Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Misi berhasil
Malam di Pelabuhan Selatan tak pernah benar-benar gelap. Lampu kuning crane menembus kabut tipis, memantul di air laut yang hitam bercampur solar. Bau garam dan amis ikan menyengat, bersahut-sahutan dengan deru mesin genset serta denting kontainer.
Dari atas atap Gudang 17, Altair memandang pelabuhan bak papan catur. Setiap kontainer adalah kotak, dan manusia hanyalah bidaknya. Angin laut mengacak rambut pendeknya.
"Shift ganti tiga menit lagi," bisik Albert lewat earpiece. "Pos timur lagi ganti rokok, pos barat sibuk main HP."
"Copy," jawab Altair tenang.
Ini bukan aksi pertamanya sebagai eksekutor, tapi yang pertama sejak ia kembali. Targetnya Hendra, otak di balik sistem Daniel, pria yang bisa meruntuhkan jaringan Raven Claw tanpa meletupkan satu peluru pun.
"Untuk Mama dan Papa," gumam Altair. "Siapa pun yang terlibat dengan Daniel, bakal mati. Daniel akan tahu siapa yang dia lawan, darah daging orang yang dia bunuh"
Pukul 23.00 tepat.
Sebuah SUV hitam dikawal dua motor tiba di Gudang 12. Hendra turun membawa tablet, didampingi dua pengawal bayangan. Ia berjalan menuju Gudang 17 untuk inspeksi, rute yang sudah dipelajari Altair selama dua hari.
"Jeda tiga menit dimulai," lapor Albert.
Altair bergerak cepat. Ia meluncur turun lewat pipa air, mendarat tanpa suara. Tanpa senjata api yang bising, ia cuma membawa jerat kabel kevlar dan suntikan. Main bersih, tanpa jejak.
Hendra masuk ke gudang sendirian. Pengawal satu berjaga di luar, sementara pengawal dua keliling area.
Celah terbuka. Dalam hitungan detik, Altair mendorong pintu yang tak terkunci lalu masuk.
Mata mereka beradu. Sebelum Hendra sempat berteriak, tangan Altair sudah membekap mulutnya. Dalam dua detik, kabel kevlar melilit leher Hendra di balik tumpukan kardus.
"Lo kenal gue?" bisik Altair dingin. "Gue Altair. Hari ini gue jemput nyawa lo."
Hendra memberontak, namun tenaganya tak sebanding. Dalam sekejap, perlawanan itu reda. Napasnya berhenti.
Altair dengan cepat mengatur posisi tubuh Hendra agar tampak seperti kena serangan jantung, mengambil tabletnya, lalu menyimpannya di tas. Selesai dalam 1 menit 47 detik.
Baru saja Altair memegang gagang pintu untuk keluar, suara berat terdengar dari luar.
"Pak Hendra? Inspeksinya selesai?"
Altair membeku. Daniel. Pria yang paling ia benci selama bertahun-tahun ada di luar. Rencana kacau.
Tanpa membuang waktu, Altair memanjat dinding dan memanjat masuk ke ventilasi sempit berukuran 40x40 cm tepat di dekat plafon. Ia berbaring menahan napas di tengah debu.
Pintu terbuka. Daniel masuk bersama seorang pengawal.
"Pak Hendra?" panggil Daniel curiga.
Klik.
Lampu darurat menyala merah temaram. Daniel mendekati jasad Hendra, mengecek nadinya. "Serangan jantung. Dia punya riwayat?"
Pengawal mengangguk. "Harus kita bawa ke RS, Bos."
Mata Daniel menyapu sekeliling, lalu mendongak. "Periksa semua CCTV. Dan periksa ventilasi."
Darah Altair berdesir. Sorot senter pengawal bergerak ke atas, menyapu plafon hanya berjarak 10 cm dari wajahnya. Altair tak berkedip, menyatu dengan kegelapan.
"Nggak ada apa-apa, Bos," lapor pengawal.
Daniel menatap plafon beberapa detik lagi sebelum berbalik. "Bawa mayatnya."
Begitu mereka pergi, Altair baru bisa bernapas lega. Dadanya sesak, peluh dingin membasahi punggung.
Ia turun dan langsung menuju pintu belakang, di mana Albert sudah menunggu di atas motor.
"Lama banget. Gue kira lo ketahuan," bisik Albert.
"Hampir. Daniel datang," balas Altair serak sambil naik ke boncengan.
Motor melaju meninggalkan pelabuhan. Di balik hembusan angin malam, emosi Altair kecamuk. Hendra memang sudah mati, tapi Daniel masih melenggang bebas.
Misi pertama selesai. Namun, lingkaran dendam ini belum berakhir. Ia akan membunuh pria itu secara perlahan sampai dia sendiri yang memohon untuk mati.