Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Ajaib
Elyndor mengangguk pelan. "Masih ada, Nona. Namun, hanya para tetua bangsa Elf yang mengetahui lokasi Pohon Kehidupan. Bahkan sebagian besar Elf tidak pernah melihatnya secara langsung."
Eve terdiam sejenak. Informasi tersebut membuat rasa penasarannya justru semakin besar. Kalau Pohon Kehidupan benar-benar masih ada sampai sekarang, berarti tempat tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah kuno. Sesuatu yang dianggap sebagai kesucian tertinggi oleh bangsa Elf masih bertahan hingga zaman sekarang, hanya saja keberadaannya disembunyikan dari sebagian besar Elf.
Eve menopang dagu dengan kedua tangannya.
'Kalau begitu, anak-anak ajaib tadi...'
Pikirannya kembali pada penjelasan Elyndor. Kaisar pertama memiliki darah Kekaisaran, sementara istrinya merupakan Elf berdarah murni yang mendapat perhatian khusus dari Pohon Kehidupan. Dari keduanya lahirlah beberapa anak yang mewarisi kekuatan besar dari garis Kaisar sekaligus kemampuan bangsa Elf dalam menetralisasi kutukan.
'Kalau darah mereka terus diwariskan, berarti keturunan anak-anak ajaib masih ada sampai sekarang.'
Eve perlahan mengangkat wajah.
'Dan kalau begitu...'
Dia menatap Elyndor.
"Jadi ketulunan anak ajaib macih ada sampai cekalang?"
Elyndor mengangguk. "Benar."
Eve mengedip.
Jawaban tersebut membuatnya sedikit lega karena pemikirannya ternyata tidak melenceng. Namun ada satu hal yang masih mengganjal.
"Jadi..." Eve memainkan ujung lengan bajunya sambil berpikir. "Keturunan itu cuma Kaical sekarang?"
Elyndor tidak langsung menjawab. Pria Elf tersebut yang sebelumnya terlihat santai mendadak diam. Tatapannya tertuju pada buku sejarah di hadapannya, tetapi jelas dia tidak sedang membaca. Jarinya bahkan berhenti di atas halaman yang terbuka.
Eve memperhatikan perubahan kecil tersebut, Elyndor akhirnya menarik napas panjang.
"Tidak, Nona. Masih ada satu lagi."
Mata Eve langsung membesar.
"Satu lagi?"
Elyndor mengangguk pelan. Namun sebelum Eve sempat mengajukan pertanyaan berikutnya, Elyndor menutup buku sejarah di hadapannya.
"Tapi..." Dia menatap Eve dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Belum saatnya Anda mengetahui hal tersebut."
Eve terdiam.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara kecil.
"Karena ada beberapa hal yang sebaiknya diketahui ketika waktunya sudah tepat."
Elyndor tersenyum tipis, tetapi Eve bisa melihat jelas bahwa pria tersebut sedang menghindari pembicaraan lebih lanjut.
Eve menyipitkan mata.
'Berarti memang ada sesuatu.'
Dia ingin bertanya lagi. Namun Elyndor sudah mengambil buku lain dan membuka halaman berbeda.
"Lebih baik kita lanjutkan pelajarannya."
Eve tidak memaksa. Kalau Elyndor memang tidak mau menjelaskan, terus bertanya hanya akan membuat pria tersebut semakin berhati-hati. Eve memilih menyimpan informasi tersebut di kepalanya.
Pelajaran kemudian dilanjutkan sampai waktu belajar berakhir. Eve masih beberapa kali mencoba menghubungkan informasi yang baru didengarnya dengan kejadian-kejadian sebelumnya, tetapi tidak menemukan titik yang cukup jelas. Pada akhirnya, dia memilih berhenti memikirkan semuanya sementara.
Ketika pintu perpustakaan terbuka, Cecil sudah berdiri di luar sambil menunggu.
"Selamat siang, Nona," sapa Cecil dengan senyum kecil.
Eve yang baru saja keluar hendak menjawab, tetapi pandangannya berhenti pada wajah Cecil.
