NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Tiga Pria, Satu Tempat Tidur, dan Satu Gadis yang Ingin Bayar Tagihan

Raka melepaskan bibir Aira dengan enggan, tapi dahinya masih menempel. Dia menoleh pelan ke arah pintu. Reza berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap, di belakangnya Dr. Keenan yang baru datang untuk shift malam, memegang tablet dan terlihat… tidak senang.

Aira menghela napas panjang, masih terasa panas di bibir. “Raka cium saya. Saya tidak minta.”

Raka tersenyum miring, masih terlalu dekat. “Bohong. Kamu buka mulut.”

“Karena kaget.”

Reza melangkah masuk, rahangnya mengeras. “Menjauh dari pasien saya.”

“Kamu bukan dokternya,” balas Raka datar. “Dan saya kenal dia duluan dibanding kamu.”

Keenan menutup pintu pelan, matanya menatap bibir Aira yang masih agak basah dan kemerahan. “Secara medis, pasien dengan fraktur iga tidak boleh melakukan aktivitas yang menaikkan detak jantung terlalu tinggi. Termasuk… ini.”

Aira mengangkat alis. “Berarti ciuman masuk daftar pantangan? Kalau saya langgar, apakah saya kena denda?”

Ketiga pria itu menatapnya serentak. Keenan menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang sangat tidak profesional. “Aira. Tolong… jangan bicara soal denda sekarang.”

Raka masih duduk di tepi tempat tidur, satu tangan masih di pinggang Aira. “Saya tidak akan pergi. Kamu luka karena urusan yang melibatkan saya juga.”

Reza menyilangkan tangan. “Kamu justru bikin dia lebih bahaya. Organisasi itu sudah tahu wajahmu.”

“Saya tidak takut.”

“Kamu harus takut. Karena sekarang ada tiga pihak yang mengincar dia... organisasi lama, atasan saya, dan… dokter yang kelihatannya juga tidak netral.”

Keenan menatap Reza tajam. “Saya dokter. Saya hanya memastikan pasien sembuh.”

“Dengan cara memeriksa terlalu lama di area yang tidak perlu?”

Aira mengangkat tangan. “Sudah. Semua diam. Kepala saya pusing. Tolong biarkan saya istirahat dengan tenang malam ini.”

Dia menatap ketiga pria itu bergantian. Raka masih terlalu dekat, bau kulitnya masih menempel di hidung. Reza berdiri kaku dengan mata gelap. Keenan memegang tablet seolah itu satu-satunya yang menahannya agar tidak mendekat.

“Saya lapar lagi,” kata Aira akhirnya. “Raka, buka makanannya. Yang mahal itu. Nanti saya hitung berapa yang harus saya ganti.”

Raka tertawa pelan, akhirnya duduk lebih santai di tepi tempat tidur. “Tidak usah diganti. Anggap saja bayaran untuk ciuman barusan.”

Aira menatapnya datar. “Ciuman kamu tidak seberapa mahal. Makanan ini lebih mahal.”

Reza mengumpat pelan. Keenan memalingkan wajah, tapi telinganya sedikit memerah.

Aira menerima kotak makanan dari Raka dan mulai makan, seolah tidak ada tiga pria tegang di sekelilingnya. Tapi di dalam dadanya yang retak, ada rasa panas yang tidak bisa dia salurkan ke perhitungan uang. Dia mulai curiga... mungkin pria-pria ini… benar-benar lebih merepotkan daripada organisasi yang memburunya.

Raka masih duduk di tepi tempat tidur ketika Reza melangkah lebih dekat. Jarak di antara mereka hanya dua langkah. Bau minyak balap bercampur dengan bau sabun tentara yang menyengat.

“Lepaskan tanganmu dari dia,” kata Reza datar.

Raka tidak bergerak. Jemari kapalnya masih menempel di pinggang Aira, tepat di atas kain tipis baju rumah sakit. “Saya sudah lepas bibirnya. Tangan urusan belakangan.”

Keenan menutup pintu dengan suara klik yang terlalu pelan. “Kalau kalian berdua mau berkelahi, keluar. Pasien saya butuh stabilitas detak jantung, bukan testosterone tambahan.”

Aira menghela napas panjang. Rusuknya berdenyut. “Saya masih di sini, kalau kalian lupa. Dan saya lapar. Makanan Raka sudah dingin.”

