Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Aurelia
Halaman utama istana megah milik Klan Es malam itu berkilau bagai untaian permata di bawah rasi bintang.
Puluhan kereta kuda berornamen perak dan kristal berbaris rapat, menurunkan para bangsawan tinggi yang mengenakan jubah beludru berlapis bulu.
Di balik kemegahan dekorasi es abadi yang memancarkan cahaya keperakan, kepulan napas dingin berbaur dengan bisik-bisik sinis yang berdengung riuh.
"Lihatlah kemewahan ini," cibir seorang wanita paruh baya di balik kipas bulunya, matanya menyapu setiap sudut. "Pesta ini terlalu mewah hanya untuk merayakan pertunangan seorang anak haram? Sungguh penghinaan bagi silsilah darah Klan Es."
Di sudut lain, sekelompok putri bangsawan muda meremas gaun sutra mereka dengan tatapan mata yang membakar penuh rasa iri.
Kebencian mereka pada Aurelia mendidih hingga ke puncak.
"Bagaimana bisa anak haram dan penyihir gagal seperti dia mendapatkan semua ini?" bisik salah satu putri bangsawan dengan nada getir. "Adrian mungkin seorang pemain wanita, tapi dia adalah penyihir yang tangguh! Mengapa harus gadis tidak berguna itu yang berdiri di sampingnya? Seharusnya salah satu dari kita yang berada di sana!"
Suasana yang tadinya riuh oleh gunjingan tiba-tiba senyap seketika. Gesekan gelas kristal dan tawa palsu terhenti.
Dari balik awan malam, suara kepakan sayap yang bertenaga memecah keheningan langit, menciptakan embusan angin yang menerbangkan kelopak-kelopak bunga es di halaman.
Sebuah kereta kuda megah bersayap emas menukik turun dengan anggun, mendarat tepat di pusat halaman utama.
Pintu kereta berlogo elang emas itu terbuka. Detak jantung para putri bangsawan seakan berhenti saat Adrian melangkah keluar.
Ia tampak luar biasa menawan dalam balutan pakaian bangsawan formal berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas yang mempertegas bahunya yang tegap.
Di kedua sisinya, menyusul Ketua Aelo dan Madam Liliana yang melangkah dengan dagu terangkat, memancarkan aura yang menawan namun mengintimidasi.
Sambil melempar senyum formal yang dingin kepada para undangan, Madam Liliana mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami, berbisik dengan nada yang sarat akan rasa jijik.
"Apa harus acaranya dibuat semewah ini, Suamiku? Membuat pesta mewah untuk anak haram itu... aku sangat ingin menutupi wajahku karena malu," desisnya tajam.
Sejak awal, Madam Liliana memang menaruh kebencian mendalam pada Aurelia. Baginya, Aurelia bukan sekadar noda karena status anak haramnya, melainkan aib yang lebih besar: seorang penyihir gagal yang tidak memiliki inti roh murni.
Namun, baik Ketua Aelo maupun Madam Liliana tidak bisa melakukan apapun karena ambisi Adrian untuk mendapatkan Aurelia sepenuhnya--- mereka bisa melawan, tapi itu hanya akan membuat suasana lebih panas. Apa lagi mereka tau bagaimana sifat keras kepala dari Adrian.
Adrian, yang berjalan beberapa langkah di depan mereka, sama sekali tidak memedulikan tatapan menghakimi dari orang tuanya maupun bisikan sinis semua tamu.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh kepemilikan. Bagi Adrian, opini publik tidak ada artinya. Memiliki Aurelia bagaikan menggenggam sebuah maha karya paling langka di dunia.
Wajah Aurelia yang sangat cantik, dengan mata yang menyimpan misteri sedalam lautan—siapa pria yang mampu menolak pesona visual sekuat itu? Sekalipun dunia mencapnya sebagai anak haram yang tak berguna, Adrian hanya ingin memilikinya sebagai perhiasan paling indah di rumahnya.
