah tumbuh.
Di dalam bilik yang beralas tikar pandan, Bayi Arya Arsyad Sikumbang tumbuh menjadi balita yang lucu. Jika dulu ia hanya bisa menangis dan tertawa dalam gendongan ibunya, kini langkah kecilnya mulai menghentak-hentak lantai papan. Pipinya yang bulat kemerahan, matanya yang bulat besar, dan tawanya yang renyah membuat siapa pun yang melihatnya tak kuasa untuk tidak gemas.
Arya adalah anak bungsu. Darah Sikumbang mengalir kental di tubuhnya, darah perantau yang pemberani namun hatinya tetap terpaut di kampung halaman.
Ia memiliki dua orang kakak laki-laki kandung, Andi Rajo Alam Sikumbang dan Arlan Rasyad Sikumbang. Keduanya adalah murid Sekolah Dasar yang setiap harinya berjalan kaki beberapa kilometer melewati pematang sawah dan kebun singkong untuk menuntut ilmu. Seragam mereka yang putih dan merah sering kali berdebu, namun semangat di mata mereka tak pernah pudar.
Setiap pulang sekolah, ada satu ritual yang tak pernah terlewatkan oleh Andi dan Arlan. Mereka akan melemparkan tas kain mereka yang sudah lusuh ke sudut rumah, lalu dengan tergesa-gesa menghampiri adik kecil mereka yang sedang duduk di atas tikar.
"Adiak ketek, Uda pulang!" teriak Andi sambil mencubit lembut pipi Arya.
Arlan tak kalah usil. Ia akan menyodorkan jari telunjuknya untuk digenggam oleh Arya, lalu menariknya perlahan hingga Arya yang masih sempoyongan itu tertawa kejang-kejang. Kadang mereka mengangkat Arya tinggi-tinggi hingga hampir menyentuh atap rumbia, membuat Arya berteriak antara takut dan senang. Tawa ketiga bersaudara itu memenuhi rumah gadang.
Namun, pemandangan itu selalu membuat sang ayah dan ibu mengernyitkan dahi.
"Andi, Arlan! Jan baralah, Nak. Adiak tu masih ketek, tulangnyo masih lunak. Kalau jatuah, baa kok?(Andi, Arlan! Jangan begitu, Nak. Adik masih kecil, tulangnya masih lunak. Kalau jatuh bagaimana)?" tegur sang ayah dengan suara berat namun penuh kasih.
Sang ibu, seorang perempuan Minang yang lembut tutur katanya namun tegas pendiriannya, segera menghampiri dan mengambil Arya dari gendongan kakak-kakaknya. "Angkuang tu masih ketek juo. Tanago kalian alun tau ukuran. Sayang samo adiak tu buliah, tapi jan digaduah kasar-kasar. Elok dieluih kapalo nyo, dicium kening nyo. Itu baru namonyo sayang.(Kalian itu masih kecil juga. Tenago kalian belum tau ukuran. Sayang adik itu boleh, tapi jangan digoda kasar-kasar. Elus saja kepalanya, cium keningnya. Itu baru sayang)," pesan sang ibu sambil menggendong Arya dan mendekapnya erat.
Andi dan Arlan hanya menunduk, namun senyum nakal masih tersisa di sudut bibir mereka. Mereka mengangguk patuh, meski di dalam hati mereka, rasa gemas kepada adik bungsunya itu tak pernah bisa mereka bendung.
Kehidupan di kampung itu tidak pernah sepi. Rumah gadang mereka dikelilingi oleh rumah-rumah kaum kerabat. Ikatan kekeluargaan di ranah Minang memang seerat itu. Anak-anak kecil dari berbagai rumah sering berkumpul di halaman yang luas, bermain bersama hingga suara riuh mereka terdengar sampai ke surau.
Siang itu, saat matahari tepat di atas ubun-ubun, terdengarlah suara-suara kecil yang memanggil-manggil dari halaman.
"Uda Andi! Uda Arlan! Bamain, yuk(Main yuk)!"
Suara itu adalah suara dari rombongan keponakan dan sepupu mereka. Mereka adalah anak-anak dari kakak dan adik sang ayah dan ibu. Ada Ibrahim Sulaiman Chaniago, Darlin Aminudin Chaniago, dan Zainal Arifin Tanjuang. Mereka sebaya, seumuran sekolah dasar, dan persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka belajar berjalan.
Ibrahim Sulaiman Chaniago adalah sosok yang paling mencolok di antara mereka. Anaknya berbadan agak tambun, kulitnya sawo matang terbakar matahari karena ia hampir setiap hari menggembala kerbau milik datuknya di padang rumput dekat sungai.
