Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Tap!"
Adit menangkap kedua pergelangan tangan Hansip itu sekaligus dalam satu gerakan kilat yang tidak bisa mereka baca.
Dia memegang erat tangan mereka berdua tanpa terlihat mengeluarkan banyak tenaga dari bahunya.
Namun bagi kedua Hansip yang malang itu, pergelangan tangan mereka terasa hancur seperti dijepit kuat oleh mesin pres besi hidrolik.
"Aduh! Aduh! Sakit ampun, Mas Adit! Tolong lepaskan cengkeramannya!" teriak salah satu Hansip kesakitan sampai badannya berjinjit menahan ngilu di tulang.
Adit menatap lurus ke arah kedua Hansip itu dengan sorot mata sedingin es yang langsung menusuk tulang nyali mereka.
"Kalian berdua mending tutup mulut dan mundur sekarang juga dari rumah saya."
"Saya jamin saya tidak mau bikin kalian berdua cacat permanen lalu masuk rumah sakit hari ini juga," ancam Adit dengan suara rendah yang mengancam.
"Krek!"
Adit sedikit menambahkan tekanan cengkeramannya membuat suara tulang berderik pelan dari pergelangan tangan Hansip itu.
"Ampun! Kami sungguh minta ampun, Mas Adit! Kami ini cuma disuruh kerja sama Pak Kades!" rengek Hansip yang satunya lagi nyaris menangis di tempat.
Adit akhirnya melepaskan jepitan tangannya dan mendorong dada kedua Hansip itu dengan sangat pelan.
"Bruk!"
Meski hanya didorong dengan tenaga yang terlihat pelan, kedua pria dewasa itu langsung terpental jauh ke belakang sampai jatuh tersungkur memalukan di atas tanah berdebu.
Pak Kades terbelalak ngeri dengan mulut terbuka lebar melihat dua centeng andalannya dikalahkan telak tanpa perlawanan sama sekali dalam lima detik.
Pemuda kurus yang berdiri tenang di depannya ini tenaganya di luar nalar seperti monster banteng sungguhan.
Adit melangkah perlahan memangkas jarak mendekati Pak Kades yang kakinya sudah mulai gemetar ketakutan menahan kencing.
"Dengarkan peringatan saya baik-baik sekarang, Pak Kades."
"Saya bukan warga desa bodoh yang bisa Bapak peras uangnya pakai alasan aturan desa fiktif buatan Bapak sendiri."
"Kalau Bapak sampai berani mengganggu operasional kebun saya lagi besok-besok, bukan cuma pergelangan tangan centeng Bapak yang akan patah nanti."
"Tapi rahasia kebusukan korupsi dana bantuan desa Bapak bulan lalu juga bisa langsung terbang sampai ke meja pemeriksaan polisi kecamatan."
Adit sebenarnya sama sekali tidak tahu pasti soal informasi korupsi dana desa itu, dia hanya asal menggertak menggunakan isu umum yang biasa dilakukan pejabat desa licik.
Namun melihat wajah Pak Kades yang tiba-tiba memucat pasi seperti mayat membuktikan tebakan asal Adit tepat sasaran mengenai titik lemahnya.
"K-kamu jangan berani macam-macam menuduh saya, Aditya," suara Pak Kades tidak lagi terdengar arogan, melainkan bergetar panik ketakutan.
"Saya tidak berminat macam-macam dengan Bapak selama saya dibiarkan tenang."
"Saya cuma mau bertani mencari nafkah dengan damai di atas tanah hak milik saya sendiri tanpa diganggu lintah darat."
"Sekarang silakan Bapak bawa ajudan Bapak ini keluar dari pekarangan rumah saya sebelum anjing penjaga saya lepas dari rantainya."
Adit bahkan tidak punya satupun anjing di rumahnya, tapi gertakan psikologisnya sudah cukup manjur membuat lawannya ciut.