Langkah kaki rombongan itu terhenti saat Tetua Frost dan Madam Elena berjalan maju, memecah keheningan untuk menyambut para tamu kehormatan tertinggi mereka.
"Selamat datang, Tuan Aelo, Madam Liliana," sapa Tetua Frost dengan suara berat yang menggema.
Ketua Aelo berdehem pelan, matanya memandang dekorasi yang terlalu megah dengan tatapan menilai yang dingin.
"Terima kasih atas sambutannya, Tetua Frost," balas Ketua Aelo, suaranya terdengar datar tanpa kehangatan yang berarti. "Kami tentu merasa terhormat bisa menjadi bagian dari hubungan formal dengan keluarga utama di Klan Es ini. Tapi..."
Ia sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan matanya menyapu seisi ruangan sebelum kembali menatap Tetua Frost. "...pesta pertunangan ini tampaknya terlalu berlebihan dan mewah, jika hanya untuk merayakan seseorang yang... yah, katakanlah, tidak terlalu penting bagi masa depan Klan kita."
Sindiran telak itu menggantung di udara, membuat Madam Elena tersenyum tipis di tempatnya, sementara bisik-bisik di sekitar kembali memanas.
Sementara itu, di ruangan lain yang sunyi—
Aurelia menatap lurus ke arah pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak. Gaun sutra putih bersulam benang perak metris itu melekat sempurna di tubuhnya, berkilau indah layaknya salju pertama di musim dingin.
Pakaiannya terlihat sangat mewah, namun bagi Aurelia, keindahan itu adalah hal yang paling menyeramkan yang pernah ia lihat.
Kenapa mereka memberikan pakaian semewah ini padanya?
Pertanyaan itu terus berputar, mengganjal dan menggores hatinya dengan rasa cemas yang hebat.
Aurelia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kukunya memutih. Pakaian itu mendadak terasa begitu sesak di tubuhnya, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena ada firasat buruk yang mencengkeram dadanya—seolah-olah ada bencana besar yang sedang mengintai di balik dinding kamar ini.
Klek.
Suara engsel pintu memecah keheningan. Dua pelayan melangkah masuk dengan senyuman yang terukir, namun terasa sangat palsu dan dingin.
"Tetua sudah menunggu," kata salah satu pelayan dengan nada yang dibuat-buat ramah. "Sekarang, kau bisa ikut dengan kami," lanjutnya, sembari mengulurkan tangan untuk menuntun Aurelia.
Aurelia tidak melawan. Ia membiarkan lengannya digiring, namun sepasang matanya yang jernih kini dipenuhi oleh kecurigaan yang tajam.
Mereka berjalan menyusuri lorong istana hingga langkah kaki mereka terhenti tepat di depan sepasang pintu ganda yang menjulang sangat tinggi, terbuat dari kayu hitam berukir lambang Klan Es.
KLEK!
Pintu besar itu terbuka perlahan, memuntahkan hawa hangat yang bercampur aroma anggur dan parfum bangsawan. Baru beberapa langkah melintasi ambang pintu, kaki Aurelia mendadak lumpuh. Ia menahan napas seketika.
Matanya terbelalak lebar melihat lautan manusia di dalam ruangan megah itu. Ratusan tamu undangan kini sedang menatap lurus ke arahnya dengan tatapan menilai.
Namun, dari sekian banyak orang, perhatian Aurelia langsung terkunci pada sosok pria yang berdiri tegak di ujung altar sana.
Adrian. Pria itu berdiri dengan pakaian mewahnya, menatap Aurelia sembari menyunggingkan senyum penuh kemenangan—seolah-olah berhasil menjebak seekor rusa dalam perangkapnya.
Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis.
Sudah kuduga... gumamnya dalam hati.
Saat matanya kembali terbuka, ketakutan itu telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membara. Rahangnya seketika memanas, menahan gejolak emosi yang siap meledak kapan saja.