NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Menjelang tengah hari, Ravian berdiri di dekat dinding kaca ruang pertemuan di salah satu lantai gedung Arkatama Group. Tatapannya lurus ke depan, menatap pemandangan kota yang tampak begitu sibuk di bawah sana, namun pandangannya menerawang.

Ia baru membalikkan badannya saat mendengar suara pintu dibuka, mendapati pegawainya berdiri di ambang pintu dan mengatakan tamu yang ia tunggu sudah tiba.

Sesaat kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk diikuti dua orang yang menjadi bawahan pria itu.

Kresna Vardhana. Pemilik sekaligus Direktur Utama Vardhana Resources.

Setelan gelap membungkus tubuhnya dengan rapi, rambutnya sudah dipenuhi sedikit uban di bagian pelipis, tetapi langkahnya masih penuh keyakinan seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Ravian menyambut dengan tangan terulur. “Pak Kresna.”

“Pak Ravian.” Kresna mengangguk sambil menjabat tangan Ravian. “Terakhir kali, Anda masih berdiri di belakang ayah Anda.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan, namun Ravian menangkap maksud di baliknya. Hari ini tidak ada ayah bersamanya, dan Kresna ingin melihat apakah ia layak menggantikan sang ayah.

Mereka duduk. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum pembicaraan langsung masuk pada proposal. Salah satu bawahan Kresna menyodorkan sebuah berkas pada Ravian. Begitu berkas sudah berpindah tangan, Ravian membukanya.

Di sana tertulis kapasitas pasokan, harga, jadwal distribusi, dan keuntungan jangka panjang yang membuat siapa saja yang membacanya tertarik pada kontrak

Kresna menautkan jemari di atas meja. “Kami bisa menjamin pasokan dua puluh persen lebih murah dibanding vendor kalian sekarang. Untuk kontrak tiga tahun, Arkatama bisa menghemat miliaran rupiah."

Ravian tidak langsung menyahut. Ia membuka satu lembar catatannya. “Angka itu dengan asumsi harga bahan baku tidak berubah?”

“Dengan asumsi apa pun.” Kresna tersenyum. “Kami punya cara sendiri menjaga harga.”

Ravian kembali diam. Ia sudah membaca laporan tentang Vardhana Resources pagi ini secara menyeluruh. Perusahaan itu tidak bersih, dan ayahnya mengirim dirinya untuk memberikan penolakan.

Ravian menutup berkas di hadapannya. “Proposalnya menarik, Pak Kresna. Tapi untuk saat ini—”

“Untuk saat ini?” Kresna memotong kalimat Ravian dengan senyum yang masih terpasang.

Ravian berhenti membalik halaman. “Arkatama belum bisa melanjutkan kerja sama ini.”

Alih-alih terlihat kecewa, Kresna justru terkekeh. “Belum bisa?” Ia bersandar santai. “Saya datang ke sini karena Pak Damar sendiri yang meminta proposal lengkap dikirim beberapa minggu lalu.”

“Itu sebelum evaluasi menyeluruh dilakukan," sahut Ravian.

Kresna tersenyum. “Kalau begitu Anda tahu keuntungan yang saya tawarkan.”

Tekanan mulai terasa. Ravian menggeser map dengan satu tangan. Ia sebenarnya hanya perlu mengatakan satu kalimat.

Tidak.

Namun duduk berhadapan dengan seseorang yang memiliki perusahaan hampir sebesar Arkatama membuat kata itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.

Kresna menangkap keraguan itu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. “Anda baru mulai menangani urusan seperti ini, jadi saya mengerti kalau masih berhati-hati.” suaranya terdengar ramah. “Saya bahkan bisa memberi waktu satu minggu. Setelah itu kita tanda tangan.”

“Bukan masalah waktu,” sahut Ravian.

“Bagus. Berarti sebenarnya tidak ada masalah.” Kresna mengambil pena yang berada di atas meja kemudian memutarnya di antara jemari.

“Saya mengenal ayah Anda cukup lama. Dia tidak pernah menutup peluang yang menguntungkan perusahaan hanya karena beberapa laporan yang belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.”

Bibir Ravian terkatup rapat, ia belum menemukan kata yang tepat untuk menjawab tanpa membuat keadaan berubah menjadi permusuhan terbuka.