Yang membuat semua orang mengingat Ibrahim adalah kebiasaannya yang khas. Ia selalu menaiki kerbau kesayangannya, si Baluang, dengan hidung yang tak pernah lepas dari ingusan. Ingus itu, karena ia sering bermain di sawah dan lupa mencuci muka, selalu tampak mengkilat di bawah hidungnya. Naik turun seiring napasnya.
Melihat tingkah Ibrahim itu, Bibi Siti Aminah Sikumbang, adik perempuan dari ayah Andi dan Arlan yang terkenal cerewet namun baik hati, tak pernah bisa menahan tawanya. Bibi Siti Aminah sedang duduk di beranda, sambil menggendong Bayi Arya yang menatap polos ke arah kerbau.
Dengan logat Minang yang kental dan lucu, Bibi Siti Aminah berseru, "Ibrahim! Oi, Ibrahim! Pande Sikek, cubo caliak iduang ang tu! Idung ang sarupo angko sabaleh, naiak turun, naiak turun! Alah, lap dulu inguih ang tu, Nak!"
Pande Sikek dalam bahasa Minang berarti pintar sekali, namun diucapkan dengan nada menggoda. Bibi Siti Aminah mengatakan bahwa hidung Ibrahim seperti angka sebelas, naik turun.
Mendengar godaan bibinya itu, anak-anak lain pun tertawa terbahak-bahak. Andi dan Arlan sampai memegangi perut mereka.
Ibrahim Sulaiman Chaniago yang digoda hanya tersenyum malu-malu. Wajahnya memerah, namun ia tidak marah. Ia sudah terbiasa digoda seperti itu. Dengan polosnya, ia hanya mengusap ingusnya dengan lengan baju kaosnya yang sudah sedikit kotor oleh lumpur sawah, lalu melanjutkan tawanya. Tawanya lepas, menunjukkan giginya yang sedikit ompong, ke arah bibinya yang sedang menggendong adik kecil sepupu kesayangannya, Arya.
Arya yang digendong Bibi Siti Aminah ikut tertawa, meski ia belum mengerti apa yang sedang ditertawakan. Ia hanya senang melihat keramaian dan mendengar suara tawa orang-orang yang menyayanginya. Tangannya yang kecil meraih-raih ke arah kerbau, seolah ingin ikut naik.
Melihat adiknya sudah aman dalam gendongan bibinya, Andi Rajo Alam Sikumbang dan Arlan Rasyad Sikumbang pun merasa sudah waktunya untuk pamit.
Mereka mendekati ibu mereka yang sedang menumbuk cabai di dapur. Dengan penuh hormat, sesuai dengan adat yang diajarkan, kedua anak itu bersalaman dan mencium punggung tangan sang ibu. Tangan ibu mereka yang halus namun kuat karena kerja keras itu mereka cium dengan takzim.
"“Bu, kami izin bamain dulu samo Ibrahim jo kawan-kawan di lapangan, yo, Bu.(Bu, kami izin main dulu sama Ibrahim dan kawan-kawan di lapangan ya, Bu,)" kata Andi.
Sang ibu berhenti menumbuk, mengusap tangannya ke kain sarungnya, lalu menatap kedua anak lelakinya dengan tatapan lembut namun tegas.
"“Iyo, Nak. Buliah bamain. Tapi mandeh barpesan, jan sampai pulang sabalun Maghrib tibo. Ingat, kalian harus mangaji di surau. Pak Haji Mudo alah manunggu. Jan dibuek beliau manunggu lamo. Anak laki-laki Minang harus kuat agamonyo.(Baik, Nak. Boleh bermain. Tapi ibu berpesan, jangan sampai pulang sebelum Maghrib tiba. Ingat, kalian harus mengaji di surau. Pak Haji Mudo sudah menunggu. Jangan buat beliau menunggu lama. Anak laki-laki Minang harus kuat agamanya,)" pesan sang ibu.
Pesan itu bukan sekadar larangan, tapi sebuah didikan. Di Minangkabau, surau adalah sekolah kehidupan kedua setelah rumah. Di sanalah anak laki-laki ditempa adat dan agama.
Kedua anaknya serentak menjawab, “Iyo, Mandeh(Iya, Bu)," dengan suara lantang dan jelas.
Setelah mendapat izin, mereka pun berlari keluar, bergabung dengan rombongan sepupu-sepupunya. Darlin Aminudin Chaniago yang paling gesit langsung memimpin lari, diikuti Zainal Arifin Tanjuang yang membawa bola plastik yang sudah agak kempes.
