Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Bab 10: Pesona yang Berubah, Kloning Bayangan, dan Perseteruan di Ruang Latihan
Masa hukuman yang dijatuhkan oleh Julius Pendragon seharusnya menjadi bentuk penderitaan dan penyesalan bagi seorang murid akademi. Bagi anak-anak muda bangsawan lainnya, dilarang keluar rumah, dipotong uang sakunya, dan dipaksa membersihkan ruang latihan pedang yang luasnya menyerupai lapangan bola setiap sore adalah sebuah kehinaan besar. Namun bagi Wiliam, masa hukuman ini adalah samudra kedamaian yang sempurna untuk mengonsolidasikan evolusi Tiga Jalur dan kekuatan Tubuh Demigod barunya.
Pagi pertama setelah kepulangannya dari gua pengasingan, Wiliam berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan seragam serba hitam Akademi Sihir Kerajaan yang kini terasa sedikit lebih ketat di bagian bahu dan dada.
Evolusi Tiga Jalur telah mengubah struktur fisiknya secara drastis. Tinggi badannya bertambah hampir delapan sentimeter, membuat posturnya kini menjulang tegap dan sangat proporsional. Bahunya makin lebar, pinggangnya mengecil membentuk postur V-taper yang sempurna dan atletis, sementara gerakan tubuhnya memancarkan keanggunan yang alami namun penuh dengan ancaman tersembunyi. Kulitnya yang dahulunya agak pucat kini bersinar mulus bagaikan porselen langka, dan beberapa helai rambut hitamnya di bagian depan memiliki garis perak berkilau yang memancarkan pendar kosmik tipis.
Sebelum melangkah keluar, Wiliam mengambil sebuah sarung tangan kulit hitam tipis dari mejanya. Dengan perlahan, ia memasangkan sarung tangan tersebut ke tangan kanannya—menutupi Segel Wadah Demigod berbentuk lingkaran petir dan bunga kuno yang terukir di punggung tangannya.
"Terlalu menonjol jika ada yang melihat pola ini di akademi," gumam Wiliam datar seraya mengepalkan jemarinya, merasai aliran mana petir purba yang berdenyut stabil di dalam Inti Cadangan Sekunder di dadanya.
Saat Wiliam melangkah keluar dari mansion dan tiba di gerbang Akademi Sihir Kerajaan, kehadirannya seketika menciptakan gelombang kegemparan yang luar biasa di sepanjang koridor utama.
"T-Tunggu... siapa pemuda berambut hitam itu?!" bisik seorang siswi bangsawan dari Departemen Sihir seraya menghentikan langkahnya, menatap Wiliam dengan pipi merona merah.
"Bukannya itu... Wiliam Pendragon?! Si 'produk gagal' dari keluarga Pendragon yang membolos dua minggu itu?!" sahut temannya terperanjat, matanya tidak bisa berpaling dari postur V-taper dan wajah tampan Wiliam yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan rupawan.
"Astaga! Bagaimana bisa penampilannya berubah sedramatis itu dalam dua minggu?! Lihat garis perak di rambutnya... dia terlihat sangat tampan dan berkelas! Auranya begitu dingin dan misterius!"
Pujian, bisik-bisik kagum, dan tatapan terpesona dari puluhan siswi mengiringi langkah Wiliam sepanjang koridor. Wiliam yang biasanya diabaikan atau dipandang sebelah mata kini menjadi pusat perhatian utama. Namun, Wiliam membiarkan semua tatapan itu berlalu bagaikan angin lalu, mempertahankan raut wajahnya yang tenang dan datar.
Saat Wiliam melangkah masuk ke dalam kelasnya, dua orang kawan dekatnya—Leo dan Reno—yang sedang mengobrol di dekat jendela langsung membelalak kaget hingga buku di tangan Leo jatuh terhempas ke lantai.
"Demi janggut Raja Iblis... WILIAM?!" teriak Leo histeris seraya melompat menghampiri Wiliam dan mengitari tubuh temannya itu dengan tatapan tak percaya. "Kau ini makan apa selama dua minggu membolos, hah?! Kenapa tinggi badanmu mendadak melonjak seperti pohon pinus?! Dan rambutmu... apa-apaan garis perak keren ini?!"