"Awas kamu ya, urusan kita berdua belum selesai sampai di sini saja!" ancam Pak Kades dengan suara tertahan menjaga sedikit gengsinya yang tersisa.
Pria buncit itu segera berbalik badan dan berjalan tergesa-gesa setengah berlari meninggalkan halaman rumah Adit menuju jalan raya.
Kedua Hansip tadi buru-buru bangkit mengusap pantatnya yang kotor dan berlari terbirit-birit menyusul bos mereka sambil memegangi pergelangan tangan yang masih membiru memar.
Adit menghela nafas panjang melihat kepergian rombongan tamu tak diundang tersebut dari rumahnya.
"Belum apa-apa bisnisku berjalan sudah ada lintah darat lokal baru yang datang menagih jatah preman," gumam Adit menggelengkan kepala meratapi kelakuan manusia.
"Ada ribut-ribut apa di depan tadi, Dit?" tanya Bang Jarwo yang tiba-tiba baru saja muncul berjalan dari samping rumah.
Bang Sopo mengekor berjalan di belakangnya dengan wajah panik sambil menenteng sebilah parang panjang yang sudah berkarat.
"Tadi Abang dengar samar-samar ada suara orang teriak ampun-ampunan dari arah sini."
"Bukan masalah besar, Bang, cuma Pak Kades mampir minta sumbangan wajib agustusan tapi saya tolak karena dia mintanya maksa seperti menodong," jawab Adit berbohong lagi menutupi konflik.
"Oh, Kades perut gentong air itu memang kelakuannya dari dulu murni kayak preman pasar terminal, wajar saja kalau kamu tolak mentah-mentah permintaannya."
"Sudah yuk kita kembali ke belakang saja, Dit, ayamnya pada ribut patuk-patukan lagi minta dikasih pakan baru," ajak Bang Sopo menyimpan kembali parang berkaratnya ke sarung kayu.
Adit tersenyum cerah dan mengangguk setuju mengikuti ajakan pamannya.
"Ayo, Bang, kita kasih mereka pakan super yang banyak biar dagingnya cepat padat siap dipanen ke restoran Nona Riana minggu depan."
Adit berjalan santai kembali ke lahan belakangnya dengan isi pikiran yang terus menyusun strategi bisnis baru.
Uang tunai enam ratus juta yang mengendap di rekening banknya sekarang adalah modal utama yang harus diputar secepat mungkin menjadi aset hidup.
Dia sadar dia tidak boleh hanya berpuas diri dan mengandalkan satu jenis komoditas sayur atau ayam saja jika ingin merajai pasar ibu kota.
"Sistem, tolong tampilkan daftar bibit unggas spesial lain di menu toko sekarang," batin Adit sembari berjalan.
Dia butuh banyak variasi hewan ternak ajaib untuk mengisi kapasitas kandang otomatisnya yang sangat besar dan luas itu.
[Membuka Katalog Bibit Unggas Spesial Tingkat Lanjut.]
[1. Bebek Peking Berapi - Harga: 5 Poin/ekor. Bebek ini mampu menghasilkan telur emas bernutrisi sangat tinggi untuk vitalitas.]
[2. Puyuh Gurun Zamrud - Harga: 3 Poin/ekor. Unggas mungil berdaging super empuk dengan siklus masa pertumbuhan gila hanya 2 hari panen.]
Mata Adit membaca teliti deskripsi bibit-bibit unggas aneh di sistem itu dengan perasaan sangat antusias dan berdebar.
Bisnis peternakan modernnya ini dijamin akan membuat gebrakan badai baru di pasar kuliner kelas atas kota dalam waktu sangat dekat.
Dia sudah tidak sabar membayangkan bagaimana ekspresi wajah Riana saat nanti disuguhi bahan makanan tidak masuk akal ini di restorannya.
Konflik kecil dengan Pak Kades hari ini hanyalah batu kerikil jalanan dalam perjalanan panjang Adit membangun kerajaan agrobisnis terbesarnya.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.