Mereka berlari di pematang sawah yang baru saja dipanen. Jerami-jerami kering beterbangan tertiup angin. Suara tawa mereka memecah keheningan senja yang mulai datang. Ibrahim dengan setia berjalan di belakang, sesekali ia menoleh ke belakang memastikan kerbaunya, si Baluang, tidak pergi terlalu jauh.
Permainan mereka sederhana saja. Tidak ada gawai, tidak ada permainan mahal. Mereka bermain kejar-kejaran, bermain kelereng dengan biji karet, dan bermain bola di lapangan tanah yang berdebu. Kaki-kaki telanjang mereka yang kapalan tak pernah merasakan sakit menginjak kerikil. Justru di situlah kebahagiaan mereka.
Andi sebagai yang paling tua di antara mereka, sering bertindak sebagai pemimpin. "Kito main benteng-bentengan sajo! Darlin, kau jago di batang mangga tu. Ibrahim, kau di dakek batu gadang tu!(Kita main benteng-bentengan saja! Darlin, kau jaga di pohon mangga itu. Ibrahim, kau di dekat batu besar!)" perintahnya.
Semua mengikuti. Teriakan, strategi, dan tawa kembali pecah. Keringat membasahi baju mereka, debu menempel di kaki dan wajah mereka, namun tak ada satu pun yang mengeluh.
Waktu terasa berjalan begitu cepat ketika bermain. Langit yang tadinya biru cerah, perlahan berubah menjadi jingga keemasan. Matahari mulai turun perlahan di balik Bukit Barisan yang megah. Angin sore mulai berhembus lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan masakan dari dapur-dapur rumah gadang.
Dari kejauhan, terdengar suara azan Maghrib berkumandang dari surau kecil yang terbuat dari kayu. Suara muadzin yang merdu itu adalah tanda bagi semua anak-anak untuk menghentikan permainannya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Mendengar azan itu, Andi Rajo Alam Sikumbang langsung menghentikan larinya. Ia menepuk pundak Arlan.
"Arlan, alah masuk Maghrib. Kito harus pulang, kito harus mangaji. Ingat pesan Mandeh!(Arlan, sudah Maghrib. Kita harus pulang, kita harus mengaji. Ingat pesan ibu)," kata Andi dengan napas terengah-engah.
Arlan mengangguk. Ibrahim, Darlin, dan Zainal pun ikut berhenti. Meski mereka masih ingin bermain, mereka tahu bahwa panggilan dari surau adalah panggilan yang tidak boleh ditunda. Itu adalah kewajiban.
Dengan langkah tergesa-gesa, mereka berlari pulang. Melewati pematang sawah yang sama, namun kali ini dengan tujuan yang berbeda. Di rumah, sang ibu sudah menyiapkan kain sarung dan peci kecil untuk Andi dan Arlan.
"“Alhamdulillah, kalian datang pas pulo waktunyo. Capek ambiak aia wudu di pancuran, sudah tu barangkek ka surau. Jan lupo dibao kitab mangaji kalian.(Alhamdulillah, kalian tepat waktu. Cepat ambil air wudhu di pancuran, lalu berangkat ke surau. Jangan lupa bawa kitab mengaji kalian)," kata sang ibu sambil tersenyum lega melihat anak-anaknya menepati janji.
Andi dan Arlan segera mencuci kaki mereka yang penuh debu di pancuran bambu. Airnya yang dingin dan segar membuat mereka kembali segar.
Sementara itu, di dalam rumah, Bayi Arya Arsyad Sikumbang yang kini sudah menjadi balita lucu itu sudah tertidur pulas di pangkuan Bibi Siti Aminah. Ia tertidur dengan senyum kecil di bibirnya, mungkin memimpikan tawa kakak-kakaknya. Di luar, lampu teplok di surau mulai dinyalakan satu per satu, menerangi jalan kecil menuju tempat menimba ilmu agama.
Hari itu pun ditutup dengan damai. Andi dan Arlan melangkah menuju surau dengan kitab di tangan, Ibrahim menuntun kerbaunya pulang ke kandang dengan hidung yang masih sesekali ia usap, dan sang ibu menatap kepergian anak-anaknya dengan doa yang tak pernah putus di bibirnya. Begitulah hari berganti hari di kampung itu, sebuah siklus kehidupan yang sederhana, penuh canda, penuh didikan, dan penuh cinta kasih keluarga besar Minangkabau yang tak akan pernah lekang oleh waktu.