Reno memicingkan matanya, meraba bahu Wiliam yang terasa sangat keras dan padat seperti batu karang. "Kau... auramu berubah total, Wiliam. Kau terlihat jauh lebih tenang, tapi rasanya seperti berdiri di samping gunung yang siap meledak. Dan kenapa kau memakai sarung tangan sebelah kanan saja? Kau sedang mencoba tren gaya baru?"
Wiliam tersenyum tipis, menepuk bahu kedua sahabatnya. "Hanya sedikit latihan fisik di daerah pegunungan selama pengasingan. Sarung tangan ini hanya untuk melindung bekas luka latihan."
"Latihan fisik macam apa yang bisa membuat seseorang bertambah tampan seratus kali lipat dan berotot V-taper seperti ini dalam dua minggu?!" seru Leo frustrasi seraya mengacak-acak rambutnya sendiri. "Sialan! Kalau tahu begitu, aku ikut membolos bersamamu!"
Pelajaran kelas sihir teori pun dimulai tak lama kemudian. Guru pengajar hari itu—seorang Profesor tua bertubuh gemuk bernama Profesor Vane—melemparkan sebuah persamaan lingkaran rumus sihir gabungan tingkat tinggi di papan tulis batu rune. Persamaan itu adalah rumus pemecahan struktur Multi-Layer Mana Barrier yang biasanya hanya bisa dipecahkan oleh murid tingkat akhir.
"Siapa di antara kalian yang bisa memecahkan variabel kestabilan sihir ini dalam waktu lima menit?" tanya Profesor Vane dengan nada skeptis, menatap seluruh isi kelas yang bungkam dan tertunduk ketakutan.
Namun, Wiliam memandang papan tulis itu dengan tenang. Di balik sepasang mata merahnya yang menyembunyikan pola Eye of the Void yang telah berevolusi, rumus sihir yang rumit itu terlihat sangat sederhana—ia bisa melihat langsung cacat alur molekul dan titik-titik kebocoran energinya secara presisi.
Wiliam mengangkat tangannya perlahan. "Variabel ketiga pada baris kedua salah, Profesor. Jika dimasukkan elemen angin sebagai penyeimbang, strukturnya akan runtuh dalam 0,4 detik. Jawaban resminya adalah menukarnya dengan koordinat matriks petir terbalik."
Seluruh isi kelas mendadak hening cipta. Profesor Vane melotot kaget, mengusap kacamatanya berkali-kali seraya memeriksa lembar kuncinya.
"T-Tepat sekali...!" gagap Profesor Vane terpana. "Bagaimana bisa kau memecahkannya hanya dengan sekali pandang, Wiliam?!"
Kecerdasan dan kecepatan analisis Wiliam yang meningkat tajam akibat evolusi otak dan kesadaran jiwanya membuat seluruh murid kelas makin terpesona dan berbisik kagum.
Saat jam istirahat siang tiba, seorang kurir burung merpati sihir berbulu perak terbang hinggap di jendela meja Wiliam. Merpati itu membawa selembar surat beraroma harum bunga es murni—sebuah surat pribadi yang dikirimkan secara rahasia oleh Anastasia (Anya).
Wiliam membuka lipatan surat tersebut dan membacanya dalam hati:
Untuk calon suamiku yang suka membolos tanpa kabar,
Kau tahu betapa gelisahnya aku saat mendengar kau menghilang selama dua minggu penuh dari akademi dan mansion?! Aku hampir saja mengerahkan seluruh Ksatria Suci untuk menggeledah setiap sudut benua jika Paman Jeck tidak memberitahuku bahwa kau pergi menguji 'mainan baru' yang kubuatkan!
Kudengar dari ibumu bahwa kau sekarang sedang dihukum di mansion. Bagus! Itu hukuman yang pantas untuk pria jahat yang membuat wanitanya khawatir setengah mati! Tapi... pastikan kau tidak terluka selama pengasinganmu. Aku menyisipkan sedikit energi pelindung es di dalam surat ini.
Jangan berani-berani menghilang lagi, Wiliam. Jika kau melakukannya sekali lagi... aku sendiri yang akan menjemputmu dan memborgol tanganmu di kamarku.
— Anastasia-mu yang sedang merindukanmu.
