Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Rey mencondongkan tubuhnya rendah sekali, lutut hampir menyentuh aspal. Marcel menempel ketat di belakangnya, memanfaatkan slipstream. Mereka masuk ke jalur lurus—
WUUZZZZ!!!
Marcel menyalip, motornya meraung lebih keras, melejit setengah badan di depan Rey.
Sorakan WK menggema.
“Marcel unggul! Winner King nomor satu!”
Namun BLR tak mau kalah. Bara, Tama, dan Ezra berteriak lantang mendukung Rey.
“Ayo bos! Gaspol terus!”
Emily menggigit bibir bawahnya. Pandangannya tak lepas dari motor Rey. “Lo jangan kalah… lo pasti bisa, Rey.”
Lap kedua dimulai. Rey masih membuntuti Marcel dari belakang. Ia tak terburu-buru, matanya fokus mengamati setiap gerakan lawannya. Marcel mencoba mempertahankan posisi dengan menutup setiap celah. Dua kali Rey hampir menyalip, tapi ditutup paksa hingga nyaris tersenggol. Penonton menjerit tiap kali motor mereka terlalu dekat.
Di tikungan S, Rey akhirnya melihat celah. Dengan perhitungan matang, ia melambat sejenak lalu masuk lebih rapat ke sisi dalam. Saat Marcel melebar sedikit, BRUUMMM!!! Rey langsung melesat. Kini posisi mereka berdampingan, handlebar nyaris bersentuhan.
Sorakan pecah—setengah mendukung Marcel, setengah mendukung Rey.
“WOYYY BOS GILA!!!” teriak Ezra sambil lompat-lompat.
“Marcel, jangan kasih ampun!!” balas teriakan dari kubu WK.
Emily menahan napas. Tangannya berkeringat, menggenggam pagar makin kuat. Sesaat, ia sempat menutup mata ketika motor Rey hampir keluar jalur.
Tapi Rey tidak goyah. Ia menurunkan gigi, memelintir throttle, dan dalam sepersekian detik berhasil mendahului Marcel. Motor hitam emas itu kini memimpin.
Lap terakhir. Tegangan mencapai puncak. Marcel tentu tak tinggal diam—ia menekan habis-habisan, mencoba menyalip lewat sisi luar di tikungan terakhir. Motor mereka begitu dekat hingga suara knalpot bercampur menjadi satu. Semua penonton berdiri, berteriak, tak bisa duduk diam.
Emily nyaris berteriak. “Reyy… jangan kalah!”
Dan di detik krusial itu, Rey menunjukkan pengalamannya. Ia menutup jalur dengan presisi, membuat Marcel kehilangan momentum. Saat keluar dari tikungan terakhir menuju garis finis, Rey sudah unggul hampir satu motor di depan.
WUUUZZZZ!!!
Motor hitam emas itu melesat lebih dulu melewati garis finis.
Sorakan BLR pecah membahana. Bara dan yang lain berhamburan ke lintasan, melompat kegirangan.
“BOSS KITA MENANG!!!”
“BLR NO. 1!!!”
Sementara geng WK terdiam, wajah mereka masam melihat Marcel yang hanya bisa menggebrak stangnya dengan kesal.
Emily tak bisa menahan senyum tipisnya. Ada rasa lega, ada rasa bangga, ada juga sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. “Gue tau lo bakal menang, Rey…” gumamnya lirih.
Rey membuka helmnya, keringat menetes di wajah tapi senyumnya lebar. Tangannya terangkat, menerima sorakan, menerima kemenangan. Matanya sekilas mencari ke arah penonton, dan tanpa sadar tatapannya menemukan Emily.
Emily buru-buru mengalihkan pandangan, tapi pipinya sedikit memerah.
“Wwwwouh si Rey gila yeeeeey dia menang jugaaa!” teriak Nara girang.
“Gila, ini pertarungan sengit sih,” ucap Caca kagum.
“Tetap mereka berdua kalah kalau harus mengimbangi Emily,” timpal Dion bangga.
“Lo, kalian pada kenapa pada dukung si Rei sih?” ucap Alex kesal. “Kamu juga, bebs, kenapa aja dari tadi nggak pernah berhenti lepas pandangannya dari dia.”
“Kita ini lagi nonton tandingan, Alex, bukan lagi adu baper. Nggak mikir apa si Rei itu teman sekelas kita? Ya wajar kalau kita dukung dia,” ucap Ziva tegas.
“Kita punya geng masing-masing,” jawab Alex dingin.