“Kami masih harus mempertimbangkan beberapa risiko.”

Kresna tertawa pendek. “Risiko selalu ada.” Ia sedikit condong ke depan. “Arkatama bukan satu-satunya kelompok usaha besar di negeri ini, Pak Ravian.”

Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Ravian menatap pria di hadapannya. Inilah yang sejak tadi ia hindari: Menolak seseorang yang memiliki pengaruh sebesar Arkatama.

Ayahnya bisa melakukannya, sang kakek pasti bahkan tidak perlu berpikir dua kali. Sedangkan dirinya? masih sibuk mencari susunan kalimat paling aman.

Suara notifikasi tiba-tiba terdengar dari monitor besar di dinding, sesaat kemudian sosok Damar memenuhi layar dalam bentuk panggilan video.

Ravian membeku sesaat, ayahnya melakukan panggilan video yang otomatis langsung tersambung. Itu artinya semua pergerakannya sudah diawasi sejak awal.

"Kalian belum selesai?"

Kresna langsung tersenyum. “Pak Damar.”

"Pak Kresna." Damar membalas sapaan dengan tenang.

Ravian belum sempat berbicara ketika Kresna sudah mendahuluinya.

“Putramu tampaknya masih perlu sedikit waktu untuk mengambil keputusan.”

Damar tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah ke Ravian.

Satu detik.

Dua detik.

Cukup untuk membuat Ravian memahami bahwa ayahnya sudah tahu persis apa yang terjadi, kemudian Damar kembali memandang Kresna melalui layar.

"Tidak perlu waktu."

Kresna terdiam.

Damar menyandarkan tubuhnya. “Arkatama tidak akan bekerja sama dengan Vardhana Resources.”

Tidak ada penjelasan panjang ataupun kalimat diplomatis berlapis-lapis. Hanya keputusan.

Senyum Kresna perlahan menghilang. “Karena beberapa laporan lama?”

“Karena saya tidak mempercayai cara perusahaan Anda menjalankan bisnis.”

Ruangan menjadi benar-benar sunyi. Ravian menatap layar. Ayahnya bahkan tidak meninggikan suara.

Kresna meletakkan pena di tangannya ke meja. “Anda sadar sedang bicara dengan siapa?”

Damar tersenyum tipis. “Tentu. Karena itulah saya menyampaikannya langsung.”

Tatapan Kresna menajam, namun tidak membuat ketenangan di wajah Damar berubah. “Arkatama tidak membutuhkan harga murah kalau biaya sebenarnya adalah reputasi kami.”

Tidak ada celah untuk dibantah.

Kresna berdiri dengan emosi tertahan diikuti kedua bawahannya. “Saya kira pembicaraan ini sudah selesai.”

“Memang,” sahut Damar.

Kresna menoleh pada Ravian, tatapannya tidak lagi seramah ketika datang.

“Semoga lain kali kita bisa bicara ketika kamu sudah punya keputusan sendiri.”

Ucapan itu membuat Ravian terdiam.

.

.

.

"Ayah..."

Langit sudah berubah gelap saat Damar yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama Raksa memecah keheningan.

"Hm?"

"Apakah menurut Ayah, selama ini aku sudah salah dalam mendidik Ravi?" tanya Damar diakhiri embusan napas lelah. "Tadi siang dia..." ia menggeleng, tidak tahu kata apa yang harus ia gunakan untuk mengungkapkan rasa kecewanya.

"Dia hanya kuminta untuk mengatakan satu kata saja, tapi kenapa dia begitu kesulitan? Apakah sesulit itu menolak?"

"Bukan karena dia dia tidak tahu mana yang benar, dia hanya terlalu lama hidup tanpa perlu menanggung akibat dari pilihan yang dia buat," komentar Raksa tanpa basa-basi. "Kalau dia terus diperlakukan seperti anak yang belum siap, ia juga akan terus bersikap seperti itu."

Raksa terdiam sejenak. "Sudah waktunya Ravi memikirkan hidupnya sebagai orang dewasa."

Damar mengernyit. "Maksud, Ayah?"

"Perjodohan."

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
akting
〈⎳ FT. Zira: aktingnya... harus🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!