Wiliam menepuk dahinya pelan, merasai hawa panas yang kembali menyergap kedua pipinya saat membaca kata-kata tegas namun penuh kasih sayang dari Anya. Ia melipat surat itu rapi dan menyimpannya di dalam saku overcoat-nya.
Setiap sore setelah jam pelajaran akademi selesai, Wiliam langsung pulang ke mansion Pendragon sesuai syarat hukumannya. Selama sore hari, ia hanya berdiam diri di dalam kamarnya atau duduk membaca buku di perpustakaan tanpa melakukan tindakan mencurigakan apa pun, berpura-pura menjadi murid penurut yang sedang menjalani masa hukuman.
Namun, ketika malam tiba dan seluruh penghuni mansion tertidur lelap, pergerakan Wiliam yang sesungguhnya dimulai.
Duduk bersila di atas tempat tidurnya, Wiliam membentuk segel tangan khusus menggunakan mana kegelapan dan bayang-bayangnya.
"Sihir Bayangan: Klon Ilusi Nyata (Shadow Clone)," bisik Wiliam.
SWOOSH!
Dari dalam bayangan di lantai kamar, sesosok klon yang memiliki bentuk fisik, aroma, dan kepadatan mana yang identik dengan Wiliam berdiri tegak. Klon ini dikendalikan langsung oleh sebagian kesadaran jiwa Wiliam.
Wiliam menyerahkan overcoat hitam, topeng intimidasi barunya, dan pedang Void Eclipse kepada klon tersebut.
"Pergilah berpatroli di Distrik Bawah dan perbatasan kota," perintah Wiliam pada klonnya. "Jaga ketertiban dari pergerakan Cult iblis atau musuh yang mencoba menyusup."
Klon bayangan itu mengangguk paham, memasang topeng barunya yang sangat mengintimidasi, lalu melompat keluar jendela menyatu dengan kegelapan malam sebagai Hantu Topeng. Sementara itu, tubuh asli Wiliam melangkah tenang menuju ruang latihan pedang utama mansion di lantai bawah tanah untuk menjalankan hukumannya—sekaligus mengasah kekuatan barunya.
Ruang latihan pedang utama Pendragon adalah sebuah aula raksasa seluas ribuan meter persegi dengan lantai batu granit tebal dan puluhan patung jerami tempa.
Ketika Wiliam tiba dengan membawa sapu dan kain lap, ia tidak sendirian. Dua kakaknya—Julius Jr. dan Hector—sudah berdiri di tengah aula seraya memegang pedang latihan kayu tebal, menyunggingkan senyuman meremehkan.
"Lihat siapa yang datang," kekeh Hector seraya menepuk-nepuk pedang kayunya ke telapak tangannya. "Si pembolos tampan yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan kebersihan!"
Julius Jr. tertawa dingin seraya melangkah mendekat. "Wiliam, karena kau dihukum membersihkan tempat ini, kami berdua sebagai kakak yang baik ingin membantumu 'menguji' kebersihan lantai ini. Bagaimana kalau kau berlutut dan mengelap bagian lantai di bawah sepatu kami terlebih dahulu?"
Wiliam memandang kedua kakaknya dengan tatapan datar seraya memegang gagang sapunya. "Aku di sini untuk membersihkan aula sesuai perintah Ayah, bukan untuk bermain drama dengan kalian berdua."
"Kau berani menjawab, Adik Tengil?!" bentak Hector gusar. "Kau pikir hanya karena penampilanmu berubah dan tinggi badanmu bertambah, kau bisa bersikap sombong di depan kami?! Kau tetaplah Wiliam si sampah tanpa aura pedang!"
Dengan gerakan cepat, Hector melangkah maju dan mengayunkan pedang kayu latihannya kencang-kencang menuju bahu kanan Wiliam!
WUSH!
Serangan itu penuh dengan dorongan aura pedang angin Level 8 milik Hector. Jika dihantamkan pada manusia biasa, bahu mereka bisa patah seketika.
Namun, Wiliam tidak meringkuk atau menghindar. Tanpa melepaskan sapu dari tangan kirinya, Wiliam hanya mengangkat tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan hitam dan menangkap bilah pedang kayu Hector langsung menggunakan telapak tangannya!
PAK!