Raka akhirnya mengangkat tangan, tapi tidak menjauh. Dia mengambil kotak makanan dan membukanya. Bau steak mahal langsung memenuhi kamar. “Makan dulu. Nanti kita urus dua pria bodoh ini.”

Aira menerima kotak itu. “Berapa harganya?”

“Tidak penting.”

“Penting. Saya harus tahu berapa yang harus saya ganti setelah ini.”

Reza menyilangkan tangan. “Kamu baru saja dicium paksa dan masih mikirin uang?”

“Karena ciuman tidak mengisi perut. Steak ini mengisi.” Aira menyuap sepotong daging. Matanya sedikit menyipit karena enak. “Mahal. Pasti di atas dua ratus ribu.”

Raka tersenyum miring. “Tiga ratus. Termasuk saus truffle.”

“Pemborosan.”

Keenan mendekat ke sisi lain tempat tidur. Dia memeriksa infus dengan gerakan profesional, tapi jari-jarinya sempat menyentuh pergelangan Aira lebih lama dari yang diperlukan. “Detak jantungmu naik. Saya perlu cek tekanan darah lagi.”

Aira mengulurkan lengan. “Cepat. Saya mau lanjut makan.”

Keenan memasang manset. Saat pompa mengencang, jemarinya yang lain menekan denyut nadi di pergelangan Aira. Terlalu hangat. “Kamu tegang.”

“Karena ada tiga orang berdiri di kamar saya seperti menunggu jatah.”

Reza tertawa pendek, tanpa humor. “Bukan jatah. Saya di sini karena tugas.”

“Tugas menjaga pasien yang baru dicium pembalap?” Keenan tidak menoleh, tapi suaranya tajam.

Raka mengangkat alis. “Dokter juga cemburu?”

“Saya dokter. Saya hanya memastikan tidak ada yang memperburuk kondisi pasien.”

Aira menatap manset yang masih mengencang. “Kalau kalian selesai saling menyenggol ego, bolehkah saya tahu kapan saya boleh pulang? Setiap malam di sini menambah tagihan.”

Keenan melepas manset. “Besok pagi, kalau hasil lab bagus. Tapi kamu harus rawat jalan. Tidak boleh sendirian.”

“Saya selalu sendirian.”

“Tidak lagi,” kata Raka dan Reza hampir bersamaan.

Aira mengunyah steak dengan tenang. “Kalau saya harus didampingi, siapa yang bayar ongkosnya? Karena saya tidak punya uang ekstra untuk gaji pengawal.”

Raka langsung angkat tangan. “Saya.”

Reza menatapnya. “Kamu orang sipil. Tidak punya wewenang.”

“Saya punya uang. Itu wewenang cukup.”

Keenan meletakkan tablet di meja. “Secara medis, saya yang paling paham kondisinya. Saya bisa atur jadwal kunjungan rumah.”

Aira menelan. “Jadi kalian bertiga mau bergantian jaga saya seperti bayi? Berapa biaya per shift?”

Ketiga pria itu terdiam. Raka akhirnya tertawa pelan. “Kamu ini… benar-benar tidak ada obatnya.”

“Ada. Namanya uang... yang banyak.”

Reza mendekat ke sisi tempat tidur. Dia menunduk, satu tangan bertumpu di samping kepala Aira. Bau sabun dan sedikit keringat masih menempel di kulitnya. “Aira. Dengarkan. Organisasi itu tidak akan berhenti. Mereka sudah tahu kamu di rumah sakit ini. Kalau kamu pulang sendirian, mereka akan datang lagi.”

Aira menatap matanya yang serius. “Kalau mereka datang, saya pukul lagi. Saya sudah biasa.”

“Kamu retak. Kali ini kamu tidak akan semudah itu.”

Raka menyela, “Makanya saya bawa kamu ke tempat saya. Aman. Ada security. Ada makanan. Ada saya.”

Keenan menoleh tajam. “Atau ke apartment saya di dekat rumah sakit. Lebih dekat untuk kontrol.”

Aira meletakkan kotak makanan. Dadanya naik-turun pelan. Setiap napas terasa seperti pisau kecil. “Kalian ribut soal tempat, sementara saya hanya ingin tahu... siapa yang akan bayar tagihan rumah sakit ini?”

Keenan menjawab lebih dulu. “Saya sudah bicara dengan administrasi. Sebagian besar ditanggung sebagai kasus trauma. Sisanya… bisa diatur.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!