Pipi sebelah kiri Cecil terlihat kemerahan. Bukan sekadar rona karena kepanasan. Warnanya cukup jelas dan hanya berada di satu sisi wajah. Eve yakin pasti Cecil jatuh atau kena pukul, tapi Eve tidak bisa berasumsi lebih lagi.
Eve mengerutkan kening.
"Cecil, pipi Cecil kenapa?"
Cecil refleks menyentuh pipinya sendiri.
"Eh?"
Dia segera menurunkan tangan.
"Ti-tidak apa-apa, Nona."
Eve menatapnya lebih lama. Cecil justru mengalihkan perhatian dengan menggenggam tangan Eve.
"Ayo, Nona. Saya akan mengantar Nona ke ruang makan."
'Jelas-jelas ada bekas merah, tapi mungkin dia ada alasan kenapa gak mau kasih tahu.' pikir Eve.
Namun Cecil sudah berjalan, sehingga Eve akhirnya ikut melangkah.
"Yang Mulia Duke sedang menunggu Nona di ruang makan," lanjut Cecil.
Langkah Eve melambat.
"Papa?"
"Benar."
Eve mengerjapkan mata.
'Lucien nungguin gue?'
Biasanya pria tersebut lebih sering menghindari makan bersamanya. Sejak Eve tinggal di mansion, hanya beberapa kali Lucien duduk satu meja dengannya. Selebihnya, pekerjaan selalu menjadi alasan untuk meninggalkan ruang makan lebih cepat atau bahkan tidak muncul sama sekali.
'Mau apa lagi dia?'
Rasa penasaran mulai muncul, tetapi Eve memilih tidak bertanya. Dia berjalan di samping Cecil sambil sesekali melirik perempuan muda tersebut.
Begitu mereka tiba di depan ruang makan, pintu langsung dibuka dari dalam.
Bastian berdiri di baliknya.
"Selamat datang, Nona," sapanya sambil menundukkan kepala.
Mata Eve langsung berbinar.
"Bactiyan!"
Wajahnya seketika berubah cerah. Dia bahkan sempat mempercepat langkah kecilnya sebelum Cecil kembali memegang tangannya. Sudah beberapa hari Eve jarang bertemu Bastian. Kesibukan di mansion membuat kepala pelayan tersebut lebih sering berada di tempat lain, sehingga melihatnya sekarang membuat Eve benar-benar senang.
Bastian tertawa kecil melihat reaksinya.
"Nona terlihat senang bertemu saya."
Eve mengangguk cepat.
"Iya!"
Cecil kemudian membantu Eve duduk di kursi yang berada di sebelah Lucien. Lucien sudah berada di tempatnya. Pria tersebut tampak tenang seperti biasa, dengan pakaian rapi dan rambut tersisir sempurna. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa hari lalu dia menebas kepala seseorang di ruang bawah tanah.
Eve diam-diam menatapnya.
Para pelayan mulai menyajikan makanan. Setelah semua hidangan tertata rapi, mereka satu per satu meninggalkan ruangan. Bastian menjadi orang terakhir yang keluar setelah memastikan semuanya sudah tersedia.
Pintu kemudian tertutup.
Ruang makan menjadi jauh lebih tenang, saat Eve baru saja mengambil sendok ketika suara Lucien terdengar.
"Tampaknya kau lebih bersemangat bertemu Bastian dibandingkan denganku."
Gerakan Eve berhenti, dia menoleh perlahan ke arah suara itu, Lucien sedang menatapnya dengan wajah datar.
'Ya iyalah gue lebih seneng ketemu manusia daripada raja iblis.'
Eve mencibir dalam hati, sembari menahan ekspresinya.
'Kalau disuruh pilih, ya jelas Bastian.'
Namun Eve segera mengingat bahwa dia sedang berhadapan dengan Lucien. Dia masih harus mempertahankan peran sebagai anak kecil yang menyukai ayahnya.
Eve pun mengubah ekspresinya menjadi lebih ceria. Dia menatap Lucien sambil tersenyum lebar.
"Dak apa-apa," katanya dengan suara cadel. "Ape juga cenang ketemu Papa."
Lucien mengangkat alis sedikit.
"Benarkah?"
Eve mengangguk cepat.
"Iya."
Dalam hati, Eve hanya bisa menghela napas.
'Ya ampun, susah banget jadi anak kecil.'