Tangkapan itu begitu padat dan kokoh hingga gelombang angin tebasan Hector seketika musnah tanpa sisa! Pedang kayu itu berhenti tepat satu milimeter di atas sarung tangan Wiliam, tidak bergetar sedikit pun!
Hector membelalak kaget, mencoba menarik pedangnya kembali—namun pedang kayu itu bagaikan telah tertancap dan menyatu di dalam gunung baja!
"Apa... apa-apaan kekuatan cengkeraman ini?!" seru Hector terperanjat, mukanya memerah kencang saat mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik pedangnya, namun Wiliam bahkan tidak bergeming sedikit pun!
"Kau bilang ingin menguji kebersihan lantai?" tanya Wiliam pelan dengan nada penuh kelakar dingin.
Wiliam memutar pergelangan tangan kanannya sedikit.
KRRRACK-BOOM!
Pedang kayu tebal milik Hector seketika hancur berkeping-keping menjadi serbuk kayu! Dorongan gaya gravitasi dari Tubuh Demigod Wiliam terpancar halus, membuat tubuh bongsor Hector terlempar ke belakang dan terhempas keras menghantam lantai granit dengan posisi terlentang konyol!
"AAAKHH! Punggungku!" ratap Hector meringis kesakitan, terengah-engah di lantai.
Julius Jr. yang melihat adiknya dihempaskan dalam satu gerakan seketika naik pitam. Ia menarik pedang besinya sendiri, memicu aura pedang api Level 10 yang membara di sekujur tubuhnya.
"Keparat kau, Wiliam! Kau berani menggunakan sihir licik untuk menyerang saudaramu sendiri?!" teriak Julius Jr. seraya melompat menanjak ke udara, mengayunkan tebasan api raksasa ke arah Wiliam!
"Tebasan Api Mendidih Pendragon!"
Wiliam hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak menggeledah mana kegelapan atau sihir petirnya—ia hanya memfokuskan siklus Pernapasan Tubuh Demigod ke dalam gerakan sapu kayunya.
Wiliam mengayunkan sapu kayu murahannya dari bawah ke atas bagaikan sebuah pedang agung.
WUSH-BOOOOOMMMM!
Hanya dari tekanan angin murni yang dihasilkan oleh tebasan sapu kayu Wiliam, gelombang api raksasa milik Julius Jr. seketika terbelah dua dan padam total! Kecepatan angin tebasan itu menghantam dada Julius Jr., melempar tubuh kakak sulungnya melayang melintasi separuh aula dan menabrak tumpukan patung jerami hingga hancur berantakan!
"Kgh... A-Apa-apaan... tekanan angin murni ini... hanya dari sebuah sapu?!" batuk Julius Jr. seraya memegangi dadanya, matanya menatap Wiliam dengan ketakutan murni yang tak tertahan.
Wiliam melangkah perlahan menghampiri kedua kakaknya yang kini terbaring tak berdaya di lantai aula. Ia berdiri menyilangkan sapunya, menatap mereka berdua dari atas dengan sepasang mata merahnya yang berkilat dingin di dalam kegelapan malam.
"Kalian berdua terlalu sibuk menyombongkan gengsi dan gelar bangsawan hingga lupa mengasah dasar pergerakan kalian," kata Wiliam datar. "Jika kalian berdua masih ingin mengganggu masa hukumanku... aku tidak keberatan menjadikan kalian patung latihan pengganti setiap sore."
Hector dan Julius Jr. gemetaran kaku, tidak berani mengeluarkannya sepatah kata pun. Aura dominan yang dipancarkan Wiliam saat ini terasa seribu kali lebih menakutkan daripada aura ayah mereka sendiri!
Tanpa memedulikan kedua kakaknya yang merangkak kabur keluar dari ruang latihan dengan ketakutan, Wiliam kembali menyapu lantai granit dengan tenang.
Di luar sana, klon bayangannya sedang menjaga kedamaian kota di balik topeng mengintimidasi, sementara tubuh aslinya di ruang latihan terus menyempurnakan setiap jengkal kekuatan barunya. Wiliam tahu bahwa masa hukuman ini hanyalah ketenangan singkat sebelum badai pertempuran besar yang melibatkan para Devil dan kekuatan kegelapan benua akan segera pecah di hadapannya.