“Ya apa masalahnya? Geng kita sama geng Rey kan nggak problematik. Cuman sekedar lawan balapan doang, nggak pernah problematik sama mereka. Lagian ketua geng Sport Queen sama gengnya BLR juga satu kelas, apa salahnya saling dukung? Kita nggak pernah punya masalah ya,” timpal Ziva panjang.
“Tetep aja dia lawan kita di sirkuit balapan, nggak etis banget sama lama ko saling dukung,” sinis Alex.
“Ya nggak etis itu saling menusuk,” sindir Caca tajam.
“Gue tahu lo ngomong kayak gitu karena lo suka sama anggota mereka kan,” tuduh Alex ketus.
“So tau lo,” sinis Ziva melotot.
“Kalian bisa nggak sih nggak usah ribet? Heran deh. Lo juga, Alex, kenapa sih? Tahu kan geng Sport Queen itu isinya cewek doang kebanyakan. Lalu kenapa kalau mau ikut geng kita ya lo harus bisa nerima keputusan cewek-cewek di geng ini, jangan mau sendiri,” ucap Dion kesal.
“Ya gue bertahan di sini juga karena cewek gue,” timpal Alex.
“Siapa cewe lo?” tanya Emily datar.
“Elo lah beb,” jawab Alex cepat.
“Dih, kan gue bilang kemarin kita udahan,” ucap Emily sebal.
“Nggak bisa begitu dong, beb. Salah gue apa?” tanya Alex panik.
“Jih, mikir. Udah ah, gue cabut duluan,” timpal Emily malas.
“Dih, beb gue anterin!” teriak Alex panik.
“Gausah, gue bawa motor,” ucap Emily dingin lalu melangkah pergi.
Sedangkan di seberang sana, Rey yang melihat Emily sudah menaiki motornya langsung melangkah.
“Gue cabut ya,” ucap Rey singkat.
“Loh bos, lu kan menang. Nggak party dulu?” ucap Gio heran.
“Kalian aja nih, bawa duitnya.” Rey hanya mengambil separuh dari uang itu lalu memberikan sisanya ke teman-temannya.
“Bos, nggak ke clubbing dulu?” tanya Ezra.
“Kalian aja. Gue mau pulang,” jawab Rey datar.
“Beneran nih, bos? Tumben masih jam 11,” tanya Bara bingung.
“Nggak apa-apa. Senin… nanti kita harus ngumpulin energi buat tanding basket. Kita harus buktikan kalau kita nggak akan terkalahkan lagi. Ingat itu. Lagian gue juga lagi nggak enak badan, jadi harus ngumpulin energi,” ucap Rey tegas.
“Woke lah bos, thank you bos. Tiati!” ucap Tama semangat.
Segera Rey tancap gas pulang ke apartemen, mengejar Emily yang sudah cabut dari tadi. Tapi ternyata, saat dia sampai di basement, motor Emily sudah terparkir di sana. Mungkin Emily bawanya ngebut, jadi sudah lebih dulu sampai. Rey langsung naik ke atas, menghampiri kamar.
Begitu pintu terbuka, Emily sudah meringkuk di kasur dengan baju ganti.
“Ilyyy,” panggil Rey pelan.
“Hmmm.”
“Lo kenapa?”
“Kenapa apanya?” Emily malas.
“Kenapa marah sama gue?” tanya Rey.
“Kenapa apanya? Gue nggak kenapa-kenapa. Gue ngantuk. Gue pikir lo bakal party.”
“Iya, gue mau party… sama lo,” ledek Rey sambil tersenyum tipis.
“Gue ngantuk, Rey…” ucap Emily datar.
“Hmmm, yaudah. Ayo kita tidur.”
“Lo nggak apa-apa emang cabut dari geng lo yang lagi party?” tanya Emily sinis.
“Istri gue lebih butuh pelukan gue.”
Emily hanya mendelik sinis mendengarnya.
Setelah membersihkan diri, Rey langsung naik ke kasur, menghampiri Emily yang sudah meringkuk di bawah selimut.
“Lo belum tidur?” tanya Rey pelan.
“Baru aja gue merem, lo grasak-grusuk jadi gue kebangun lagi,” jawab Emily malas.
Rey menyeringai tipis. “Gue tahu lo nggak bakal bisa tidur kalau belum gue peluk.”
“Jihh… PD lo.”
“Ilyyy…” suara Rey makin lembut.
“Hmmm…” sahut Emily setengah ngantuk.
“Kapan iclik?” bisik Rey tiba-tiba.
“Heuhh… Reyyy, apa sih. Gue belum siap… takut…” jawab Emily lirih, memalingkan wajah.
Rey menatap serius. “Masih takut gue tinggalin?”